Posted in Cookings, My Student Life, Zilko's Life

#902 – Cooking

ENGLISH

As you know, living in Europe is costy, at least waay costier than Indonesia. Even, before moving to Europe, I always thought that Singapore was a really expensive country in term of food price. But now, even Singapore seems to be a very attractive country to visit, in term of food price (but compared to Indonesia or Thailand, still, Singapore is LESS attractive, sorry :D).

With my very limited scholarship money, I have to be smart in managing my financial account. About 50% of my monthly living-fee allocation from my scholarship already automatically goes to housing! Even, in my balance now, I think housing already costs more than 50% as I had to pay my last two months of contract in advance plus some deposit or something! Even though this means that next year I technically will not have to pay for my housing for two months and the balance will be back to the 50% ratio, at this point the ratio is still BEYOND that number. Hmm, we are being OOT now, but the point is, I have to be wise in spending my money.

My experience in Bandung taught me that one post that had a relatively large portion in my monthly expense was “food”. In Bandung, fine, I never cooked and it was not a problem as the price of food generally was incredibly affordable (not like that I ate in Duck King every week, right?๐Ÿ™‚ ). Going out twice or thrice a week and having meal outside in fine places was still fine, not making me over budget. But here, it would have been a hell of a problem. Thus, it means that this post is a very potential post to be “cut down”.

I also know that “food” is an important aspect as it is one of three basic needs, right? (or in Indonesian, one ofย sandang, pangan, papan). That is why I would not want to cut cost in food but then I end up being sick for not eating enough nor properly. So, the solution is: to cook!! As a guy who never cooked anything more complicated than instant thing (noodles, some canned food, instant ham, etc), at first it seemed scary: how much spice should I put here? how do I know my cooking is already cooked? what are the spices and things needed to cook this kind of meal? etcetera. Those kind of questions were haunting me, at first. But then, a friend of mine here told me that all of those questions were irrelevant. “One slice or two slices of onion, who cares?? It was not like you are feeding somebody else, it is just you! Who cares if there is too much spice in it or the other way around?” That was pretty much what he said too me. Then, I realized he was correct. I started to have this full spirit to start cooking. Beside that, I had always had the urge to try to cook ever since long before I moved to the Netherlands (but for some reasons it was never materialized, maybe because I was a bit spoiled in Indonesia), but now I had the opportunity to bring it to live. So, I started to give it a try …. .

And the result? It was awesome!! It was waay better than I expected!! I mean, I was so surprised that I could cook that good, given my lack of experience and only within a short period of time! The positive result, I guess, also encouraged me to do this activity (beside financial reason :D). In one or two occassions, I cooked for some of my friends here. Those friends were not Indonesian so they did not have the reference to compare it to the original meal in Indonesia๐Ÿ˜›, but their feedback was also positive. (But I am still not that confident to cook for Indonesian friends). I then started to experiment new meals, mostly inspired by Indonesian food I had back home. Not all of them were successfull though. I did cook some delicious meals, but I also failed in the attempt to make another ones (Strangely enough, I was successfull in cooking soto, but I so far failed in cooking bakso and soup).

The awaited consequence of cooking in my financial account has also been apparent. I manage to surpress my expense in this post. Even though nominally still more than the number I spent for the same post in Bandung, but considering the difference in living cost in here, if I adjust the difference, actually I am more frugal here. And I am very happy with that. This also allows me to save some money from my scholarship, not much though, but it is better than nothing, right?๐Ÿ˜€

And currently, somehow I am having a dead-in in cooking inspiration. I feel like I want to try cooking something new but I just haven’t had the idea. Anyone can help?๐Ÿ™‚

::: Soto I made from scratch few weeks ago.

BAHASA INDONESIA

Seperti yang pasti pada tahu, hidup di Eropa itu mahal, setidaknya kalau dibandingkan dengan Indonesia. Bahkan, sebelum aku pindah ke Eropa nih, aku selalu berpikir kalau yang namanya Singapura itu adalah negara yang amat mahal, dalam hal makanan, loh. Tapi sekarang, koq Singapura jadi kelihatan menarik ya untuk dikunjungi, dilihat dari harga makanannya (tapi kalo dibandingin sama Indonesia atau Thailand ya, Singapura masih kalah menarik lah, maaf ya :D).

Dengan uang beasiswaku yang sangat terbatas, aku harus pandai-pandai mengatur aliran keuanganku. Sekitar 50% dari jatah hidup bulanan dari beasiswa sudah otomatis terpakai untuk membayar tempat tinggal! Bahkan, di kondisiku sekarang ini, kayanya rasio biaya tempat tinggalnya lebih dari 50% deh, soalnya aku harus membayar biaya sewa dua bulan terakhir apartemenku di awal plus deposit atau apa lah gitu! ย Walau ini artinya tahun depan aku nggak perlu membayar sewa apartemen selama dua bulan sehingga rasionya akan balik ke sekitar 50%, tapi sekarang kan biaya tempat tinggalnya masih DI ATAS rasio itu. Hmmm, koq jadi ngomongin hal yang berbeda dari rencanaku sih, pokoknya intinya adalah, aku harus bijak dalam membelanjakan uangku.

Pengalamanku di Bandung mengajarkanku bahwa satu pos yang memiliki porsi relatif besar dalam pengeluaran bulananku adalah pos “makanan”. Di Bandung, oke lah, aku nggak pernah masak dan itu bukanlah masalah karena harga makanan toh secara umum masih sangat terjangkau (kan juga aku nggak makan di restoran kaya Duck King tiap minggu kan?๐Ÿ™‚ ). Pergi jalan-jalan seminggu dua atau tiga kali dan makan di luar juga nggak masalah koq, masih tidak membuatku over-budget. Tapi disini, aktivitas seperti itu akan sangat menimbulkan masalah yang besar. Artinya, ini adalah pos yang sangat potensial untuk “dipotong seoptimal mungkin”.

Aku juga tahu koq kalau “makanan” itu adalah satu aspek yang sangat penting karena aspek ini adalah satu dari tiga kebutuhan dasar kan? Pasti pada inget kan sama istilahย sandang, pangan, papan. Inilah mengapa aku nggak mau juga dong sampai kejadian aku memotong anggaran makan tapi kemudian aku sakit karena nggak cukup makan atau nggak makan dengan benar. Jadi, solusinya adalah: memasak!! Sebagai seseorang yang nggak pernah masak masakan yang lebih rumit daripada makanan instan (mie, beberapa makanan kalengan, ham instan, dll), awalnya tuh mengerikan sekali lho: berapa banyak bumbu yang harus dimasukin nih? gimana caranya tahu kalo masakan kita sudah matang? apa aja bumbu yang harus dimasukin untuk masak masakan ini? de el el. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu menghantuiku, awalnya. Tapi kemudian, seorang temanku disini berkata padaku bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak relevan. “Satu potong atau dua potong bawang bombay, siapa yang peduli?? Kan kamu ini nggak masak buat orang lain, cuma masak buat kamu aja! Siapa juga yang peduli kalo kebanyakan bumbu atau sebaliknya?” Itulah kurang lebih yang ia katakan padaku. Dan kemudian, aku sadar kalau dia benar juga. Aku langsung deh semangat 45 buat mulai memasak. Di samping itu, memang sih aku sudah selalu punya keinginan untuk mencoba memasak sejak jauh sebelum aku pindah ke Belanda (tapi karena beberapa alasan, keinginan itu tidak pernah terealisasi, mungkin karena aku agak termanjakan dengan kehidupan di Indonesia), dan sekarang inilah aku memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Jadi, aku kemudian mulai mencoba …. .

Dan hasilnya? Ternyata ok juga lho!! Jauh lebih baik daripada jangkaanku!! Maksudku, aku lumayan terkejut juga kalau aku ternyata bisa juga masak, apalagi dengan pengalamanku yang sangat minim dan hanya dalam waktu yang sangat singkat! Hasil positif ini, aku rasa, makin menyemangatiku untuk melakukan aktivitas ini (di samping alasan finansial :D). Di satu atau dua kesempatan, aku memasak untuk beberapa temanku disini. Beberapa teman ini bukan orang Indonesia, makanya mereka nggak memiliki patokan deh untuk membandingkan sama rasa asli masakannya di Indonesia๐Ÿ˜›, tapi komentar mereka positif juga loh. (Namun, aku masih belum cukup PD masak buat teman yang orang Indonesia). Aku kemudian mencoba bereksperimen beberapa menu, yang kebanyakan terinspirasi dari masakan yang kukenal di Indonesia. Nggak semuanya berhasil sih. Kadang aku memasak masakan dan hasilnya enak, di percobaan lain aku gagal (Anehnya, aku berhasil memasak soto, tapi sejauh ini gagal memasak bakso dan sup).

Konsekuensi yang ditunggu-tunggu di bidang keuangan juga sudah terasa. Aku berhasil menekan pengeluaranku di pos ini. Walau secara nominal jumlahnya lebih tinggi daripada yang aku habiskan di Bandung untuk pos yang sama, tapi dengan juga menghitung perbedaan biaya hidup dan kemudian menyesuaikannya, aku sebenarnya lebih hemat disini loh. Dan aku sangat senang karenanya. Ini juga memungkinkan aku untuk menabung dari uang beasiswaku, nggak banyak memang, tapi lumayan lah daripada nggak ada sama sekali kan?๐Ÿ˜€

Dan sekarang, entah kenapa aku koq sedang buntu inspirasi yah. Aku merasa seperti ingin memasak sesuatu yang baru gitu, hanya saja koq sejauh ini belum ada ide yang muncul. Ada ide?๐Ÿ™‚

11 thoughts on “#902 – Cooking

  1. ga nyangka. padahal saya selalu berpikir kalau memasak justru lebih mahal daripada membeli. mungkin itu berlaku untuk anak kostan yang ga punya kulkas kali ya hehe.

    next masak cemilan aja. kadang suka bosen kan cuma ada makanan berat. misalnya bikin kue2 atau pancake

    dilihat dari fotonya, sepertinya sotonya enak ;D

    1. Tergantung dimana. Kata teman yang pernah hidup di Singapura, kalau di Singapura, masak sendiri sama makan di luar habisnya bisa hampir sama, plus kalau masak sendiri mungkin bisa agak mahal karena kan kadang pengen nambahin ini itu๐Ÿ˜€ Kalau disini, beda antara masak sendiri dan makan di luar bisa lumayan juga.

      haha, kalau masak cemilan nggak tertarik nih๐Ÿ™‚ Cemilan biasanya beli di supermarket, hahaha. Thanks for the idea anyway๐Ÿ˜€

      Sotonya lumayan juga loh rasanya๐Ÿ™‚

  2. hehehehe maap baru mampir ke sini hehehe๐Ÿ™‚
    aku juga sblm merit ga bisa masak… tapi sejak merit mau ga mau masak juga.. cukup bumbunya, enak atau ga nya, ya pokoknya masak aja.. yang penting bisa dimakan hehehe๐Ÿ™‚ toh yg makan suami dan aku sendiri hehee dan suami mana berani bilang ga enak? hehehe๐Ÿ™‚

  3. “Di satu atau dua kesempatan, aku memasak untuk beberapa temanku disini. Beberapa teman ini bukan orang Indonesia, makanya mereka nggak memiliki patokan deh untuk membandingkan sama rasa asli masakannya di Indonesia๐Ÿ˜› , tapi komentar mereka positif juga loh. (Namun, aku masih belum cukup PD masak buat teman yang orang Indonesia).”

    mwehehehe… coba ko, masak buat teman dr Indonesia. tp kau hebat. bisa masak soto. padahal soto (klo tanpa bumbu instan) bukannya lbh ribet drpd sup ya?๐Ÿ˜‰

    kalo mau cari resep masakan simpel, coba ke:
    http://www.resepnugraha.net/

    1. hahaha, beberapa teman ada yang (secara nggak langsung) ngajak masak gitu, hahaha. Kapan-kapan pasti deh dan kita lihat komentarnya๐Ÿ˜€ Tapi mesti latihan dulu biar lebih PD๐Ÿ˜€. Itu dia Bu, nggak tahu deh, bikin sup gagal tapi bikin soto malah lumayan, hahaha๐Ÿ™‚ Tadi pagi bikin soto (lagi) dan lumayan juga, hmmm.

      Wah, thanks link-nya Bu. Nanti kalo pas buntu ide lagi mampir deh lihat2, siapa tahu dapet ide, hihihi

    1. hahahaha, memang tuh, “the power of kepepet” itu hebat banget yah, bisa membuat kita melakukan sesuatu yang tidak kita bayangkan sebelumnya๐Ÿ™‚

      Anyway, iya nih, lamaaaa ga bersua. Apakabar juga nih?? Disini sih baik-baik saja, cuma sedang sibuk sama kehidupan kuliah aja, hahaha๐Ÿ™‚

  4. masak mashed potato aja *gara-gara kemaren habis nyoba masak ini*๐Ÿ˜†
    kalo yang gampang sih paling tumis-tumis sayur, kalo ikan/daging/ayam di-grill aja udah sedap
    bumbu yang wajib paling bawang merah,bawang putih,garam
    eh tapi disana umum nggak sih bumbu gitu? ato lebih umum bawang bombay?๐Ÿ˜€
    link resep nugraha yang dibilang memtike tuh oke juga

    1. huahaha, disini dimana2 mashed potato semua kalo beli, maklum, kentang kan makanan pokok orang Belanda, hahaha๐Ÿ˜†

      Bawang merah agak jarang ya, tapi bawang putih n bawang bombay sih buanyak banget, hehehe๐Ÿ™‚ Kalo grill nggak punya pemanggangnya. Pengen coba roast tapi belum punya oven, haha๐Ÿ˜ฆ .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s