Posted in EuroTrip, Ten Day Trip, Travelling, Vacation

#964 – Austria Summer Trip (Part VI)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya pergi ke Austria dalam rangka liburan musim panas. Seminggu (lebih) sudah mereka habiskan di Austria dan mereka telah mengunjungi Innsbruck, Salzburg, Linz, dan Vienna. Kini mereka berada di dua hari terakhir dari perjalanan ini.

===

Hari 9 (Kamis, 25 Agustus 2011)

Semua tujuan di Vienna telah kami kunjungi, dan ini sesuai banget dengan rencana kami. Hari Kamis ini adalah hari penuh terakhir dari perjalanan kami, dan sesuai dengan rencana sebelum kami berangkat, kami akan mengunjungi ibukotanya negara Slowakia hari ini: Bratislava.

Mungkin pada nanya: “Ngapain sih ke Bratislava?“. Ya, jawabannya adalah: “Karena kami bisa kesana“, wkwkwkw😆 . Soalnya gimana ya, Bratislava ini jaraknya kan cuma 60an km aja gitu dari Vienna. Jaraknya kurang lebih sama kayak Jakarta – Bogor atau Jogja – Solo gitu deh, alias nggak jauh. Udah sampai Vienna, kenapa nggak disekalianin kesana aja, betul tak?😀 Trivia sedikit: Vienna dan Bratislava adalah dua ibukota negara yang jaraknya paling dekat di dunia loh.

Jadi, ceritanya pagi itu kami pergi ke stasiun Simmering, sebuah stasiun kecil di kota Vienna, karena kereta ke/dari Bratislava bakal berhenti di situ. Sebenarnya keretanya berangkatnya dari stasiun Wien Oostbahnhof sih, tapi berhubung dari hostel kami lebih gampang buat pergi ke stasiun Simmering (tinggal naik subway 1x doank nggak perlu transit-transit segala, huahahaha *males jalan mode on*😎 ), jadilah kami kesana aja. Dan stasiun Simmering ini stasiun pemberhentian terakhir dari jalur subway itu loh. Jadi ya waktu pagi ini kami naik subway di waktu rush hour yang mana keretanya rame banget penuh orang (di tengah kota) sampe keretanya sepi, hahahaha😀.

Singkat cerita, jam 9.26 pagi kereta tujuan Bratislava berangkat dari stasiun Simmering. Lumayan, keretanya sepi jadi bisa duduk sesuka hati (baca: menguasai beberapa tempat duduk buat diri sendiri, muahahaha😈😆 ). Btw, tiket ke Bratislava nggak terlalu mahal ternyata. Tiket pp-nya 14 euro yang berlaku untuk satu kali naik kereta bolak-balik (nggak harus dipakai di hari yang sama) dan tiket ini juga termasuk penggunaan alat transportasi umum di Bratislava loh. Well, singkat cerita, sekitar sejam kemudian keretanya tiba di stasiun Bratislava Hlavná Stanica. Dan langsung terasa deh suasana Bratislava yang beda banget sama negara-negara Eropa yang sudah aku kunjungi selama ini: agak lebih kumuh gimanaa gitu, hehe. Ini nih suasana di stasiun yang menyambut kedatangan kami di Slowakia:

Selamat datang di Slowakia!

Kami lalu naik bus untuk pergi ke pusat kota (males aja ye jalan kaki, lagian naik bus-nya kan gratis dengan tiket kereta kami itu, huahahaha😆 ). Tujuan pertama kami adalah Kastil Bratislava yang ada di puncak bukit di kota. Kami turun dari bus di sebuah perempatan besar di depan Grassalkovich Palace (sebenarnya waktu itu kami nggak sadar sih kami berada di seberangnya Grassalkovich Palace, yang kami liat malah hotel Crown Plaza yang ada di sisi lain jalan, wkwkw😆 ). Yak, lalu, berjalanlah kami ke arah Kastil Bratislava itu. Ternyata nggak jauh-jauh amat ya. Nggak kerasa tiba-tiba kami sudah sampai di atas bukitnya, haha😀.

Kami lalu foto-foto di depan kastilnya (ada banyak turis lain juga disitu waktu itu). Masuk ke dalam areanya dan sepertinya koq nggak ada yang menarik ya, cuma ada satu museum gitu yang katanya merupakan museum tentang sejarahnya Slovakia gitu. Lagi pingin ngirit, agak males lah aku masuk museum. Tapi waktu nanya harganya sama penjual tiketnya, koq harganya cuma 1,5 euro ya buat satu orang? Muraaaaahhh!!!! Jadilah kami malah beli tiketnya dan masuk ke museum itu😆 *tergoda sama harga yang rendah*😛. Dan tiket masuknya bagus loh. Kami langsung mikir: “Ini orang harga tiket museum murah amat tapi tiketnya segini bagus? Mereka ambil untungnya kecil dong ya?” haha. Lalu, masuklah kami ke museum itu.

Kastil Bratislava
Pemandangan dari Kastil Bratislava menghadap sungai Danube

Begitu masuk, ada satu ruangan kecil yang ada beberapa pajangan (yang aku nggak peduli isinya apa soalnya nggak penting sih, cuma pecahan-pecahan apa gitu). Kami lalu beranjak ke ruang kedua, yang isinya kurang lebih sama. Lalu, kami harus turun tangga di dalam kastil (keren kan) ke ruang ketiga. Isinya juga masih gitu-gitu aja. Lalu, kami berpindah ke ruang keempat, yang juga kecil, yang isinya juga gitu-gitu aja (lagi). Setelah ruang keempat kami harus naik tangga, dan ternyata … kami sudah balik ke pintu masuk lagi!! WHAT THE HELL????😕 Apa-apaan ini???? Apa kami melewatkan satu pintu/jalan lain gitu ya?😕 Langsung deh kami mengulangi lagi rute kami dari ruang satu sampai ruang empat; dan ternyata memang NGGAK ADA JALAN LAIN!! Jadi artinya: ya udah museumnya cuma empat ruangan kecil itu doank!!😯 Uwaaaaaa!!! Kami merasa tertipuu!!!! *jambak-jambak rambut* 😡👿 Pantesan aja tiket masuknya cuma 1,5 euro doank. Lha cuma gitu doank museumnya. Ini artinya 1,5 euro itu MUAHALL banget lah!! Makanya saudara-saudara, jangan termakan dengan promosi harga yang “rendah”, karena bisa jadi kualitasnya juga rendah, yang artinya harga segitu juga nggak murah, hahaha😆 .

Btw, toilet umum di kastil itu mahal banget loh. Masa seorang mesti bayar 80 sen buat ke toilet doank? (sekitar hampir 10 ribu rupiah kan ya tuh). Padahal harga standarnya di Eropa kan 50 sen tuh (tapi aku biasanya teteup nyari yang gratisan sih, huahaha😆 ). Tapi berhubung kebelet, jadi gimana lagi deh😦😥 . Setelah dari kastil itu, kami turun gunung bukit menuju pusat kota.

Kota Bratislava
Kota Bratislava
Gerbang Michael di Kota Bratislava
Ternyata Jakarta itu 10.491 km jauhnya dari Bratislava

Pusat kotanya menarik juga tuh, walau nggak spesial-spesial amat sih. Dan kotanya juga nggak seramai Vienna. Lapar, kami makan siang deh di sebuah square di pusat kota itu. Sebelum berangkat, aku sudah survey dong tentang makanan khas-nya Bratislava. Dan yang aku temukan adalah sebuah menu yang namanya Bryndzové halušky. Namanya eksotis ya? hahaha😆 . Harus dicoba deh, kapan lagi kan balik ke Bratislava? Dan kami memang menemukan sebuah tempat makan yang menjual menu tersebut. Tapi ternyata masakan ini tuh porsinya kecil banget gitu, jadi aku sama temanku memutuskan untuk memesan satu porsi Bryndzové halušky untuk dibagi dua (kan cuma sekedar mencoba aja), trus kami juga memesan masing-masing satu menu gitu. Aku lalu memilih menu bernama “penne con pollo s kuracim masom, salotkou, cerstvou bazalkou a parmezanovymi hoblinami“, yang mana intinya adalah pasta gitu deh sebenarnya, hahaha😆 . Rasanya enak juga ternyata.

"Penne con pollo s kuracim masom, salotkou, cerstvou bazalkou a parmezanovymi hoblinami" dan "domace Bryndzové halušky so slaninkou".

Setelah makan siang, kami memutuskan untuk “berburu” patung perunggu yang diletakkan di beberapa penjuru pusat kota. Menurut buku Lonely Planet, ada empat patung perunggu di Bratislava, yaitu: The Frenchman, The Beautiful Ignaz, The Paparazzi, dan The Watcher. Dan kami akhirnya memang menemukan semuanya (dan foto-foto).

Empat patung perunggu di Bratislava
Kota Bratislava
Jembatan Nový Most di Bratislava
Restoran UFO di jembatan Nový Most

Kami lalu keliling-keliling kota aja (yang mana hari itu lagi panas banget). Setelah menyebrangi jembatan Nový Most, kami menemukan sebuah kafe di dekat jembatan yang tempatnya pewe banget buat santai-santai (ada kursi malasnya gitu deh yang menghadap ke sungai Danube dan berada di bawah pohon yang rindang). Harga minuman yang mereka jual juga masih masuk akal. Jadilah kami duduk-duduk santai disana, hahaha😛.

View dari tempat santai-santai di pinggiran sungai Danube

Setelah satu jam duduk-duduk santai, kami lalu berjalan menyusuri sungai Danube. Btw, tahu dong Slowakia itu kan negara yang nggak berbatasan dengan laut ya, jadi mereka nggak punya yang namanya pantai. Tapi kayaknya mereka ingin punya pantai deh, makanya mereka membuat pantai buatan di pinggir sungai Danube. Suasananya kayak gini:

Pantai buatan di Bratislava

Singkat cerita, tiba-tiba kami sudah kembali di pusat kota lagi. Nggak merasa ada yang menarik, kami memutuskan untuk kembali ke Vienna saja. Maka, berjalanlah kami kembali ke Grassalkovich Palace buat naik bus kembali ke stasiun. Sambil nunggu bis, sekalian foto-foto ah di depan istananya, hahaha😆 :

Istana Grassalkovich

Dan begitulah, kami kembali ke Vienna naik kereta yang berangkat jam 6 kurang dan jam 7 kami sudah kembali di Vienna.

Hari 10 (Jumat, 26 Agustus 2011)

Penerbangan kami kembali ke Belanda dijadwalkan berangkat jam 2an kurang dari bandara internasional Vienna. Makanya pagi itu kami sempetin lah jalan-jalan dikit di Mariahilfer Strasse, jalan utama di Vienna yang terkenal sebagai tempat shopping gitu deh. Aku beli Krugel buat oleh-oleh teman di Belanda dan kami makan pagi di KFC (😳 ). Btw, KFC kalo baru buka gitu riweuh (sibuk) banget ya ternyata, hahaha😛.

Jam 11.30, kami kemudian berangkat ke bandara Vienna. Kami tiba disana sekitar jam 12.30an dan langsung check in buat penerbangan kami. Waktu itu cuaca lagi cerah banget dengan suhu sekitar 35an derajat. Nah, lalu diumumkan bahwa penerbangan ke Rotterdam (kami baliknya lewat Rotterdam, nggak lewat Amsterdam. Bagiku yang tinggal di Delft ini enak sih soalnya kan lebih deket pulangnya) akan terlambat sedikit karena di Belanda lagi cuaca buruk (jah, padahal di Vienna lagi puanas dan cerah gitu, haha😆 ). Tapi akhirnya telatnya cuma 15 menit sih, hmm. Orang sini memang menghargai ketepatan waktu ya. Ada kejadian lucu waktu boarding, aku simpan buat bagian penutup rangkaian posting jalan-jalan ke Austria nanti deh ya🙂.

Pesawat "Robert van der Vlies"-nya transavia siap terbang ke Rotterdam dari Vienna
Pemandangan kota Rotterdam sebelum mendarat di bandara Rotterdam The Hague

Singkat cerita, lalu kami naik ke pesawat kami, sebuah Boeing 737-7K2-nya transavia dengan kode registrasi PH-XRC yang diberi nama “Robert van der Vlies” oleh transavia. Kemudian, penerbangan dengan nomor penerbangan HV 5292 itu terbang meninggalkan Vienna dengan lepas landas dari landasan pacu 16 bandara internasional Vienna menuju Rotterdam. Sekitar jam 4 sore, kami mendarat di landasan pacu 24 bandara Rotterdam The Hague di Rotterdam. Btw, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di bandara ini loh, hehehe😀. Bandaranya ternyata bandara kecil gitu deh, kira-kira mirip lah sama bandara Adisucipto di Jogja.

Bandara Rotterdam The Hague di Rotterdam
Area pengambilan bagasi di Bandara Rotterdam The Hague di Rotterdam

Kemudian kami naik bus untuk kembali ke Delft, dan berakhirlah perjalanan sepuluh hari kami ke Austria (dan Slowakia).

SELESAI.

19 thoughts on “#964 – Austria Summer Trip (Part VI)

  1. Jadi intinya di.slowakia itu gak ada tempat yg ‘harus dikunjungi banget’ ya zil.. cuma karena dia deket dg vienna aja dan timetnya juga murah.. tapi lumayan tuh bisa foto2 sama patungnya.. hehehehe

    1. ho oh, bener banget. Menurutku nggak ada yang terlalu spesial sampai harus khusus dikunjungi gitu sih. Eh, ini maksudnya Bratislava-nya lho, kalo kota-kota lain di Slowakia sih nggak tahu saya, hahaha😛 Iya, lumayan tuh patungnya. Yang khas bgt ya patung-patungnya itu😀

  2. Aku suka bangunan2 disana tuh, bangunan tua…tp warna dindingnya yellow, red, aduhhhhh keren abes! Udah gitu di foto2mu juga keliatan langitnya bagus banget nget! Trs itu pasta kayaknya enak ya, mwahahaha…

    *tetep ujung2nya ngomentarin makanan*

    1. iya, bangunan tua memang banyak yang di-preserve ya disini, hehehe😛 Yup, kadang warnanya ya warna-warni gitu deh. Di deketnya Venezia juga ada tuh kota kecil di pulau kecil yang namanya Burano, suasananya juga kayak gini gitu deh: gedung-gedung yang warna-warni dengan kanal-kanalnya, hehehehe😛

      Ya emang gitu deh Bu, pas kesana kemarin emang pas cerah terus sih, hahaa😀 Pastanya lumayan tuh🙂 Sayang tipe kejunya bukan yang kesukaanku, hehe

    1. hahaha, iya. Wiken kemarin aku baru nonton lagi filmnya (dibuatnya bukan 2006 sih kayaknya, tapi 2002/2003an gitu deh, hehe :D). Dan di film itu kayaknya di-lebay-in deh😛

    1. Iya, kadang kalo di Indonesia bayar 1000 aja udah agak-agak gak rela gitu ya, hahaha😛 Disini ada sih kadang yang gratis, dan kalo bayar biasanya harganya seragam di 50 sen. 80 sen ini emang agak “kelainan” sih, hahaha😛

  3. Wah.. saya paling suka sama postingan ttg trip kaya gini, jadi termotivasi buat ‘nyusul’ hahaha.. entah kenapa ya kalo pergi ke negara lain kayanya males juga ke museum hahaha.. emang museumnya gak keliatan dari luar ya? besar kecilnya? cuma 4 ruangan gitu O_O

    kalo toilet mahal mending beli pembalut untuk dewasa aja kali ya, kalo beser gak perlu ke toilet lagi.. hahha

    1. hahaha😀 Museum satu yang di Bratislava ini aja yang jelek. Tapi kalau secara keseluruhan di Eropa, banyak banget museum yang bagus. Biasanya museumnya itu bekas istananya raja-raja sini, atau isinya koleksi yang keren banget (misalnya Monalisa yang asli (ada di Louvre di Paris), atau patungnya David (di Galeri Academia di Florence) atau Kapel Sistine (di Museum Vatikan di Vatikan)).

      hahaha, bener juga tuh, bisa diakalin gitu😛

    1. iya, kalau di negara-negara di Eropa bagian barat umumnya transportasi daratnya sudah maju dan modern banget, jadi dengan perjalanan darat (asal gak kejauhan ya jaraknya) juga ga terlalu lama🙂 Misal dari Belanda ke Paris, jaraknya kurang lebih sama seperti dari Jogja atau Semarang ke Jakarta, tapi dengan kereta waktu tempuhnya cuma 2 jam 40 menit, hehe😀 Tapi kalau sudah antar negara yang agak jauhan ya mending naik pesawat sih, hehe.

  4. He he bro, gua besok nih sabtu tgl 9 ke Bratislava , pengen tau disono kira kira harga buat ngupi ngupi tapi yg di daerah stranikova street kisaran berapa yah ? , ampe € 6 mungkin ? , dikau tau ga yah kalo beli beli souvenir bratislava dan Wien itu ada daerha spesifiknya ga yah misalnya di markt apa gitu he he ( anu temen nitip mini standing banner ma snowball yg ada tulisan Bratislava or Wien nya ) . Makasi yah Zilko. Boleh nih keknya traveling bareng kapan kapan he he .

    1. Aku dulu ke Bratislava hanya untuk one day trip dari Vienna jadi tidak terlalu mencari mana-mana tempat yang murah buat ngopi atau beli souvenir, hehehe🙂 Cuma dulu ada anggapan bahwa di Bratislava lebih murah daripada Vienna, yang mana ternyata (kalau di pusat kotanya) tidak terlalu benar. Mungkin karena aku pergi memang ke daerah turis kali yah jadi lebih mahal, hehehe🙂

      Kalau souvenir sih rasanya tersebar banyak di seluruh kota kok. Snowglobe rasanya dimana-mana waktu itu ada (karena aku beli juga, hehehe :D) dan kalau yang dimaksud mini standing banner itu semacam kayak ‘patung’ atau ‘ukiran’ kecil tentang kotanya, ini juga rasanya dimana-mana ada kok. Jadi rasanya nggak perlu terlalu perlu mengkhususkan waktu mencari daerah souvenir. Jalan-jalan aja (di daerah utamanya) ntar juga ketemu tuh beberapa toko souvenir, hehehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s