Posted in Life in Holland, Zilko's Life

#1270 – Energy Supply

ENGLISH

For my new apartment, I also have to arrange the water/gas/electricity contract myself. Well, the agent (makelaar) could help me arranging it though through another company they have a cooperation with. So I choose to make use of their service because obviously I know pretty much nothing about it (during the first three years of my life in the Netherlands, I lived in housings run by student-housing organization who took care of everything, including the water/gas/electricity).

Now that I have to arrange this matter myself, I learn about the energy supply system in the Netherlands a little bit more; and it is very different from how it is in Indonesia. The main difference here is that for electricity and gas, there are several different companies who provide their service, so not only one like in Indonesia. In a way, having several options also creates a bit of extra work because I have to make a decision on which company I will choose (which obviously involves surveying the companies, price, reputation, etc), lol๐Ÿ˜† .

This makes me think though that this is probably one big reason why it is extremely rare to experience a black out here in the Netherlands: competition. In Indonesia, there is only one company that supplies electricity (PLN); and it is (at least ‘was’, when I was in Indonesia I mean) quite common to experience black out. For example, once I experienced black out four times in four consecutive days (each with duration at least 90 minutes๐Ÿ™„ ). But this situation isn’t (wasn’t) uniformly distributed everywhere in the country though. Based on my experience, some areas in the country experience black outs more often than the other. But still…

Anyway, back to the energy supply in the Netherlands. This is the even more awesome thing: beside the varying companies, in the Netherlands I can also choose how I want my electricity to be generated!๐Ÿ˜ฏ So I can choose if I want to have ‘green’ electricity (generated by wind/water/sun ray/biomass) or ‘gray’ electricity (generated by fossil fuel/nuclear). Even some packages offer the possibility for our electricity to be generated only by specifically one type of sources (wind, mostly).

In the end, I choose one company with green electricity (obviously I want to support and contribute to ‘greener Earth’ as much as I can) which happens to be the cheapest one as well (because they have a discount for a new client).๐Ÿ™‚

The Princess Amalia Wind Farm, an offshore wind farm (23 km from the coast), in the Netherlands. Photo credit: ยฉ Ad Meskens / Wikimedia Commons
The Princess Amalia Wind Farm, an offshore wind farm (23 km from the coast), in the Netherlands. Photo credit: ยฉ Ad Meskens / Wikimedia Commons

The photo as an illustration was taken fromย this Wikipedia page.

BAHASA INDONESIA

Untuk apartemen baruku, aku juga harus mengurus kontrak air/gas/listrik sendiri. Ya, agenku (makelar) juga bisa membantuku mengurusnya melalui sebuah perusahaan lain yang mana bekerja-sama dengan mereka sih. Dan tentu saja aku memutuskan untuk menggunakan jasa mereka karena kan, tentu saja, aku tidak tahu apa-apa mengenai perihal ini (selama tiga tahun pertama hidupku di Belanda, aku tinggal di apartemen yang dikelola oleh sebuah organisasi student-housing yang mengurus semuanya, termasuk urusan air/gas/listrik).

Karena sekarang aku harus mengurus urusan ini sendiri, aku jadi tahu sistem suplai energi di Belanda lebih jauh; dan sistem ini amat berbeda dari sistem di Indonesia loh. Satu perbedaan utamanya adalah ada beberapa perusahaan yang memberikan suplai listrik dan gas di Belanda, tidak hanya satu seperti di Indonesia. Di satu sisi, memiliki beberapa pilihan seperti ini agak membuat lebih repot juga karena aku jadi harus membuat keputusan untuk memilih menggunakan jasa perusahaan yang mana kan (yang mana tentu saja termasuk men-survey perusahaannya, harga, reputasi, dll), huahaha๐Ÿ˜† .

Tapi ini membuatku berpikir bahwa mungkin inilah satu alasan besar mengenai mengapa yang namanya mati lampu sangat amat jarang terjadi (bisa dibilang nyaris nggak pernah terjadi) di Belanda: kompetisi. Di Indonesia, hanya ada satu perusahaan saja yang menyuplai listrik (PLN); dan (setidaknya dulu sih, ketika aku masih di Indonesia) bukanlah sesuatu yang langka untuk mengalami mati lampu. Misalnya, pernah sekali waktu aku mengalami mati lampu empat kali dalam empat hari berturut-turutย (masing-masing dengan durasi setidaknya 90 menit๐Ÿ™„ ). Tapi situasi ini tidak terjadi merata di semua daerah loh. Berdasarkan pengalamanku, beberapa daerah mengalami mati lampu lebih sering daripada daerah lain. Tapi tetap aja lah ya…

Anyway, kembali ke topik mengenai suplai energi di Belanda. Ada satu hal yang super keren banget: disamping keberadaan beberapa pilihan perusahaan, di Belanda aku juga bisa memilih bagaimana aku ingin listrikku dibangkitkan!๐Ÿ˜ฏ Jadi aku bisa memilih apakah aku ingin listrikku itu ‘hijau’ (dibangkitkan dengan tenaga angin/air/sinar matahari/biomassa) atau ‘abu-abu’ (dibangkitkan dengan tenaga bahan bakar fosil/nuklir). Bahkan beberapa paket memungkinkan kita untuk memilih listrik kita dibangkitkan secara spesifik dengan salah satu sumbernya (kebanyakan sih angin).

Pada akhirnya, aku memilih satu perusahaan dengan listrik hijau deh (tentu saja aku ingin, sebisa mungkin, mendukung dan berkontribusi untuk ‘Bumi yang lebih hijau’ kan) yang kebetulan juga pilihan yang paling murah (soalnya pas ada diskon gitu untuk pelanggan baru).๐Ÿ™‚

14 thoughts on “#1270 – Energy Supply

    1. Iya, bisa pilih mau hijau atau abu-abu. Dan perusahaannya ada beberapa dan harganya juga beda-beda loh. Jadinya bikin bingung kan mau milihnya, hahaha๐Ÿ˜† . Tapi memang enaknya gak pernah mati lampu sih, hahaha๐Ÿ˜€ .

  1. sebenernya bukan masalah monopoli doang sih, disini perusahaan listrik nya juga cuma 1, tapi gak pernah mati lampu. kalo di indo sih sering mati lampu karena emang gak becus kerjanya. hehehee

    1. Hahaha, iya. Walau satu tapi kalau kerjanya oke ya gak bakalan mati lampu ya๐Ÿ˜€ . Makanya kalau ada beberapa kan jadi ada persaingan sehingga seharusnya kinerjanya bisa membaik, hehehe๐Ÿ˜€

    1. Kalau yang dari angin aja mahal soalnya mulai tahun ini subsidi pemerintah di tenaga angin berkurang karena krisis, hahaha๐Ÿ˜€ . Per tahunnya rata-rata lebih mahal sekitar 1,5 juta rupiah kalau pakai yang angin doang๐Ÿ˜€ . Jadi pakai yang hijau aja deh, hahaha๐Ÿ˜† .

        1. Anginnya sih gratis tapi membuat dan merawat windmill-nya kayaknya mahal banget. Soalnya kincir anginnya ada di tengah laut gitu kira-kira 23 km dari garis pantai… .

    1. Iya, asyik juga banyak pilihannya. Tapi awalnya bikin bingung juga loh, hahaha๐Ÿ˜† . Dan asyiknya juga hampir gak pernah mati lampu๐Ÿ˜€ . Iya, makanya aku milih yang ijo sebisa mungkin๐Ÿ˜€ . Kalau angin doang harganya mahal euy, jadi pilih yg ijo aja deh. Toh masih hijau juga kan๐Ÿ˜€ .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s