Posted in General Life, Life in Holland, Uncategorized, Zilko's Life

#1273 – Story from Tuesday

ENGLISH

Just like two weeks ago and last week, I worked in my Utrecht office yesterday. And here are some stories that I can share about my day in Utrecht.

Barely Made the Train

Obviously, to work in Utrecht, I must travel from Delft to Utrecht. For this, I chose to take train. There was no direct train from Delft to Utrecht, so we had to make one transfer (at least) in either Den Haag or Rotterdam. Yesterday, I chose the one with the transit in Rotterdam Centraal Station. The train that took me from Delft to Rotterdam stopped at platform 3 at Rotterdam Centraal, while my connecting train to Utrecht would depart from platform 13 of the station. So I had to take the stairs and cross the bridge to get to my connecting train. And I barely made it! Just when I entered my connecting train, the doors were closed and the train departed!๐Ÿ˜ฏ Hahaha๐Ÿ˜† . Well, it wasn’t that big of a deal though because if I had missed it, I would (only) have to wait for 15 minutes for the next departure to Utrecht Centraal. But still…

(Dutch) Gado-gado

So far, my Utrecht office’s cafeteria hasn’t failed to amaze me yet with their service. After a nice beef noodles and babi pangang I had two weeks ago and last week respectively, guess what they had as one of the warm meals yesterday? Gado-gado! Yes, gado-gado!๐Ÿ˜ฏ Huahaha๐Ÿ˜† .

Okay, it was not really like the original Indonesian gado-gado, as I would like to refer it as a “Dutch interpretation of gado-gado”, huahaha๐Ÿ˜† . For the vegetables, carrot and cauliflower were used, and tortilla chips took place as the crackers. It was ย very interesting though, and very nice as well๐Ÿ™‚ .

Payment System

Speaking of lunching in Utrecht, yesterday I realized a “unique” system in the cafeteria. So the computer in the cashier counter of the cafeteria (I always paid there in my previous two visits) went down yesterday and so we had to make use of the self-service payment computer. How the computer worked was very simple. We just needed to tick the pictures in the screen of the items/meals that we bought, the total ammount would then be shown, and we paid with our pinpas/debit card at the pinpas/debit card machine connected to the computer.

Simple, right? Well, not really in the sense that, what if someone was “dishonest”? Because it was self-service, one literally had the freedom to choose whatever they “wanted” from the list in the screen. So (s)he could just pick a cheap item in the screen while (s)he took the more expensive item from the cafeteria, and it would still appear that (s)he had made a payment.

So basically the whole system “relies” on people’s honesty๐Ÿ™‚ . Well, I am sure the catering company feels “safe” to have this system because the cafeteria is situated inside the company’s headquarter, so only the company’s people can enter the cafeteria. And obviously because they (we๐Ÿ˜› ) are educated enough, it is less likely to encounter dishonesty. But it does not eliminate the possibility. And I am sure that in case it happens (because a simple cross-check between what is paid and the actual sales can, of course, be made so they know if it happens), the catering company can have a talk or done deal with the company itself, haha๐Ÿ™‚ .

But it feels nice though, knowing that if this system exists in our daily life. It means we are living in a place where people believe in the value of honesty, right?๐Ÿ˜‰

A Dutch interpretation of "gado-gado". I only remembered to take the tortilla chips after this photo was taken, lol.
A Dutch interpretation of “gado-gado”. I only remembered to take the tortilla chips after this photo was taken, lol.

BAHASA INDONESIA

Seperti dua minggu yang lalu dan seminggu yang lalu, aku bekerja di kantor Utrecht-ku kemarin. Dan inilah beberapa cerita yang bisa aku bagikan dari hariku di Utrecht kemarin.

Nyaris Tertinggal Kereta

Tentu saja, untuk bekerja di Utrecht, aku harus bepergian dari Delft ke Utrecht kan. Untuk ini, aku memilih untuk naik kereta. Nah, nggak ada kereta langsung dari Delft ke Utrecht, jadi kita harus transit (minimal) satu kali di Den Haag atau Rotterdam. Kemarin, aku memilih untuk transit di Stasiun Rotterdam Centraal. Kereta yang membawaku dari Delft ke Rotterdam berhenti di jalur 3 di Stasiun Rotterdam Centraal, sementara kereta lanjutanku ke Utrecht bakal berangkat dari jalur 13 di stasiun itu. Jadi artinya aku harus naik tangga dan menyebrang jembatan kan untuk menuju kereta lanjutanku. Dan aku nyaris tertinggal keretanya loh! Jadi begitu aku memasuki keretanya, pintunya ditutup aja gitu dan keretanya langsung jalan!๐Ÿ˜ฏ Hahaha๐Ÿ˜† . Ya, bukan sesuatu yang wow banget juga sih soalnya andaikata aku tertinggal keretanya beneran, aku hanya perlu menunggu 15 menit untuk keberangkatan selanjutnya ke Utrecht Centraal. Tapi tetap aja lah ya…

Gado-gado (Ala Belanda)

Sejauh ini, kantin di kantor Utrecht-ku masih belum gagal untuk membuatku merasa wah loh dengan pelayanan mereka. Setelah mie daging sapi dan babi pangang yang aku beli dua minggu dan satu minggu yang lalu, coba tebak apakah salah satu menu yang mereka sajikan kemarin? Gado-gado! Iya, gado-gado dong!๐Ÿ˜ฏ Huahaha๐Ÿ˜† .

Oke, memang sih gado-gadonya nggak asli seperti gado-gado ala Indonesia gitu, dan aku lebih suka menyebutnya sebagai “interpretasi orang Belanda akan gado-gado”, huahaha๐Ÿ˜† . Untuk sayurnya, wortel dan kembang kol dipakai juga loh, dan untuk krupuknya, dipakailah tortilla chips, hahaha๐Ÿ˜† . Rasanya menarik juga, dan enak juga sih๐Ÿ™‚ .

Sistem Pembayaran

Ngomongin makan siang di Utrecht, kemarin aku menyadari sistem “unik” di kantinnya. Jadi ceritanya komputer di bagian kasir kantinnya (di dua kunjunganku sebelumnya, aku selalu membayar disana) lagi rusak sehingga kami hanya bisa memakai komputer pembayaran self-service. Cara kerja komputernya sederhana banget kok. Jadi kami tinggal perlu mencentang di layar gambar makanan/barang yang kita beli, total harganya kemudian muncul, dan kemudian dibayar dengan kartu pin/debit dengan mesin kartu debit/pin yang terhubung dengan komputernya.

Sederhana kan? Hmm, nggak juga sih karena bagaimana kalau ada yang “nakal” dan “nggak jujur” coba? Karena self-service, seseorang memiliki kebebasan untuk memilih apa saja yang mereka “mau” di layarnya loh. Jadi bisa aja dia memilih item yang murah di layarnya padahal ia mengambil item yang lebih mahal di kantinnya, tapi sekilas dia terlihat sudah membayar sesuatu kan.

Jadi pada dasarnya sistem ini “bergantung” pada kejujuran orang-orangnya๐Ÿ™‚ . Ya, aku yakin sih perusahaan kateringnya merasa “aman” dengan sistem ini karena kantinnya berlokasi di dalam kantor pusat perusahaan, jadi hanya orang-orang perusahaannya aja yang bisa makan di kantinnya. Dan tentu saja karena mereka (kami๐Ÿ˜› ) berpendidikan, relatif cenderung kurang mungkin untuk menghadapi ketidak-jujuran kan. Tapi tetap aja bukan berarti kemungkinannya menjadi nol. Ah, aku yakin sih kalau ini terjadi (kan sebuah cross-check sederhana antara apa yang terbayar dan apa yang terjual, tentu saja, bisa dilakukan dengan mudah), perusahaan kateringnya ada negosiasi atau deal dengan perusahaan, haha๐Ÿ™‚ .

Tapi rasanya enak juga ya, mengetahui bahwa sistem semacam ini ada dan diterapkan dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Ini karena setidaknya menunjukkan bahwa kita hidup di suatu tempat dimana orang-orangnya percaya dengan nilai kejujuran. Iya nggak?๐Ÿ˜‰

14 thoughts on “#1273 – Story from Tuesday

  1. Eaaa gado-gado pake wortel hahaha…
    anyway, Ko pernah dengar ada SD di daerah Jawa yang bikin Kantin Kejujuran? Jadi anak-anak di sana bayarnya cukup ditaro di dalam kaleng aja sesuai barang yang mereka beli. Gak tau dech apakah itu bisa meningkatkan kejujuran anak-anak tsb atau gak…

    1. Iya, lucu kan Dev pakai wortel dan kembang kol, hahaha๐Ÿ˜† .

      Iya, pernah dengar Dev. Memang bagus ya kalau diterapkannya semenjak SD, kan sewaktu masih masanya pembentukan karakter gitu๐Ÿ˜€ .

    2. di sekolah (tpt aku ngajar dulu) ada nih Kantin Kejujuran. Tapi yg dijual cuma snack murah harga 500-1500 aja. ya macam Beng-Beng ato Hello Panda gitu lah๐Ÿ˜€

      1. Hahaha, jadi risikonya agak lebih kecil ya Bu๐Ÿ˜› . Tapi bagus lah ada kantin kejujuran gitu, kan juga melatih pola pikir/sikap pelajar kan๐Ÿ˜€ . Apalagi di sekolah, hehehe๐Ÿ™‚ Cocok!๐Ÿ™‚

  2. Jadi ingat :” Kejujuran adalah mata uang yang tak kenal inflasi “, tapi sayang manusia jujurnya yang inflasi ya…๐Ÿ™‚
    Ada nggak ya pengusaha yang berani nyoba disini.. ??

    1. Iya, manusia jujurnya yang kena inflasi, hahaha๐Ÿ˜› . Kalau nggak salah sih, dengar-dengar pernah ada lho, tetapi gagal total alias pada gak bayar, hahaha๐Ÿ˜› .

  3. pake tortilla chips?
    Bukan gado-gado ya harusnya namanya. haha.
    di kampusku juga ada kantin kejujuran. ya klo ga jujur bawa sendiri dosanya. hehe

    1. Iya, jadi nggak original ya, hahaha๐Ÿ˜› . Tapi ya nggak papa lah. Namanya makanan kan memang beradaptasi dengan tempat dimana dia dimasak kan, hehehe๐Ÿ™‚ .

      Wah, hebat! Itu kantin kejujurannya bisa berjalan dengan baik?๐Ÿ™‚

    1. Hahaha, iya ya๐Ÿ˜† . Justru masakannya malah meresapi pengertian nama “gado-gado”-nya banget๐Ÿ˜† . Tortilla setahuku sih dari Meksiko, apalagi kan dibuatnya dari jagung gitu. Meksiko banget! hahaha๐Ÿ˜›

  4. Gado2nya rasanya mirip gak ko dgn yg indo pny?hehehe, biasa kuncinya di bumbu kacangnya, sayuran sih bisa diganti2. Sistem bayarnya jadi alat test kejujuran dong ya

    1. Hahaha, bedaa๐Ÿ˜€ . Sausnya juga beda rasanya, walau sama-sama pake saus kacang. Tapi masih lumayan lah ya mereka nyediain gado-gado, hahaha๐Ÿ˜€ . Iya, sistem bayarnya jadi alat tes kejujuran banget, hehehe๐Ÿ™‚ .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s