My Interest, TV Show, Zilko's Life

#2142 – Star Trek TNG and Enterprise

ENGLISH

So last year I decided to marathon-watch Star Trek: Voyager via Netflix. And obviously by now I have finished the entire seven seasons of the series, haha.

Since then, as my Instagram followers (@azilko) through the cool Instagram Story feature would have perhaps known, I have actually decided to rewatch two other Star Trek series: Star Trek: Enterprise (2001-2005) and the super popular Star Trek: The Next Generation (1987-1994)!

I rewatched Star Trek: Enterprise first. Call me shallow, I made this decision because this series was the newest of all (well, apart from Star Trek Discovery of course), which would imply it had the best visual/graphic of all the series. I mean, I have to admit that visual plays a great role in my enjoyment of a TV-series. And obviously, having been spoiled with the recent advancement in this department put the older series in serious disadvantage in my eyes!

Anyway, while overall I still enjoyed the series, I understood why this series was cancelled just after four seasons. The first two seasons were so “bad”, in the sense that I felt like they focused on the “wrong” things with generally shallower content AND much less action. The third season was the best one with the exciting Xindi-arc; but the damage had already been done by the first two seasons so I could imagine the rating was difficult to recover. I found the fourth season not as exciting as the third but was still better than the first two, haha.

After I completed Star Trek: Enterprise, I hesitatingly decided to give the super popular Star Trek: The New Generation (TNG) a chance. To my pleasant surprise, apparently a few years ago there was a remastering project going for the entire series, which basically improved the visual/graphic A LOT! It happened that my Netflix contained this remastered version!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, I did watch quite some episodes of this series when I was a kid, but I didn’t remember most of them as those were from before the Voyager era, even the first season was premiered a year before I was born! Lol 😆 .

Anyway, this series blew my mind! It was, indeed, really, really good; and I do appreciate it much more now than I perhaps was when I was just a kid!! No wonder it was THAT popular! This was the Star Trek that I (unconsciously) remembered, the benchmark which I used when reviewing the first season of Discovery. Except for the visual effect, TNG beat Discovery in pretty much all aspects, IMO, haha.

The story was amazing, as it was relatable to our (my) daily life. It was very easy to perceive the USS Enterprise-D like my real office. There was a lot of focus on interpersonal relationship between the crews in the starship, which I could easily interpret like my real interpersonal relationship with my colleagues at work. Even some of the stories were actually really relevant to some of my current situations at work, which put me into perspective and think about my own career, both in the short- and long-term.

And it was not boring too. There were a few humorous and full-of-action episodes here and there. Though, of course there were a few bad apples here and there; but those were not significant. In short, this series was just amazing. And, as you know, this series was the source of many popular internet memes too, haha 😛 .

And fittingly, the series was closed with such a great ender in the episode “All Good Things…”. It was definitely one of the best Star Trek episodes I have ever watched!

***

It was unfortunate that I watched Enterprise just before TNG, as the contrast in quality became really glaring. Well, at least it was an upward experince that I had to go through, haha. And it was also quite funny that Enterprise’s last episode actually took place in the Holodeck of USS Enterprise-D; as if it was an episode of TNG, haha.

Anyway, so, do you watch Enterprise and TNG?

BAHASA INDONESIA

Tahun lalu aku memutuskan untuk menonton ulang Star Trek: Voyager secara marathon melalui Netflix. Dan jelas dong ya sekarang aku sudah selesai menonton-ulang kesemua tujuh musimnya, haha.

Semenjak waktu itu, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui melalui fitur InstaStory yang lagi happening ini, aku telah memutuskan untuk menonton-ulang dua seri Star Trek yang lainnya, yaitu: Star Trek: Enterprise (2001-2005) dan Star Trek: The Next Generation (1987-1994) yang sangat amat populer itu!

Star Trek: Enterprise aku tonton ulang terlebih dahulu. Bilang saja aku shallow atau receh, keputusan ini aku buat karena ini adalah seri yang paling baru (di luar Star Trek Discovery tentunya), yang mana berarti visual/grafiknya juga yang paling baik kan dari semua serinya. Maksudku, aku harus mengakui bahwa faktor visual itu penting banget bagiku dari sebuah acara TV untuk bisa aku nikmati. Dan jelas saja sudah dimanjakan dengan kemajuan teknologi di bidang ini membuat posisi seri-seri lawas menjadi tidak diuntungkan bagi mataku.

Anyway, walau secara keseluruhan serinya masih bisa aku nikmati, aku paham mengapa seri ini kok hanya bertahan empat musim saja. Dua musim pertamanya itu jelek banget, dalam artian aku merasa serinya fokus pada hal-hal yang “salah” yang mana receh dan dangkal gitu, ditambah pula action-nya sedikit. Musim ketiga adalah musim yang terbaik dengan jalan cerita Xindi di sepanjang musim ini yang amat seru; tapi ya kerusakan sudah terlanjur dibuat di dua musim pertama sehingga nggak mengherankan juga rating-nya sulit dipulihkan. Musim keempat bagiku tidak seseru musim ketiga tapi masih jauh lebih baik daripada dua musim pertama, haha.

Setelah menyelesaikan Star Trek: Enterprise, dengan agak ragu aku memutuskan untuk mulai menonton-ulang Star Trek: The New Generation (TNG) yang sangat amat populer itu. Yang mengejutkanku, ternyata beberapa tahun yang lalu seri ini melalui sebuah proyek remastering, yang mana pada dasarnya visual/grafiknya diperbaiki secara signifikan! Kebetulan pula Netflix menayangkan versi yang sudah di-remastered ini!! I love you Netflix! Haha 😛 .

Btw, sewaktu kecil aku menonton lumayan banyak episode dari seri ini sebenarnya, tapi aku juga tidak ingat karena seri ini kan bahkan dari era sebelumnya Voyager ya, bahkan musim pertamanya ditayangkan setahun sebelum aku dilahirkan! Haha 😆 .

Anyway, dan pilihanku untuk menonton-ulang ini adalah keputusan yang tepat karena seri ini benar-benar mengagumkanku lho! Serinya beneran bagus, bagus, bagus banget; dan aku bisa lebih memahami dan menghargainya sekarang daripada sewaktu kecil dulu!! Nggak heran deh mengapa serinya bisa sepopuler ITU! Ini adalah Star Trek yang (secara tidak aku sadari) aku ingat, yang menjadi patokan dalam upayaku me-review musim pertamanya Discovery. Selain efek visualnya, TNG jauh lebih superior daripada Discovery di hampir semua aspek, menurutku, haha.

Cerita-ceritanya keren banget, dan banyak yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari(ku). Sangat mudah untuk mengasosiasikan pesawat USS Enterprise-D dengan kantorku. Ada banyak banget cerita yang fokus kepada hubungan interpersonal antar kru pesawatnya, yang mana bisa dengan mudah aku asosiasikan dengan hubungan interpersonalku yang nyata dengan kolega-kolegaku di kantor. Bahkan ada beberapa ceritanya yang sangat amat pas dan bisa pas banget cocok dengan situasi yang sedang aku hadapi di kantor, yang memberikanku sebuah perspektif baru dan membuatku berpikir akan langkah-langkahku dalam meniti karirku, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dan acaranya juga tidak membosankan. Ada banyak episode yang fokus terhadap sisi humor atau action. Walaupun tentu saja ada beberapa episode yang nggak bagus juga sih tapi jumlahnya tidak banyak. Secara singkat, seri ini keren dan bagus banget. Dan mungkin pada tahu bahwa seri ini juga lah sumber dari banyak meme internet yang terkenal, haha 😛 .

Dan cocoknya, serinya diakhiri dengan episode “All Good Things…” yang mana sangat amat keren sekali. Episode ini adalah salah satu episodenya Star Trek yang terbaik yang pernah aku tonton!

***

Agak disayangkan juga sih aku menonton Enterprise tepat sebelum TNG, karena perbedaan di kualitasnya jadi terasa kontras sekali. Yah, setidaknya sih pengalaman yang aku rasakan mengarah naik sih, haha. Dan sebenarnya kalau dipikir-pikir lucu juga episode terakhirnya Enterprise mengambil tempat di Holodeck-nya USS Enterprise-D; seakan-akan episode ini adalah satu episodenya TNG.

Anyway, apakah ada yang juga menonton Enterprise dan TNG?

Advertisements
General Life, Zilko's Life

#2141 – A Random Tennis Story

ENGLISH

Wimbledon just ended last week, where Angelique Kerber and Novak Djokovic won the singles titles this year. Serena Williams also made an impressive run to the ladies final, despite being ranked 183rd due to her maternity leave and this Wimbledon being only her fourth tournament since coming back from this. Anyway …

And if I was slightly disappointed with the TV coverage of the French Open this year, I was much happier with Wimbledon; despite the tournament coinciding with the World Cup! Haha 😆 . Though, this was, in large parts, due to two of the British channels in my cable airing the tournament live on top of the “regular” sport channels, haha. But of course it could have been better (like last year) had there been no World Cup 😛 .

France won the 2018 FIFA World Cup. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images

Anyway, I always try to enjoy the Spring/early Summer tennis season as much as possible because during this time period, both the men’s and women’s top tennis tours are centered around Europe, due to the two grandslam tournaments being played here. This means generally friendlier match schedules to watch (or to follow, if the matches happen to be during work hours, haha 😆 ) for me, which of course is really nice as I don’t have to stay up really late (or to get up in the middle of the night) to watch a match! 😀

But now that the two grandslam tournaments are over, both tours have shifted their focus to North America and, after that, to Asia. There are still a few tournaments in Europe, but those are of smaller ones so they are not “that” exciting. The men’s tour still has a big European leg left at the end of the season after Asia, though, with the Paris Masters tournament and the season-ending ATP Finals in London.

So what this means that for now is that no friendly coverage for me! Haha 😆

From now on it is trickier to watch a live tennis match due to the time differences.

BAHASA INDONESIA

Turnamen tenis Wimbledon baru saja berakhir minggu lalu, dimana Angelique Kerber dan Novak Djokovic menjuarai titel tunggalnya tahun ini. Serena Williams juga tampil dengan amat memukau dimana ia mencapai babak final putri, padahal ia berperingkat 183 akibat “cuti hamil”-nya tahun lalu dan turnamen Wimbledon ini baru lah turnamen keempatnya setelah kembali ke tur dari cutinya ini. Ngomong-ngomong …

Dan jika aku sedikit kecewa dengan penayangan di TV untuk French Open tahun ini, aku jauh lebih dipuaskan dengan Wimbledon; walaupun jadwal turnamennya kebetulan bebarengan dengan Piala Dunia! Haha 😆 . Walau ini utamanya disebabkan oleh dua channel Inggris di TV kabelku yang menayangkan turnamennya juga sih di samping channel olahraga “biasa”, haha.  Tapi tentu saja memang penayangannya sebenarnya bisa lebih enak lagi (kayak tahun lalu) andaikata tidak ada Piala Dunia 😛 .

Prancis menjuarai FIFA World Cup tahun 2018 ini. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images

Anyway, aku selalu berusaha untuk menikmati musim tenis di musim semi dan awal musim panas sedapat mungkin karena di waktu-waktu ini, kedua tur utama putra dan putrinya berkutat di Eropa, karena memang dua turnamen grandslam yang dimainkan di sini. Ini berarti jadwal pertandingan yang lebih bersahabat untuk ditonton (atau diikuti sih, kalau pertandingannya kebetulan dimainkan di waktu jam kerja, haha 😆 ) untukku, karena tentu saja enak ya nggak perlu begadang (atau bangun di tengah malam) untuk menonton sebuah pertandingan! 😀

Tapi karena sekarang dua turnamen grandslamnya sudah berlalu, kedua tur sudah berpindah fokus ke Amerika Utara dan, setelahnya, ke Asia. Masih ada beberapa turnamen di Eropa sih sebenarnya, tapi turnamennya adalah turnamen-turnamen kecil sehingga tidak begitu menarik. Tur putra sebenarnya masih ada babak di Eropa akhir tahun nanti setelah Asia, dengan turnamen Paris Masters dan turnamen tutup tahun ATP Finals di London.

Jadi arti dari semua ini sekarang adalah untuk sementara tidak ada lagi penayangan tenis yang jadwalnya bersahabat! Haha 😆

Mulai sekarang bakal lebih tricky nih untuk menonton langsung pertandingan-pertandingan tenis akibat perbedaan waktu.
EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2140 – A Short Weekend in Geneva

ENGLISH

I went on a weekend trip to Geneva at the end of June. Here is the story of that short trip…

I didn’t get that much sleep that night as I got back home late the night before due to the annual Summer Party, so I woke up feeling … , well, let’s just say I would need a lot of coffee to get through today’s travel! Haha 😆 . Long story short I arrived at Schiphol and, as usual, waited for my flight at the KLM Crown Lounge.

An Air France’s Airbus A321-100 reg F-GMZE

My first flight today would be operated by Air France with their Airbus A321-100 reg F-GMZE. It had been awhile since I flew this series of A321, and only my second time ever, actually (the first time being on an Alitalia’s three years ago). Being one of the older Air France frames mainly serving “secondary” routes, the seats on board F-GMZE were the “older” intra-European ones, though. Anyway, boarding commenced on time and I settled nicely onto my 1A seat.

The flight itself went pleasantly and it was really on time. Though, I felt like somehow the snack quality in economy on board short-haul Air France’s flights had deteriorated lately. On this flight, Air France served sandwiches with two options: tuna or egg. I chose the egg one, which looked sloppy:

The complimentary snack on board an Air France fight

and … cheap, didn’t it?

Anyway, transitting at Marseille Airport was also not as nice as I had to go out to the landside, changed terminal on foot under the 37°C Mediterranean heat, and cleared security to get back to the airside again. Though thankfully, unlike my previous transfer at Toulouse Airport, I had a long transfer time this time so I did not need to hurry, haha.

The second flight to Geneva was operated by HOP! Regional with their Embraer ERJ145 reg F-GRGD. Again, it was a pleasant, really smooth, and on time flight. I love flying with an ERJ145, though. It is a small plane so I just love taking this kind of selfies on board, haha:

The mandatory Embraer ERJ145 selfie on board HOP! Regional’s F-GRGD

I then checked in at my hotel after arriving in Geneva. After a quick rest, I went out for dinner. I knew I wanted the same steak that I had two years ago there. It wasn’t difficult to find the restaurant, haha. And the steak was still as delicious as it was two years ago! I was really satisfied!! 😀

This steak in Geneva was still as good as it was two years ago!

I went on a short walk after dinner but not for too long. While it hadn’t really been a long day, to my body it was because I didn’t get a good long sleep the night before. And so I decided to go back to the hotel not long after. Well, after enjoying the sunset and took a selfie to capture the moment, of course, haha…

A selfie with Le Jet d’Eau during sunset.

The next day I decided to take it easy again as I had nonetheless explored Geneva two years ago so I didn’t feel “rushed” at all. I had my complimentary breakfast at the hotel and checked-out just before 11 AM. I walked to Le Jet d’Eau, and then went to a Starbucks because it was really, really warm today! Starbucks did feel like an oasis! Haha 😛 .

Anyway, as Geneva was really close to the French border, I did notice a strong France influenced there. Most of the shops were closed on a Sunday! Even the main shopping street was “dead” with almost no store operating, haha… .

The food option at the Air France Lounge at Geneva Airport

I then went to the airport. I got my boarding pass at KLM’s checkin desk and proceeded to the Air France/KLM Lounge. I found the lounge decent enough especially if the waiting time was not too long. This was because the seats weren’t the most comfortable and, what I mainly missed, there was no warm food option, which I really missed.

Long story short, I boarded my KLM flight back to Amsterdam, which was operated with their Boeing 737-700 reg PH-BGR. As usual, it was a pleasant regular short-haul flight with KLM.

Yeah, that is the story of my short weekend in Geneva this summer! 😀

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan ke Geneva di akhir Juni yang lalu. Berikut ini cerita dari perjalanan singkat ini…

Aku tidak tidur lama di malam sebelum keberangkatan karena aku pulang malam semalam sebelumnya karena aku ikutan Summer Party tahunan kantorku, jadilah ketika bangun aku merasa … , hmm, aku bakal butuh kopi bergelas-gelas deh hari ini! Haha 😆 . Singkat cerita, tibalah aku di Schiphol dan seperti biasa aku menunggu penerbanganku di KLM Crown Lounge.

Sebuah Airbus A321-100 rego F-GMZEnya Air France.

Penerbangan pertamaku hari ini akan dioperasikan oleh Air France dengan pesawat Airbus A321-100 rego F-GMZE. Sudah lumayan lama semenjak terakhir aku terbang dengan seri A321 ini, dan ini hanya lah kali kedua sebenarnya (kali pertama adalah dengan Alitalia tiga tahun yang lalu). Karena merupakan salah satu pesawat tertuanya Air France yang kebanyakan melayani rute-rute “sekunder”, kursi di dalam F-GMZE adalah kursi intra-Eropa model lama. Anyway, boarding berlangsung tepat waktu dan aku duduk manis di kursi 1Aku.

Penerbangannya sendiri berlangsung nyaman dan tepat waktu banget. Walaupun begitu, aku kok merasa akhir-akhir ini kualitas snack di kelas ekonomi di penerbangan jarak dekatnya Air France menurun ya. Di penerbangan ini, Air France menawarkan sandwich dengan dua pilihan isi: tuna atau telur. Aku memilih yang isi telur, dan penampakannya tidak rapi kayak gini:

Layanan snack di penerbangannya Air France

dan … nampak murahan nggak sih?

Anyway, pindah pesawat di Bandara Marseille juga nggak begitu nyaman karena aku harus keluar bandara ke area landside, pindah terminal dengan berjalan-kaki di bawah terik matahari Mediterania yang panasnya 37°C, dan melewati pemeriksaan sekuriti untuk kembali ke area airside. Tapi tidak seperti pengalaman transitku sebelumnya di Bandara Toulouse, seenggaknya kali ini waktu transitku lama sih sehingga aku tidak perlu terburu-buru, haha.

Penerbangan kedua ke Geneva hari ini dioperasikan oleh HOP! Regional dengan pesawat Embraer ERJ145 rego F-GRGD. Lagi, penerbangan ini adalah penerbangan nyaman, mulus banget, dan tepat waktu. Aku suka banget deh terbang dengan ERJ145. Pesawatnya adalah pesawat kecil jadi seru aja gitu untuk berfoto selfie kayak gin, haha:

Selfie Embraer ERJ145 wajib di dalam F-GRGDnya HOP! Regional

Aku kemudian check-in di hotelku setelah tiba di Geneva. Setelah beristirahat sejenak, aku keluar untuk makan malam. Aku tahu aku ingin kembali di restoran steak yang kukunjungi dua tahun yang lalu. Nggak sulit kok untuk menemukan restorannya, haha. Dan steak-nya masih seenak dua tahun yang lalu! Puas banget deh!! 😀

Steak di Geneva ini masih seenak dua tahun yang lalu!!

Aku kemudian berjalan-kaki sejenak setelah makan malam tapi nggak lama sih. Walaupun sebenarnya bukan lah hari yang tergolong panjang, tapi bagi badanku hari ini sudah terasa panjang banget karena semalam sebelumnya aku tidak cukup beristirahat. Jadilah aku memutuskan untuk kembali ke hotel tak lama setelahnya. Yah, tentu saja setelah menikmati sunset yang lagi kece banget hari itu dan berfoto selfie untuk mengabadikan momennya, haha…

Selfie dengan Le Jet d’Eau ketika sunset.

Keesokan harinya juga aku memutuskan untuk bersantai saja karena toh aku sudah pernah mengelilingi Geneva dua tahun yang lalu sehingga aku tidak merasa “diburu-buru”. Aku sarapan di hotelku, yang mana kamarku sudah termasuk sarapan, dan kemudian check-out sekitar jam 11 pagi. Aku berjalan-kaki ke Le Jet d’Eau, dan kemudian mampir di Starbucks karena hari ini panas banget dong! Saking panasnya Starbucks jadi berasa seperti oasis! Haha 😆 .

Anyway, karena Geneva toh memang dekat dengan perbatasan dengan Prancis, aku merasakan pengaruh Prancis yang kuat di sana. Kebanyakan toko tutup di hari Minggu itu! Bahkan jalan pertokoan utamanya terasa “mati” karena hampir tidak ada toko yang buka, haha… .

Pilihan makanan di Lounge Air France Lounge di Bandara Geneva

Jadilah kemudian aku pergi ke bandara. Aku mendapatkan boarding pass-ku di konter check-in-nya KLM dan kemudian menuju ke lounge-nya Air France/KLM. Aku merasa lounge-nya oke lah terutama jika waktu tunggu kita tidak lama. Ini karena kursinya sebenarnya tidak begitu nyaman banget dan, yang paling berpengaruh untukku, tidak ada pilihan makanan hangatnya, haha.

Singkat cerita aku kemudian menaiki penerbangan KLMku kembali ke Amsterdam, yang mana dioperasikan dengan pesawat Boeing 737-700 rego PH-BGR hari ini. Seperti biasa, ini adalah penerbangan jarak-dekat reguler yang nyaman dengan KLM.

Jadi ya gitu deh cerita perjalanan singkatku ke Geneva di musim panas ini! 😀

Life in Holland, Zilko's Life

#2139 – The World Cup 2018

ENGLISH

In the past month or so, a lot of pairs of eyes in the world have been focused on Russia because of … well, the World Cup! Haha 😛 .

As you might have noticed, I haven’t really talked about this festive event this year. This is very different from four years ago where apparently I wrote six posts related to that year’s World Cup. And the main reason for this was because the Netherlands did not qualify for this year’s World Cup!

Consequently it felt like the atmosphere here was not anything like four years ago. I mean, of course you could go to bars and watch some matches and still have great time, especially in Amsterdam. And actually a lot of my colleagues did this. But the level of excitement just wasn’t the same; not like this time in Delft, for example, when the Dutch team was playing Costa Rica in the quarterfinals (and won).

The celebration in Delft when the Dutch team beat Costa Rica in the quarterfinals in 2014.

And not being a football fan myself, I also haven’t been actively looking to be part of it this year. Though, of course I followed the progress from time to time. Aside from pure curiosity (Generally speaking World Cup is the football event I tend to follow the most, haha 😆 ), this was also purely because some colleagues and I played a bracket challenge in the office, haha. You know, just for the sake of it 😛 . Even though in the end I also didn’t win, haha…

Anyway, so let’s hope that the Netherlands will qualify in 2022!! (OMG that is still four years from now? 😱). For once, I cannot wait to listen to and sing to this song again!! 😀

And congratulations France for the victory! Did any of you succesfully predict France to be the winner? 😛

France won the 2018 FIFA World Cup. Photo credit: Shaun Botterill/Getty Images

BAHASA INDONESIA

Satu bulan belakangan ini, banyak mata di dunia ini terfokus ke Rusia karena … Piala Dunia yang diadakan di sana! Haha 😛 .

Dan seperti mungkin apa yang sudah pada perhatikan, tahun ini aku sama sekali belum menulis tentang event yang meriah ini. Ini berbeda sekali dari empat tahun yang lalu dimana (ternyata) aku menulis enam posting yang berhubungan dengan Piala Dunia tahun itu. Dan alasan utama dari ini adalah karena Belanda tidak lolos kualifikasi untuk berpartisipasi di Piala Dunia tahun ini!

Sebagai akibatnya atmosfernya di sini nggak kayak empat tahun yang lalu deh. Maksudku, memang sih sebenarnya masih bisa-bisa aja kita pergi ke bar dan menonton beberapa pertandingannya dan suasananya toh bakalan seru juga, apalagi di Amsterdam. Banyak kolegaku yang melakukan cara ini. Tapi tetap aja dong ya level keseruan dan keriaannya mah nggak akan sama; tidak seperti waktu ini di Delft gitu, misalnya, ketika tim Belanda bermain melawan Kosta Rika di babak perempat-final (dan menang pula).

Selebrasi di Delft ketika tim Belanda mengalahkan Kosta Rika di babak perempat-final di tahun 2014.

Dan karena aku sendiri nggak begitu ngefans dengan sepak bola, aku juga tidak aktif untuk berpartisipasi di keriaannya tahun ini gitu deh. Walaupun, tentu saja, aku tetap mengikuti perkembangan turnamennya. Selain karena murni ingin-tahu (Secara umum Piala Dunia adalah acara sepakbola yang biasanya paling aku ikuti, haha 😆 ), ini juga karena aku dan beberapa kolegaku memainkan sebuah bracket challenge gitu di kantor, haha. Untuk seru-seruan aja gitu mumpung lagi masanya kan 😛 . Walaupun pada akhirnya aku juga tidak menang sih, haha.

Anyway, Jadi mari berharap Belanda lolos kualifikasi di tahun 2022 deh!! (Ya ampun itu mah masih empat tahun lagi ya? 😱). Jadi kan aku bakalan bisa mendengarkan dan bernyanyi lagu ini nih:

Dan selamat Prancis untuk kemenangannya!! Btw, apakah ada yang dengan sukses memprediksikan Prancis sebagai pemenangnya tahun ini? 😛

Miscellaneous, Photo Tales

#2138 – Photo Tales (48)

ENGLISH

Photo #104

A signage at Buda Castle in Budapest

I saw this signage at Buda Castle in Budapest. And then I noticed that one of the sign pointed to, presumably, an area in the castle where you would be able to find some (free) wifi! Haha 😆 . For this wifi area to, against all odds, made all the way to be in a signage just shows how important mobile internet is nowadays! 😀

Photo #105

Hello there, TU Delft!

Anyway, my KLM Cityhopper flight KL1304 from Toulouse landed at runway 18R of Schiphol Airport. That day to get to this runway, the flight path happened to pass Delft. I was also quite lucky that the weather was generally good that day! As a result, I got a clear view of Delft and, among others, also the TU Delft campus as pictured above!! 😀

It was quite cool to get this unique view, wasn’t it?

BAHASA INDONESIA

Foto #104

Sebuah papan petunjuk di Kastil Buda di Budapest

Aku melihat papan petunjuk ini di Kastil Buda di Budapest. Dan kemudian aku menyadari bahwa salah satu petunjuknya mengarah ke, apa yang aku asumsikan, area di kastilnya di mana kita bisa mendapatkan wifi (gratis)! Haha 😆 . Nah, untuk area wifi ini sampai bisa-bisanya masuk ke dalam papan petunjuk ini menunjukkan pentingnya mobile internet zaman sekarang kan ya! Haha 😀

Foto #105

Haloo, TU Delft!

Anyway, penerbangan KLM Cityhopper KL1304ku dari Toulouse mendarat di landasan pacu 18R Bandara Schiphol. Hari itu untuk mencapai landasan pacu ini, rute penerbangannya kebetulan melalui langit di atasnya Delft. Aku juga beruntung hari ini dimana cuacanya pas sedang cerah juga! Jadilah sebagai akibatnya aku bisa melihat kota Delft dengan jelas dari atas dan, salah satunya, kampus TU Delft seperti di foto di atas!! 😀

Keren juga ya bisa mendapatkan sudut pandang yang lumayan unik begini?

The Past, Zilko's Life

#2137 – A Knees Mystery of My Life, Solved

ENGLISH

My rather recent knee injury made me google some information about the human’s knee (Well, as you might be aware from this blog that I am quite a curious person, haha 😆 ). This effort took an interesting turn when I stumbled upon some information which actually was irrelevant to the injury itself. However, this information inadvertently “solved” a life mystery of mine of the past 15-20 years!

Growing up in my early teens, I felt serious pains in both knees. To be more precise, the pain was felt just below the knee caps on the frontal side of my lower legs; and it was much more intense when I was doing certain activities which put some force on the knees, such as, and especially, kneeling. And the pain was not just a one-time or temporary thing. I felt the pain quite consistently, for years! However as years went by and I was growing up, the pain gradually faded and after some years I did not feel it anymore (Though, even now I can still feel some “residue” if I deliberately “stimulate” the part (e.g. to put some considerable force on either parts)).

I did not know what it was but speculated that perhaps it had something to do with growing up. As the pain eventually stopped at some point anyway, I did not put too much thought to it anymore. I just kept this as a memory from my early adolescent years 😛 .

This stayed like this as a “mystery” until I accidentally found an article about the Osgood-Schlatter disease some weeks ago after the knee injury! Its description pretty much checked everything in the list, thus believing me this was indeed what I experienced growing-up! In short, the pain was caused by irritation of the bone growth plate in the area, which was made of cartilage in a child, due to high stress (due to activities) in the area which, in time, caused the growth plate to hurt and swell. Apparently athletic young people were most commonly affected by this disease.

The swell resulted in permanent bumps just underneath my knees which I have now.

While I wouldn’t say I was super active growing up, at the very modest least I could say I was moderately active, haha. By the time I started to feel the pain, I had been going to a martial art lesson for quite some time, which involved a lot of kneeling (hence pressure on the parts). I have to be honest, though, while so far I have described the feeling as “pain”; at certain moment with certain “angle” the “pain” actually felt … “good”. Lol 😆 . Did this make me a masochist btw? Haha 😛 .

Anyway, of course I made my parents aware of my condition. And I remember vividly I got the impression that my dad knew exactly what was going on. He was really calm about it and so I wasn’t worried; despite the pain. I don’t remember if I was taken to a doctor for this, though; but now that I think about it, I gradually reduced my physical activity after that. I’m not sure if my parents knew exactly about this disease or not, but the important thing was that I got the right “treatment” for it. And this amazes me even more because all of this was in the era before the booming of the internet!

So, did anyone of you also (apparently) have this disease growing up? 😀

BAHASA INDONESIA

Cedera lututku baru-baru ini membuatku meng-google informasi mengenai lutut manusia (Ya kan memang aku anaknya pengen-tahuan ya, haha 😆 ). Upaya ini tiba-tiba menjadi menarik ketika tidak sengaja aku menemukan informasi yang sebenarnya tidak berhubungan dengan cederanya itu sendiri. Tapi, informasi ini, tidak disangka-sangka, malah “menyelesaikan” sebuah misteri hidupku selama 15-20an tahun terakhir!

Ketika memasuki masa remaja, aku merasakan rasa sakit di kedua lututku. Untuk lebih tepatnya, rasa sakitnya aku rasakan di bawah bagian depan lutut di kaki bawahku; dan rasa sakitnya sungguh intens terutama jika aku melakukan beberapa aktivitas yang memang memberikan tekanan lebih di lutut, misalnya, dan terutama, berlutut. Rasa sakitnya pun bukan cuma sesekali atau temporer saja, tapi aku rasakan bertahun-tahun! Namun, seiring berjalannya waktu dan aku terus bertumbuh, perlahan-lahan rasa sakitnya berkurang dan setelah beberapa tahun tidak aku rasakan sama sekali (Walaupun sekarang aku masih bisa merasakan “residu”-nya sih jika dengan sengaja aku men-“stimuli” bagian ini (misalnya dengan sengaja menerapkan tekanan di bagian ini)).

Aku tidak tahu penyebab rasa sakit ini tetapi aku duga ada hubungannya dengan aku yang waktu itu sedang bertumbuh. Karena toh pada akhirnya di satu waktu rasa sakitnya tidak lagi aku rasakan sama sekali, aku tidak lagi terlalu banyak memikirkannya. Pengalaman ini aku simpan sebagai memori dari masa awal remajaku 😛 .

Ini tersimpan sebagai “misteri” hingga beberapa minggu yang lalu ketika secara tidak sengaja aku menemukan informasi mengenai penyakit Osgood-Schlatter setelah cedera lututku itu! Deskripsinya sangat cocok dengan apa yang aku rasakan, sehingga aku yakin memang penyakit ini lah yang aku hadapi dulu di awal masa remajaku! Secara singkat, rasa sakitnya disebabkan oleh iritasi pada plat pertumbuhan tulang di area tersebut, yang mana masih berupa tulang rawan di anak-anak, yang mana akibat tekanan yang tinggi (akibat aktivitas-aktivitas fisik) menyebabkan, setelah beberapa waktu, platnya tertarik sehingga menjadi sakit dan bengkak. Ternyata kebanyakan anak pra-remaja yang aktif/atletis memang terkena penyakit ini.

Bengkaknya menyebabkan benjolan permanen di sebelah bawah lututku ini bahkan sampai saat ini.

Walaupun aku tidak akan membuat klaim aku sangat aktif ketika kecil dulu, tetapi setidaknya dengan rendah hati aku bisa bilang bahwa memang aku cukup aktif, haha. Ketika rasa sakitnya mulai aku rasakan, aku sudah mengikuti sebuah les bela diri selama beberapa tahun, dimana memang aku harus banyak berlutut (sehingga tekanan di bagian kakiku ini) untuknya. Sejujurnya nih ya, walaupun sejauh ini perasaannya aku deskripsikan sebagai “rasa sakit”; di satu waktu dan dari “sudut” terentu rasa “sakit”-nya itu sebenarnya terasa … “enak” loh, haha 😆 . Eh apa ini berarti jangan-jangan aku agak masokis ya? Haha 😛 .

Anyway, tentu saja aku memberi-tahu orangtuaku akan kondisiku ini. Dan aku ingat jelas aku mendapatkan kesan bahwa papaku tahu dan paham banget akan situasi ini. Ia kalem dan biasa-biasa saja tentangnya dan jadilah aku juga tidak begitu khawatir; walaupun rasa sakitnya terasa sih. Aku tidak ingat apakah aku dibawa pergi ke dokter karenanya atau tidak; tapi kalau aku ingat-ingat kembali, memang semenjak itu perlahan-lahan aktivitas fisikku dikurangi. Nah, aku tidak tahu apakah orangtuaku tahu akan penyakit ini atau tidak, tapi yang jelas aku mendapatkan “perawatan” yang tepat untuknya. Dan ini membuatku amat terkesan karena ini semua kan terjadi di sebelum eranya internet booming ya!

Jadi, aku penasaran apakah di sini ada yang juga (ternyata) terkena penyakit ini ketika tumbuh besar? 😀

Life in Holland, Zilko's Life

#2136 – This Summer Thus Far in Amsterdam

ENGLISH

From my experience, this Summer has been a rather unusual Summer in the Netherlands. “Unusual” as in it hasn’t rained that often, the temperature has, in many days, been in the warmer scale, and, most surprisingly, the weather has been sunny in many days too!! This trend has occurred since around May though which, after a long Winter, made me feel like we skipped Spring and jumped immediately from Winter to Summer! Lol 😆 .

And this was great news (and surprise) to many people. But not to me, haha 😆 . You know I generally prefer colder than warmer temperature. And warm temperature actually makes me feel a little bit uncomfortable! Okay, to be fair, it hasn’t been that “bad” in Amsterdam as thus far I can still “tolerate” it; as thankfully the humidity has not been as extreme as, say, in Indonesia, haha…

You know, but this made me glad for my decision to move to an apartment in a new building in Amsterdam last year. I mean, had I lived in one of those super cute and beautiful old buildings from the 18th or 19th century (like my previous apartment in Delft), this Summer would have felt like Hell (As I notice that those buildings tend to preserve heat, which obviously is a good thing in Winter, though)!! Lol 😆

So yeah, let’s just say that weather-wise, this Summer hasn’t been my favorite. And unfortunately for me, the next season will be the Fall, that is my least favorite season of the four, haha.

Summer in Amsterdam this year.

BAHASA INDONESIA

Dari pengalamanku, Musim Panas kali ini di Belanda agak tidak biasa dibandingkan biasanya. “Tidak biasa” dalam artian sejauh ini cuacanya jarang hujan, suhu udaranya, di banyak hari, tergolong panas, dan, yang paling mengejutkan, cukup banyak hari yang mana cuacanya cerah dong!! Tren ini sebenarnya sudah mulai nampak semenjak Mei yang lalu sih yang mana, setelah Musim Dingin yang panjang, membuatku merasa seperti kita kemarin meloncati Musim Semi dimana musim berganti dari Musim Dingin langsung ke Musim Panas! Haha 😆 .

Sebenarnya ini adalah berita (dan kejutan) yang baik bagi banyak orang. Tapi tidak untukku, haha 😆 . Tahu kan secara umum aku lebih suka suhu udara yang dingin daripada panas. Dan suhu udara panas itu bagiku terasa tidak nyaman! Oke, sejujurnya nih, sebenarnya suhu udara panas di Amsterdam ini masih bisa aku toleransi sih; karena untungnya kelembaban-udaranya tidak tinggi-tinggi amat kayak di, misalnya, Indonesia, haha…

Ini membuatku bersyukur akan keputusanku untuk pindah ke sebuah apartemen di bangunan yang baru di Amsterdam tahun lalu. Maksudku, andaikata aku tinggal di suatu bangunan yang imut dan indah tapi tua banget karena dibangun di abad ke-18 atau 19 itu (kayak apartemenku sebelumnya di Delft), Musim Panas kali ini bakal terasa seperti Neraka deh (Aku perhatikan bangunan-bangunan tua di sini cenderung didisain untuk memerangkap panas, yang mana jelas adalah suatu hal yang menguntungkan di Musim Dingin)!! Haha 😆 .

Jadi ya gitu deh, bisa dibilang dari segi cuaca, Musim Panas kali ini bukan favoritku dah. Dan, sialnya, untukku, musim yang selanjutnya kan Musim Gugur ya, yang mana merupakan musim yang paling tidak aku sukai, haha.