Posted in EuroTrip, One Week Trip, Vacation

#1809 – September 2016 Sabbatical Trip: Europe (Part I: Bucharest)

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: Europe series:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

***

Getting to Bucharest

TAROM logo

Flight: TAROM RO362
Equipment: Boeing 737-300 reg YR-BGA named “Alba Iulia”
ATD: 12:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 15:20 EEST (Runway 08R of OTP)

Ever since I knew I was going to Bucharest to attend my friend’s wedding, I knew it was the perfect opportunity for me to try TAROM for the first time ever😀 . So we (read: my parents and I) did.

Amsterdam to Bucharest. Created with gcmap.com
Amsterdam to Bucharest. Created with gcmap.com

We chose the convenient 11:50 AM flight out of Amsterdam, so we left Delft just before 9 AM. At Schiphol, we checked-in at KLM’s priority check-in area (TAROM is a member of SkyTeam), at which our checked-in luggages were tagged with the priority label, and were assigned our seats. The evening before I managed to snatch seat 3A, a window seat in the first row of economy with ample legroom while my parents were assigned seats in the middle of the plane (I booked our tickets separately).

A TAROM's 23 year-old Boeing 737-300 reg YR-BGA
A TAROM’s 23 year-old Boeing 737-300 reg YR-BGA

Long story short, we passed the security check and border control; and arrived at the gate. Not long after, YR-BGA, a TAROM’s 23 year-old Boeing 737-300 (Yeay a Boeing 737 Classic!), arrived at the gate. Soon enough, boarding started. It was visible from the interior that YR-BGA was 23 year-old. The cabin looked old with outdated seats; though comfortable nonetheless.

After boarding completed, we departed and took off from runway 18L of Schiphol Airport. The plane turned east just after take-off, starting the 2.5 hours flight to Romania. A lunch service was provided on this flight. There was no choice of meal; but I found the meal to be quite decent especially for a European flight with a European airline standard. I got a small package of chicken pasta with bread and a brownies cake as the dessert. Of course a selection of drinks were provided as well. Moreover, not long after the meal was provided, a second service of warm drinks were served. I was quite impressed and satisfied.

The lunch service on board TAROM's flight RO 362
The lunch service on board TAROM’s flight RO 362

The rest of the flight went rather uneventful as there was no AVOD screen and the only IFE was just the magazine, haha😆 . Anyway, at around 15:20 local time, we landed at runway 08R of Henri Coanda International Airport in Bucharest. Here is the landing video:

We passed the border control with no problem. However, the priority labels on our luggages were pretty much useless as our luggages were the last one to be unloaded from the plane.😦 From the airport, we took a taxi to go to downtown Bucharest, as my Romanian friend suggested (and we were super glad we listened to his advice).

Bucharest

In general, I found Bucharest to be a pretty city with a lot of parks and big old buildings. However, the buildings also reflected that Romania was still not as developed as many Western European countries; but this was probably not surprising.

Bucharest
Bucharest

The old town area in the centre of Bucharest was full of bars and restaurants. The area was only accessible by foot which made it nice to visit. Several small Orthodox churches stood in the city as well. We got the chance to enter a few of them; and they did look nice and were definitely “different” from other churches.

Unfortunately we did not have a lot of time to spend in Bucharest due to the wedding and the Dracula Tour that we had already arranged. Nonetheless, we did the several walking routes suggested in the free Bucharest map that we got from our hotel. This allowed us to see the important sites close to the Old Town, which were nice. However, we did not get the chance to visit the Herăstrău Park. We heard this park was beautiful with a nice museum (Muzeul Satului) in it. Okay, next time, then🙂 .

The CEC Palace in Bucharest
The CEC Palace in Bucharest

A (Fatty) Culinary Capital

In July, Aggy wrote a post about Bucharest as a surprising foodie destination. Well, after this trip, I can testify affirming this statement!!

First of all, being an Eastern European country, we found the price to be generally “cheap” when we compare it to the standard Dutch price (haha😛 ).

A serving of pork knuckle at Caru' cu Bere
A serving of pork knuckle at Caru’ cu Bere

Second of all, and more importantly, the food was AWESOME!! Pretty much everything we had was delicious. In general, though, I found the Romanian food to be big (in serving) and fatty. Plus, it appeared to me that polenta was a popular source of carbohydrate there; much to my delight, of course😉 .

We visited the famous Caru’ cu Bere in the old town area twice; where I had a traditional pork confit and a gigantic pork knuckle (which I shared with my dad). We also went to Hanu’ lui manuc and Hanu’ berarilor which my Romanian friends recommended. Both restaurants were great.

Romanian KFC
Romanian KFC

While in Bucharest, I also got the opportunity to try out the Romanian KFC, haha😆 . While by default it could not be my favorite KFC (due to the non-existence of crispy chicken), they provided really good handmade tomato sauce!!

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: Europe:
1. Introduction
2. Part I: Bucharest
3. Part II: A Romanian Wedding
4. Part III: The Dracula Castle Tour
5. Part IV: Aegean Airlines and Athens
6. Part V: Santorini

***

Menuju Bucharest

TAROM logo

Penerbangan: TAROM RO362
Pesawat: Boeing 737-300 reg YR-BGA bernama “Alba Iulia”
ATD: 12:05 CET (Runway 18L of AMS)
ATA: 15:20 EEST (Runway 08R of OTP)

Semenjak aku tahu aku akan pergi ke Bucharest untuk menghadiri pesta pernikahan temanku, aku tahu ini adalah kesempatan yang sempurna untukku mencoba maskapai TAROM untuk pertama kalinya😀 . Jadilah kami (orangtuaku dan aku) terbang dengan mereka.

Amsterdam to Bucharest. Created with gcmap.com
Amsterdam ke Bucharest. Dibuat dengan gcmap.com

Kami memilih penerbangan yang dijadwalkan berangkat jam 11:50 pagi dari Amsterdam, jadi lah kami berangkat dari Delft sekitar jam 9 pagi. Di Schiphol, kami check-in di area check-in prioritasnya KLM (TAROM adalah anggota dari SkyTeam), yang mana bagasi kami dilabeli label prioritas, dan kami diberikan kursi kami. Malam sebelumnya aku berhasil memilih kursi 3A, kursi jendela di barisan pertama kabin ekonomi dengan leg room yang lapang sementara orangtuaku diberikan kursi di bagian tengah pesawat (tiket kami pesan sendiri-sendiri).

A TAROM's 23 year-old Boeing 737-300 reg YR-BGA
Sebuah Boeing 737-300nya TAROM rego YR-BGA yang berumur 23 tahun

Singkat cerita, kami melewati pemeriksaan sekuriti dan tiba di gerbang keberangkatan. Tak lama setelahnya, YR-BGA, sebuah Boeing 737-300 berumur 23 tahun milik TAROM (Hore, pesawat Boeing 737 Classic!), tiba. Proses naik pesawat kemudian dimulai. Terlihat jelas dari interiornya bahwa YR-BGA berumur 23 tahun. Kabinnya terlihat tua dengan kursi yang modelnya kuno; walaupun nyaman sih walaupun begitu.

Setelah semua penumpang naik, pesawat berangkat dan lepas landas dari landasan pacu 18L Bandara Schiphol. Pesawat kemudian belok ke arah timur dan penerbangan selama 2,5 jam ke Romania dimulai. Layanan makan siang disediakan di penerbangan ini. Tidak ada pilihan untuk makanan utamanya; tetapi aku merasa makanannya cukup lumayan apalagi dengan mempertimbangkan ini adalah penerbangan intra-Eropa dengan maskapai Eropa. Aku mendapatkan satu kotak kecil pasta ayam dengan roti dan sepotong roti brownies untuk pencuci mulut. Tentu saja beberapa pilihan minuman juga diberikan. Lebih jauh lagi, layanan minuman kedua yang berupa minuman hangat langsung dibagikan. Aku cukup terkesan dan puas.

The lunch service on board TAROM's flight RO 362
Layanan makan siang di dalam penerbangan RO 362nya TAROM.

Sisa penerbangan ini berlangsung uneventful dimana tidak disediakan layar AVOD dan satu-satunya IFE adalah majalahnya, haha😆 . Jam 3:20 sore, kami mendarat di landasan pacu 08R Bandara Internasional Henri Coanda di Bucharest. Berikut ini video pendaratannya:

Kami melewati pemeriksaan paspor tanpa masalah. Namun, label prioritas di bagasi kami tidak berguna sama sekali dong karena bagasi kami justru yang terakhir dikeluarkan dari bandara😦 . Kami kemudian menaiki taksi untuk pergi ke kota Bucharest, sesuai yang disarankan teman Romaniaku (dan kami lega kami mendengarkan sarannya).

Bucharest

Secara umum, bagiku Bucharest adalah kota yang cantik dengan banyak taman dan gedung-gedung tua. Namun, gedung-gedungnya sendiri juga merefleksikan bahwa Romania masih belum semaju negara-negara Eropa Barat; tetapi ini mungkin tidak mengejutkan lah ya.

Bucharest
Bucharest

Area kota tua di pusat kota Bucharest penuh diisi dengan bar dan restoran. Area ini hanya dapat diakses oleh pejalan kaki sehingga rasanya sungguh nyaman untuk dikunjungi. Beberapa gereja kecil Ortodoks berdiri di dalamnya juga. Kami berkesempatan memasuki beberapa di antaranya; dan gereja-gereja itu nampak cantik dan “berbeda” dari gereja-gereja lainnya.

Sayangnya, kami tidak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan di Bucharest akibat pesta pernikahan dan tur drakula yang sudah kami jadwalkan. Toh walaupun begitu, kami masih bisa mengikuti beberapa rute jalan kaki yang disarankan di peta Bucharest gratisan yang kami dapatkan dari hotel. Ini membuat kami bisa mengunjungi beberapa area penting di dekat kota tua, yang mana nampak cakep juga. Sayangnya, kami tidak berkesempatan mengunjungi Taman Herăstrău. Kami dengar taman ini sangat indah dengan museum yang oke (Muzeul Satului) di dalamnya. Oke, untuk kunjungan yang selanjutnya kalau begitu ya🙂 .

The CEC Palace in Bucharest
Istana CEC di Bucharest

Sebuah Ibukota Kuliner (Penuh Lemak)

Di bulan Juli, Aggy menulis sebuah posting tentang Bucharest sebagai destinasi foodie yang tak disangka-sangka. Setelah perjalanan ini, aku setuju sekali!!

Pertama-tama, sebagai negara Eropa timur, kami merasa harga makanan disana “murah-murah” ketika dibandingkan dengan standar harga Belanda (haha😛 ). Penting dong ya ini.

A serving of pork knuckle at Caru' cu Bere
Satu sajian lutut babi di Caru’ cu Bere

Yang kedua, dan yang lebih penting, makanannya ENAK-ENAK!! Bisa dibilang semua yang kami makan di sana enak semua deh. Secara umum, aku amati makanan Romania itu besar (ukuran penyajiannya) dan berlemak. Ditambah lagi, sepertinya sumber karbohidrat yang banyak digunakan adalah polenta; ini aku suka sekali tentunya😉 .

Kami mengunjungi restoran terkenal Caru’  cu Bere di kota tua dua kali; di mana aku memesan pork confit tradisional dan lutut babi (pork knuckle) raksasa (yang aku bagi dua dengan papaku). Kami juga mengunjungi Hanu’ lui manuc dan Hanu’ berarilor yang disarankan teman-teman Romaniaku. Masakan kedua restoran ini juga enak-enak.

Romanian KFC
KFC Romania

Mumpung di Bucharest, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba KFCnya Romania, haha😆 . Walaupun otomatis KFC ini tidak bisa menjadi KFC favoritku (soalnya mereka nggak menyediakan ayam crispy dong), tetapi saus tomat handmade mereka enak banget lhoo !!

Posted in General Life, Zilko's Life

#1808 – One Month

ENGLISH

One month went by very fast.

Yesterday morning, my parents went back to Indonesia after visiting me in Europe during my sabbatical month. They arrived a few days before my PhD contract officially ended and then we went on two trips together to Romania, Greece, and Sint Maarten (stories to be posted soon; in the meantime, you can check more spoilers out on my Instagram (@azilko) under the hashtags: #ZilkosSabbaticalMonth, #ZilkoInRomania, #ZilkoGoesToGreece, and #ZilkoComesToTheCaribbean😛 ). In between those trips, they spent the time in the Netherlands (and a one-day trip to Düsseldorf).

Somehow, one month went by just like that and we are already approaching the end of September now. Oh well, time flies when you are having fun, isn’t that what people say?

The Netherlands

Anyway, as they spent most of their time in the Netherlands, we got to check out several Dutch towns and cities. Aside from the obvious (Delft, Den Haag, Rotterdam, and Amsterdam), we went to a few Dutch cities which I had never got the chance to visit before: Leiden, Gouda, Dordrecht, and Breda, haha😆 . We also went to two sites which I last visited more than four years ago: Kinderdijk and Giethoorn. The Giethoorn trip was actually a redemption of their previous visit in 2012; when we originally planned to visit it but had to drop our plan and went to Roermond instead.

This Week

This week is the last week of my sabbatical month. After travelling intensively, I plan to use this week to recharge myself physically. All the travel refreshed my mind completely, which is good, but it also made my body tired. Plus the jetlag effect still lingers a little bit too. Well, good that I still have this week off, I guess😛 .

BAHASA INDONESIA

Satu bulan berlalu dengan amat cepat.

Kemarin pagi, orangtuaku kembali ke Indonesia setelah mengunjungiku di Eropa di bulan sabatikalku. Mereka tiba beberapa hari sebelum kontrak S3ku resmi berakhir dan kemudian kami bepergian dalam dua perjalanan ke Romania, Yunani, dan Sint Maarten (cerita-ceritanya akan aku posting segera; sementara itu, spoilers bisa dicek di Instagramku (@azilko) dengan hashtag: #ZilkosSabbaticalMonth, #ZilkoInRomania, #ZilkoGoesToGreece, dan #ZilkoComesToTheCaribbean😛 ). Di antara perjalanan-perjalanan ini, orangtuaku menghabiskan waktu mereka di Belanda (dan juga perjalanan satu hari ke Düsseldorf).

Entah bagaimana, satu bulan berlalu begitu saja dan kini kita sudah menghadapi penghujung bulan September. Yah, kata orang memang waktu itu berlalu dengan cepat ketika kita bersenang-senang, bukan?

Belanda

Anyway, karena sebagian waktu mereka dihabiskan di Belanda, kami juga mengunjungi beberapa kota Belanda. Di samping kota-kota yang mainstream (Delft, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam), kami juga pergi ke beberapa kota Belanda yang sebelumnya belum pernah aku kunjungi: Leiden, Gouda, Dordrecht, dan Breda, haha😆 . Kami juga mengunjungi dua tempat wisata yang terakhir kukunjungi lebih dari empat tahun yang lalu Kinderdijk dan Giethoorn. Perjalanan ke Giethoorn ini sebenarnya adalah “penebusan” dari kunjungan orangtuaku sebelumnya di tahun 2012; di mana waktu itu awalnya kami berencana ke sana tetapi kunjungan harus dibatalkan dan kami memutuskan untuk pergi ke Roermond.

Minggu ini

Minggu ini adalah mingu terakhir bulan sabatikalku. Setelah jalan-jalan dengan intens, aku berencana memanfaatkan minggu ini untuk me-recharge fisikku. Acara jalan-jalan yang kulakukan telah me-recharge pikiranku, yang mana artinya bagus dong ya, tetapi ini juga membuat badanku merasa lelah. Apalagi efek jetlag-nya masih sedikit terasa nih sekarang. Yah, bagus juga ya aku masih memiliki satu minggu libur begini :P .

Posted in EuroTrip, One Day Trip, Vacation

#1807 – A Saturday in Düsseldorf

ENGLISH

On Thursday, my dad saw a Germany’s ICE train at Amsterdam Centraal Station. As he had never tried an ICE service before, he asked me to book a one-day trip involving the train. And so that was how we (my parents and I) ended up in Düsseldorf this Saturday, haha😆 .

It was actually just the second time I went to Düsseldorf; the first time was more than four years ago when I applied for a UK visa.

ICE International 123
ICE International 123

The trip started with an Intercity train from Rotterdam Centraal to Utrecht Centraal; and we took the ICE 123 service from Utrecht to Düsseldorf. A little bit not so typical German, though, the train was delayed for five minutes. However, given the amount of maintenance works going on in the Dutch railway network which I observed in the past month, I wasn’t very surprised about this. Unfortunately, though, the train was very crowded today. As we bought tickets with no seats assigned (we would have to add an extra €4 each to get assigned seats), we were not able to find any empty seats😦 . Luckily, some passengers got off in Arnhem so from thereon we could sit on those now vacant ones, haha😆 .

Anyway, the train arrived at Düsseldorf Hauptbahnhof (Hbf) just before 1 PM. We went to a tourist information nearby and then started our day in the city. Obviously we went to the Altstadt and walked along the River Rhine. My stand on Düsseldorf is still the same as four years ago. It is a nice city but at the same time I also don’t “feel” it. Somehow it feels kinda flat, to me. The photos are available at the gallery below.

The city of Düsseldorf
Düsseldorf in 2012
Düsseldorf and River Rhine
Düsseldorf in 2016

At around 7 PM we went back to the Hbf to take our ICE train back to the Netherlands. This time, though, the train got delayed for 30 minutes! That was so untypical German! Lol😆 . Consequently, we arrived at Utrecht Centraal at around 10 PM; but at least this time it was not as busy so we could get the comfortable seats inside a small chamber in the train. From Utrecht we took an Intercity train to Rotterdam Centraal; and here our short one day trip to Düsseldorf ended🙂 .

BAHASA INDONESIA

Di hari Kamis, papaku melihat sebuah kereta ICEnya Jerman di stasiun Amsterdam Centraal. Karena ia belum pernah menaiki layanan ICE sebelumnya, ia memintaku untuk membuat sebuah perjalanan satu hari yang melibatkan kereta ini. Dan beginilah, saudara-saudari sekalian, bagaimana kami (orangtuaku dan aku) berada di Düsseldorf hari Sabtu ini, haha😆 .

Sebenarnya ini baru lah kali kedua aku pergi ke Düsseldorf; yang pertama kali adalah lebih dari empat tahun lalu ketika aku sedang mengajukan permohonan visa UK.

ICE International 123
ICE International 123

Perjalanan dimulai dengan kereta Intercity dari stasiun Rotterdam Centraal ke Utrecht Centraal; dan kami menaiki kereta ICE 123 dari Utrecht ke Düsseldorf. Agak tidak seperti tipikal Jerman, keretanya terlambat lima menit. Namun, dengan mempertimbangkan banyaknya pekerjaan maintenance di jaringan kereta api Belanda sebulan belakangan ini, aku tidak begitu heran dengan ini. Sayangnya, tapinya, keretanya ramai sekali. Karena kami membeli tiket tidak dengan kursi yang diatur (kami harus menambah ekstra €4 per orang untuk mendapatkan kursi ketika pemesanan tiket), kami nggak kebagian kursi kosong deh😦 . Untungnya, beberapa penumpang turun di Arnhem sehingga kami bisa duduk di kursi-kursi yang kini kosong itu, haha😆 .

Kereta tiba di Düsseldorf Hauptbahnhof (Hbf) beberapa menit sebelum jam 1 siang. Kami pergi ke pusat informasi turis dan kemudian berjalan-jalan mengelilingi kotanya. Tentu saja kami pergi ke area Altstadt dan berjalan menyusuri sungai Rhine. Pendapatku akan kota ini masih sama seperti empat tahun yang lalu. Düsseldorf adalah kota yang bagus tetapi entah mengapa aku tidak “merasakannya”. Rasanya cenderung “datar” gitu. Foto-fotonya bisa dilihat di galeri di atas deh.

The city of Düsseldorf
Düsseldorf tahun 2012
Düsseldorf and River Rhine
Düsseldorf tahun 2016

Sekitar jam 7 malam, kami kembali ke Hbf untuk menaiki kereta ICE kembali ke Belanda. Kali ini, keretanya terlambat setengah jam dong! Ini mah nggak Jerman banget kan ya! Haha😆 . Sebagai akibatnya, kami baru tiba di Stasiun Utrecht Centraal sekitar jam 10 malam; tetapi setidaknya kali ini keretanya tidak terlalu ramai sehingga kami bisa mendapatkan kursi-kursi nyaman di dalam ruangan kecil di dalam keretanya. Dari Utrecht kami menaiki kereta Intercity ke Rotterdam Centraal; dan di sini perjalanan satu hari singkat kami ke Düsseldorf berakhir :) .

Posted in North America Trip, The Caribbean, Vacation

#1806– September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean (Introduction)

ENGLISH

Posts in the September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

Hello all!! On Wednessday I was back from the Caribbean part of my sabbatical month trip; which caused me to develop some jetlag, lol😆 .

Anyway, how was the trip? Well, it was SUPER amazing!!

I have mentioned here a few times that Sint Maarten has been a dream place to visit for me for years; due to its exotic Princess Juliana International Airport (SXM). On top of that, I got to fly KLM’s Queen of the Skies (Boeing 747-400) to get there too. As the icing on the cake, it turned out I was super lucky in this department because KLM is going to switch their SXM operation from Boeing 747 to Airbus A330-200 per 30 October 2016. So my decision to go to Sint Maarten this September allowed me to still witness and experience this at the famous Maho Bay:

A KLM's Boeing 747-406 reg PH-BFB landing at Princess Juliana International Airport (SXM), in Sint Marteen. Photo credit: HGabor/Airliners.net
A KLM’s Boeing 747-406 reg PH-BFB landing at Princess Juliana International Airport (SXM), in Sint Marteen. Photo credit: HGabor/Airliners.net

While Maho Bay was definitely the best beach in Sint Maarten (and the world, to me😛 ), Sint Maarten was more than that. The small island is actually governed by the Kingdom of the Netherlands in the south (Sint Maarten area) and France in the north (Saint Martin area). So, uniquely while the Netherlands and France do not share borders in continental Europe, they do thousands of kilometer away in the Caribbean🙂 . As we rent a car, we were able to visit and explore both sides of the small island during the one week duration of our stay there.

Dutch-French border in the Caribbean
Dutch-French border in the Caribbean

To sum up the week, I LOVED Sint Maarten! Seriously!! It was one of few destinations which I truly enjoyed pretty much everything (well, except for the heat which at some point felt like 40°C). Even though it was a small island and we had one week to spend there, the time passed by super fast! Not to mention that we did not visit any of the nearby islands (Anguilla, Saint Barthelmy, or Saba). I knew at one point I will be back in Sint Maarten, and I want it too!🙂

Indeed! I ❤️ SXM
Indeed! I ❤️ SXM

As usual, here are some teasers from this trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri September 2016 Sabbatical Trip: The Caribbean:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Sint Maarten
3. Part II: Sint Maarten
4. Part III: The Maho Beach
5. Part IV: Saint Martin
6. Part V: Back to the Netherlands

Halo semua!! Hari Rabu yang lalu aku kembali dari bagian Karibia dari perjalanan bulan sabatikalku; yang menyebabkanku terkena jetlag, haha :lol: .

Anyway, bagaimanakah perjalanannya? Hmm, perjalanannya ini seru BANGET!!

Sudah kusebutkan beberapa kali di sini bahwa Sint Maarten adalah satu tempat yang sudah lama banget kuimpikan untuk kukunjungi; terutama karena keberadaan Bandara Internasional Princess Juliana (SXM). Selain itu, aku juga berkesempatan terbang dengan pesawat Queen of the Skies-nya KLM (Boeing 747-400) untuk pergi kesana. Dan puncaknya lagi, ternyata aku beruntung sekali di sisi ini karena KLM akan mengubah operasi SXM mereka dari Boeing 747 menjadi Airbus A330-200 per 30 Oktober 2016. Ini berarti keputusanku untuk pergi ke Sint Maarten September ini membuatku masih bisa menyaksikan dan menikmati pemandangan super keren di Pantai Maho seperti ini:

A KLM's Boeing 747-406 reg PH-BFB landing at Princess Juliana International Airport (SXM), in Sint Marteen. Photo credit: HGabor/Airliners.net
Sebuah Boeing 747-406 milik KLM rego PH-BFB mendarat di Bandara Internasional Princess Juliana (SXM), di Sint Marteen. Photo credit: HGabor/Airliners.net

Walaupun Pantai Maho jelas adalah pantai paling keren di Sint Maarten (dan di dunia sih, untukku😛 ), Sint Maarten memiliki lebih banyak daripada itu. Pulau kecil ini sebenarnya diperintah oleh Belanda di sisi selatan (area Sint Maarten) dan Prancis di sisi utara (area Saint Martin). Jadi, walaupun Belanda dan Prancis tidak berbatasan di Eropa daratan, uniknya mereka berbatasan langsung ribuan kilometer jauhnya di Karibia🙂 . Karena kami menyewa mobil di sana, kami bisa mengunjungi dan menjelajahi kedua sisi pulau kecil ini selama waktu satu minggu itu.

Dutch-French border in the Caribbean
Perbatasan Belanda dan Prancis di Karibia.

Untuk merangkum satu minggu ini, aku SUKA BANGET dengan Sint Maarten! Tempat ini adalah satu dari sedikit destinasi yang mana semuanya benar-benar aku nikmati (eh, kecuali suhu udaranya yang pernah terasa sampai 40°C di kulit sih). Walaupun ini adalah pulau kecil dan kami memiliki waktu satu minggu disana, waktu berlalu sungguh dengan cepat! Ini pun bahkan kami tidak mengunjungi pulau-pulau kecil di sekitarnya loh (Anguilla, Saint Barthelmy, atau Saba). Aku tahu suatu saat aku akan kembali lagi ke Sint Maarten; dan aku memang ingin!🙂

Indeed! I ❤️ SXM
Betul sekali! I ❤️ SXM.

Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa teasers dari perjalanan ini.

Posted in Vacation

#1805 – Combating Jetlag

ENGLISH

As of now, I have been awake for about 30.5 hours non-stop. While this does not break my personal record (35 hours), this is still not fun, lol😆 . However, unlike the time I set the record, this time it is more necessary to do so. Why so?

This morning, I was back from from the Caribbean part of my sabbatical month trip. My KL785 flight from Sint Maarten (via Curaçao) landed at 06:10 in the morning. The “problem” was that I could not sleep during the 8.5 hour flight from Curaçao to Amsterdam; mainly because I enjoyed the flight a lot, haha😆 . I got up at around 06:00 on Tuesday Sint Maarten time and as of now, we are approaching 18:30 on Wednesday Dutch time. With six-hour time difference between Sint Maarten and the Netherlands, this equates to the aforementioned 30.5 hours!

I have mentioned a few times here that I prefer (a lot more) westward to eastward jetlag; as I find the effect of eastward jetlag really annoying. It was also quite unfortunate that the flight landed in the early morning today, haha😆 . So to combat this jetlag, my parents and I decided to go to Amsterdam for half a day today just after arriving at Schiphol. It is a good idea to force ourselves as much as we can to stay awake during the day to reduce the jetlag. And as it has passed 18:00 now, I think we have been doing alright, haha😆 .

Originally I planned to post an introduction post to the Caribbean part of my trip; however, it seems that it has to wait a little bit longer now as I really can’t wait to get to my bed (but not before finishing up my laundry! 😧) #postvacationproblem

A pizza in Amsterdam
A pizza in Amsterdam

BAHASA INDONESIA

Saat ini, aku sudah bangun selama sekitar 30,5 jam non-stop loh. Walaupun ini masih belum memecahkan rekor pribadiku (35 jam), tetap aja ini nggak menyenangkan lah ya, haha😆 . Namun, tidak seperti ketika aku membuat rekor itu, kali ini penting untuk aku bangun begini. Mengapa?

Pagi tadi, aku kembali dari bagian Karibia dari bulan sabatikalku. Penerbangan KL785-ku dari Sint Maarten (via Curaçao) mendarat jam 06:10 pagi tadi. “Masalah”-nya adalah, aku tidak bisa tidur di penerbangan 8,5 jam dari Curaçao ke Amsterdam; terutama karena aku sungguh menikmati penerbangannya, haha😆 . Aku bangun sekitar jam 6 pagi di hari Selasa waktu Sint Maarten dan sekarang sudah mendekati jam 6:30 sore di hari Rabu waktu Belanda. Dengan perbedaan waktu enam jam antara Sint Maarten dan Belanda, ini menghasilkan 30,5 jam yang kusebutkan di atas.

Aku sudah sebutkan beberapa kali disini bahwa aku (jauh) lebih menyukai jetlag ke arah barat daripada jetlag ke arah timur; karena aku merasa efek jetlag ke arah timur jauuh lebih menyebalkan. Sialnya, penerbangannya tadi kebetulan mendarat di pagi hari banget pula, haha😆 . Jadilah untuk melawan jetlag ini, aku dan orangtuaku memutuskan untuk pergi ke Amsterdam selama setengah hari tadi begitu tiba di Schiphol. Adalah ide yang bagus untuk memaksa kita bangun selama mungkin di siang hari untuk mengurangi efek jetlag ini. Dan sekarang sudah lewat jam 6 sore nih, jadi sudah lumayan juga rasanya ya, haha😆 .

Awalnya, aku berencana mem-posting posting pendahuluan dari bagian Karibia dari perjalanan ini. Namun, sepertinya ini harus menunggu dulu deh karena sekarang aku sudah nggak sabar banget berbaring di ranjangku (tetapi masih harus menyelesaikan cucian dulu nih! 😧) #problempulangliburan

Posted in Aviation

#1804 – Getting to Know: The Three (Major) Airline Alliances

ENGLISH

When flying Garuda Indonesia, you would hear the purser/flight attendant says “… Garuda Indonesia, a member of SkyTeam …”. And when you look closely at the plane, you might notice a small logo near the nose or the front door; something like this:

A SkyTeam logo at the door of Garuda's PK-GFQ
A SkyTeam logo by the door of Garuda’s PK-GFQ

What exactly is SkyTeam? In short, SkyTeam is one of the three major airline alliances in the world. And what is an airline alliance? Well, the term is self-explanatory. According to Wikipedia:

An airline alliance is an aviation industry arrangement between two or more airlines agreeing to cooperate on a substantial level. Alliances may provide marketing branding to facilitate travelers making inter-airline codeshare connections within countries. This branding may involve unified aircraft liveries of member aircraft.

So, for once, an airline in an alliance is able to offer a much wider network beyond its own operational network by using the network of other airline(s) in the alliance.

There are a lot of different facets of airline alliance so this post will definitely not cover all of them. Instead, I am just going to go with the most general information one: the three major alliances and their airline members.

The Three Major Alliances

SkyTeam

SkyTeam alliance and its members. Source: klm.com
SkyTeam alliance and its members. Source: klm.com

As of September 2016, SkyTeam consists of 20 different airlines. I observe that for most frequent flyers, this alliance is the least prestigious major alliance mainly due to the “randomness” and the varying level of service between members. Nevertheless, this alliance is my alliance of choice because the airlines of my base country and my country of origin (KLM (KL) and Garuda Indonesia (GA)) are members of SkyTeam. So it just makes perfect sense for me to stick with this alliance.

An Air France's Boeing 777-300ER reg F-GZNE in SkyTeam livery. Photo credit: Pascal Maillot/Airliners.net
However, I do find SkyTeam’s alliance livery to be the most good-looking of the three alliances. Pictured here an Air France’s Boeing 777-300ER reg F-GZNE in SkyTeam livery. Photo credit: Pascal Maillot/Airliners.net

Star Alliance

Star Alliance alliance and its members. Source: http://www.cthawards.com/qualifications/professional-skills-programmes/sabre-cth-level-2-certificate-in-the-sabre-system/
Star Alliance alliance and its members. Source: http://www.cthawards.com/qualifications/professional-skills-programmes/sabre-cth-level-2-certificate-in-the-sabre-system/

As of September 2016, Star Alliance consists of 27 different airlines. Just by the numbers, this alliance is the biggest in the world. Moreover, if you take SkyTrax rating system seriously (I don’t really), this alliance is also the most “prestigious” one given than four of the only eight 5-star airlines in the entire planet are members of Star Alliance: Singapore Airlines (SQ), All Nippon Airlines (NH), Asiana Airlines (OZ), and Eva Air (BR).

A Singapore Airlines' Boeing 777-300 reg 9V-SYL in Star Alliance livery. Photo credit: Allen Zhao/Airliners.net
A Singapore Airlines’ Boeing 777-300 reg 9V-SYL in Star Alliance livery. Photo credit: Allen Zhao/Airliners.net

Oneworld

Oneworld alliance and its members. Source: http://uponarriving.com/2016/05/05/guide-booking-british-airways-avios/
Oneworld alliance and its members. Source: http://uponarriving.com/2016/05/05/guide-booking-british-airways-avios/

As of September 2016, Oneworld consists of 15 different airlines. Of the three, Oneworld is the smallest but several airlines known for its high level of service are members of this alliance. To me, personally, though, this alliance is the least attractive of the three because I feel the most “distant” to their bases and destinations.

An American Airlines'Boeing 777-200ER reg N796AN in OneWorld livery. Photo credit: Sneeze Lam/Airliners.net
An American Airlines’ Boeing 777-200ER reg N796AN in OneWorld livery. Photo credit: Sneeze Lam/Airliners.net

Why Should I Care?

Well, I believe that this knowledge helps a lot in maximizing the value of your spending on flight tickets. Note that my definition of value here is much more beyond than just plain cheap tickets (if all you want is just a cheap ticket, your best bet is by flying low cost carriers (LCCs). But then, LCCs are not members of any alliances because this saves them some cost which allows them to provide those low fares. And, no, Air Berlin (AB) is not an LCC). I will not get to details about this value in this post because it is unique for each individual. The value is a function of many different factors so what is best for me is likely to not be the same as what is best for you.

An AirAsia's Airbus A320-200 reg 9M-AQP at the brand new apron #9
As an LCC, AirAsia is, of course, not a member of any alliance.

But there is something in common between these alliances. Airlines (thus, alliances) reward loyalty. To do that, they introduce many different benefits to their frequent flyers (I have shared three of them). One of the common benefit is to transcend the benefit given by an airline member’s frequent flyer programme beyond the airline itself. It works in both ways: you can spend miles/points you collect at one airline at other airlines AND you can also earn miles/points of one airline by flying other airlines; even though of course there are some terms and conditions that apply (Afterall, they are business corporations who are after some profit). In other words, the value of the airline’s frequent flyer program expands beyond the network of the airline’s itself. And as you can see the three alliances cover airlines from basically almost every corner of the world. This means that by “beyond”, this basically means almost “to the entire world”.

An example from my experience would by my return-flights from USA to Mexico during my 2015 Year-End Trip to North America. I had never flown Aeromexico (AM) before in my life but those three Aeromexico flights, I got them for “free” using my KLM’s Flying Blue points🙂 . And, as you know, two of those three flights were in business class😉 .

Real meal in a business class flight
A dinner service on board Aeromexico’s business class flight to New York

Conclusion

At the end of the day, an alliance is a form of business strategy of some airlines. This is one of their ways to strengthen their position in the tight, competitive, and heavily-regulated aviation market. Products, services, convenience, etc are offerred to try to gain more passengers and make those already flying loyal. Working together with several other airlines makes sense for them because this significantly expands the reach of an airline with relatively little cost.

And it is up to us, as passengers, whether we would want to take this alliance “offer” or not😉 .

BAHASA INDONESIA

Ketika terbang dengan Garuda Indonesia, kita akan mendengar purser/pramugara/i-nya mengucapkan potongan kalimat “… Garuda Indonesia, anggota dari SkyTeam …”. Lalu, jika pesawatnya diamati dengan seksama, kita akan menemukan sebuah logo kecil di dekat hidung atau pintu depan pesawatnya. Seperti ini lah:

A SkyTeam logo at the door of Garuda's PK-GFQ
Sebuah logo SkyTeam di pintu depan PK-GFQnya Garuda

SkyTeam itu sebenarnya apaan sih? Secara singkat, SkyTeam adalah satu dari tiga aliansi utama maskapai penerbangan di dunia. Dan apa pula itu aliansi maskapai penerbangan? Menurutku sih dari namanya sudah jelas sih ya. Kalau menurut (terjemahan dari) Wikipedia nih:

Sebuah aliansi maskapai penerbangan adalah perjanjian industri penerbangan dari dua atau lebih maskapai yang setuju untuk berkooperasi dalam level yang cukup mendalam. Aliansi bisa menyediakan branding pemasaran untuk memfasilitasi penumpang memanfaatkan koneksi codeshare antar maskapai antar negara. Branding ini bisa melibatkan livery pesawat khusus bagi beberapa pesawat maskapai anggota.

Jadi, yang jelas nih, sebuah maskapai yang tergabung dalam suatu aliansi jadi bisa menawarkan jaringan yang jauh lebih luas daripada jaringan yang ditawarkan oleh maskapai itu sendiri dengan cara memanfaatkan jaringan-jaringan maskapai-maskapai lainnya di dalam aliansi yang sama.

Ada banyak sekali sisi dari aliansi maskapai penerbangan yang bisa dibahas sehingga nggak mungkin posting ini akan bisa mencakup semuanya. Sekarang ini, aku hanya akan menyentuh informasi sanagt umumnya saja deh: tiga aliansi utama maskapai dan anggota-anggotanya.

Tiga Aliansi Utama Maskapai Penerbangan

SkyTeam

SkyTeam alliance and its members. Source: klm.com
Aliansi SkyTeam dan anggota-anggotanya. Sumber: klm.com

Per September 2016, SkyTeam terdiri atas 20 maskapai anggota. Yang aku amati, di mata para frequent flyers aliansi ini adalah aliansi yang paling tidak bergengsi terutama karena maskapai anggotanya yang “campur aduk” dan level pelayanan yang sangat bervariasi. Toh walaupun begitu, aliansi ini adalah aliansi pilihan utamaku karena maskapai dari negara basis dan negara asalku (KLM (KL) dan Garuda Indonesia (GA)) adalah anggota dari SkyTeam. Jadi masuk akal banget kan ya untukku memilih aliansi ini.

An Air France's Boeing 777-300ER reg F-GZNE in SkyTeam livery. Photo credit: Pascal Maillot/Airliners.net
Namun, menurutku ya, aliansi SkyTeam memiliki livery aliansi yang paling cakep di antara tiga aliansi ini deh. Di foto ini adalah sebuah Boeing 777-300ERnya Air France ber-rego F-GZNE dengan livery SkyTeam. Photo credit: Pascal Maillot/Airliners.net

Star Alliance

Star Alliance alliance and its members. Source: http://www.cthawards.com/qualifications/professional-skills-programmes/sabre-cth-level-2-certificate-in-the-sabre-system/
Star Alliance dan anggota-anggotanya. Source: http://www.cthawards.com/qualifications/professional-skills-programmes/sabre-cth-level-2-certificate-in-the-sabre-system/

Per September 2016, Star Alliance memiliki 27 maskapai anggota. Dari jumlahnya saja, aliansi ini adalah aliansi terbesar di dunia. Lebih jauh lagi, jika kalian percaya dengan sistem pemeringkatannya SkyTrax (aku pribadi sih engga begitu), aliansi ini adalah aliansi paling “bergengsi” pula karena empat dari hanya delapan maskapai berbintang-5 versi SkyTrax adalah anggota dari aliansi ini: Singapore Airlines (SQ), All Nippon Airlines (NH), Asiana Airlines (OZ), dan Eva Air (BR).

A Singapore Airlines' Boeing 777-300 reg 9V-SYL in Star Alliance livery. Photo credit: Allen Zhao/Airliners.net
Sebuah Boeing 777-300 rego 9V-SYL milik Singaproe Airlines dengan livery spesial Star Alliance. Photo credit: Allen Zhao/Airliners.net

Oneworld

Oneworld alliance and its members. Source: http://uponarriving.com/2016/05/05/guide-booking-british-airways-avios/
Aliansi Oneworld dan anggota-anggotanya. Source: http://uponarriving.com/2016/05/05/guide-booking-british-airways-avios/

Per September 2016, Oneworld terdiri atas 15 maskapai anggota. Dari ketiga aliansi, Oneworld adalah aliansi terkecil tetapi beberapa maskapai anggotanya memiliki reputasi yang tinggi akan pelayanannya. Untukku pribadi sih, aliansi ini adalah aliansi yang paling tidak menarik di antara ketiganya karena aku merasa paling “jauh” dari basis dan destinasi-destinasi mereka.

An American Airlines'Boeing 777-200ER reg N796AN in OneWorld livery. Photo credit: Sneeze Lam/Airliners.net
Sebuah Boeing 777-200ER milik American Airlines rego N796AN dengan livery OneWorld. Photo credit: Sneeze Lam/Airliners.net

Apa pentingnya tahu beginian?

Aku percaya bahwa pengetahuan ini sangat amat membantu dalam pemaksimalan value yang kita dapatkan ketika membeli tiket pesawat. Penting untuk dicatat bahwa yang aku maksud dengan value di sini adalah lebih daripada sekedar tiket murah (kalau cuma mau tiket murah aja sih, menurutku ya, peluang terbaik adalah dengan terbang dengan low cost carriers (LCCs). Tetapi lagi, maskapai LCC bukanlah anggota dari aliansi mana pun karena dengan begini mereka tidak perlu mengeluarkan pengeluaran ekstra yang mana ini membuat mereka bisa menjual tiket dengan harga rendah itu. Dan, bukan, Air Berlin (AB) bukan lah LCC). Aku tidak akan membahas dengan dalam mengenai value ini di posting ini. Lagipula, value bergantung sekali dengan masing-masing individu. Apa yang memberikan value terbaik untukku, sangat mungkin dengan berbeda dengan apa yang memberikan value terbaik baik orang lain.

An AirAsia's Airbus A320-200 reg 9M-AQP at the brand new apron #9
Sebagai maskapai LCC, AirAsia tentu saja bukan lah anggota dari aliansi mana pun.

Tetapi ada satu hal yang sama dari ketiga aliansi ini. Maskapai-maskapai (otomatis juga aliansi-aliansi ini) sangat menghargai kesetiaan. Untuk itu, mereka memperkenalkan banyak keuntungan melalui program frequent flyer mereka (tiga di antaranya sudah kubagikan beberapa waktu lalu). Satu keuntungan umum adalah perluasannya keuntungan yang diberikan oleh suatu maskapai ke maskapai-maskapai lain. Dan ini bekerja dua arah lho: kita bisa menggunakan miles/poin yang kita kumpulkan melalui suatu maskapai di maskapai lain DAN kita bisa juga mengumpulkan miles/poin suatu maskapai dengan terbang dengan maskapai-maskapai lain; walaupun tentu saja ada syarat dan ketentuan yang berlaku (Jelas lah ya, mereka adalah korporasi bisnis yang ingin mencari keuntungan kan). Dengan kata lain, value dari suatu program frequent flyer suatu maskapai terproyeksikan lebih luas daripada jaringan yang dilayani maskapai tersebut. Dan seperti yang bisa dilihat, ketiga aliansi beranggotakan maskapai-maskapai dari segala penjuru dunia. Ini artinya, dengan “lebih luas”, praktis berarti “ke seluruh dunia”.

Sebuah contoh yang bisa kuberikan dari pengalamanku adalah penerbangan pp-ku dari Amerika ke Meksiko di perjalanan akhir tahun 2015ku ke Amerika Utara. Seumur hidup sebelumnya aku belum pernah terbang dengan Aeromexico (AM). Nah, ketiga penerbangan dengan Aeromexico-ku di perjalanan ini aku dapatkan dengan “gratis” dengan menggunakan poin Flying Blue KLM-ku🙂 . Dan, tahu kan, dua di antaranya adalah di kelas bisnis ;) .

Real meal in a business class flight
Layanan makan malam di penerbangan kelas bisnisnya Aeromexico ke New York

Kesimpulan

Toh pada akhirnya, sebuah aliansi adalah sebuah strategi bisnis yang diterapkan beberapa maskapai. Ini adalah satu cara mereka untuk memperkuat posisi mereka di industri penerbangan yang ketat, kompetitif, dan sangat amat terikat berbagai macam aturan. Produk, servis, kenyamanan, dll ditawarkan untuk menggaet lebih banyak penumpang dan membuat mereka yang sudah terbang dengan mereka setia. Bekerja-sama dengan beberapa maskapai lain tentu saja masuk akal karena dengan begini, jangkauan suatu maskapai menjadi semakin luas secara signifikan dengan biaya yang relatif kecil.

Dan pada akhirnya, semuanya kembali kepada keinginan kita, sebagai penumpang, apakah produk yang ditawarkan aliansi ini menarik sehinga ingin kita “ambil” atau tidak😉 .

 

Posted in TV Show

#1803 – My 9 Favorite Recent(-ish) JFL Videos

Just like last summer, here are seven more recent Just For Laughs videos which I really liked and enjoyed😀 .

(1) Kid Uses Baguette for his Stick Up

What can I say? I just like a prank with a twist like this. Do you expect the twist btw?😛

(2) Jurassic Park Prank!

The idea of this prank was actually very simple and common. However, what impressed me the most was just how real the dinosaur looked!! 😱😱😱😱😱 That was damn scary!😆

(3) Coffin Blocks Cars from Driving By

As I said above, I like a storyline that has a twist😛

(4) It’s Raining Teddy Bears!

If it worked, I wonder how much the dollar sign umbrella would cost though, lol😆

(5) Instant Top Secret Mission Prank!

I mean, after all the drama and suspense… 😅😅😅

(6) Woman Proposes Live on FaceTime!

The jealous reaction of some of the girls was hilarious!😛

(7) Fake Amputee Asks for Money

I think in Indonesia this actually is not a prank😛 .

(8) Stealing Customers’ Grocery Bags !

The idea is really brilliant!!😛

(9) The Worst Paramedics in History

I mean … 😅😅😅