Posted in Indonesia Trip, Long Trip, Vacation

#1442 – 2014 Eastern Indonesia Trip (Part 3: More of Makassar)

ENGLISH

Previously on 2014 Eastern Indonesia Trip: Zilko and his family went to the island Sulawesi during Zilko’s one month Indonesia trip this year. After visiting Tana Toraja, now they were ready to go back to Makassar.

***

Day 5 (Tuesday, 12 August 2014) ~ continued

Located on the Quarles Moutains, naturally the road in Tana Toraja was very winding and definitely not flat. This included the Rantepao – Pare-Pare corridor, the corridor that was commonly taken when getting to/from Toraja from/to Makassar. And on this corridor today, I made a big mistake.

It was still 299 km to go from this spot
It was still 299 km to go from this spot

Since it would be a long journey, I decided to listen to my mp3 player with my earphones. My hypothesis is that this, in combination with the very winding road and the not so smooth driving style of our driver, caused me to experience, for the first time ever in my life, a carsick!😯👿 I always thought my body was super strong for travelling (and I still do), as I never experienced anything travelling-related bad. But apparently the simulatenous existence of some different conditions could break it down too, haha😛 .

I realized this when we reached Pare-Pare at around 15:00 where we stopped to have lunch at a famous chinese food restaurant there. I started not to feel well since I got off the car; and it all got worse when we were already sitting in the restaurant ordering our food. I lost all of my appetite; but I still forced myself to eat something. But I wasn’t feeling any better; in fact, it went a little bit worser. And finally, after some point, I reached to the point where I could not handle it anymore and, for the first time in a really really long time, I vomitted.

I felt a little bit better after vomiting though; but I definitely wasn’t at 100%. I would not call myself being sick at that time, I was “barely” healthy. And I knew I had to be careful with that so that I would not get sick. So on the rest of the journey to Makassar, I tried to get some rest. I managed to get some rest and sleep along the way though, and it helped.

We arrived at Makassar at around 18:40. First, we had dinner at the famous Sop Konro Karebosi; before we headed to our hotel. It was the same hotel as our first two nights in Makassar.

A soup konro and a regular konro at Konro Karebosi
A soup konro and a regular konro at Konro Karebosi

Day 6 (Wednesday, 13 August 2014)

I felt a little better in the morning, but my appetite was not back to 100% yet. I could eat something (I had breakfast at the hotel), but not as much. But otherwise I felt fine, so it was already a good sign.

Today, we had half a day before our flight in the afternoon. Good, so we had more time to explore Makassar. In the morning, we did another round of culinary trip around the city. First, we went to a restaurant that had kapurung, another Makassar dish, and then to a gift shop. After that, we went to Pallu Basa Serigala (pallu basa is another Makassar dish), which apparently was not made from wolf meat (note: “Serigala” means “wolf” in Indonesian). This restaurant was located in Jalan Serigala, so the name.😆 As I said, my appetite was not back yet so I did not participate in any of these stops. I just watched because I literally could not eat anything. It was fine though.

A portion of kapurung and some other Makassar dishes
A portion of kapurung and some other Makassar dishes

Feeling full and still had a couple of hours to go, we basically had enough time to visit one more place in Makassar before heading to the airport. And we decided to visit Rammang-Rammang, another site that was located in the Regency of Maros. Actually three days before, while we were in the Leang-Leang Prehistoric Park, one of the guides recommended us to go there. But at that time we chose to go to Bantimurung. This choice of Rammang-Rammang was practical as well because Sultan Hasanuddin International Airport was located in Maros too.

Long story short, we arrived at Rammang-Rammang at around 11:30. Rammang-Rammang was still a relatively unpopular tourist attraction; and it was actually quite beautiful and very natural. In Rammang-Rammang, we needed to rent a boat to go up the river passing through the palm-like tree forest surrounded by the beautiful karst mountain. The boat was quite small btw, but it could fit six people safely (the four of us, a fisherman, and our driver); and I remember seeing another boat (probably bigger) could pack about ten people.

A typical view in Rammang-Rammang
A typical view in Rammang-Rammang

It would, obviously, be a return journey; and a one way trip took around 20 minutes to complete. After completing a one way trip, we arrived at a small village called “Kampung Berua”. There was a small hut with a small warung selling some bottled drinks where we could use to chill while enjoying the beautiful nature of South Sulawesi. We were at Kampung Berua probably for around 15 minutes. Then, we took the 20 minutes ride back to our departure dock.

From Rammang-Rammang, we went straight to Sultan Hasanuddin International Airport. And here, the South Sulawesi part of this Eastern Indonesia Trip officially ended.

TO BE CONTINUED…

Next on 2014 Eastern Indonesia Trip:
– Getting to Lombok
– The Gilis
– More of Lombok
– Bali

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2014 Eastern Indonesia Trip: Zilko dan keluarganya pergi ke pulau Sulawesi dalam rangka acara liburannya selama satu bulan di Indonesia tahun ini. Setelah mengunjungi Tana Toraja, kini mereka siap untuk kembali ke Makassar.

***

Hari 5 (Selasa, 12 Agustus 2014) ~ lanjutan

Karena terletak di Pegunungan Quarles, tentu saja jalan di Tana Toraja sangat berkelok-kelok dan naik-turun. Ini termasuk koridor Rantepao – Pare-Pare, koridor yang umumnya dipakai ketika bepergian dari/ke Toraja ke/dari Makassar. Dan di koridor ini hari ini, aku membuat sebuah kesalahan besar.

It was still 299 km to go from this spot
Masih 299 km lagi dari titik ini

Karena perjalanannya panjang, aku memutuskan untuk mendengarkan musik dengan mp3 player-ku dengan menggunakan earphone. Hipotesaku adalah, ini dikombinasikan dengan jalan yang berkelok-kelok itu ditambah lagi dengan gaya menyetirnya sopir kami yang nggak mulus sama sekali, membuatku untuk pertama kalinya seumur hidup: mabuk darat!😯👿 Aku selalu percaya bahwa tubuhku itu amat kuat untuk diajak bepergian (sekarang juga masih amat percaya), karena aku tidak pernah mengalami hal-hal kurang mengenakkan yang berkaitan dengan bepergian. Tetapi ternyata munculnya beberapa faktor yang berbeda bisa membuatnya sakit juga, haha😛 .

Aku baru menyadari ini ketika kami mencapai Pare-Pare sekitar jam 3 sore dimana kami berhenti untuk makan siang di sebuah rumah makan chinese food yang terkenal disana. Aku mulai merasa nggak enak semenjak aku keluar dari mobil; dan rasanya menjadi semakin nggak enak lagi ketika aku sudah duduk di dalam rumah makannya untuk memesan makanan. Aku sama sekali tidak nafsu makan; tetapi aku masih memaksakan diri untuk makan sih. Tetapi aku tidak merasa semakin baik; malah menjadi sedikit semakin buruk deh. Dan akhirnya, sampai-sampai aku tidak bisa menahannya lagi dan, untuk pertama kalinya semenjak lama banget yang lalu, aku muntah.

Aku merasa sedikit lebih baik setelah muntah sih; tetapi jelas masih tidak dalam kondisi sehat 100%. Memang saat itu aku tidak merasa sakit sih, tetapi aku juga nggak bisa dibilang sehat juga. Aku tahu bahwa aku harus berhati-hati agar tidak beneran menjadi sakit. Jadilah di sisa perjalanan menuju Makassar, aku mencoba untuk beristirahat. Aku berhasil beristirahat sedikit dan tidur sebentar di sepanjang sisa perjalanan, dan ini sedikit membantu.

Kami tiba di Makassar sekitar jam 18:40. Pertama-tama, kami makan malam di Sop Konro Karebosi yang terkenal itu; sebelum menuju hotel. Ini adalah hotel yang sama dengan hotel yang kami inapi di dua malam pertama di Makassar.

A soup konro and a regular konro at Konro Karebosi
Seporsi sop konro dan seporsi konro biasa di Konro Karebosi.

Hari 6 (Rabu, 13 Agustus 2014)

Aku merasa sedikit lebih baik paginya, tetapi nafsu makanku masih belum kembali 100%. Aku bisa makan sih (aku sarapan di hotel), tetapi nggak banyak. Tetapi selain itu sih aku merasa baik-baik aja, jadi ini adalah pertanda baik dong ya.

Hari ini kami memiliki waktu setengah hari karena penerbangan kami dijadwalkan terbang di sore hari. Bagus deh, jadi ada waktu lebih untuk menjelajah Makassar. Di pagi hari, kami berkeliling kuliner dulu di kotanya. Pertama-tama, kami pergi ke sebuah rumah makan yang menjual kapurung, sebuah makanan ala Makassar, dan kemudian mampir di sebuah toko oleh-oleh. Setelahnya, kami pergi ke Pallu Basa Serigala (pallu basa adalah makanan khas Makassar lainnya), yang mana ternyata bukan dibuat dari daging serigala loh (ya iya lah, huahaha😆 ). Jadi ceritanya rumah makan ini terletak di Jalan Serigala, jadi namanya begitu deh, haha😆 . Seperti yang aku bilang, nafsu makanku belum kembali sehingga aku nggak ikutan makan di kunjungan-kunjungan ini. Aku cuma nonton aja karena memang beneran rasanya nggak bisa makan apa-apa. Nggak masalah juga sih sebenarnya.

A portion of kapurung and some other Makassar dishes
Satu porsi kapurung dan beberapa hidangan ala Makassar lainnya

Karena merasa kenyang dan masih ada dua jam lagi, kami memiliki cukup waktu untuk mengunjungi satu tempat tujuan di Makassar sebelum harus pergi ke bandara. Dan kami memilih Rammang-Rammang, sebuah lokasi yang juga berlokasi di Kabupaten Maros. Sebenarnya, tiga hari sebelumnya, ketika kami berada di Taman Prasejarah Leang-Leang, salah seorang pemandu merekomendasikan kami untuk pergi kesana. Tetapi waktu itu kami memilih untuk pergi ke Bantimurung aja. Pilihan Rammang-Rammang ini juga adalah sebuah pilihan yang praktis karena Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin kan terletak di Maros juga.

Singkat cerita, tibalah kami di Rammang-Rammang sekitar jam 11:30. Rammang-Rammang adalah sebuah tempat tujuan wisata yang masih belum terlalu terkenal; dan sebenarnya lumayan indah dan alami juga. Di Rammang-Rammang, kita harus menyewa sebuah perahu untuk menyusuri sungainya melewati hutan kecil yang pohonnya seperti pohon palem yang dikelilingi oleh pegunungan karst yang indah. Perahunya kecil loh btw, tetapi bisa muat enam orang dengan aman kok (kami berempat, seorang nelayan, dan sopir kami); dan aku ingat aku melihat ada kapal lain (mungkin kapalnya lebih besar sih) yang bisa membawa sampai sekitar sepuluh orang.

A typical view in Rammang-Rammang
Pemandangan di Rammang-Rammang

Tentu saja perjalanannya adalah perjalanan bolak-balik; dan sekali jalan memakan waktu sekitar 20 menit. Setelah menyelesaikan perjalanan satu arah, kami tiba di sebuah kampung kecil bernama “Kampung Berua”. Disana terdapat balai kecil dan sebuah warung kecil yang menjual minuman botolan. Disana kita bisa bersantai-santai sambil menikmati indahnya alam Sulawesi Selatan. Kami berada di Kampung Berua selama sekitar 15 menit. Lalu, kami kembali ke kapal kami untuk kembali dermaga keberangkatan.

Dari Rammang-Rammang, kami langsung pergi ke Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Dan disini, bagian Sulawesi Selatan dari Perjalanan ke Indonesia Timurku resmi berakhir.

BERSAMBUNG…

Selanjutnya dalam 2014 Eastern Indonesia Trip:
– Pergi ke Lombok
– Tiga Gili
– Lebih banyak tentang Pulau Lombok
– Bali

20 thoughts on “#1442 – 2014 Eastern Indonesia Trip (Part 3: More of Makassar)

  1. Emang paling ga enak yah kalo jalanan rusak n berkelok-kelok ditambah sopirnya ga smooth nyetirnya, bikin mabok😀 untung bisa tidur sisanya..
    Konro bakarnya karebosi enaaak, jadi pengen mendadak🙂

  2. jalan ke tana toraja itu benar2 ekstrim n penuh dgn kelak kelok harus sopir yg handal n siap2 punya nyali banyak😀
    Di perjalanan tana torajanya ngelihat gunung kembar ngga?

    1. Jalannya sih tidak terlalu ekstrim. Kondisi jalannya secara keseluruhan bagus kok😀 . Cuma memang banyak kelak-keloknya😀 .

      Gunung kembar? Sepertinya sih lihat, hehehe🙂

  3. Wah kalau jalanya berkelak kelok biasanya jaman kecil dulu pusar kita di kasih koyok biar ngak mual, tapi bener lo ampuh ko…

    Rammang – Rammang aku malah bru dengar tapi ada buaya ngak ya itu mana rawa rawa gt.

    1. Iya, haha. Biasanya aku kuat kok perjalanan gitu walaupun berkelok-kelok juga. Ini baru pertama kalinya nih seingatku aku sampai mabok, hahaha😀 .

      Iya, memang Rammang-Rammang ini masih belum terlalu populer ya. Huahaha, itu juga kemarin aku bercanda dengan adikku tentang itu. Gimana coba kalau tiba-tiba ada buaya, haha😛 .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s