Posted in EuroTrip, Ten Day Trip, Travelling, Vacation

#956 – Austria Summer Trip (Part II)

Cerita sebelumnya: Zilko dan temannya berlibur dalam rangka liburan musim panas ke Austria, di Eropa tengah. Setelah menghabiskan dua hari di Innsbruck, kini mereka siap untuk melanjutkan perjalanan ke Salzburg.

===

Preambule Hari 3 (Jumat, 19 Agustus 2011)

Awalnya, kami berencana naik kereta yang murah untuk pergi ke Salzburg (dengan memanfaatkan tiket Einfach-Raus). Dengan tiket ini, kami akan berada di kereta selama empat jam. Nggak papa sih, soalnya beda harganya dengan tiket normal bisa sekitar 24an euro seorang. Beda yang lumayan juga kan buat dihemat? Tapi, karena ada banyak sekali hal yang bisa dilihat di Salzburg, kami jadi harus mempertimbangkan ulang keputusan ini. Kondisi kami waktu itu seperti ini:

(1) Kami akan menginap di Salzburg selama dua malam. Setelah dari Salzburg, kami akan pergi ke Vienna. Dan untuk ke Vienna ini sudah pasti kami akan memakai tiket yang murah, yang artinya kami harus naik kereta yang lambat yang total waktu perjalanannya adalah tujuh jam. Artinya, kami harus meninggalkan Salzburg di pagi hari supaya sampai Viennanya nggak kemalaman.

(2) Dengan kereta yang lambat dari Innsbruck, artinya kami akan tiba di Salzburg jam 1an siang. Plus acara cari hotel dan check in plus segala macam, artinya kami hanya memiliki waktu total satu setengah hari di Salzburg. Sementara dengan naik kereta cepat, kami bisa tiba di Salzburg jam 10 pagi, alias kami memiliki waktu tiga jam ekstra di Salzburg. Pertanyaannya: “Apakah ekstra 24 euro ini worth it dengan ekstra tiga jam yang didapat?” Jawabannya: “Tergantung agenda kami di Salzburg dong ya.”

Makanya semalam sebelumnya kami survey lokasi yang mau kunjungi di Salzburg. Dan ternyata: ada banyak banget! Tapi walaupun banyak kalau lokasinya masih di dalam kota semua nggak papa lah ya. Acuan kami di Salzburg adalah tempat syutingnya Sound of Music; dan beberapa hal lain seperti tempat lahirnya Mozart, dsb gitu. Nah, yang Sound of Music ini, ada banyak lokasi yang indah tapi lokasinya di luar kota, yaitu di area Salzkammergut yang perjalanan kesana memakan waktu sekitar satu jam dengan bus (artinya dua jam pp) dari Salzburg. Waktu itu kami sudah niat banget mau kesana, dan kami berencana mendedikasikan hari kedua kami disana. Artinya, tujuan utama di Salzburg harus kami selesaikan di hari pertama dong ya. Oleh karenanya, kami memutuskan bahwa ekstra 24 euro untuk ekstra waktu tiga jam cukup worth it.

Hari 3 (Jumat, 19 Agustus 2011)

Karena memutuskan naik kereta yang cepat, jadilah kami bangun pagi untuk mengejar kereta yang berangkat jam 8.09 pagi dari Innsbruck. Singkat cerita, naiklah kami kereta yang cepat itu. Kabar baiknya, karena beli tiketnya barengan (tiketnya jadi satu), kami jadi dapat diskon hampir 6 euro seorang. Lumayan lah ya, huahahaha :lol: Jam 10, tibalah kami di stasiun Salzburg. Kami lalu pergi ke hostel kami untuk menitipkan tas (soalnya masih belum bisa check in karena kepagian).

Ramalan cuaca hari itu tidaklah terlalu baik. Dan memang begitulah cuaca hari itu: mendung dari pagi. Kami berjalan ke arah Altstadt-nya Salzburg. Kami melewati Schloss Mirabell, salah satu tempat syutingnya Sound of Music. Dan Schloss Mirabell ini adalah tempat yang HARUS aku kunjungi soalnya sebagian dari adegan “Do Re Mi” kan syutingnya disitu. Tapi berhubung lagi rame banget, sedikit lapar, dan mendung (jadi gak bagus buat foto-foto, huahahaha😆 ), kami cuma melewatinya saja deh kala itu. Toh masih banyak waktu untuk nanti kembali kesana karena lokasinya yang dekat dengan hostel kami.

Ketika kami hampir sampai di Altstadt-nya eh tiba-tiba hujan loh. Mana hujannya lumayan deras lagi (deras sih untuk ukuran Eropa, tapi untuk ukuran Indonesia ya baru tergolong “lumayan” deras deh, haha :P). Lalu kami berteduh di bawah salah satu gerbang di Altstadt-nya itu. Karena ramalan cuaca nggak terlalu baik hari itu, ya sudah akhirnya kami membatalkan rencana ke Salzkammergut dan dua hari itu akan dihabiskan di Salzburg (dan sekitarnya) saja sampai sejauh dimana Salzburg Card (semacam Innsbruck Card tapi buat kota Salzburg) masih berlaku. Bete karena hujannya nggak berhenti-berhenti, kami lalu berkeliling sebentar (untung aku membawa payung, haha :D) sambil mampir di beberapa toko souvenir sambil lihat-lihat saja. Kami juga sambil mencari pusat informasi saat itu untuk membeli Salzburg Card untuk 48 jam (2 hari). Sekitar sejam kemudian, baru deh hujannya berhenti. Dan akhirnya ketemulah pusat informasi yang kami cari itu.

Harga Salzburg Card di brosur yang kami dapatkan adalah 34 euro untuk yang 48 jam. Oke sih, dan kami sudah menyiapkan dana untuk itu. Tapi, aku trus iseng nanya dong (nggak ada salahnya kan nanya): “Btw, ada diskon buat pelajar nggak?“. Iseng aja sih soalnya di brosur nggak ditulis apa-apa, jadi mungkin memang nggak ada. Dan saudara-saudara, si petugas informasinya nggak ramah sama sekali loh, cenderung jutek malah, nyebelin banget deh. Dia ngejawab: “Ada, tapi kamu harus bisa nunjukin kartu pelajar kamu dan umurmu tidak melebihi 26 tahun.” Aku setuju dong kan artinya aku qualified buat diskon itu. Lumayan lah ya. Btw, diskonnya ternyata cuma 3 euro saja, haha. Tapi nggak papa ding, lumayan lah diskon 3 euro juga, hoho. Lalu, aku menunjukkan kartu pelajarku. Dan terjadilah percakapan dengan si jutek itu:

Aku (Z): “Ini kartu pelajarku.
Si Jutek (SJ) : *sambil mengamati kartu pelajar dengan sangat amat teliti, semua tulisan di kartu dibaca sampai kartunya dibolak-balik* “Maaf, kartu ini nggak bisa dipakai
Z: “Hah? Kenapa? Saya kan masih terdaftar sebagai mahasiswa di TU Delft“.
SJ: “Meneketehe, tapi di kartu ini tidak ada bukti tertulis bahwa saat ini, kamu masih terdaftar sebagai mahasiswa disana.”

Fair enough sih, soalnya memang di kartu pelajarku (student card) nggak tertulis tanggal berlakunya kartu itu. Tanggal itu adanya di campus card, atau disebut sebagai proof of enrollment disini. Dan untungnya, karena beberapa minggu sebelumnya aku ngurus work permit di Belanda, campus card itu masih kubawa di dompetku (biasanya nggak pernah dibawa, hahaha). Dan lalu aku tunjukin deh tuh campus card ke dia. Dan akhirnya dia “menyerah” dan ngasih diskon 3 euro.

Ke temanku, dia juga jutek banget. Temanku umurnya kan 26 tahun tuh. Waktu dia nunjukin campus card-nya dia, nggak dikasi dong diskonnya. Alasannya: “Kamu kan udah 27“. Temanku langsung ngebantah: “Oh, tidak bisa. Saya masih 26, liat deh tanggal lahir saya“. Si jutek akhirnya ngelihat tanggal lahirnya, dan akhirnya baru deh memberi diskon, haha.

Yah, sebenarnya semuanya sesuai prosedur sih ya. Tapi maksudku adalah: koq segitunya banget sih? Mana diskonnya cuma 3 euro lagi, alias nggak ada 10%. Di tempat-tempat lain yang sudah kukunjungi di seluruh Eropa perasaan nggak segitunya deh sampai harus nunjukin proof of enrollment segala. Seringnya, nunjukin student card aja udah cukup. Malah kadang aku bisa cuma ke kasir bilang mau beli tiket buat pelajar. Yang jaga percaya-percaya aja dan aku nggak perlu nunjukin kartu pelajarku, hohoho. Ini sih mungkin karena aku masih bertampang muda sesuai dengan umur jadi cukup meyakinkan sebagai pelajar kali ya😛 *hoek*.

Residence Fountain di Salzburg

Anyway, intinya akhirnya kami mendapatkan Salzburg Card untuk 48 jam itu, dengan diskon 3 euro, huahaha. Lalu mulailah eksplorasi kami ke Kota Salzburg. Dan tiba-tiba kami melewati Residence Fountain, sebuah air mancur dengan patung kuda yang jugalah tempat syutingnya Sound of Music. Setelah foto-foto disitu, kami berjalan ke arah Kastil Hohensalzburg yang ada di sisi lain Altstadt. Dan setelah hujan paginya itu, tiba-tiba awannya pergi loh, dan cuaca kembali: panas! Btw, Kastil Hohenzalsburg kan ada di atas bukit tuh, dan untuk naik ke atas bisa jalan kaki atau naik funicular. Dan karena naik funicular itu gratis dengan Salzburg Card, tentulah kami memilih naik funicular dong ya, huahaha. Dan ternyata stasiunnya itu rame banget loh! Antriannya panjang banget! Antrian yang panjang itu karena mereka yang antri itu harus beli tiket dulu sih. Dan karena sebagai pemegang Salzburg Card itu kami adalah orang VIP *ehem* dan nggak seperti rakyat jelata yang harus ngantri dulu😛 jadilah ada jalur khusus buat kami dimana kami bisa langsung berjalan ke pintu gerbang funicular-nya tanpa ngantri, muahahahahaha😆 *tawa penuh kemenangan*.

Salzburg seperti terlihat dari Kastil Hohensalzburg

Di atas, kami bisa mendapatkan pemandangan kota Salzburg. Kami lalu masuk ke dalam gerbang kastilnya. Dalamnya ternyata gitu-gitu saja sih. Ya mirip kastil sih dan memang arsitekturnya klasik banget, tapi ya gitu-gitu aja ah. Kami tidak terlalu tertarik masuk ke dalam bangunan kastilnya itu. Ya sudah akhirnya kami berkeliling saja dan berusaha mencari jalan ke Nonnberg Abbey, yang terkenal karena Sound of Music juga. Ceritanya kan Maria von Trapp itu dulunya suster disini. Tempat ini juga jadi tempat syutingnya bagian awal Sound of Music itu. Nah, Nonnberg Abbey ini lokasinya di dekat Kastil Hohensalzburg dan entah kenapa agak jarang dikunjungi orang. Kami lalu berjalan menuruni bukit (turunnya kami nggak naik funicular soalnya menurut peta, Nonnberg Abbey ini lebih dekat ditempuh jika kita jalan kaki turun dari kastil daripada kalau turun naik funicular). Btw, jalan turunnya itu curam banget loh, mana agak licin lagi karena barusan hujan (jalannya model kuno gitu, jadi terbuat dari batu-batu).

Nonnberg Abbey di Salzburg, ini adalah tempat tinggal Maria von Trapp ketika ia masih menjadi suster

Lalu, tibalah kami di Nonnberg Abbey yang lokasinya agak terpencil (kayaknya inilah mengapa tempat ini nggak terlalu banyak dikunjungi orang). Kami masuk lewat pintu samping, jadi kami harus berjalan mengitari gerejanya sambil melewati kuburan (yup, kuburan, tapi kuburannya orang-orang gereja sih jadi aman lah ya, hehe) untuk sampai di pintu utamanya. Dan tempat itu sepii banget. Pintu gerejanya juga tertutup. Tapi karena penasaran, aku iseng saja membuka pintu kayu yang besar itu dan trus melangkah masuk ke gerejanya *berasa kayak adegan di film-film dimana si tokoh utamanya membuka pintu besar yang tertutup untuk masuk ke suatu tempat yang misterius dan mencengangkan :P*. Dan di dalam juga sepi banget, nggak ada orang. Ya sudah deh, setelah beberapa menit, kami meninggalkan lokasi ini. Nggak lupa foto-foto tentunya ya, haha.

Lalu, kami turun kembali ke Altstadt. Setelah mengunjungi katedralnya Salzburg, agenda kami selanjutnya adalah mengunjungi dua lokasi yang sangat penting bagi seseorang super terkenal yang pernah tinggal (dan dilahirkan malah) di Salzburg: Wolfgang Amadeus Mozart. Pasti pada tahu (setidaknya pernah dengar) lah ya siapa Mozart ini. Apa? Belum pernah? Ah, masa sih? Oya? Beneran belum pernah? Wah, kasihan sekali *minta dilempar sandal*. Dua tempat itu adalah: Mozarts Geburtshaus (rumah tempat lahirnya Mozart) dan Mozarts Wohnhaus (rumah tempat tinggalnya Mozart). Kedua tempat itu dalamnya dibuat menjadi museum gitu. Menurutku ya gitu-gitu aja sih, soalnya kan aku nggak nge-fans nge-fans amat sama musik klasik, hehe. Bagus dan aku bisa menikmatinya sih, tapi juga nggak segimananya gitu.

Rumah tempat lahirnya Mozart di Salzburg, Austria

Setelah itu, kami mengunjungi Schloss Mirabell lagi untuk kembali ke hostel dan check in. Waktu lagi foto-foto, tiba-tiba kami koq mendengar ada kaya paduan suara yang nyanyi lagu “Do Re Mi” disitu ya? (lagu yang sangat cocok buat dinyanyikan disana sih btw). Dan benar aja, ternyata lagi ada satu rombongan anak SMP (pake seragam segala) dari Jepang atau Korea gitu yang lagi jalan-jalan disana, dan disana mereka nyanyi dong! hahaha😛

Schloss Mirabell!
Anak-anak SMP dari Jepang/Korea yang menyanyikan lagu Do Re Mi di Schloss Mirabell
Akhirnya foto juga di spot ini!

Singkat cerita, lalu kami check in di hostel, dan kemudian langsung bergerak menuju pabriknya bir Stiegl buat ikutan tur gratis disana (karena kami memiliki Salzburg Card, makanya gratis, haha). Bukan tur juga sih sebenernya, soalnya kami cuma disuruh masuk ke museumnya, trus udah deh, keluar. Btw, museum ini adalah satu-satunya museum di Eropa (yang sudah pernah kukunjungi) yang mana di salah satu pamerannya ada yang dalam bahasa Indonesia loh! haha😛 Jadi ceritanya ini sih cuma rekaman suara orang dari berbagai negara gitu tentang bir di negara masing-masing. Nah, orang berbahasa Indonesia yang direkam ini kayaknya orang Indonesia yang sudah lama tinggal di luar jadi bahasa Indonesianya juga agak kecampur bahasa asing (Jerman) gitu deh dan banyak “eee, eeeh“-nya, haha. Heran deh, apa kaga di-script dulu ya waktu wawancaranya direkam? Jadi kan kedengaran lebih mulus gitu, nggak kebanyakan “eee, eeeh” nya.

Nah, setelah keluar dari museum, kami bisa mencicipi masing-masing 3 macam bir tuh (ini sudah sepaket sama turnya). Ya sudah lah ya, lumayan bisa sambil duduk-duduk di restorannya, kan capek habis jalan seharian. Kami nanya birnya yang buat dicicipi itu gelasnya kecil nggak. Katanya sih kecil, namanya juga cuma mencicipi doang. Ya sudah dong ya, aku kirain yang namanya kecil itu ya kaya satu teguk normal lah, sekitar kurang dari 40 mL gitu. Dan karena kami berdua, jadi kami bakal dapat 6 gelas kecil. Kebetulan ada 6 macam bir, jadi kami bisa mencicipi semuanya, hahaha. Dan begitu keluar, ternyata keluarnya kayak gini:

Yup, bir gratisannya segini banyak!

Nah loh? Kecil dari mananya ini!?!? Segini lo bilang kecil? Satu gelasnya itu 200 mL, yang artinya seorang bisa dapat bir 600 mL gratis. Itu nggak kecil kali!! Di Belanda 600 mL sih artinya sama dengan dua gelas bir tuh! hahaha. Dasar deh ya orang sana yang doyan banget sama bir.

Nah, di restoran itu iseng kami melihat menunya. Dan harganya nggak mahal, jadi ya udah sekalian makan malam disana. Dan bir gratisan itu dijadiin minumannya jadi gak harus pesen minum lagi, muahahaha. Aku pesan goulash daging sapi yang rasanya oke juga. Btw, di tur ini, kami juga masing-masing berhak mendapat satu gift dari tokonya. Ada yang namanya gratisan, hajaar! haha. Aku lalu masuk ke tokonya dan nanya gift-nya apa. Dan ternyata, gift-nya adalah: satu botol bir!😯 Aku nanya ada pilihan lain nggak. Dan katanya ada sih, yaitu satu gelas kenang-kenangan dari mereka. Nah, aku jelas milih birnya lah ya. Hadiah gelas itu kan kesannya kayak hadiah hiburan gitu, yang sama aja kayak ngomong “Maaf, Anda belum beruntung. Nggak usah sedih ya, nih, kami kasih satu gelas cantik“, huahaha😆.

Goulash daging sapi ala Austria

Setelah itu, kami kembali ke pusat kota Salzburg. Kami lalu iseng naik boat tour di sungai Salzach. Yup, kami naik ini soalnya gratis dengan Salzburg Card (kalau bayar sendiri harus bayar 14an euro seorang). Dan boat tour-nya membosankan banget! Nggak keliatan apa-apa. Cuma naik kapal di sepanjang sungai yang pinggirnya pohon-pohon doang gitu deh. Untung gratis, kalau bayar sendiri bisa tambah bete deh saya, haha.

Kapal yang dipakai di boat tour hari itu
Terbenamnya matahari di Salzburg

Lalu, kami kembali ke hostel di sekitar jam 9 malam, dan kemudian tidur untuk menyambut keesokan harinya.

BERSAMBUNG…

Selanjutnya: jalan-jalan di sekitar Salzburg.

11 thoughts on “#956 – Austria Summer Trip (Part II)

    1. hahaha, nggak jadi yang di luar kota. Tapi tempat-tempat di dalam kotanya tetap dikunjungi koq (dan tentu foto-foto juga, huahahaha). Makanya nih Salzburg masih belum “beres”. Masih banyak lokasi di sekitar Salzburg yang bisa dikunjungi, hehehe🙂

    1. wah, padahal itu film bagus dan legendaris loh. Dan revenue-nya (setelah inflasi disesuaikan), sepertinya masih top 3 dari semua film yg pernah dibuat deh, hmmm…

    1. Wah, iya, difoto koq, haha. Nanti coba aku cari lagi fotonya, hahaha😀 Curam banget sih, tapi masih bisa dijalani sih (iyalah) cuma mesti hati-hati aja, soalnya selain curam, waktu itu juga agak licin karena barusan hujan, hehehehe

  1. Ini sih mungkin karena aku masih bertampang muda sesuai dengan umur jadi cukup meyakinkan sebagai pelajar kali ya

    >> wait until youre on your late 20s like me ya, hahaha…
    btw, itu souvenir/gift-nya kok gelas sih? ribet kali ye bawanyee… mending payung cantik, gituhhhh😆 pasti kepake…

    1. wkakakaka😆 Jadi sekarang dinikmati dulu ah, hahaha.

      Iya Bu, bener kan. Males banget dong dapetnya gelas cantik. Kalo dapet juga gelasnya gak akan dipake sih (kan kenang-kenangan), hahaha. Bawanya seh gpp Bu, kan sama dia dibungkus gitu jadi aman deh ga akan pecah (kecuali ngebawanya sambil dibanting-banting, wkwkwkw😆 )😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s