Posted in Contemplation, PhD Life, Thoughts, Zilko's Life

#1443 – People Come and Go, Even in PhD Life

ENGLISH

Doing a PhD research, or any work in general actually, is more than often not just about the work itself. Since many people are involved, sometimes there are things related to people (I am not sure if I can call it “social interaction” or not; but no matter what the correct term is, I hope you get my message) that ones have to deal with.

Those who read PhD comics may be somewhat familiar with the drama that can happen to (or around) anyone doing a PhD research. The author finished his PhD degree in the United States so it was based more on the PhD life there; which is, from what I know, (at least) a little bit different from the PhD life in Europe (or at least in the Netherlands to be more on the safer side). But still, there is some connection so I can still relate to the portrayed situation :) .

And now, I am experiencing one of this drama. And here is the story…

***

For this PhD research, I have two daily supervisors who are supervising me. This is a little bit unusual since usually a PhD student only has one. But I have two, so it is cool, yes?😀 .

A few days before my trip to Indonesia this year started, one of them told me that she was leaving for Australia. “Leaving” as in she was going to resign from her position in the university (after she got the Australian working visa of course) and then she would move to Australia and it was likely that she would settle there. “Settle” as in her entire family (her husband and daughter) would move there as well. So it would be a different situation than my first year of PhD where my other supervisor was in Singapore for one year for a research-visit position. At that time, I knew that my supervisor would come back to Delft after the one year ended.

And it is going to happen soon, as in she is moving in two weeks. For my research, this is not a big problem because I still have one other supervisor who is more than capable to supervise the rest of my PhD research. So research-wise, I am still fine.

But still, I still feel a little bit sad (and shocked). One of the reasons I took this PhD position (which I did not mention in this post two years ago) was that because I enjoyed working with her a lot during my master’s thesis time (she was the main supervisor of my master’s thesis). I mean, I also enjoy working with my other supervisor too though; but still, I think it is quite normal to feel a little bit sad, no?

But well, I guess that is the reality of life. People come and go. And working life is no difference. And as a subset of working life, naturally a PhD life is no difference too. At some point everyone will surely face it, albeit in slightly different settings. And (obviously), this is not the first time in my life I am facing a situation like this. When I finished my master’s degree, when I finished my bachelor’s degree, when I finished high school, even when I was still in middle school or even elementary school, I also faced it. People do come and go, all the time. That is just life.

So it seems that there is nothing more I can say except that I wish her the best for the next stage in her life in Australia🙂 .

***

The skeleton of this post was written when I heard the news, which was a few days before I flew to Indonesia for my one month Indonesia trip. So what is in this post was, indeed, my first reaction towards the news. And earlier today, we had farewell drinks in the pub in my faculty.

With my supervisor during my master's graduation in 2012
With my supervisor during my master’s graduation in 2012

BAHASA INDONESIA

Melakukan yang namanya riset S3 (PhD), atau pekerjaan apa pun juga sih sebenarnya, seringnya bukan hanya sekedar pekerjaan atau risetnya itu sendiri. Karena ada banyak orang yang terlibat, kadang-kadang ada hal-hal yang berkaitan dengan orang-orang ini (aku tidak yakin apakah aku bisa memanggilnya “interaksi sosial” atau tidak; tetapi apa pun istilah tepatnya, yang penting mudah-mudahan pada mengerti apa maksudku deh) yang harus kita hadapi.

Mereka yang membaca PhD comics mungkin sedikit banyak familier dengan drama yang dapat terjadi ke (atau di sekitar) siapa pun yang melakukan riset S3. Pengarangnya menyelesaikan jenjang S3-nya di Amerika Serikat sih jadi ceritanya lebih berdasarkan pengalaman kehidupan S3-nya disana; yang mana, sejauh yang aku tahu, (setidaknya) sedikit berbeda dari kehidupan S3 di Eropa (atau di Belanda deh demi amannya). Tetapi masih ada pula kesamaan-kesamaan sehingga aku masih bisa menghubungkan apa yang aku alami dengan apa yang diceritakan di komik itu🙂 .

Nah, sekarang ini, aku sedang mengalami salah satu drama ini. Dan berikut ini ceritanya…

***

Di riset S3-ku ini, ceritanya aku memiliki dua orang pembimbing harian yang membimbingku. Ini sedikit tidak biasa karena biasanya seorang mahasiswa S3 memiliki satu pembimbing harian saja. Tetapi aku punya dua loh, keren kan?😀 .

Beberapa hari sebelum liburanku ke Indonesia dimulai, salah satunya berkata kepadaku bahwa ia akan pindah ke Australia. “Pindah” dalam artian ia akan mengundurkan diri dari posisinya di universitas (setelah ia mendapatkan visa izin kerja di Australia tentunya), lalu ia akan pindah ke Australia, dan sangat mungkin untuk menetap disana. “Menetap” dalam artian keluarganya (suami dan anaknya) juga akan ikut pindah kesana. Jadi situasinya berbeda dengan tahun pertama S3-ku dimana pembimbingku yang satunya berada di Singapura selama satu tahun untuk posisi peneliti tamu disana. Waktu itu, aku tahu bahwa pembimbingku itu akan kembali ke Delft setelah waktu satu tahun itu berakhir.

Dan ini akan terjadi segera, karena dua minggu lagi ia akan berangkat. Untuk risetku, ini bukanlah masalah besar karena aku masih memiliki satu pembimbing yang lebih dari mampu untuk membimbingku di sepanjang sisa riset S3-ku ini. Jadi secara riset, aku aman dan baik-baik saja.

Tetapi tetap saja, aku merasa sedikit sedih (dan juga kaget). Salah satu alasan aku mengambil posisi S3 ini (yang tidak aku sebutkan di posting ini dua tahun lalu) adalah karena aku sangat menikmati bekerja dengannya di masa-masa aku mengerjakan thesis S2-ku (ia juga merupakan pembimbing utama thesis S2-ku dulu). Maksudku, aku juga menikmati bekerja bersama pembimbingku yang satunya kok; tetapi masih aja lah ya, rasanya wajar juga untuk masih merasa sedih?

Ah, kalau dipikir-pikir lagi, memang inilah yang namanya realita kehidupan. Orang-orang datang dan pergi. Dan kehidupan pekerjaan juga tidak berbeda dari itu. Dan sebagai himpunan bagian dari kehidupan pekerjaan, kehidupan riset S3 juga sama saja lah. Di satu waktu di hidupnya, seseorang pasti akan menghadapinya, walau mungkin setting-nya sedikit berbeda. Dan (tentu saja), jelas ini bukan kali pertama seumur hidup aku menghadapi situasi seperti ini. Ketika aku menyelesaikan studi S2-ku, ketika aku menyelesaikan studi S1-ku, ketika aku lulus SMA, atau bahkan ketika aku masih duduk di SMP dan SD, aku juga menghadapinya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti, kapan pun dimana pun. Memang begitulah yang namanya hidup.

Yah, memang sepertinya saat ini tidak ada hal lain yang bisa kukatakan kecuali mendoakan dan mengharapkan yang terbaik bagi pembimbingku ini di tahapan berikutnya dari hidupnya di Australia🙂 .

***

Kerangka utama dari posting ini aku tulis ketika aku baru saja mendapatkan kabar ini, yaitu beberapa hari sebelum aku terbang ke Indonesia untuk acara liburanku selama satu bulan di Indonesia. Jadi posting ini memang kurang-lebih reaksi awalku terhadap berita ini. Dan sore tadi hari ini, diselenggarakanlah acara minum-minum perpisahan di pub di fakultas kami.

13 thoughts on “#1443 – People Come and Go, Even in PhD Life

    1. Iya, memang realita kehidupan seperti itu ya. Setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri, jadi mau nggak mau ya pertemuan dan perpisahan selalu ada dimana-mana🙂

    1. Bener banget Ri, soalnya setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri ya, termasuk dia akan tinggal, bekera, dsb. Dan memang harus tetap bersyukur kita pernah bertemu dan bekerja bersama mereka🙂 . Karena bagaimana pun ini adalah network yang harus selalu dijaga kan?😉

  1. sedih juga yah ditinggal mentor yg kita udah nyaman kerja bareng selama ini.. sama kaya mendadak dapet kabar temen baik pindah keluar negeri,,
    semoga dia bisa mendapat kehidupan yg lebih baik di Aussie, dan kamu tetep lancar risetnya dengan mentor yg sisa 1 hehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s