#1480 – Lunching At A One Michelin Star Restaurant


Here is the story of my first experience of having a lunch at a one Michelin star restaurant which I had during my weekend trip to Lyon recently.

The restaurant I went to was the Pierre Orsi restaurant. I chose this restaurant because from the list of one Michelin star restaurants which I got, their location was good (as in it was close to where my hotel was), the price was okay for a one Michelin star restaurant (“okay” as in I felt like I could afford it, haha), and their speciality was French food (something which I was certainly looking for from this trip); and also because the restaurant was easy to find, haha 😆 .

Pierre Orsi restaurant in Lyon

Pierre Orsi restaurant in Lyon

I entered the restaurant and I was greeted by a French waitress who was not that comfortable in speaking English so she called her colleague, haha. Then a senior waiter greeted me and offered me to take my jacket and backpack off. I let him take my bacakpack to be stored in a concierge room, but I kept my jacket on with me. What I really liked from this senior waiter was that he was so “French”; as in, in my opinion, he was exactly like the stereotype of a French waiter with some dash of “arrogance” and “class”, you know.

I was seated in a table and given the menu book (which was only available in French). I decided to order one main course and one dessert. There was another three course package but I did not order since the appetizer involved foie gras, and as I found out two years ago, I did not really like foie gras (even though admittedly that was the only time I ever had foie gras so maybe I was just unlucky that I got one which was probably not cooked properly?). Anyway, it turned out to be a good decision since nevertheless I got an appetizer anyway, even though I did not have the liberty to choose which menu I wanted as an appetizer I wanted, haha. Btw for drink I decided to just go with still water since in the list of wine, the wine they had was the super good ones with price of more than €600. Well, I wasn’t exactly celebrating anything so water was fine for me now, haha 😛 .

The appetizer, a bowl of pumpkin soup and two spoons of raw salmon with hints of ginger

The appetizer, a bowl of pumpkin soup and two spoons of raw salmon with hints of ginger

The appetizer came not long after. They gave me a bown of pumpkin soup with two spoons of raw salmon with hints of ginger. Nobody told me how to eat this (but maybe somehow I was supposed to know? Haha 😛 ), so I just ate it. But a few minutes later, I realized that I ate it the WRONG way. So I decided to have the pumkin soup first and then the raw salmon. It was stupid. It was so wrong. What (I think) I should have done was that I had the raw salmon and while the salmon was still in my mouth, I should take a spoon (or two) of the pumpkin soup. The mixture of flavour between the raw salmon and the pumpkin soup would, then, fuse in my mouth exploding very rich amount of different flavours. And I just knew this in the end where I almost finished my pumpkin soup but I still had the two spoons of the raw salmon, haha.

For the main course, I ordered a pigeonneau en cocotte. As the name suggests, it was a pigeon dish. And here, for the first time ever, I just knew that apparently cooking a pigeon was like cooking a beef. While ordering, the waiter asked me whethere I wanted the pigeon to be cooked pink, medium, or well-done. I decided to play it safe by choosing the medium one, haha.

The best pigeon dish I have ever had in my entire life!!

A portion of pigeonneau en cocotte.

Then the main course came. And ladies and gentlemen, I have to say that today, I had the best pigeon dish I had ever had in my life. Not only it tasted heavenly, but I could tell that the meal was prepared carefully, producing pigeon with very delicate structure to bite. The combination of all the elements on the plate worked together amazingly as well. Yeah, typical (good) French food. I was impressed, extremely impressed.

While having the main course, Pierre Orsi, the chef himself, greeted me personally. He asked me how the meal was and I said to him it was the best pigeon dish I had ever had. He said thank you and said that pigeonneau en cocotte was, indeed, their speciality.

Then two plates of snacks and a bowl of oranges were served. The snacks consisted of four types of sweets (including macarons), a pair each, and a plate of sweet crackers.

Two plates of sweets and a bowl of oranges

Two plates of sweets and a bowl of oranges

The waitress then asked me if I wanted some cheese or not, but I was feeling full already while I still had a dessert coming, so I had the dessert right away, haha.

But before letting me have my dessert, they gave me a pre-dessert first; which was a small pot of white chocolate with cream and jam. Very nice. And then the dessert came. Btw, I was not sure what to choose for dessert (as the menu book was all in French and there was no picture) so I asked the senior French waiter what he recommended for me. And he recommended a pancake with honey sauce for dessert which was very famous. So I ordered one. The pancake came; and it was okay. It was delicious, but did not give me the surprised unexpectedly feeling of something heavenly good. It was just good.

A pre-dessert

A pre-dessert

Pancakes with honey sauce as the dessert

Pancakes with honey sauce


In total, I spent about 90 minutes in the restaurant for the entire meal. In conclusion, I found the savoury dishes very good in this restaurant. The dessert was good too, but not as heavenly good as the savory dishes.

Did I spend a lot? Well, it depends on what “a lot” means; but at €70, I certainly spent more than I would normally spend for a meal in average. Was it worth it? Yes, it was so worth it. Would I come back? Well, I would love to!

Yeah, what an experience! 🙂


Berikut ini cerita mengenai pengalaman pertamaku makan siang di sebuah restoran berbintang satu Michelin yang aku alami di perjalanan akhir pekanku ke Lyon baru-baru ini.

Restorannya sendiri adalah restoran Pierre Orsi. Aku memilih restoran ini karena dari daftar restoran berbintang satu Michelin yang aku dapatkan, lokasinya oke (dalam artian dekat dengan lokasi hotelku), harganya oke untuk kelas restoran berbintang satu Michelin (“oke” dalam artian kantongku mampu membayarnya lah, haha), dan kekhususan mereka adalah masakan Prancis (sesuatu yang memang aku cari dari perjalanan ini); dan juga karena restorannya mudah untuk ditemukan, haha 😆 .

Pierre Orsi restaurant in Lyon

Restoran Pierre Orsi di Lyon

Aku memasuki restorannya dan disambut oleh seorang pelayan wanita Prancis yang ternyata nggak begitu pede ngomong dengan bahasa Inggris sehingga ia memanggil seorang koleganya untukku, haha. Lalu, seorang pelayan pria senior menyambutku dan menawarkan untuk melepas jaketku dan tas ranselku. Aku membolehkannya mengambil tas ranselku untuk disimpan di ruang penitipan barang sementara jaketnya tetap aku pakai. Yang aku suka dari pelayan senior ini adalah dia itu “Prancis” banget gitu; dalam artian, menurutku ya, dia itu seperti stereotipikalnya pelayan Prancis dengan “keangkuhan” dan gengsi “berkelas”-nya gitu, tahu lah ya maksudku bagaimana. Keren kan.

Kemudian aku diarahkan ke sebuah meja dan diberikan sebuah buku menu (yang mana isinya dalam bahasa Prancis semua). Aku memutuskan untuk memesan satu menu utama dan menu penutup. Sebenarnya ada paket tiga menu sih tetapi tidak aku pesan karena menu pembukanya semuanya melibatkan foie gras gitu deh. Padahal dua tahun lalu, ternyata aku kurang begitu suka foie gras (walaupun memang sih baru sekali itu aja aku makan foie gras jadi siapa tahu waktu itu aku sedang kurang beruntung dengan dapat yang kurang enak kan ya?). Anyway, ternyata ini adalah keputusan yang baik karena toh aku juga mendapatkan makanan pembuka kok, walaupun aku tidak memiliki kebebasan untuk memilih mau menu apa untuk menu pembuka ya, haha. Btw, untuk minum sendiri aku minum air putih yang biasa aja deh (bukan yang sparkling) karena di daftar anggurnya, anggur mereka yang berkelas-berkelas dong jadi harganya rata-rata di atas €600 alias sekitar Rp. 10 JUTA-an. Ah, kan aku sedang tidak merayakan apa-apa ya sekarang ini, jadi air putih aja nggak papa deh, haha 😛 . .

The appetizer, a bowl of pumpkin soup and two spoons of raw salmon with hints of ginger

Menu pembuka, semangkuk sup labu dan dua sendok salmon mentah dengan jejak rasa jahe.

Menu pembuka disajikan tidak lama setelahnya. Menu pembukanya adalah semangkuk sup labu dengan dua sendok salmon mentah dengan jejak rasa jahe. Tidak ada yang memberi-tahuku bagaimana cara memakannya (atau jangan-jangan seharusnya aku langsung tahu ya? Haha 😛 ), jadilah langsung asal aku makan saja. Yang mana, beberapa menit kemudian aku menyadari bahwa cara makanku itu SALAH besar. Jadi aku memutuskan untuk makan supnya dulu dan kemudian salmon mentahnya. Ini bodoh banget. Salah banget. Seharusnya (menurutku ya) yang harus aku lakukan adalah aku melahap salmon mentahnya dan sementara salmonnya masih berada di dalam mulut, aku menyendok satu (atau dua) sendok sup labunya. Percampuran rasa antara salmon mentah dan sup labunya akan melebur di mulut dan meledakkan berbagai macam rasa yang amat kaya di rongga mulut. Dan aku baru menyadari ini setelah aku nyaris menghabiskan sup labunya dong padahal salmonnya masih utuh dua sendok, haha.

Untuk menu utama, aku memesan sebuah pigeonneau en cocotte. Seperti namanya, ini memang sebuah menu burung dara. Dan di restoran ini, untuk pertama kalinya, aku baru tahu bahwa ternyata memasak burung dara itu mirip seperti daging sapi loh. Ketika memesan, pelayannya bertanya kepadaku aku ingin daging burung daranya dimasak bagaimana, apakah pink, medium, atau well-done. Aku memilih main aman aja dengan memilih yang medium, haha.

The best pigeon dish I have ever had in my entire life!!

Seporsi pigeonneau en cocotte.

Lalu menu utamanya datang. Dan saudara dan saudari sekalian, aku harus berkata bahwa hari ini, aku makan masakan dari burung dara terenak yang pernah aku makan seumur hidup. Masakan ini tidak hanya berasa sangat amat enak mampus, tetapi juga bisa dirasakan bahwa menu ini benar-benar dipersiapkan dengan baik, dengan menghasilkan daging burung dara yang strukturnya amat halus dan pas untuk digigit. Kombinasi elemen-elemen yang berada di atas piringnya juga bekerja dengan amat baik. Ya, memang tipikal masakan Prancis (yang enak) lah ya. Aku terkesan, amat terkesan malah.

Ketika sedang menikmati makanan utamanya, Pierre Orsi, chef-nya sendiri, keluar dan menyambutku loh. Ia bertanya bagaimana masakannya dan aku katakan bahwa ini adalah masakan burung dara paling enak yang pernah aku makan. Ia berterima-kasih dan berkata bahwa memang pigeonneau en cocotte adalah keahliannya.

Lalu, dua piring snacks dan satu mangkok jeruk disajikan. Snack-nya terdiri atas empat macam kudapan manis (termasuk macarons), masing-masing jenis sepasang, dan sepiring crackers yang rasanya manis.

Two plates of sweets and a bowl of oranges

Dua piring snack manis dan semangkuk jeruk.

Seorang pelayan kemudian bertanya apakah aku ingin makan keju atau tidak. Tetapi aku sudah merasa lumayan kenyang dan masih ada makanan pencuci mulut yang belum keluar. Jadilah aku meminta makanan pencuci mulutku saja, haha.

Tetapi sebelum membiarkanku menikmati pesanan makanan pencuci mulutku, mereka memberiku sebuah pre-dessert (makanan pra-pencuci mulut 😆 ) dulu; yaitu seporsi kecil coklat putih dengan krim dan selai. Enak banget deh. Lalu, makanan pencuci mulutnya datang. Btw, karena galau mau memilih apa untuk pencuci mulut (kan buku menunya dalam bahasa Prancis dan nggak ada gambarnya loh) jadilah aku meminta pendapat ke pelayan senior tentang menu yang direkomendasikan. Kemudian ia merekomendasikan sebuah pancake dengan saus madu yang katanya terkenal. Ya udah aku memesan satu. Pancake-nya keluar, dan ternyata oke lah. Enak sih, tetapi nggak enak banget yang sampai mengagetkanku karena keenakannya gitu. Enaknya biasa saja.

A pre-dessert

Sebuah pra-pencucu mulut

Pancakes with honey sauce as the dessert

Pancake dengan saus madu


Secara keseluruhan, aku menghabiskan 90 menit di restoran ini untuk keseluruhan makan siangku. Sebagai rangkuman, aku merasa makanan utamanya adalah bintang dari restoran ini. Makanan pencuci mulutnya enak juga sih, tetapi tidak seenak banget makanan utamanya.

Apakah aku membayar mahal? Yah, tergantung apa definisi “mahal” sih ya; tetapi dengan membayar €70 (sekitar Rp 1.064.000,- dengan kurs €1 = Rp 15.200,-), jelas aku menghabiskan lebih dari yang biasanya aku keluarkan untuk makan siang secara rata-rata. Apakah setimpal? Oh, iya, setimpal banget! Apakah aku akan kembali lagi? Mudah-mudahan!

Ya, benar-benar sebuah pengalaman ya! 🙂


37 thoughts on “#1480 – Lunching At A One Michelin Star Restaurant

  1. baru tau juga kalo harusnya salmon dimasukan mulut dulu terus dicampur sama sup labu haha

    yah kalo dari ceritamu sepertinya worthed kok harga segitu, pengalaman dan rasanya memuaskan begitu kok.. jadi ngiler dan penasaran sama burung daranya 😀

    1. Iyaa, nggak ada yang ngasih tau sih jadi kemarin mah asal aja makannya, huahaha 😆 .

      Iya, sebenarnya harga segitu kalau dipikir-pikir nggak mahal-mahal banget lho untuk ukuran Eropa 😀 . Apalagi kalau dapat kualitas segitu sih worth it banget ya 🙂 . Ah, jadi pengen burung daranya lagi ini, hahaha 😆

    1. Iya, sebenarnya kalau dibandingin dengan standar harga-harga di Eropa segitu sih hitungannya masih wajar harganya. Kalau dirupiahin memang kesannya jadi wah banget, haha. Iya, ada harga ada rupa ya

    1. Hahaha, karena sama-sama tidak tahu jadi asal aja ya 😀 . Tapi menurutku sih salmonnya nggak boleh dicelupin ke supnya karena bakal merusak tekstur dagingnya, hehe. Dugaanku saja sih ini 😀 .

    1. Karena sebelum aku sadar itu aku merasa aneh Dev, merasa ada yang salah gitu cuma nggak tahu salahnya gimana. Setelah beberapa waktu itulah tiba-tiba aku baru ngeh. Yaa, seperti kalau memecahkan puzzle gitu lah 😛 .

      Iya, bener banget. Yang dibeli selain makanannya (yang memang top banget 😀 ) adalah pengalamannnya juga ya, hahaha 😆 .

    1. Makanan Prancis memang juara ya!! Hahahaha 😀 . Huaaa, aku malah belum pernah ke Lille nih padahal Lille kan paling dekat dari Belanda kan ya, haha 😀

  2. Lyon memang ibukota kuliner sedunia. Itu € 70 kelihatannya mahal tapi sesuai kok dengan kwalitas. Fine dining memang seru untuk pengalaman aja. Kalo suka fine dining tapi ngga mau bayar mahal bisa coba lihat biebgourmand. Ini culinary guide untuk resto yang ok dan affordable lah untuk orang kaya kita gini 🙂

    1. Iya, tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya €70 itu harganya masih masuk akal ya untuk ukuran disini. Maksudku, makan di luar di restoran biasa aja sudah paling nggak harus nyiapin €20-€30an. Lah, ini €70 tapi kan dapat restoran berbintang Michelin, hehehe 🙂 . Tapi beda cerita kalo dibandingin sama restoran serupa di Paris, hahaha 😆 .

      Wah, trims banget referensinya. Kapan-kapan aku coba!! 😀

      1. Betul, tahun 2004 aku makan di Vermeer Restaurant 1 Michelin star, 5 courses udah € 70 belum pake wine arrangement pula. Di Arnhem fine dining resto owner/chefnya yang juara Dutch Masterchef aja 3 courses menu udah € 45.

  3. WOW…Akhirnya jawaban yang saya tunggu muncul juga. Harga yang sangat fantastis dengan menu makanan yang mewah dan enaknya tiada tara. Semoga lain kali mas Zilko bisa balik mencicipi menu burung dara lagi.

    1. Harganya memang nampak fantastis kalau dirupiahkan, tetapi sebenarnya untuk ukuran Eropa masih oke lah harga segitu; nggak fantastis yang gimana banget. Di atas rata-rata harga restoran biasa memang, tetapi ini restoran fine dining yang kualitasnya diakui kan, hehehe 😀 .

      Amiin, hehehe 🙂

      1. He’em….kalau kita lihatnya dalam mata uang euro biasa aja. But, kalau sudah di rupiahkan…..#speechless
        Bisa untuk makan satu bulan mungkin di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s