Posted in Big Days, Zilko's Life

#1143 – Thursday Story and Graduation, Again

ENGLISH

Thursday Story

My original plan for Thursday was to pick up my parents in Den Haag and help them to move to their next hotel in Delft. I still had some works to do as I could not finish everything on Wednesday. So, my plan was to go back to my office once my parents checked in at their Delft hotel.

But then, we decided to have lunch after checking in at the hotel. My parents wanted to eat something more Southeast-Asian-ish and because all Indonesian restaurants we found were closed, my dad picked a Thai restaurant. The service, however, took really long and we spent like more than good 60 minutes there just for lunch (but the food was good though). It was already quite too late (I mean, I wouldn’t have had a productive day had I decided to get back to work anyway) so I chose to accompany my parents going around Delft instead.

Later that evening, we had dinner at a medieval-themed restaurant in Delft. It was quite a well-known place because it was so unique: the theme was so medieval that there was no electricity (so it was very dark and the lighting came from candles), the building was a typical old castle-like building from the medieval age (there were even chickens walking around in the restaurant) and decorated with medieval-themed decoration (like hanging a net of garlic, etc), and because it was medieval, we did not eat with any apparatus – in other words: we had to eat with our hands (which was quite troublesome for me). It was such a unique experience! The food was just okay though (but the portion was huuge), but what stood out was definitely the experience.

Graduation, Again

The main agenda my parents were having this European trip now was actually to attend my graduation ceremony. Well, you might recall that I actually have had my (individual) graduation ceremony about 2.5 months ago. However, since months before I already told my parents that based on the information in TU Delft’s website, there would be a graduation ceremony for my department on November 2nd. So, they already made some planning revolving around this info. And somehow, while preparing for my thesis defense, I filled a form telling that I would have an individual graduation ceremony instead of joining the collective one.

I emailed the secretary and the faculty’s HR that dealt with graduation ceremony thingy; and they said that even though I would have had my individual graduation ceremony by then, I still could be invited to the collective one as a guest. I wouldn’t receive my diploma (as I would have received it at my individual ceremony) but I would basically be “treated” like other graduates as well, like being addressed by my responsible professor, getting a toga hat, etc. Well, of course I decided to accept the invitation.

So, the collective graduation ceremony was this afternoon; and this was basically the theme of today. I picked my parents at their hotel and then we went to my campus to have a (very) short tour around. We stayed in my office until the time (which was 12:45) and went downstairs to Lecture Room B for the ceremony. Some of my friends were already there, and there were more people than I expected, hahaha😀 .

Anyway, I was assigned to seat number 1 and so I was the first one to be addressed by my professor. And the difference between the graduation ceremony in Indonesia (at least based on my experience) was that here, for every graduate that was addressed, the professor described the graduate’s work and achievement as well as what he/she thought of the student. In my opinion, it was super cool and it felt more personal (from the graduate’s point of view) and added the value of graduating.

At around 14:30, the ceremony ended (there were about 30 graduates or so). Later in the afternoon, we went to IKEA and had our dinner there. At 19:30, I arrived back at home.

BAHASA INDONESIA

Cerita Kamis

Rencana awalku untuk hari Kamis adalah menjemput orangtuaku di Den Haag dan membantu mereka pindahan ke hotel mereka yang selanjutnya di Delft. Aku masih ada beberapa kerjaan yang mesti diselesaikan karena aku tidak bisa menyelesaikan semuanya di hari Rabu lalu. Jadilah rencanaku adalah untuk kembali ke kantor setelah orangtuaku check-in di hotel mereka di Delft.

Namun kemudian, kami memutuskan untuk makan siang setelah check-in hotel. Orangtuaku ingin makan sesuatu yang bernuansa agak-agak ke-Asia-Tenggara-an gitu deh dan karena semua restoran Indonesia yang kami temukan sedang tutup, papaku memilih sebuah restoran Thailand. Servisnya, tapinya, memakan waktu lama sekali dan kami menghabiskan waktu lebih dari 60 menit (yang berharga) disana hanya untuk makan siang saja (tapi makanannya enak sih). Karena sudah agak terlambat (maksudku, toh aku nggak akan bisa bekerja dengan produktif andaikan aku kembali ke kantor), aku memutuskan untuk menemani orangtuaku berkeliling Delft aja deh kemudian.

Malamnya, kami makan siang di sebuah restoran yang bertemakan abad pertengahan di Delft. Tempat ini lumayan terkenal juga lho karena unik sekali: temanya itu abad pertengahan jadinya ya nggak ada listrik (jadinya di dalam restorannya gelap dan penerangannya hanyalah dari lilin), gedungnya memang gedung tua seperti kastil gitu dari abad pertengahan (bahkan ada ayam juga dong yang berkeliaran di restorannya) dan didekorasi dengan dekorasi abad pertengahan (seperti gantungan bawang putih, dsb), dan karena abad-pertengahan, ya artinya nggak ada peralatan makan apa pun deh – atau dengan kata lain: kita hanya bisa memakan dengan menggunakan tangan kita (yang agak merupakan sebuah masalah untukku). Benar-benar sebuah pengalaman yang unik! Rasa makanannya biasa saja sih sebenarnya (tapi porsinya gede banget dong!), dan yang menonjol memang pengalamannya kok.

Wisuda, Lagi

Agenda utama orangtuaku bepergian ke Eropa kali ini sebenarnya adalah untuk menghadiri upacara wisudaku. Yah, mungkin pada ingat bahwa sebenarnya aku sudah mengikuti upacara wisuda (individual)-ku sekitar 2,5 bulan lalu. Namun, semenjak beberapa bulan sebelumnya aku sudah memberi-tahu orangtuaku bahwa akan ada upacara wisuda di fakultasku pada tanggal 2 November. Jadilah mereka sudah membuat perencanaan berdasarkan informasi ini. Dan entah bagaimana, ketika mempersiapkan sidang tesisku, aku mengisi formulir yang mana artinya aku memilih untuk mengikuti upacara wisuda individual dan bukannya upacara wisuda kolektif ini.

Aku kemudian meng-email sekretaris dan HR-nya fakultasku yang mengurus upacara wisuda ini; dan mereka bilang bahwa walaupun aku sudah mengikuti upacara wisuda individualku, aku masih bisa diundang ke upacara wisuda kolektifnya sebagai tamu. Tentu saja aku tidak akan menerima ijazah (kan aku sudah menerima ijazahku di upacara wisuda individual-ku) tetapi pada dasarnya aku akan “diperlakukan” sama seperti wisudawan lainnya, seperti misalnya dipanggil oleh professor penanggung-jawabku, mendapatkan topi toga, dll. Ya, tentu saja aku menerima undangan ini dong ya.

Nah, acara upacara wisudanya diadakan siang tadi; dan pada dasarnya inilah tema hari ini. Aku menjemput orangtuaku di hotel mereka dan langsung pergi ke kampus untuk tur kampus (sedikit). Kami duduk-duduk di kantorku sampai waktunya tiba (jam 12:45) dan kemudian turun ke Ruang Kuliah B untuk mengikuti upacaranya. Beberapa temanku sudah berada disana, dan ternyata ada lebih banyak orang daripada bayanganku deh, hahaha😀 .

Anyway, aku diberi tempat duduk nomor 1 dan jadilah aku yang dipanggil pertama oleh professorku. Perbedaan dengan upacara wisuda di Indonesia (setidaknya berdasarkan pengalamanku) adalah disini, setiap wisudawan yang dipanggil ke depan, sang professor mendeskripsikan materi thesis si wisudawan beserta pencapaian-pencapaiannya, dan juga menceritakan kesannya akan si wisudawan. Menurutku ya, ini sangatlah keren dan jadi terasa lebih personal (dari sudut pandang wisudawan) dan tentu menambah nilai dari lulus itu sendiri.

Sekitar jam 14:30, upacaranya berakhir (ada sekitar 30 wisudawan tadi). Sorenya, kami pergi ke IKEA dan makan malam disana. Jam 19:30, aku balik ke rumah deh.

30 thoughts on “#1143 – Thursday Story and Graduation, Again

  1. Congratz ya Ko buat wisudanya!🙂
    Eh kalo wisudanya selalu ada testimonial buat tiap lulusannya berarti bakal lama banget dong acaranya…🙂

    Restaurant ala medieval keren, eh kalo di Belanda boleh ya ada ayam dipelihara begitu? Baru tau nih, soalnya pas aku di US dan di Aussie kayanya ayam nggak boleh dipelihara bebas, cuma boleh di farm aja. Takut ngganggu tetangganya kali ya hehehehe….😀

    1. Trims! Makanya Chit, tadi cuma 30an aja yang diwisuda. Jadi Bachelor sama Master dipisah, terus juga diadainnya masing-masing fakultas gitu, bukan gabungan satu universitas, hehehe😀 Di satu fakultas pun kadang masih dibagi-bagi. Untuk mengakomodir ini sepertinya ya, kalau kebanyakan ya lama banget dah, huahaha😆 .

      Wah, nggak tahu deh. Cuma mungkin harus ada izin juga gitu kali ya, hehehe🙂

      1. I see… Iya kebayang aja kalo undergraduate dan graduate graduation ceremony-nya digabung hehehehehe…🙂
        Tapi asik yah kalo cuma wisuda satu fakultas, jadi lebih personal.🙂

        1. Yoi, kalau digabung ga akan cukup dah waktunya, huahaha😆 . Iya, bagi mahasiswanya sih enakan kalau sefakultas dan gini kan ya, lebih personal sehingga jauuh lebih berkesan acaranya🙂

    1. Iya, wisuda kolektif memang auranya lebih terasa; tapi wisuda individu memang lebih ringkas dan praktis. Jadi sidang, langsung wisuda, beres deh, hehehe🙂 Trims

    1. Mahasiswa TU Delft total nggak terlalu banyak kok, sekitar 15000an. Tapi yang wisuda kemarin ini hanya 30an. Iya, soalnya kalau di Indo gitu biasanya kan semuanya digabung kan wisudanya; nah ini engga🙂

  2. “the professor described the graduate’s work and achievement as well as what he/she thought of the student”
    dis is cool man.. all the people who come in there know what make you graduate..
    pretty cool..
    after graduate from ui, i will be like you, brother🙂

  3. Waduh wisuda kali ke-3.
    Berarti ntar PhD ini wisuda ke-4 ya, hehehe😀
    Memang ya…. ortu kan pasti ada kebanggaan tersendiri saat melihat anaknya diwisuda diatas panggung🙂

    1. Ho oh, ini berarti hitungannya wisuda dua kali ya Bu, wkwkwkw😆 . Iya, dari awalnya memang kita berencana mau yang wisuda November ini. Eh ternyata mereka ada konsep wisuda baru dan aku malah ngisinya formulir untuk wisuda yang konsep baru (individu) itu. Untungnya masih bisa ikutan yang kolektif ini, hahaha😀

    1. Yoi, kalo dijadiin satu sih kalau dikasih testimoni satu-satu juga sehari ga akan selesai ya Nie, hehehe😀 Dulu aku di Indonesia juga gitu kok, sekali wisuda sekitar 600an orang. Makanya kalau disini kan dipisah-pisah gitu deh.

        1. Ho oh, dibedain Nie. Makanya lebih seru dan lebih hikmad kan. Juga lebih berkesan lho soalnya kita mendengar langsung kesan professor kita akan kita gitu, di depan umum, hehehe😀

  4. seru yah wisudanya… kalo cuma 30 orang sih dibacain pencapaian-pencapaian sih tetep gak akan makan waktu yang lama.. dibandingin wisuda dengan ratusan wisudawan.. hahahahaha. Jadi inget wisuda fakultas S2 sepupuku di UI

    1. Yoi, seru banget. Makanya wisudanya dipisah-pisah alias nggak digabung semuanya gitu deh. Kalau digabung semua mana sempaat, hahaha😀 . Di UI juga seperti itukah??

    1. Trims!🙂 Iya, dulu sewaktu S1 juga singkat bener wisudanya. Soalnya satu universitas barengan sih wisudanya😀 Nah, yang S2 ini yang keren dan personal banget🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s