Posted in EuroTrip, Ten Day Trip, Travelling, Vacation

#961 – Austria Summer Trip (Part V)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya pergi ke Austria dalam rangka liburan musim panas. Mereka telah mengunjungi tiga kota disana: Innsbruck, Salzburg, dan Linz. Kini mereka berada di ibukota negara Austria, Vienna atau Wien.

===

Hari 7 (Selasa, 23 Agustus 2011)

Sarapan kami lebih “bener” hari ini (“bener” dalam arti kami sarapan menu yang Austria banget gitu, hahaha😆 ). Kami makan pagi di sebuah cafe dan makan Sachertorte, semacam kue coklat khas-nya Vienna. Makan paginya koq dessert gitu? Ya habis gimana lagi ya, yang namanya sarapan ala Eropa itu ya gini deh: seputar roti-roti, dan paling banter sereal, trus kopi, hahaha.

Kue sachertorte di Vienna

Hari ini, tujuan pertama kami adalah Schloss Schönbrunn, sebuah istana (lagi) yang lokasinya ada di bagian barat Vienna. Ngelihat di peta, istana ini gede banget loh. Dan bener aja, memang istananya areanya gede banget. Gedung istananya ukurannya biasa aja sih (maksudnya ya ukurannya masih besar gitu, tapi nggak besar-besar amat yang gimanaa gitu), tapi yang besar banget itu adalah tamannya.

Dan lagi, insiden Vienna Card terulang disini. Diskon yang diberikan oleh kartu pelajar lebih besar daripada diskonnya Vienna Card! hahaha. Btw, tiket masuk istana ini ada beberapa macam. Ada tiket paling murah yang hanya memberi akses masuk ke sebagian ruang di dalam istananya (yang sekarang dijadikan museum); tiket yang agak mahalan dikit tapi bisa melihat seluruh istananya; tiket yang lebih mahal lagi yang bisa memberikan akses ke istana dan beberapa tempat di istana itu (namanya Classic Ticket kalau nggak salah); dan tiket paling mahal yang memberikan akses masuk ke semua tempat di Classic Ticket, plus bisa ikutan kelas masak salah satu dish lokal Vienna. Nah, aku salah mengerti pengertian tiket itu. Aku kira, kalau nggak punya tiket yang minimal selevel Classic Ticket, kita nggak akan bisa masuk ke tamannya. Padahal, foto-foto tamannya di brosur itu bagus banget! Sayang kan kalau nggak masuk tamannya! Jadilah kami membeli yang Classic Ticket. Dan ternyata saudara-saudara, kalau mau masuk tamannya doank mah GRATIS! Nggak perlu tiket. Classic Ticket itu memberikan akses ke beberapa atraksi di tamannya (ada maze, akses naik ke atas sebuah arc, dan juga taman lain yang nggak bisa dimasuki dengan gratis). Jadi, harusnya beli tiket yang paling murah kedua (bisa masuk seluruh istananya) sih udah cukup kali ya sebenarnya (sayang kalau beli tiket yang paling murah, cuma bisa masuk setengah istananya doank, padahal dalamnya bagus tuh. Dan beda harganya juga cuma sekitar 1 euro doank, haha).

Jadi ternyata Schloss Schönbrunn ini dulunya juga merupakan istana keluarga kerajaan Austria, kalau nggak salah buat tempat istirahat kalau pas musim panas gitu. Di dalam istananya bagus, banyak barang-barang peninggalan dan barang-barang seni yang masih dirawat dengan baik. Ada sebuah lukisan resepsi pernikahannya salah satu ratu disana. Nah, ceritanya, lukisan ini butuh waktu empat tahun untuk diselesaikan (gede sih emang lukisannya: empat tahun gitu loh buat satu lukisan doang!). Sewaktu lukisan ini sedang dibuat, Mozart, yang masih berumur 6 tahun, diundang ke istana itu buat konser disana (gile ya, anak umur 6 tahun sudah konser euy! Di depan raja/ratu lagi!😯 ). Setelah konser itu, ratunya nge-fans berat sama Mozart. Oleh karenanya, atas permintaan ratu, lukisan itu akhirnya di-“edit” sedikit dengan cara menyelipkan Mozart sebagai satu tamu undangan resepsi pernikahan itu. Padahal aslinya sih, sewaktu resepsi pernikahan yang jadi setting lukisan itu berlangsung, Mozart nggak ada disana (karena Mozart belum dikenal sewaktu itu).

Di istana ini kami juga dipinjami audio guide gratis. Lumayan, jadi tahu sejarahnya. Dan menariknya, audio guide Schloss Schönbrunn ini menjelaskan sejarah kerajaan Austria (dan hubungannya dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya) dengan lebih men-detail loh. Yang aku ingat banget adalah ketika di audio guide dijelaskan bahwa lukisan di salah satu ruangan itu adalah lukisannya Marie Antoinette sewaktu ia masih remaja dan tinggal di istana itu. Aku heran dong, seingatku, Marie Antoinette ini kan ratunya Perancis yang glamor itu kan?😕 Lah, ngapain dia tinggal di istananya keluarga kerajaan Austria waktu masih kecil??😕 Lalu, baru sadar lah aku bahwa ternyata memang Marie Antoinette ini sebenarnya anak dari Raja Francis I dan Ratu Maria Theresa dari kerajaan Austria. Ia kemudian dinikahkan dengan Raja Louis XVI-nya Perancis supaya hubungan diplomatik Austria dan Perancis terjalin dengan erat. Btw, kasihan juga ya para putri-putri keluarga kerajaan ini. Kebanyakan mereka tuh menikahnya atas dasar hubungan diplomatik kerajaan loh. Udah gitu, orangtuanya ada yang pilih kasih juga loh. Ceritanya, Ratu Maria Theresa ini punya beberapa anak perempuan. Nah, ada satu putri yang memang merupakan putri kesayangannya. Jadi, ketika putri-putrinya yang lain dinikahkan atas dasar hubungan diplomatik negara (salah satunya ya Marie Antoinette ini), hanya si putri kesayangannya ini yang diizinkan menikah dengan pria yang dicintainya.😯 Ribet juga ya…

Schloss Schönbrunn
Schloss Schönbrunn

Anyway, setelah beres dari istananya, kami jalan-jalan di tamannya. Tamannya bagus loh, besar banget, dan karena waktu itu cuaca lagi cerah banget (seperti biasanya), jadi suasananya itu: PANAAASSS banget!! Memanfaatkan Classic Ticket yang kami pegang itu, kami memasuki semua atraksinya. Atraksinya menurutku biasa saja sih. Kami naik ke Gerbang “The Gloriette” yang ada di atas bukit. Pemandangan dari atasnya ya gitu aja sih menurutku. Lalu kami masuk ke taman yang isinya labirin. Ini lumayan seru sih soalnya aku mencoba masuk ke labirin tanpa membawa peta (banyak pengunjung labirin yang masuk ke labirin sambil bawa peta. Nggak seru lah ya kalau gitu, kan jalur yang benernya langsung ketemu, hahaha). Di tengah labirin itu ada semacam dek kayu yang dibuat di atas pohon gitu. Di bawah pohon itu ada “The Harmony Stones”: dua batu gitu, satu batu “cowok”, satunya batu “cewek”. Konon, kalau kita memegang batu yang sesuai dengan jenis kelamin kita, keharmonisan akan tertransfer ke dalam diri kita, huahahaha😆 . Ya udah aku pegang aja batunya, siapa tahu beneran kan, hahaha😆 . Kemudian kami masuk sebuah area taman yang nggak dibuka buat umum (tapi boleh dimasuki oleh pemegang Classic Card). Tamannya lumayan sih. Lumayan adem juga soalnya jalannya di bawah terowongan tanaman gitu, hehehe😀.

Schloss Schönbrunn
Labirin di Schloss Schönbrunn, terlihat dari dek di tengah Labirin

Ternyata, tiga jam sudah waktu kami habiskan di Schloss Schönbrunn. Memang area istana ini besar banget deh. Tujuan kami selanjutnya adalah KunstHausWien, sebuah museum yang didisain oleh Friedensreich Hundertwasser, seorang seniman asal Vienna yang sangat pro-lingkungan. Rumahnya disainnya unik tuh. Dan filosofinya Hundertwasser ini adalah ia sangat benci sama “garis lurus” (dalam konteks yang luas ya, bukan cuma garis yang lurus gitu maksudnya). Makanya ia nggak suka konsep apartemen yang “standar” dan “terkotak-kotak”. Ia juga menentang konsep lantai yang datar. Menurutnya, lantai yang bergelombang itu bagaikan melodi untuk kaki. Makanya di KunstHausWien ini lantainya juga nggak datar, tapi malah bergelombang gitu deh: yang mana bikin aku tersandung beberapa kali, wkakakaka😆 . Dan kalau kita refleksikan lagi, pandangannya ini “dalam” banget loh. Kadang manusia kan “terkungkung” dalam “kelurusan” itu semua. Bah, jadi dalam gini ngomongnya, haha😛. Btw, pandangannya dia yang aku kagumi sekali itu adalah pandangannya akan lingkungan. Ia sangat pro lingkungan dan peduli pada alam.😀

KunstHausWien di Vienna

Singkat cerita, setelah dari KunstHausWien, kami pergi ke areanya Wiener Riesenrad, sebuah ferris wheel yang sangat terkenal di Austria. Kami nggak naik sih, males soalnya harus bayar, hahaha😆 . Btw, ferris wheel ini dikunjungi oleh The Amazing Race 18 loh. Di sekiatrnya ferris wheel ini ada taman bermain gitu, semacam Dufan lah. Bedanya, masuk area taman bermainnya gratis loh. Jadi kita bayarnya ya ketika kalau masuk ke atraksinya aja.

Ferris wheel Wiener Riesenrad di Vienna

Setelah dari sana, kami kembali ke pusat kota buat makan malam. Aku memesan sebuah ayam panggang ala Vienna. Jadi ini adalah ayam panggang yang sausnya itu ala Vienna gitu, dan makannya dengan pasta. Enak loh, hehe. Sausnya mirip-mirip rasa kari gitu deh, hehe.😛

Ayam panggang ala Vienna. Enak loh😀

Hari 8 (Rabu, 24 Agustus 2011)

Pagi ini, kami pergi ke museum Belvedere. Belvedere ini terkenal banget karena karyanya Gustav Klimt ada disana. Karya seni yang ada di dalamnya nggak cuma karyanya Klimt aja sih, ada banyak. Btw, di Belvedere ada dua bangunan: Upper Belvedere dan Lower Belvedere. Kami masuk yang Upper Belvedere saja karena yang karya terkenalnya adanya di Upper Belvedere ini, sementara Lower Belvedere dipakai untuk pameran temporer.

Taman di areanya Belvedere

Setelah dari Belvedere, kami kembali ke area Hofburg untuk masuk di perpustakaannya. Nah, menjawab pertanyaan di posting bagian sebelumnya tentang mengapa sih koq aku pengen banget masuk ke perpustakaannya? Jawabannya adalah karena perpustakaannya itu kayak gini:

Ruangan Prunksaal di Perpustakaan Nasional Vienna
Ruang Prunksaal di Perpustakaan Nasional Vienna

Ya ya ya, itu perpustakaan loh!! Keren banget ya! hahaha😀 Btw, perpustakaan ini juga dikunjungi oleh The Amazing Race 18 tuh. Memang sih buku-bukunya nggak bisa dipegang (apalagi dibaca) soalnya gedung perpustakaan ini sekarang berfungsi sebagai museum sebenarnya. Tapi tetep aja ya, ngebayangin bahwa beberapa ratus tahun lalu ketika perpustakaannya masih buka, pasti keren banget!

Nggak banyak sih jadwal kami siang itu. Dan memang jam 5an sore kami kembali ke hostel karena malamnya kami akan nonton konser musik klasik. Awalnya aku agak malas sih nonton konser ini, walau sebenarnya Vienna kan terkenal ya akan konser dan operanya, soalnya harganya mahal sih: tiket paling murahnya 42 euro. Eh tapi dengan kartu pelajar kami dapat diskon 50% loh. Aku pikir ya sudah lah, kapan lagi ke Vienna? Toh Vienna terkenal akan konsernya, masak nggak nonton? Sayang juga kan, hehe. Jadilah akhirnya aku setuju buat nonton konser. Btw, ini konser musik klasik gubahannya Mozart.

Denger-denger sebelumnya, nonton konser musik klasik di Vienna itu berkelas banget loh. Ada yang mewajibkan penonton pria untuk mengenakan tuksedo dan penonton wanita memakai dress pesta gitu. Konser yang kami tonton ini (untung) nggak mewajibkan dress code tertentu sih. Tapi teteup dong ya, aku juga nggak pakai baju santai gitu. Awalnya aku mau pakai baju biasa (kemeja) yang agak casual. Tapi dipikir-pikir lagi, kayaknya koq penampilannya kurang elegan gitu ya? Ya sudah akhirnya aku memakai kemeja rapi lengan panjang (yang memang aku bawa), jadi ya penampilannya setidaknya rada resmi sedikit lah gitu, walau aku cuma pake sepatu sport sih, soalnya sepatu pantofelku nggak aku bawa, haha.

Lalu, tibalah kami di gedung konsernya. Gedungnya rame banget loh. Rame sama turis yang mau foto-foto aja sih. Kami lalu bisa masuk ke area buat nonton konsernya (turis biasa dan rakyat jelata tanpa tiket nggak bisa masuk area ini😛, mereka cuma bisa foto-foto di hall masuknya doank, haha). Begitu masuk ruangan buat nonton konser itu, aku KAGET banget soalnya ternyata tempat konsernya kayak gini:

Gedung tempat nonton opera/konser
Gedung tempat nonton opera/konser dan panggungnya

Uwaaaaaa!!!!! Ini kan tempat konser mewah yang ada di TV-TV itu kan? Tempat konser “kelas atas” buat orang-orang kaya gitu. Langsung deh atmosfer tempat konsernya kerasa banget, dan “memaksa” penonton harus berlaku dengan elegan. Eh, tapi tetep dong ya kami foto-foto dulu di boks kami sebelum konsernya mulai, mumpung penonton lain di boks kami itu belum datang, huahahaha😆 .

Beberapa waktu kemudian penonton lain yang seboks dengan kami tiba. Ada suami istri bule umur 60an yang ngomong pakai bahasa Inggris yang aksennya Amerika banget, tapi ketika ditanya dari mana ternyata mereka dari Jamaika loh😯, lalu ada cewek yang datang dari Portugal.

Yang konser musik

Singkat cerita, dimulailah konser itu. Ini dua cuplikan konsernya:

Konsernya berlangsung selama dua jam (dengan jeda lima belas menit di tengah), dan memang keren banget!! Worth it banget deh pokoknya! Nggak heren deh mengapa Vienna terkenal akan konser dan operanya!

BERSAMBUNG…

Selanjutnya: Slovakia dan perjalanan kembali ke Belanda.

20 thoughts on “#961 – Austria Summer Trip (Part V)

  1. Waaahhh bener bener tu gedung konser kayak yg di tipi2 zil.. kebayang deh mewahnya..

    Aku suka banget sama museum perputakaannya.. dari dulu pingin banget pajang buku banyakbanyak.. gedungnya canyik pula..

    1. iya, aku juga kaget waktu masuk gedungnya. Kirain gedung biasa, ternyata gedung konser kayak gitu, hahaha😛 Pantes aja beberapa konser mewajibkan orang pake baju tuksedo dan dress yah😛

      Iya, perpustakaannya keren, gak kayak perpustakaan penampilannya, hahaha

  2. 1) aku mau dongs sarapan kuweh kuweh coklat, yummyyy….
    2) Taman Belvedere-nya cantik baaaaaaaaanget!!
    3) IyA Ko, Maria Antoinette itu putri dr Austria. Aku tau, soalnya pernah baca komiknya. Yg nulis tp, komikus Jepang:mrgreen:

    1. tapi kenyangnya nggak lama Bu, alhasil siang dikit udah laper lagi deh, wkakakaka😆 *kebiasaan sarapan berat nih, hehe :P*

      Taman Belvederenya ok, tapi menurutku taman yang di Schönbrunn lebih bagus, hehehe

      Wahahaha, iya neh, kurang pengetahuan aku ternyata. Kaget kemarin waktu dibilang Marie Antoinette tinggal di Vienna, wkwkwkw😆

        1. hahaha, bener! Tapi aku sudah ga terlalu bergantung sama nasi sih ini kayaknya, yang penting ada karbohidratnya (ga harus berbentuk nasi kan? Bisa berbentuk kentang, ato mie, ato pasta) biasanya sudah oke deh, hahaha😛

    1. Iya!! Keren dan gede banget!! hahaha😛 Kaget aku ngelihatnya. Eh, tapi di LA kayaknya banyak sih ya gedung opera/konser yang model-modelnya seperti ini? Sering lihat di TV tuh ketika ada live show dari sana, hehehe😛

      Konsernya keren memang! Ada penyanyi operanya juga loh, hahaha😛

    1. iya soalnya pas lagi musim panas, makanya panas, hehehe😀 Kalo ngomongin panas dari segi temperatur sih lebih panas Austria, karena temperaturnya mencapai 35an derajat. Tapi “enak”-nya tuh di Austria nggak terlalu lembab (humid), sementara di Indonesia kan lebih humid. Makanya di Indonesia lebih gampang terasa panasnya, walau dari segi temperatur mungkin nggak setinggi temperatur musim panas di beberapa negara Eropa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s