Posted in EuroTrip, Ten Day Trip, Travelling, Vacation

#960 – Austria Summer Trip (Part IV)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya pergi ke Austria dalam rangka liburan musim panas. Setelah jalan-jalan di dua kota di sana, Innsbruck dan Salzburg, kini mereka bergerak menuju ibukotanya Austria: Vienna.

===

Hari 5 (Minggu, 21 Agustus 2011)

Karena sudah nggak ada lagi tempat di Salzburg yang bisa dikunjungi, kami memutuskan untuk berangkat dari Salzburg agak pagian. Untuk perjalanan ke Vienna ini, kami akan menggunakan tiket Einfach-Raus tiket, sebuah tiket yang mengizinkan dua sampai maksimal lima orang untuk bepergian naik kereta lokal bareng-bareng dengan harga per tiket 28 euro, dan ini berlaku sehari saja (jadi kalau perginya berlima ya jatuhnya lebih murah, yaitu 28 dibagi 5. Berhubung perginya berdua aja, jadi kami per orang kena harga 14 euro. Masih oke banget lah dibanding tiket standar ke Vienna (dengan kereta cepat) yang harganya sekitar 45 euro seorang, hahaha :D).

Sebelum berangkat kami memang sudah “merelakan” satu hari untuk habis di jalan karena total waktu perjalanan ke Vienna ini sekitar tujuh jam dengan naik kereta lokal. Nah, supaya setidaknya hari ini nggak terlalu terbuang “percuma” gitu aja, di jalan kami memutuskan untuk mampir sebentar di kota Linz. Toh untuk ke Vienna kami harus ganti kereta dua kali, yaitu di Linz dan St. Valentin. Waktu ganti kereta yang pertama, sekalian aja dong ya jalan-jalan di Linz, dan perjalanan lanjutannya akan kami tempuh dengan kereta selanjutnya. Alasan kami ya karena Linz kan kota yang lumayan besar di Austria, jadi ya setidaknya harusnya menarik lah. Dan baca-baca, di sana ada rumahnya Johannes Kepler loh. Tahu kan? Itu loh, ilmuwan yang terkenal dengan hukum pergerakan planetnya (Hukum Kepler). Lupa? Percaya deh, setidaknya pas SMP pasti kita disuruh belajar teorinya di pelajaran Fisika, hahaha๐Ÿ˜† .

Kami bangun pagi hari itu karena berencana naik kereta jam 8.39 pagi dari Salzburg. Singkat cerita, jam 11an kurang tibalah kami di Linz. Dan bagaimanakah kesan pertama kami akan Linz? Kesannya adalah: “Ni kota sepi amat sih kayak kota mati aja”๐Ÿ˜ฏ๐Ÿ˜† . Habis gimana lagi, beneran sepi banget loh. Padahal ngelihat penampilannya itu ya memang kayak kota besar gitu, tapi sepi banget. Kami duga sih kesepian ini disebabkan kami yang datangnya pas hari Minggu, hahaha๐Ÿ˜† .

Linzer Torte
Main Square di Linz, Austria

Menurut buku Lonely Planet yang dibawa temanku, makanan khasnya Linz adalah Linzer Torte, semacam kue gitu deh. Kami kemudian menemukan satu cafe yang buka yang menjual kue ini. Jadi, mampirlah kami disana. Ternyata rasanya ya gitu sih, biasa saja menurutku, hahaha๐Ÿ˜€. Selanjutnya, jalan-jalan lah kami keliling pusat kotanya. Menarik sih bangunannya, tapi karena sepi, atmosfernya ya jadi kurang kerasa gitu yah, hehe. Btw, akhirnya kami menemukan rumahnya Kepler loh. Rumahnya ternyata ada di gang gitu, dan tulisannya sekarang jadi salon, haha (eh, maksudnya salon ini kata dalam bahasa Jerman loh. Jadi mungkin artinya beda sama salon dalam bahasa Indonesia, haha).

Bekas rumahnya Johannes Kepler

Nggak nemuin apa-apa yang menarik, berjalanlah kami kembali ke stasiun, di tengah teriknya sinar matahari. Bener deh panas banget, hahaha. Kami tiba di stasiun jam 1 siang. Kereta baru berangkat jam 2, jadilah kami mampir di toko buku bentar. Aku iseng baca-baca majalah, haha.

Singkat cerita, berangkatlah kereta kami ke St. Valentin yang ditempuh dalam waktu 25 menit saja (dekat ternyata). Setelah menunggu di St. Valentin selama hampir satu jam, kami naik kereta lanjutan kami ke Vienna. Di jalan pemandangannya lumayan bagus juga. Di beberapa tempat nampak beberapa kastil gitu (sayang gak sempat foto soalnya kameraku nggak ready sih. Jadi pas kamera udah siap memfoto, moment-nya udah lewat,๐Ÿ˜ฆ ). Sekitar jam 5.30 sore, tibalah kami di Wien Westbanhof alias Stasiun Kereta Api Vienna Barat.

Btw, Wien itu nama aslinya Vienna yah (dalam bahasa Jerman). Vienna kan sebenarnya namanya dalam bahasa Inggris gitu. Jadi mungkin dari sini dan seterusnya mungkin aku akan agak kecampur-campur gitu nulisnya antara Wien dan Vienna, tapi sebenarnya maksudnya sih sama aja, hahaha๐Ÿ˜€.

Kami lalu berjalan ke hostel kami, check in, dan kemudian mencari makan malam. Dan tahukah dimana makan malam kami? Jawabannya: di KFC!! wkakakakaka๐Ÿ˜† Habis gimana ya, pas jalan itu aku ngelihat plang-nya KFC dan tiba-tiba koq jadi pengen KFC ya?? hahaha๐Ÿ˜› Eh btw, harga KFC-nya lebih murah daripada KFC di Belanda loh, bahagia deh saya (tapi masih lebih mahal daripada KFC di Indonesia sih, hehe).

Setelah makan malam itu, kami pulang ke hostel untuk merencanakan waktu kami di Vienna. Kan di Vienna ada banyak banget ya lokasi yang mau kami kunjungi. Makanya deh malam itu kami harus merencanakan dengan matang jadwal kami di Vienna: mencari lokasi-lokasi itu di peta, meng-cluster-nya sesuai lokasi (jadi yang satu cluster kan bisa dikunjungi dalam hari yang sama), dan menentukan cluster mana kami kunjungi di hari apa, dsb. Ternyata nggak terlalu ribet juga, karena kebanyakan lokasi ya tersentralisasi di pusat kota, walau memang ada beberapa yang agak terpencar sih.

Hari 6 (Senin, 22 Agustus 2011)

Setelah sarapan di McD (ya ya ya, di McD, wkwkwkw๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† ), mulailah petualangan kami hari itu. Tujuan pertama kami adalah Hofburg yang lokasinya ada di pusat kota. Hofburg ini semacam istana gitu yang areanya buesarr banget. Banyak banget deh gedung-gedungnya disana. Ada yang jadi museum kerajaan, museum seni, museum sejarah alam, perpustakaan nasional, dll. Hofburg ini akan kami kunjungi dalam dua hari. Selain karena banyak yang bisa dikunjungi, salah satu tujuan utamaku: perpustakaan nasionalnya tutup pas hari Senin. Padahal aku kan pengen banget ke perpustakaannya! Begitu deh. Kalo pada bingung dan mikir: “Ngapain sih, sampe segitunya ke perpustakaan doank?“. Yah, jawabannya bisa ditunggu posting selanjutnya yang hari Rabu ya๐Ÿ˜‰

Hofburg di Vienna
Ini bagian perpustakaan nasional dari Hofburg

Btw, sehari sebelumnya, kami beli Vienna Card. Kami pikir kartu ini bakal berguna, belajar dari pengalaman Innsbruck Card dan Salzburg Card kan. Walau memang penawarannya nggak semenarik dua kartu itu yang memberikan akses GRATIS ke banyak tempat; Vienna Card ini hanya memberikan DISKON masuk ke tempat-tempat di Vienna. Harganya yang cuma 18,5 euro untuk 72 jam dan ini termasuk akses transportasi dalam kota, kami rasa ini tawaran yang menarik (kalau beli kartu transport-nya doang, yang 72 jam harganya sudah 13 euro loh).

Hofburg di Vienna
Di depan museum di Hofburg

Pagi itu kami keliling-keliling dulu soalnya kan beberapa gedungnya belum buka. *Btw, beneran deh, jadi mikir: apa kami ini kerajinan ya bangunnya kepagian gitu? Jadi pas jalan-jalan sampe tempat tujuannya belum buka gitu? wkakakaka๐Ÿ˜† *. ย Jam 10an, kami masuk ngantri ke museum kerajaannya (museum ini terdiri dari tiga bagian: ada museum tempat penyimpanan peralatan makan yang dipakai keluarga kerajaan, museum Sisi (salah satu ratunya Austria yang terkenal akan kecantikannya dan ke-stress-an yang ia alami selama hidupnya), dan museum tempat tinggal rajanya Austria). Dan di museum ini kami dipinjami audio guide gratis. Lumayan banget jadi bisa tahu cerita-ceritanya disana.

Bagian pertama: museum tempat peralatan makan keluarga kerajaan. Peralatan makannya bagus loh, piring, gelas, sendok, garpu, dan pisaunya dibuat dari emas, perak, dan diukir-ukir gitu. Mana ada banyak hiasannya pula, haha. Dan ada banyak banget macamnya, sampe ada kali 20 ruangan buat menyimpan itu semua, hmmm. Keren deh, hahaha.

Salah satu koleksi tempat lilin buat jamuan makan kerajaan

Bagian kedua: museum Sisi. Jadi Sisi ini nama panggilan akrabnya salah satu ratu Austria: Elisabeth. Ia dilahirkan di Bavaria sebagai salah satu putri keluarga berdarah biru disana, dan trus dinikahi sama raja Franz Joseph I. Jadilah ia permaisuri di Austria. Ceritanya menarik deh. Jadi digambarkan bahwa walau ia permaisuri, tapi ia jarang banget mau “melaksanakan tugas politiknya” sebagai permaisuri. Dan digambarkan pula bahwa kecantikan dan wibawanya membantu kerajaan Austria untuk meluaskan wilayahnya pada waktu itu. Sayang, setelah beberapa insiden (yang melibatkan beberapa anaknya meninggal karena penyakit, dan beberapa insiden lainnya), ia jadi depresi berat seumur hidupnya. Karena depresi, ia tambah jarang lagi dong bergelut di ranah politik. Ia menyalurkan rasa depresinya itu dengan berkeliling-keliling. Dan suatu saat di Geneva (sekarang ada di Swiss), ketika ia sedang berlibur kesana, ia dibunuh dong sama seorang pembunuh beraliran anarkis dari Italia. Begitulah…

Bagian ketiga: museum tempat tinggal keluarga kerajaan. Komentarku: tempat tinggalnya bagus banget ya, mana gede lagi. Tapi untuk level keluarga kerajaan gitu, raja Franz Joseph I itu termasuk “rendah hati” loh. Ia nggak mau tempat tinggalnya didekor dengan mewah dan glamor banget gitu.

Total, kami menghabiskan waktu lebih dari satu setengah jam di museum ini. Lumayan lama juga ya, hahaha.

Gedung Museum Sejarah Alam di Vienna

Setelahnya, kami masuk ke museum sejarah alam. Aku sih sebenarnya yang tertarik masuk museum ini, karena di dalamnya ada fosilnya T-Rex loh! Nah, dari museum inilah kami mulai menduga bahwa jangan-jangan Vienna Card kami tuh nggak terlalu berguna. Mengapa? Karena dengan Vienna Card kami bisa dapat diskon 20% untuk tiketnya. Lumayan sih. TAPIII, dengan kartu pelajar dan karena kami masih di bawah 27 tahun, kami bisa dapat diskon 50% dong, hahaha. Jelas kami milih pakai kartu pelajar lah ya.ย Anyway, lalu masuklah kami ke museum itu. Dan ternyata ya, pas kami berkunjung itu, fosil dinosaurusnya lagi dipindahkan ke tempat lain: alias waktu itu nggak ada fosil dinosaurusnya!! Arrrrrrggggggghhhhhh!!!!๐Ÿ˜ก๐Ÿ‘ฟ๐Ÿ˜ก Sebaaaal!! Aku kesana kan mau liat dinosaurusnya, masak dinosaurusnya malah nggak ada? Nyebelin banget kan??

Dinonya kemana ini???

Setelahnya, kami berjalan ke museum Albertina dan masuk dengan membayar 7 euro. Dan aku menyesaaal! Di dalamnya gitu-gitu aja. Yah, mungkin memang aku yang nggak terlalu memahami dan menikmati seni kali yah. Tapi gimana coba, masa ada ya lukisan yang namanya “Black on Black” dan lukisannya itu berupa kanvas yang seluruhnya dicat warna hitam dan ditaruh di pigura hitam. Udah, gitu doank!!๐Ÿ˜ฏ๐Ÿ˜• :shock:!! Huah, apa maksudnya ini??? hahaha๐Ÿ˜† .

Ya gitu deh, lalu kami berjalan ke Katedral St. Stephen di pusat kota. Sambil jalan-jalan di kotanya gitu. Lalu, kami bergerak menuju bekas rumahnya Sigmund Freud. Tahu kan Sigmund Freud? Itu loh, ahli psikologi yang terkenal banget, hehehe. Jadi rumahnya kan ada di Vienna tuh, dan sekarang rumahnya dijadiin museum. Masuklah kami kesana. Btw, Sigmund Freud pas sekolah itu pintar ya. Nilai ujiannya aja kayak gini:

Nilainya Sigmund Freud pas sekolah

Tuh kan? hahaha๐Ÿ˜† .

Bekas rumahnya Sigmund Freud di Vienna, sekarang jadi museum

Dan begitulah hari pertama kami di Vienna. Btw, malam itu, karena kehabisan pakaian, aku harus laundry di hostel deh (aku nggak bawa banyak baju, hahaha). Laundry itu maksudnya kita beli koin buat laundry trus kitanya yang nyuci sendiri pake mesin cuci loh, jadi bukannya ada tukang cuci dari hostel, hahaha. Nah, mesin pengeringnya itu ternyata payah banget (pantesan mesin pengeringnya gratis). Baju-bajuku yang sudah kucuci nggak kering-kering tuh setelah aku masukin mesin pengering selama hampir 1,5 jam! Payah banget kan!? Jadilah akhirnya aku pakai cara tradisional aja: aku jemur aja deh bajuku di kamar semalaman, hahaha. Alhasil malam itu kamarku terlihat seperti ini:

Mesin pengering nggak bekerja dengan baik, jadilah kamar tempat jemuran.

BERSAMBUNG …

Selanjutnya: more of Vienna.

20 thoughts on “#960 – Austria Summer Trip (Part IV)

    1. iya, bangunannya bagus-bagus. Museumnya itu lho, bangunannya keren bgt, haha. Yang Museum Sejarah Alam bangunannya kayak istana, hahaha๐Ÿ˜€

      Wkwkwkw๐Ÿ˜† Nggak tahu nih, tiba-tiba aja jadi pengen. Kalo yang McD buat sarapan itu karena emang yang baru buka pas pagi2 amat ya McD (soalnya dia 24 jam). Yang lain pada belum buka sih, hahaha

  1. wah … ke rumah freud sama kepler … ternyata dua-duanya orang austria toh …

    *itu KFC-nya pasti jauh lebih enak rasanya yah mas? soalnya di indonesia rasanya sudah “dikorupsi” hehehe … maklum harga bahan baku makin mahal … twister aja jadi nyusut :doh:

    1. Iya, ternyata mereka orang Austria, hehehe๐Ÿ˜›

      Rasanya ya gitu-gitu aja koq. Rasa dasarnya sih masih sama, cuma crispy-nya menurutku nggak semantap crispy-nya di Indonesia. Yang di Belanda juga gitu, crispy-nya masih kalah, hehehe๐Ÿ˜› Kalo ukuran sih rasanya standar deh. Nggak tahu kalau yang sejenis twister gimana, karena nggak pernah pesan yang twister๐Ÿ˜›

  2. “Aku kesana kan mau liat dinosaurusnya, masak dinosaurusnya malah nggak ada? Nyebelin banget kan??”

    >> dipindah kemana sih? ah mungkin dinosaurusnya lagi pipis aja kaliiiik, hahahaha… *guyonane arek cilik*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s