Posted in EuroTrip, My Interest, One Week Trip, Travelling, Vacation, Zilko's Life

#937 – 2011 Germany-Switzerland Summer Trip (Part I a)

pre-note: due to its length, I will write this entry in bahasa Indonesia only. Thank you for the attention and sorry for the inconvenience.

Nah, sekarang lagi ada mood buat nulis tentang perjalananku ke Jerman dan Swiss kemarin, maka mari kita mulai saja.

Hari 1 (Selasa, 19 Juli 2011)

Aku dan teman-temanku memulai perjalanan ini dengan naik kereta api listrik internasional dari Amsterdam tujuan Cologne, di Jerman. Beruntung juga kami mendapatkan tiket kereta yang didiskon banyak untuk rute ini (yah, sebenarnya ini sih penyebab kami pergi di perjalanan ini, :P), yaitu hanya 19 euro searah per orang. Kereta yang digunakan adalah kereta ICE Jerman yang penampilannya keren banget loh, hahaha. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2,5 jam sampai tiba di Cologne.

Kereta Internasional ICE Jerman di Stasiun Cologne

Berhubung Katedral Cologne itu terkenal banget dan lokasinya mudah dijangkau (di seberangnya stasiun sentral doang) plus masuknya gratis (huahahaha๐Ÿ˜† ), maka kami mengunjunginya. Katedralnya memang menarik sih dan memang berarsitektur gotik dan sedikit banyak mengingatkanku akan katedral di Milan yang nuansanya mirip-mirip gitu. Hanya saja, berhubung aku pernah masuk ke Basilika Santo Petrus di Kota Vatikan, katedral ini jadi kelihatan biasa-biasa saja deh (kalo dipikir-pikir lagi, kalo sudah pernah masuk ke Basilika Santo Petrus sih gereja-geraja lain, sebagus atau seterkenal apa pun, bakal terlihat biasa saja kali yah. Sulit banget pasti mengalahkan keagungannya Basilika Santo Petrus).

Katedral di Cologne

Kami kemudian berjalan-jalan berkeliling kota Cologne. Karena hujan gerimis, kami mampir sebentar di museum cokelat. Dan berhubung aku lagi pelit dan masuknya museum mesti bayar 5 euro (setelah didiskon dengan kartu pelajar), ya udah aku nggak masuk ke dalam museumnya deh, hahaha๐Ÿ™‚ Kota Cologne menurutku cukup menarik. Kalau ngomongin arsitekturnya ya mirip-mirip lah sama beberapa kota di Eropa lain. Berhubung aku sudah tinggal di Eropa hampir setahun, jadi ya aku tidak merasa terlalu “wow” lagi deh, hehe.

Malamnya, kami makan di sebuah restoran yang menjual schnitzel, sebuah menu kuliner khas Jerman. Waktu memesan, aku bertanya ke pelayanannya porsi menu yang dijual itu porsi untuk satu orang atau porsi untuk dibagi-bagi. Kata pelayannya itu porsi untuk seorang. Ya sudah dong berdasarkan informasi itu kami memesan satu porsi per orang. Lalu, beberapa menit kemudian menunya keluar, dan …. : porsinya gede banget!!!! Sampai shock aku melihatnya, soalnya aku mendapat semangkok salad, dua potong daging masing-masing seukuran telapak tangan, plus chips yang banyak banget pula (dan beberapa dressing)! Uwaaaa, orang Jerman makannya banyak-banyak ternyata ya, masa porsi segitu gede buat satu orang!?!? Tahu gitu kan kami memesan nggak sebanyak itu dan dibagi-bagi aja, haha๐Ÿ™‚

Schnitzel yang porsinya buessaaar banget dan ini porsi buat satu orang loh...

Aku mendapat menu yang menggunakan saus jamur. Dan tentang rasa, aku rasa oke juga koq. Lumayan cocok untuk lidah Indonesia. Dan apakah aku sanggup menghabiskan menu itu? Tentu saja sanggup dong, kan nggak mau rugi juga udah bayar koq makanannya nggak dihabisin, huahahaha…๐Ÿ˜†. Walau setelah makan bener deh perut terasa penuh banget dan terasa gimanaa gitu buat jalan.๐Ÿ˜›

Hari 2 (Rabu, 20 Juli 2011)

Keesokan harinya kami meninggalkan Cologne. Tujuan kami di akhir hari adalah sebuah kota kecil bernama Bingen di tepian sungai Rhein. Rencananya, sepanjang hari kami akan singgah di beberapa kota yang juga berada di tepian sungai Rhein yang searah dengan Bingen.

Di rencana awal kami, kami ingin mampir sebentar di Bonn. Oleh karenanya kami naik tram tujuan Bonn, yang ternyata merupakan keputusan yang salah karena tram kan geraknya relatif lambat ya, sehingga waktu kebanyakan terbuang di jalan. Kami tiba di Bonn sangat terlambat dan tidak ada waktu yang tersisa untuk berkeliling kotanya. Makanya kami langsung menuju stasiun sentral dan mencari kereta tujuan Bingen.

Nah, di Jerman itu ada sebuah tiket sakti yang bernama “Lรคnder Tickets”, yang bisa kita sebut sebagai “tiket negara bagian” (semacam provinsi gitu, Jerman kan dibagi ke dalam tiga belas negara bagian). Tiket ini dibeli dengan satu harga dan bisa berlaku untuk sampai lima orang yang bepergian bersamaan (kalo bepergiannya bertiga ya total bayarnya sama aja kaya pergi berlima, makanya kalau pergi berlima bayarnya per orang jadi lebih murah lagi). Dengan tiket ini, satu grup ini bisa bepergian dengan kereta lokal apa pun (kereta yang lambat, bukan yang bagus dan cepat yah) selama masih dalam satu negara bagian selama satu hari (dimulai jam 9 pagi dan berlaku sampai jam 3 subuh keesokan harinya).

Di stasiun Bonn, kami berencana membeli tiket itu. Nah, ketika membeli tiketnya di mesin penjual tiket, kami menyadari sesuatu yang kami lupakan: kami lupa mencatat NAMA negara bagian tempat Bingen berada!! Tidaaaakkk!!! Di mesinnya itu kan kami ditanya mau beliย Lรคnder Tickets untuk negara bagian mana. Nah, kami lupa mencatat nama negara bagiannya. Gimana dong?? Peta yang ada di stasiun itu juga nggak membantu sama sekali soalnya nggak mencantumkan nama negara bagiannya! Ya sudah akhirnya kami bertanya ke seorang lelaki orang Jerman yang ada di stasiun itu dan bertanya Bingen itu ada di negara bagian yang namanya apa. Ia menjawab sepertinya sih di negara bagianย Rheinland-Pfalzย (ia juga nggak yakin 100% rupanya dan harus mengonfirmasi ke pacarnya tapi ternyata pacarnya juga sama-sama nggak yakin, huahahaha). Tapi akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket negara bagianย Rheinland-Pfalz ini karena harganya sesuai dengan informasi yang kami dapatkan sebelumnya di internet (harga tiketnya bervariasi dari satu negara bagian dengan yang lain). Dan untungnya benar.

Kami lalu menuju peron tempat kereta akan berangkat. Kami memutuskan untuk singgah dulu di sebuah kota kecil yang bernama Koblenz sebelum bepergian menuju Bingen. Kemudian sebuah kereta datang. Kami bertanya ke petugasnya kereta ini tujuan Koblenz atau bukan, dan ia mengiyakannya. Ya sudah kami kemudian naik kereta itu dan duduk di dalamnya. Kereta kemudian berjalan. Ketika menaiki kereta ini, aku sudah merasa agak “aneh” gitu, dan kemudian iseng mengintip papan keberangkatan di luar. Dan kemudian aku membaca sesuatu yang sangat mengerikan: kami SALAHย naik kereta!!!

Memang kereta ini tujuan Koblenz, hanya saja, kereta yang kami naiki itu kereta yang CEPAT, bukan kereta lokal seperti yang diizinkan olehย Lรคnder Tickets yang baru saja kami beli!! Rupanya ini adalah kereta cepat tujuan Swiss yang terlambat 30 menit dari jadwal! Pantaslah kami nggak tahu dan lumayan bingung. Lah, gimana dong? Kereta sudah berjalan dan nggak mungkin juga dong ya kami nyetop keretanya di tengah jalan?? Pemberhentian kereta selanjutnya adalah Koblenz, yang akan ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit dari Bonn. Ya sudah, nggak ada yang bisa dilakukan kan.

Kami kemudian positive thinking dengan berdasarkan fakta bahwa pemeriksaan tiket kereta itu kan random kalau di Eropa, kadang diperiksa kadang enggak. Tapi orang Eropa tertib-tertib sih, kebanyakan pasti jujur dan beli tiket. Hanya saja, kalau ketangkap nggak bawa tiket memang hukumannya berat banget tuh: nggak cuma materiil aja (denda) tapi juga masuk catatan kriminal loh! Jadi identitas si pelaku (nama, nomor paspor, nomor ID, tempat tinggal, dsb) akan dicatat petugasnya dan dimasukin ke dalam sistem pencatatan kriminal di Eropa. Aku nggak mau dong masuk catatan itu, aku kan maunya memiliki clean sheet, makanya tertib deh aku di Eropa ini.

Anyway, karena ke-random-an itu, kami berpikir bahwa ada kemungkinan dalam perjalanan singkat tujuan Koblenz ini, tiket nggak akan diperiksa. Nah, saudara-saudara, tepat setelah berpikir demikian, kondektur yang bertugas memeriksa tiket tiba-tiba nongolย dong di gerbong kami dan mulai mengecek tiket! Tidaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!!! Gimana ini??

BERSAMBUNG…

Bagaimanakah nasib Zilko selanjutnya? Nantikan di bagian selanjutnya!!๐Ÿ˜€

19 thoughts on “#937 – 2011 Germany-Switzerland Summer Trip (Part I a)

  1. Enak yah naik kereta di Eropa ternyata ada yg murah. Selama ini aku juga pengen banget bisa naik kereta api kalo pas keluar negeri karena selama di sini aja aku termasuk tipe orang yg lebih suka naik kereta daripada naik bis/mobi/pesawat, tp kok yah nasib sampe skarang ini belum kecapaian๐Ÿ˜ฆ
    Pas mau ke Aussie sampe udah survey2 tentang harga dan rute perjalanan dgn naik kereta, eh lah kok harga tiketnya mahal bener bahkan malah lebih mahal daripada harga tiket pesawat, huhuhu

    1. kalau belinya lumayan jauh hari (nggak go-show gitu) ada koq tiket yang didiskon. Termasuk di Swiss juga loh, hehehe๐Ÿ™‚ Dan kadang memang ada promo khusus semacam Lander Tickets itu yang memang sangat menarik kan. Cuma kadang memang mesti pertimbangin waktu tempuh dan harga tiket pesawat sih. Cuma kereta di Eropa (apalagi yang internasional) biasanya cepet-cepet koq. Dari Belanda ke Paris aja cuma 2-3 jam loh naik kereta. Padahal jaraknya hampir sama kaya Jogja/Semarang ke Jakarta, hahaha๐Ÿ™‚

  2. ZILKOOOO? *zoom in zoom out*
    apakah kamu mengetik postingan ini dari PENJARA??๐Ÿ˜†

    “Tahu gitu kan kami memesan nggak sebanyak itu dan dibagi-bagi aja, haha”

    bagus ini, bagus. sekalian mempraktekkan tips dipostinganku, hehehehe…

    1. huahahahaha, nantikan di edisi selanjutnya Bu, wkwkwkw…๐Ÿ˜† *sengaja ngasi cliffhanger disini :D*

      haha, sambil menyelam minum air Bu. Soalnya satu porsi kan guede banget. Kalo dibagi2 kan bisa ngirit sekaligus makannya lebih terkontrol dan nggak kalap, huahahaha…

  3. haha… trrus tu akhirnya gimana? Good to know that you went to Cologne. Soalnya tar aku landing di Frankfurt trus mampir ke tempat temen di Cologne. =D

    1. akhirnya, tunggu di posting selanjutnya, huahahaha…๐Ÿ˜† Cologne oke koq kotanya, cuma nginep semalam cukup deh kalo cuma mau sightseeing doank, hahahaha๐Ÿ˜€

  4. justru tau harga tiketnya dari internet kok, langsung dari website-nya. Ga pake go show secara begitu liat harganya aja udah bete, hahaha… Kayaknya karena jalur yg dilewatin keretanya itu view-nya bagus2 makanya sengaja ditujukan utk para turis yg mau menikmati keindahan alam Australia dari darat. Makanya harganya hampir sama bahkan lebih mahal dari tiket pesawat. Kalo org2 lokalnya kebanyakan pake kereta hanya utk jarak dekat aja sih, justru yg jarak jauh kebanyakan malah dipenuhi sama turis2

    1. hmmm, iya sih. Kayanya memang tergantung negara juga ya. Di Eropa kereta memang terkenal dan pilihan yang patut dipertimbangkan karena harganya (kalo promo) bisa bersaing banget. Kalo di USA ato Australia mungkin memang sebaiknya mempertimbangkan pesawat, hahaha. Makanya Ci next destination buat travelling-nya ke Eropa aja, wkakakaka…๐Ÿ˜†

    1. nggak tahu deh, sepertinya sih sekitar 180an km/jam yah top speed-nya. Nggak terlalu cepat juga (soalnya kan ada kereta yang bisa mencapai 300an km/jam๐Ÿ™‚ ).

    1. Ah, di Indonesia juga gitu kan? Dari Jakarta ke Singapore juga cuma 1 jam 40 menit (naik pesawat tapinya, huahaha…๐Ÿ˜† ). Di Eropa kan negaranya kecil-kecil, jadi ya pindah negaranya cepat, huahaha.

      Haha, itu dia. Mungkin pengetahuan geografinya orang sini gak gitu oke kali yah? hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s