Miscellaneous · Photo Tales

#2003 – Photo Tales (44)

ENGLISH

This edition of Photo Tales contains two side stories from my weekend trip to Cardiff last month.

Photo #98

Ticket fare: ยฃ0.00

I was very lucky on this trip. Apparently starting from July this year, as a way to encourage people to take public transportation in Wales for long-distance road travel, the Wales government provided 100% discount on eight routes in the weekend. Yep, 100% discount as in the bus ticket on those routes were made free! And the T9 service between Cardiff Airport and Cardiff city centre was one of them!!

This T9 service was certainly going to be my main mode of transportation to get to/from the airport anyway. And somehow the 100% discount was also applied on Saturday and Sunday, the two days I was going to use this service! Lol ๐Ÿ˜† .

So yeay for me saving at leastย ยฃ10 with this! Not bad, haha ๐Ÿ˜† . Btw, the airport was located quite far away from the city centre, though, where one way trip took around 30 minutes.

Photo #99

KLM Cityhopper’s Fokker 70 reg PH-KZU in Anthony Fokker special livery.

I was generally happy that I got to fly a Fokker 70 on this trip and I actually got PH-KZB for that, a Fokker 70 I had never flown before so I could add a new registration to my Flying log, haha.

However, deep down actually I was a little bit disappointed that it was not PH-KZU. You see, I had actually flown PH-KZU before, on my way back to Amsterdam from Belfast almost two years ago. However, this summer KLM decided to apply a special livery on PH-KZU to commemorate Anthony Fokker, a Blitar-born Dutchman who basically founded Fokker, a Dutch airplane manufacturer; as KLM was retiring all of their remaining Fokker 70s this October. So it would actually have been cool if I got the chance to fly it one more time with the special livery!

Too bad I didn’t. I wasn’t that disappointed though because I knew the chance was quite slim anyway at only 1/8 with 8 Fokker 70s still remained in service for KLM Cityhopper at the time.

However on my flight back to Amsterdam, my plane (an Embraer 175 reg PH-EXN) actually parked next to PH-KZU so at least I got the chance to snap a photo of it! Haha ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Tema dari Photo Tales kali ini adalah dua cerita sampingan dari perjalanan akhir pekanku ke Cardiff bulan lalu.

Foto #98

Harga tiket: ยฃ0.00

Aku beruntung sekali di perjalanan kali ini. Ternyata semenjak Juli tahun ini, untuk memacu masyarakat untuk menaiki kendaraan umum di Wales ketika bepergian jarak jauh dengan jalur darat, pemerintah Wales memberikanย diskon 100%ย di delapan rute di akhir pekan. Iya, diskon 100% alias tiket bus di rute-rute itu digratiskan! Nah, ternyata rute T9 antara Bandara Cardiff dan pusat kota Cardiff adalah salah satunya!!

Rute T9 ini toh akan menjadi mode transportasi utamaku untuk bepergian dari/ke bandara kan ya.Dan entah bagaimana kok bisa-bisanya diskon 100% ini berlakunya juga di hari Sabtu dan Minggu, dua hari dimana aku akan menaiki layanan ini! Hahaha ๐Ÿ˜† .

Hore, lumayan lah ya bisa menghemat setidaknya ยฃ10 dengan ini, haha ๐Ÿ˜† . Btw, bandaranya berlokasi cukup jauh dari pusat kotanya, dimana perjalanan satu arah memakan waktu sekitar 30 menit.

Foto #99

Sebuah Fokker 70 milik KLM Cityhopper rego PH-KZU dengan livery spesial Anthony Fokker.

Secara umum aku senang sekali aku berkesempatan terbang dengan sebuah Fokker 70 di perjalanan ini dan malahan aku mendapat PH-KZB, sebuah Fokker 70 yang belum pernah aku terbangi sebelumnya sehingga aku bisa menambakan registrasi baru ke Flying logku, haha.

Namun, di dalam lubuk hati paling dalam sebenarnya aku sedikit kecewa pesawatnya bukan PH-KZU! Hmm, jadi sebenarnya aku sudah pernah terbang dengan PH-KZU sebelumnya, yaitu di perjalanan kembaliku ke Amsterdam dari Belfastย hampir dua tahun yang lalu. Namun, musim panas ini KLM memutuskan untuk mengecat PH-KZU dengan livery spesial untuk menghormati Anthony Fokker, seorang Belanda kelahiran Blitar yang mendirikan cikal bakal pabrik pesawat Fokker; karena KLM akan memensiunkan semua Fokker 70nya bulan Oktober ini. Jadi kan bakalan keren ya kalau aku bisa terbang dengannya sekali lagi ketika pesawatnya bercat livery spesial ini!

Sayangnya ini tidak kejadian. Aku nggak kecewa-kecewa banget sih sebenarnya karena aku tahu toh kemungkinannya kecil sekali, hanya 1/8 kan karena waktu itu tersisa 8 Fokker 70 saja yang masih aktif digunakan KLM Cityhopper.

Namun di penerbanganku kembali ke Amsterdam, pesawatku (sebuah Embraer 175 rego PH-EXN) ternyata parkir di sebelah PH-KZU loh. Jadi lumayan lah ya setidaknya aku masih bisa memfotonya! Haha ๐Ÿ˜› .

Advertisements
Contemplation · Thoughts

#2002 – On Apology

ENGLISH

Lately I have been thinking a little bit about the (probably) less “touched” side of an apology. It has occurred to me that an apology actually serves both way, i.e. both for the apologee and the apologizer. The former is obvious; and is the side that I above mean as the more “touched” side of it. The latter is the less obvious one.

Just recently, I was late to a birthday surprise event at work because somehow my calendar didn’t pop the reminder up. So after the event I apologized to the organizer (whom personally invited me to come to the event a few days prior) and explained about the calendar hiccup. But then, she unexpectedly replied with an apology to me because in the calendar the event was set as private so this might explain why I did not get the notification. And at the time, somehow I felt a little bit bad about it.

I am going to describe the situation from the latter point of view, i.e. where the apology is meant to serve the apologizer. One original intention with my apology was to admit my mistake and so that I would be freed up from my guilty feeling. For this reason, btw, in my opinion someone who is unwilling to admit any of his/her mistakes and never apologizes is actually doing more harm to him/herself internally. Anyway, this original intention was somehow “disrupted” a little bit when the organizer apologized back to me; because somehow I was positioned as the apologee where just seconds before I thought I was the apologizer. Consequently, in a way I felt like I wasn’t “punished” enough with my guilt because a part of the mistake was taken away from my side with the apology from her. I totally understand that she did not mean bad things and just wanted to help me ease my guilty feeling. But this actually got me thinking, haha…

Interesting, isn’t it? Now I understand that, indeed, apologizing does not make you “smaller”. In fact, it makes you “bigger”!

BAHASA INDONESIA

Akhir-akhir ini aku berpikir mengenai satu sisi yang (mungkin) lebih kurang “terjamah” dari suatu permintaan maaf. Aku mulai paham bahwa permintaan-maaf itu berfungsi dua arah, yaitu baik bagi yang diminta maaf dan juga bagi yang meminta maaf. Yang pertama jelas lah ya; dan ini adalah sisi yang aku maksudkan di atas sebagai sisi yang lebih sering “terjamah” darinya. Yang kedua adalah sisi yang kurang begitu jelas.

Belum lama ini, aku datang terlambat ke sebuah acara surprise ulang-tahun di kantor karena entah mengapa kalenderku tidak mengeluarkan reminder/pengingat. Jadilah setelah acaranya berakhir aku meminta maaf ke yang mengadakan acaranya (yang mana mengundangku langsung untuk datang beberapa hari sebelumnya) dan aku jelaskan mengenai masalah kalender ini. Tetapi kemudian, tak kusangka-sangka ia justru meminta maaf kepadaku karena di kalendernya, acaranya di-setting privat sehingga mungkin ini menyebabkan pengingatnya tidak hidup. Dan waktu itu, entah bagaimana aku merasa sedikit kurang enak karenanya.

Ini akan kujelaskan dari sudut pandang yang kedua, alias dari sudut pandang peminta-maaf. Satu tujuan awalku dengan meminta maaf adalah untuk mengakui kesalahanku sehingga aku terbebaskan dari perasaan bersalah. Karena alasan ini, btw, menurutku seseorang yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan tidak pernah meminta maaf itu sebenarnya justru sedang menyiksa dirinya sendiri. Anyway, tujuan awal ini jadi sedikit “terganggu” karena kolegaku justru meminta maaf balik; karena tiba-tiba posisiku dari yang peminta-maaf berubah menjadi yang dimintai maaf. Sebagai akibatnya, aku sedikit merasa aku tidak “dihukum” cukup berat dari perasaan bersalahku karena sebagian kesalahanku diambil dariku dengan permintaan-maaf darinya. Aku sungguh paham kok maksudnya dia ini baik dan ia ingin meringankan perasaan bersalahku. Dan jadilah aku jadi kepikiran akan hal ini.

Menarik kan? Sekarang aku semakin paham bahwa meminta-maaf itu tidak membuat kita “kecil” atau di posisi yang lemah. Sebaliknya, meminta maaf justru membuat kita berada di posisi yang “besar”!

Aviation · EuroTrip · Trip Report · Vacation · Weekend Trip

#2001 โ€“ AvGeek Weekend Trip #12 (AMS โ€“ CDG โ€“ LHR โ€“ CDG โ€“ AMS)

ENGLISH

I went on an Avgeek Weekend Trip this weekend which was very interesting as it involved an Air France’s brand new (not even a month old) Boeing 787-9 Dreamliner. And here is the story of this fun weekend trip I just had.

The routing this weekend. Created with: gcmap.com

So as you know the routing this time was Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow and back. And so I have decided to skip the Amsterdam – Paris-CDG vv part because I have flown this route so many times, haha. I would just go as far as saying that I flew an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXL and a KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW on these two flights.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXL
A KLM’s Boeing 737-700 reg PH-BGW.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

After arriving in Paris, I checked the transfer monitor and learned that my connecting flight to London would depart from Hall K of Terminal 2E. So I followed the signage to this hall, which was at the other side of Paris Charles De Gaulle Airport’s Terminal 2. I cleared immigration as well during this transfer, which was really a breeze because there was noone else, haha ๐Ÿ˜› .

At Hall K, I immediately went to the Air France’s lounge there. I just realized that this was actually my first time at a non-Schengen Air France Lounge at Paris-CDG Airport! Haha ๐Ÿ˜› . The lounge was really spacious, much more spacious than the two lounges at Terminal 2F, though the offering was pretty much the same.

Salon Air France at Terminal 2E Hall K

About an hour before departure, I left the lounge to look for the gate. Though I was travelling via Paris-CDG a lot, this was actually just my second time using its Hall K (the first time was when I was catching my Japan Airlines flight to Tokyo-Narita 2.5 years ago), so I wasn’t that familiar with this hall. The interior design of Paris – CDG Terminal 2E’s Hall K was really beautiful, btw. However, it was clearly not designed for avgeeks because it was very difficult to take pictures of the planes parked at this hall! Haha ๐Ÿ˜›

The beautiful Paris Charles De Gaulle Airport Terminal 2E Hall K

AF 1180 (CDG – LHR)


Flight: Air France AF1180
Equipment: Airbus A320-200 reg F-GKXJ with a Paris 2024 sticker
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, my flight to London today would be operated with an Air France’s Airbus A320-200 reg F-GKXJ, which was plastered with a Paris 2024 sticker. F-GKXJ was actually parked at the gate next to the Air France Lounge and so I knew that this plane had been sitting there for quite some time. I guess due to the importance of its London-Heathrow route (London-Heathrow is considered as one of the most “premium” airports, in terms of the type of passengers it attracts, in the industry), Air France wouldn’t want to take the risk of any of its London-Heathrow flights being delayed; and so the long on-the-ground time.

An Air France’s Airbus A320-200 F-GKXJ with Paris 2024 sticker

Long story short, I boarded the plane and sat at my 6A seat in the first row of economy today. Not too long after, the push back began and the flight departed. We took off from runway 08L of Paris-CDG and headed northwest towards London. It was a short flight so the complimentary snack service was provided right away.

A flight to London-Heathrow wouldn’t be complete without the plane having to make a few turns above London before being allowed to land, haha. Unfortunately there was some cloud hanging above the city today so I couldn’t really see anything. Anyway, at 19:14 local time we landed at runway 27R of London-Heathrow Airport.

Landing at runway 27R of London-Heathrow

We had to taxi for quite a distance and time (due to the airport’s crowdedness), where I spotted a Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER being prepared for its non-stop flight back to Jakarta later tonight. And finally, we parked at a gate in Terminal 4 at the south part of the airport.

London-Heathrow

The last and only other time I was entering the UK via Heathrow was more than four years ago, haha. And I, sort of, forgot the possible inconvenience of entering London via this popular airport: a really long line at immigration!! The line was so long that I remembered the last time I encountered a line at least this “bad” was when I arrived in New York from Mexico City almost two years ago! While I wasn’t spending 90 minutes just for queuing this time (it was closer to 45 I think), it made me think that the next time I would travel to London, it would be better to arrive at London City Airport! Haha ๐Ÿ˜›

Rump steak for dinner

Anyway, I spent a night at a hotel nearby the airport today, where I also had my rump steak dinner.

The next morning, I checked out just before 7 AM to catch my 9:45 AM flight back to Paris. I already had my mobile boarding pass so I headed straight to security. The officer noticed the “Sky Priority” tag in my boarding pass and informed me that this allowed me to use the VIP security lane. Yeay! I didn’t have to queue with this lane and I cleared security in less than two minutes, haha.

The entrance to the SkyTeam Lounge at Heathrow

Once in the departure area, I looked for the SkyTeam Lounge at the airport. You see, London-Heathrow is not a SkyTeam airport but its importance means that a lot of SkyTeam airlines are using it. So to cater this, SkyTeam invests in a lounge at the airport’s Terminal 4, where most SkyTeam airlines fly to (Strangely, Garuda Indonesia operates from Terminal 3 despite it being a SkyTeam member).

The entrance to the lounge was quite small but the lounge itself was actually quite spacious, as it had two floors! I went to the upstairs area because the attendant told me breakfast was served there. The breakfast was actually quite decent with a selection of English or continental all you can eat breakfast. The design of the lounge itself was also really cool and looked so much better than the overall “outdated” feel of Terminal 4 of Heathrow, haha.

SkyTeam Lounge at Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Flight: Air France AF1681
Equipment: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

I was very excited when I saw in my Flightradar24 app that my flight today would be operated with F-HRBC, Air France’s newest Boeing 787-9 Dreamliner that wasn’t even one month old! Unfortunately, the flight used Gate 2 today which was a horrible gate at the terminal because it was impossible to take a good picture of the plane! Haha ๐Ÿ˜›

Long story short, I boarded F-HRBC and sat at seat 18K. This time, I sat in the regular economy cabin unlike my last trip with an Air France’s Dreamliner where I sat in the premium economy cabin. I deliberately chose not to “upgrade” myself for the small fee because I would like to compare the two cabins, haha.

The regular economy cabin of Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC

The regular economy cabin was actually quite comfortable with good seat pitch and Air France’s newest IFE (Air France Touch).ย After all passengers boarded, the flight departed and the very chic safety demo was played on the IFE.

Don’t forget to put on your safety belt as, aside from ensuring our safety, it also elegantly hightlights your waistline…

Anyway, a departure from London-Heathrow wouldn’t also be complete without experiencing its traffic jam for take-off, haha. The departure runway this morning was runway 27R so we had to taxi for quite some distance there, and we encountered quite a traffic jam as we were nearing the runway. This doesn’t happen that often at Schiphol or Paris-CDG, and reminded me of Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta! Haha ๐Ÿ˜› .

Traffic jam at Heathrow

Long story short, we finally took off and began our short hop to Paris-CDG. As in flight AF1180, the service began immediately after take-off. A Boeing 787-9 was a much bigger plane than an Airbus A320 so I could imagine the flight attendants must be feeling some kind of time pressure for the service, and they did a really great job! Overall it was a very pleasant and smooth flight with Air France’s F-HRBC. At 12:07 local time, we landed at runway 26R of Paris-CDG Airport.

Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC at Paris-CDG

The plane parked at Terminal 2E Hall L. Then I cleared security and immigration to transfer to Terminal 2F to catch my last flight of this trip back to Amsterdam with KLM.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi dalam sebuahย Avgeek Weekend Trip akhir pekan kemarinย yang mana seru banget karena melibatkan sebuah Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang baru banget (bahkan umurnya belum ada satu bulan). Dan berikut ini cerita dari akhir pekan seruku ini.

Rute akhir pekan ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Rute kali ini adalah Amsterdam – Paris-CDG – London-Heathrow pp. Dan sudah kuputuskan aku tidak akan membahas penerbangan pp Amsterdam – Paris-CDGku karena aku sudah sering banget terbang di rute ini, haha. Cuma akan kusebutkan bahwa aku terbang dengan pesawat Airbus A320-200 rego F-GKXLnya Air France dan Boeing 737-700 rego PH-BGWnya KLM di dua penerbangan ini.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXLnya Air France
Sebuah Boeing 737-700 PH-BGWnya KLM.

Paris – CDG, Terminal 2E Hall K

Setelah tiba di Paris, aku mengecek monitor penerbangan transit dan aku diberi-tahu bahwa penerbangan lanjutanku ke London akan berangkat dari Hall K di Terminal 2E. Aku mengikuti petunjuk jalan ke arah sana, yang mana berada di sisi lain dari Terminal 2nya Bandara Charles De Gaulle. Aku melewati imigrasi ketika transit ini, yang mana berlangsung mulus banget karena nggak ada penumpang lain selain aku sehingga nggak perlu antri, haha ๐Ÿ˜› .

Di Hall K, aku langsung pergi ke lounge-nya Air France di sana. Aku baru sadar bahwa ini adalah kali pertama aku mampir di sebuah lounge non-Schengennya Air France di Bandara Paris-CDG loh! Haha ๐Ÿ˜› . Lounge-nya sendiri amat luas, lebih luas dari dua lounge-nya di Terminal 2F, walaupun layanannya sih kurang lebih sama lah.

Salon Air France di Terminal 2E Hall K

Sekitar satu jam sebelum waktu keberangkatan, aku meninggalkan lounge-nya menuju ke gate. Walaupun aku sering terbang melewati Bandara Paris-CDG, ini baru lah kali kedua aku menggunakan Hall K-nya (kali pertama adalah ketika aku menaikiย penerbangan Japan Airlines ke Tokyo-Narita 2,5 tahun lalu), jadi aku kurang begitu familier dengan hall ini. Disain interior hall ini indah dan kece banget sebenarnya, btw. Namun, jelas disainnya tidak ramah untuk avgeek karena sulit sekali untuk bisa mendapatkan foto pesawat yang diparkir di hall ini dengan oke! Haha ๐Ÿ˜›

Terminal 2E Hall K Bandara Charles De Gaulle Paris yang indah dan kece banget.

AF 1180 (CDG – LHR)


Penerbangan: Air France AF1180
Pesawat: Airbus A320-200 reg F-GKXJ dengan stiker Paris 2024
ATD: 19:24 CET (Runway 08L of CDG)
ATA: 19:14 BST (Runway 27R of LHR)

Anyway, penerbanganku ke London hari ini dioperasikan dengan Airbus A320-200nya Air France dengan rego F-GKXJ, yang ditempeli stiker Paris 2024. F-GKXJ sebenarnya diparkir di gate di sebelah lounge-nya Air France jadi aku tahu bahwa pesawat ini sudah diparkir di sana lumayan lama. Aku kira karena pentingnya rute London-Heathrow (London-Heathrow banyak dipandang sebagai satu dari bandara yang “premium”, dari segi tipe penumpang yang bepergian ke sana, di industri penerbangan), Air France tidak mau ambil risiko yang bisa menyebabkan penerbangan-penerbangan ke London-Heathrow terlambat; makanya pesawatnya diparkir lama di darat.

Sebuah Airbus A320-200 F-GKXJnya Air France dengan stiker Paris 2024

Singkat cerita, aku menaiki pesawatnya dan duduk di kursi 6A di barisan pertama ekonomi hari ini. Tak lama setelahnya, pesawat didorong mundur dan berangkat. Kami lepas landas dari landasan pacu 08L Bandara Paris-CDG dan kemudian berbelok ke arah barat laut menuju London. Karena durasi penerbangannya yang singkat, layanan snack langsung disajikan.

Yang namanya penerbangan ke London-Heathrow tak akan lengkap tanpa yang namanya berputar-putar dulu di atas London sebelum diberikan izin mendarat, haha. Sayangnya, langit London berawan malam ini sehingga aku tidak bisa melihat apa-apa. Anyway, jam 19:14 waktu setempat kami mendarat di landasan pacu 27R Bandara Heathrow.

Mendarat di landasan pacu 27R Bandara London-Heathrow

Kami harus taxiing cukup jauh dengan waktu lumayan lama (soalnya bandaranya ramai banget), dimana aku bisa melihat sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia sedang disiapkan untuk penerbangan non-stopnya ke Jakartaย malam itu. Dan akhirnya, pesawat diparkir di Terminal 4 di sisi selatan bandaranya.

London-Heathrow

Pertama dan terakhir kalinya aku masuk ke UK melalui Heathrow sebelum hari ini adalahย lebih dari empat tahun yang lalu, haha. Jadilah aku lupa mengenai kemungkinan ketidak-nyamanannya masuk ke London melalui bandara ini: antrian imigrasi yang gila panjangnya!! Antriannya panjang banget sampai aku langsung teringat terakhir kali aku menghadapi antrian imigrasi yang “separah” ini adalah ketika aku tiba di New York dari Mexico City hampir dua tahun yang lalu! Walaupun memang sih aku tidak menghabiskan 90 menit untuk mengantri kali ini (sekitar 45an lah), ini membuatku berpikir bahwa untuk perjalananku ke London yang selanjutnya, mendingan aku terbang ke Bandara London Cityย aja deh! haha ๐Ÿ˜›

Rump steak untuk makan malam

Anyway, aku menginap semalam di hotel di dekat bandara hari ini, dimana aku juga makan rump steak untuk makan malam.

Keesokan paginya, aku check-out sebelum jam 7 pagi untuk mengejar penerbangan jam 9:45ku ke Paris. Aku sudah memiliki mobile boarding pass sehingga aku langsung menuju ke area sekuriti. Petugasnya melihat label “Sky Priority” di boarding pass-ku dan memberi-tahuku bahwa dengannya aku bisa masuk melalui jalur pemeriksaan VIP. Hore! Di jalur ini aku nggak perlu ngantri dan melewati pemeriksaan sekuriti total dalam waktu kurang dari dua menit saja, haha.

Pintu masuk SkyTeam Lounge di Heathrow

Begitu di area keberangkatan, aku langsung mencari SkyTeam Lounge di terminal ini. London-Heathrow bukanlah bandara SkyTeam tetapi pentingnya bandara ini membuat maskapai-maskapai SkyTeam memiliki banyak penerbangan melalui bandara ini. Jadilah SkyTeam memutuskan untuk berinvestasi dengan membuka sebuah lounge di Terminal 4 bandara ini, dimana kebanyakan penerbangan SkyTeam diberangkatkan (Anehnya, Garuda Indonesia beroperasi di Terminal 3 padahal Garuda kan anggota SkyTeam juga).

Pintu masuk lounge ini cukup kecil tetapiย lounge-nya sendiri luas loh, dua lantai pula! Aku naik ke lantai atas karena petugasnya memberi-tahuku bahwa sarapan disajikan di sana. Pilihan sarapannya sendiri cukup oke dimana ada sarapan ala Inggris atau kontinental dengan model all you can eat. Disain lounge-nya sendiri juga keren banget dan nampak jauh lebih modern daripada Terminal 4nya Heathrow yang terasa “usang”, haha.

SkyTeam Lounge di Heathrow

AF 1681 (LHR-CDG)


Penerbangan: Air France AF1681
Pesawat: Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC
ATD: 10:22 BST (Runway 27R of LHR)
ATA: 12:07 BST (Runway 26L of CDG)

Aku merasa bersemangat banget ketika aku lihat di app Flightradar24-ku bahwa penerbanganku akan dioperasikan dengan F-HRBC, Boeing 787-9 Dreamlinernya Air France yang paling baru yang umurnya bahkan belum ada satu bulan! Sayangnya, penerbangan hari ini menggunakan Gate 2 yang mana merupakan gate di terminal ini yang menyebalkan sekali karena tidak mungkin bagiku untuk bisa memfoto pesawatnya dengan sudut yang baik! haha ๐Ÿ˜›

Singkat cerita, aku menaiki F-HRBC dan duduk di kursi 18K. Kali ini, aku duduk di kabin ekonomi reguler, tidak seperti penerbanganku sebelumnya dengan Dreamlinernya Air France dimana aku duduk di kabin premium economy. Sengaja aku memilih untuk tidak meng-“upgrade” kursiku dengan biaya yang sebenarnya tidak terlalu mahal karena aku ingin membandingkan dua kabinnya, haha.

Kabin ekonomi reguler Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France

Kabin ekonomi regulernya ternyata cukup nyaman dengan seat pitch kursi yang oke dan IFE terbarunya Air France (Air France Touch). Setelah semua penumpang naik pesawat, kami berangkat dan video peragaan keselamatan yang chic banget ituย dimainkan di layar IFEnya.

Jangan lupa memasang sabuk pengaman karena, selain untuk memastikan keselamatan Anda, sabuknya juga meng-highlight lingkar pinggang Anda dengan elegan…

Anyway, yang namanya keberangkatan dari London-Heathrow tak akan komplit tanpa mengalami yang namanya kemacetan sebelum lepas landas, haha. Landasan pacu keberangkatan pagi ini adalah landasan 27R sehingga kami harus taxiing lumayan jauh ke sana, dan di dekat landasannya ada kemacetan untuk menunggu giliran lepas landas.ย Ini hampir tidak pernah terjadi di Schiphol atau Paris-CDG, dan mengingatkan akan Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta! Haha ๐Ÿ˜› .

Kemacetan di Heathrow

Singkat cerita, kami akhirnya lepas landas dan memulai penerbangan singkat ke Paris-CDG. Seperti di penerbangan AF1180, layanan snack-nya langsung disajikan setelah lepas landas. Boeing 787-9 berukuran lebih besar daripada Airbus A320 sehingga aku paham tentu pramugari/a-nya diburu-buru waktu ya untuk layanan ini, dan mereka meng-handle-nya dengan baik! Secara umum penerbangan ini adalah penerbangan yang nyaman dan mulus dengan F-HRBCnya Air France. Jam 12:07 waktu setempat, kami mendarat di landasan pacu 26R Bandara Paris-CDG.

Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France di Paris-CDG

Pesawat diparkir di Hall L Terminal 2E. Lalu, aku melewati pemeriksaan sekuriti dan imigrasi ketika transit ke Terminal 2F untuk mengehjar penerbanganku kembali ke Amsterdam dengan KLM.

Celebration · Miscellaneous

#2000 – Two Thousand

ENGLISH

The title is self-explanatory, this is my 2000th post here in this blog!! Yes people, two thousand!!

Certainly this is an achievement, a milestone at the very least, though not really a surprising one to be honest. I mean, I have been blogging for so long so it was just about time for me to reach this number, haha. Though, it is still quite amazing to think that I have twice written one thousand posts! Because that sounds like a lot of writing!

This is actually the second blogging milestones I achieved this year, btw, after earlier this year I postedย my 1000th posts in WordPress (Until April 2011, I was using Blogspot as my blogging platform).ย I still remember the post I posted almost six years ago when I hit 1000 posts. Interestingly, it took me faster (by eight months!) to get to 2000 from 1000 than to get to 1000 from 0, haha ๐Ÿ˜› .

Yeah, this is all for now. This post is merely meant to commemorate this achievement. So, cheers for 2000!!

Source: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu

BAHASA INDONESIA

Judul posting ini jelas lah ya, posting ini adalah posting ke-2000-ku di blog ini!! Iya dong, dua ribu!!

Jelas ini adalah sebuah pencapaian, ya setidaknya adalah sebuah milestone lah, walaupun nggak mengherankan juga sih sejujurnya. Maksudku, aku sudah nge-blog sekian lama sehingga sebenarnya tinggal menunggu waktu aja lah ya sampai angka ini aku capai, haha. Walaupun, masih cukup menakjubkan juga sih kalau dipikir-pikir bahwa aku sudah dua kali menulis seribu posting! Terdengar banyak banget kan ya!

Ini adalah milestoneย nge-blog kedua yang kucapai tahun ini, btw, setelah awal tahun ini aku mem-posting posting ke-1000-ku di WordPress (Sampai April 2011, aku menggunakanย Blogspot sebagai platform nge-blog). Aku masih ingat posting yang kupublikasikan hampirย enam tahun yang lalu ketika aku mencapai 1000 posting. Menariknya, aku lebih cepat (delapan bulan!) untuk mencapai 2000 dari 1000 daripada untuk mencapai 1000 dari 0 loh, haha ๐Ÿ˜› .

Ya, segini aja deh untuk saat ini. Posting ini dimaksudkan untuk merekam pencapaian ini sih. Jadi, cheers untuk 2000!!

Sumber: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu
EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1999 – A Weekend Story

ENGLISH

This weekend, as my Instagram followers (@azilko), I went on another AvGeek Weekend Trip. Yep, just literally a week after the previous one, haha ๐Ÿ˜† . Anyway, the routing this time was quite interesting, in my opinion:

The routing this weekend. Created with: gcmap.com

Yep, I was flying Amsterdam โ€“ Paris-CDG โ€“ London-Heathrow vv ๐Ÿ˜› .

You see, ever since introducing AvGeek Weekend Trip last year, I have been wanting to do one with flights to the UK. And my UK visa that I got this summer was basically a green light to make this come true. Of course I was looking for some interesting flights, if possible. Too bad, Singapore Airlines had terminated their Munich – Mancesther fifth-freedom route (It would have been ideal!). Luckily for me, there was still one very intriguing flight to take.

As part of their crew familiarization with their brand new Boeing 787-9 Dreamliner, Air France launched two short-haul routes with this type from Paris. I took one this August on their domestic Lyonย โ€“ Paris-CDG flight. But this was actually their second familiarization flight that they just introduced in late May. The first one, which they introduced in early February 2017, was a short-haul Paris-CDGย โ€“ London-Heathrow route. And so I was aiming to fly with this one flight, haha ๐Ÿ˜† .

Taking this Air France’s Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBC as flight AF1681 from London-Heathrow to Paris-Charles De Gaulle.

Luckily, I found a good return ticket this summer so I quickly booked it. Just like the Lyon one, the flight left London-Heathrow in the morning so I had to spend a night in London, which I did. What even was more awesome was that I got F-HRBC, Air France’s newest Boeing 787-9 that wasn’t even one month old!

Another lucky point was that the four flights I took on this trip were all operated by airplanes I had never flown before, i.e. four flights and four new registrations for my logbook! Yeay!! So overall, unsurprisingly, this was such a pleasant weekend for me. Here are a few teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Akhir pekan ini, seperti yang sudah diketahui followers Instagramku (@azilko), aku pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Trip lagi loh. Iya, cuma seminggu aja setelah yang sebelumnya, haha ๐Ÿ˜† . Ngomong-ngomong, rute kali ini cukup menarik loh menurutku:

Rute kali ini. Dibuat dengan: gcmap.com

Iyaa, aku terbang Amsterdam โ€“ Paris-CDG โ€“ London-Heathrow pp ๐Ÿ˜› .

Jadi begini, semenjakย memperkenalkan AvGeek Weekend Tripย tahun lalu, aku sudah ingin banget untuk pergi dalam setidaknya satu perjalanan tipe ini ke Inggris Raya (UK). Dan visa UK yang kudapatkan musim panas kemarinย adalah lampu hijau untuk itu. Tentu saja, sedapat mungkin aku mencari rute yang menarik dong ya. Sayang banget nih Singapore Airlines sudah menutup rute kebebasan-kelima Munich – Mancesther-nyaย (Padahal rute itu bakalan sempurna banget!). Untungnya bagiku, masih ada satu penerbangan lain yang juga menarik.

Dalam upaya familiarisasi krunya terhadap tipe pesawat baru Boeing 787-9 Dreamliner, Air France meluncurkan dua rute jarak-dekat dengan pesawat tipe ini dari Paris. Aku terbang dengan salah satunya Agustus lalu di rute domestik Lyonย โ€“ Paris-CDG. Tetapi rute itu sebenarnya adalah rute familiarisasi kedua yang baru mereka perkenalkan akhir Mei lalu. Yang pertama, yang mulai diluncurkan Februari 2017, adalah rute jarak dekat Paris-CDGย โ€“ London-Heathrow. Dan jadilah aku berusaha mencari tiket yang mencakup penerbangan ini, haha ๐Ÿ˜† .

Menaiki Boeing 787-9 Dreamliner F-HRBCnya Air France ini dari London-Heathrow ke Paris-Charles De Gaulle.

Untungnya, aku menemukan tiket pp musim panas kemarin yang oke dan jadilah langsung aku beli. Seperti Lyon, penerbangannya berangkat dari London-Heathrow di pagi hari sehingga aku harus menginap semalam di London, yang mana memang kulakukan. Yang keren banget adalah aku mendapatkan F-HRBC dong untuk penerbangan ini, yang mana merupakan Boeing 787-9nya Air France yang paling baru yang umurnya bahkan belum ada satu bulan! Masih bau pabrik gitu lah, haha ๐Ÿ˜› .

Satu poin keberuntunganku lainnya adalah empat penerbangan yang kunaiki di perjalanan ini semuanya dioperasikan dengan pesawat yang belum pernah kuterbangi sebelumnya loh. Dengan kata lain, empat penerbangan dan empat registrasi baru untuk logbook-ku! Hore!! Jadi secara keseluruhan, tak mengherankan, akhir pekan ini adalah akhir pekan yang seru banget untukku. Di atas aku unggah beberapa teasers dari perjalanan ini.

My Interest · TV Show

#1998 – Star Trek: Discovery

ENGLISH

Not too long ago, I mentioned about the (what I had thought) neutral Star Trek: Voyager topic which suddenly “lost” its neutrality so I, to some degree, was “forced” to publish it asap. And here is the reason why:

In an unexpected (for me) turn of event of the year, it turned out that a new Star Trek series was released this September: Star Trek: Discovery!!ย ๐Ÿ˜ฑ

Yes people, there was a new Star Trek series!! As in a new one after Star Trek: Enterprise that was aired in the early 2000s!

Obviously as a self-proclaimed Trekkies, I was very excited about this! Luckily to me, I could find this series in the Dutch Netflix! So I guess afterall I would not need to worry about finding a new series to follow after marathoning the entire nine seasons of HIMYM anyway, haha ๐Ÿ˜› .

***

The first two episodes of the series were actually just “prologue”, where not even all of the main characters were introduced yet. I found it interesting that watching those first two episodes actually felt more like watching a Star Trek movie (though with a cliff-hanger ending) rather than a two-part episode of a Star Trek TV-series. But I guess this was intended ๐Ÿ™‚ .

This made the start of the show and the general outlook a “breathe of fresh air”, IMO. The main character of the show, Michael Burnham, was sentenced for life at the end of the prologue. We entered the main setting of the show, USS Discovery, in the third episode following her point of view, as a “newbie” and an “outcast” (Remember that she is a prisoner) in an already established crew and ship in the middle of their mission. She was invited to join the crew by the USS Discovery’s captain, Gabriel Lorca, himself who was, obviously, well aware of Burnham’s status which he didn’t care about.

Indeed it is interesting that the captain here arguably is not the lead character of the show, unlike other Star Trek series!! On top of that, casting Jason Isaacs, the actor who played Lucius Malfoy in the Harry Potter movies, as the captain was a brilliant decision because the captain was depicted, somehow, like a “freak” at the beginning of the series. So I think it was a perfect match ๐Ÿ™ˆ.

Anyway, the storyline took place at about 10 years before Star Trek: The Original Series timeline, and about 100 years before The Next Generation and Voyager. And so it felt a little bit funny to me that the technology in this series, due to the latest and more advanced CGI technique, appeared to be more advanced than those three other series while in the story, this series should have been much less advanced, haha ๐Ÿ˜› .

***

When I first learned about the timeline, to be honest I was a little bit disappointed. I mean, the “reboot” movie installments (which three movies have been produced since 2009) also “anchored” themselves around The Original Series. And so I wish for the TV series, the writers would have chosen to fall closer to The Next Generation or Voyager timeline. But this was probably me being biased, as I was more familiar with The Next Generation or Voyager.

Oh, and one more thing, somehow I don’t really like the design of USS Discovery.

Ah well, there is no use in complaining for now. I guess, it is better for me to just sit back, relax, and enjoy this unexpected surprise!! ๐Ÿ™‚

BAHASA INDONESIA

Belum berapa lama yang lalu, aku sebutkan bahwa topik yang (dulunya kukira) netral: Star Trek: Voyager tiba-tiba kehilangan “kenetralannya” sehingga “memaksaku” untuk mempublikasikan posting itu segera. Nah, ini lah alasan di balik itu:

Ternyata, tidak disangka-sangka (bagiku), sebuah seri baru Star Trek dirilis dong bulan September ini: Star Trek: Discovery!!ย ๐Ÿ˜ฑ

Iyaaa, satu seri baru dari Star Trek!! Baru dalam artian sekarang ada seri selanjutnya setelah Star Trek: Enterprise di awal 2000an!

Jelas dong sebagai orang yangย mengaku-aku sebagai Trekkies, aku excited banget dengan ini! Beruntungnya aku, aku bisa menemukan seri ini di Netflix-nya Belandaย loh! Jadi sepertinya memang aku tidak perlu galau mau menonton seri baru apa setelah selesai maraton menonton kesemua sembilan musim dari HIMYM, haha ๐Ÿ˜› .

***

Dua episode pertama dari seri ini ternyata hanyalah “prolog” saja, dimana bahkan belum semua karakter utamanya diperkenalkan. Bagiku menarik dimana menonton dua episode pertama justru serasa seperti menonton filmnya Star Trek (walaupun denganย cliff hanger di ending-nya) bukannya episode dengan dua bagian dari serial TV-nya Star Trek. Tetapi mungkin memang sengaja dibeginikan sih ya ๐Ÿ™‚ .

Ini membuat permulaan serinya dan serinya secara umum terasa “segar” untukku. Karakter utama seri ini, Michael Burnham, ceritanya dihukum penjara seumur hidup di akhir prolog. Nah, kita diajak memasuki setting seri ini, USS Discovery, di episode ketiga dengan mengikuti sudut pandangnya, sebagai “anak baru” dan “anak yang dijauhi/ditakuti/dibenci” (Ingat, dia ini berstatus tahanan penjara/napi) di dalam kru dan kapal yang sudah cukup “mapan” di tengah-tengah misi mereka. Ia diajak bergabung ke dalam kru langsung oleh kapten USS Discovery sendiri, Gabriel Lorca, yang mana tentu tahu mengenai status tahanan Burnham ini tetapi tidak ia pedulikan.

Memang menarik bahwa di seri ini, kaptennya bisa dikatakan bukan karakter paling utama dari acaranya, tidak seperti seri-seri Star Trek lainnya!! Di atas itu semua, pemilihan Jason Isaacs, aktor yang memainkan Lucius Malfoy di film-film Harry Potter, sebagai kaptennya juga adalah pilihan yang brilian karena kaptennya digambarkan seperti seorang yang “freak” gitu di awal serinya, haha. Jadi cocok kan ya ๐Ÿ™ˆ.

Anyway, jalan ceritanya berlangsung kurang lebih 10 tahun sebelum masanya Star Trek: The Original Series, dan sekitar 100an tahun sebelum masanya The Next Generation dan Voyager. Jadilah rasanya lucu juga dimana aku merasa teknologi di seri ini, akibat CGInya yang jelas lebih modern dan canggih di zaman sekarang kan, nampak lebih “maju” daripada di tiga seri lainnya itu; padahal dari segi lini masa kan seharusnya masih belum semaju itu ya ๐Ÿ˜› .

***

Btw, ketika aku pertama kali tahu mengenai lini masa ini, sejujurnya aku sedikit kecewa. Maksudku, seri film “reboot“-nya (yang mana tiga film layar lebar sudah diproduksi sampai saat ini) kan juga “berpatokan” pada The Original Series. Jadilah bagiku seri TV ini akan lebih oke andaikata lebih dekat ke linimasanya The Next Generation atau Voyager kan; supaya adil gitu. Tetapi pendapatku ini mungkin sedikit bias sih, karena aku lebih familier dengan The Next Generation atau Voyager.

Oh iya, penting banget nih. Entah mengapa aku kurang menyukai disain pesawat USS Discovery, haha.

Ah sudahlah, nggak ada gunanya komplain sekarang kan. Aku rasa, sekarang ini lebih baik aku duduk manis, bersantai, dan menikmati kejutan tak terduga ini!! ๐Ÿ™‚

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1997 – A Weekend in Cardiff

ENGLISH

Not too long ago I went on a weekend trip to Cardiff, a trip which “completed” my travel goal list of visiting all four countries in the United Kingdom, haha. And here is the story of that trip.

Cardiff selfie

Getting to/from Cardiff

I was flying direct to Cardiff Airport this time in both ways, partly due to non-stop flights being the only option with SkyTeam to get to Cardiff from Amsterdam, haha. The flights themselves were typical pleasant short-haul flights with KLM so there was not much to share here. The airplanes, however, were quite special.

The two flights I took were operated by two very “contrasting” airplane types: a Fokker 70 on the departure flight and an Embraer 175 on the returning flight. KLM Cityhopper is actually retiring all of its remaining Fokker 70s by the end of this month, including the 21.5 years old PH-KZB which took me to Cardiff, and is replacing them all with the much newer Embraer 175s, including the 4 months young PH-EXN which brought me back to Amsterdam!

A KLM Cityhopper’s 21.5 years old Fokker 70 reg PH-KZB at Cardiff
A KLM Cityhopper’s 4 months young Embraer 175 reg PH-EXN

Awesome, isn’t it? Even though, for sure I will miss those beautiful Fokker 70s even though the newer KLM’s Embraer 175s are super cool as well especially that they are equipped with the new winglets as well! Anyway, here is the landing video at runway 30 of Cardiff Airport with PH-KZB:

Oh how I will miss this beautiful view with the rear engine like this!!

Cardiff

One thing I noticed in Cardiff, the capital of Wales, was how proud the city was for being Welsh. Almost every signs were written in two languages (English and Welsh); and in this trip I learned that “Wales” was actually the “English” name of the country, which in Welsh was “Cymru”. To some degree this was probably similar to “Borneo” and “Kalimantan”, or “Celebes” and “Sulawesi”, haha. And they were particularly proud of their national symbol, which looked like this:

The Welsh Red Dragon

Well, certainly I understood them! Haha ๐Ÿ˜†

It was obvious that Cardiff was (or is) an industrial city; making it probably not the prettiest city ever. However, it was also obvious that the city had put efforts to make it look “nicer”, with the installement of a lot of art works (sculptures) here and there.

An art installment in Cardiff.

To me, there were two “parts” of Cardiff: the city centre and the Cardiff bay. I spent my entire first day in the city centre, where there were a lot of shops and a modern mall and was basically where the “pulse” of the city, I felt, ran. This was also the part of the city with more “historical” sites, like the Cardiff Castle. I found the entrance fee a bit too expensive so I did not feel like going in. Instead, I just went to the garden next to it and took some photos of the castle from there, haha ๐Ÿ˜› .

Cardiff Castle

I visited the Cardiff bay on my second day, which felt more “modern” to me. Again, there were also quite many art installments in this part of the city. There was a sporting event going on in Cardiff bay while I was there, called the “Survival of the Fittest”. In short it was basically like a race with a lot of physical, but (looked) fun, challenges along the way. The concept was, in a way, similar to the famous tv-show Ninja Warriors.

One obstacle at the “Survival of the Fittest”

Cardiff was definitely a “lively” city, btw. On Saturday evening, it was extremely difficult for me to get a seat at a restaurant! At one restaurant, the waitress informed me that I would have to wait for three hours (!) before I could get a seat. Of course I bailed! Haha. That evening, eventually I settled at a Japanese restaurant having a chicken ramen. Well, it had been awhile since the last time I had ramen anyway so it was okay, haha ๐Ÿ˜› .

A tasty buttermilk chicken

Speaking of food, I am afraid I didn’t really go on a culinary adventure there. Aside from the ramen, I had lunch at a Jamie’s Italian (As this was a choice which would never be wrong to me! Haha) and at The Dock, a restaurant in Cardiff Bay. I ordered a tasty buttermilk chicken with sweet potato chips and a dipping sauce. It was good!

So all in all, yeah, I enjoyed my time in Cardiff. It was definitely a nice way to “taste” what Wales was like. Though, for the next time, I would like to see more of what Wales could offer!

BAHASA INDONESIA

Belum lama lalu aku pergi dalam sebuahย perjalanan akhir pekan ke Cardiff, sebuah perjalanan yang akhirnya “melengkapi” daftar travel goal-ku untuk pergi ke semua empat negara di Inggris Raya (United Kingdom). Dan berikut ini cerita dari perjalanannya.

Cardiff selfie

Pergi ke/kembali dari Cardiff

Aku menaiki penerbangan langsung ke Bandara Cardiff di kedua arah, setengahnya karena penerbangan non-stop adalah satu-satunya pilihan dengan SkyTeam untuk pergi ke sana dari Amsterdam, haha. Penerbangannya sendiri adalah dua penerbangan standar dengan KLM sehingga tidak banyak yang bisa kuceritakan sekarang. Pesawatnya, tapinya, cukup spesial untuk diceritakan.

Dua penerbangan yang kunaiki ini dioperasikan oleh dua tipe pesawat yang sangat “kontras” satu sama lain: Fokker 70 di penerbangan keberangkatan dan Embraer 175 di penerbangan kepulangan. Jadi ceritanya KLM Cityhopper akan memensiunkan semua pesawat Fokker 70nya di akhir bulan ini, termasuk PH-KZB yang sudah berumur 21,6 tahun yang membawaku ke Cardiff, dan menggantinya dengan pesawat generasi baru Embraer 175, termasuk dengan PH-EXN yang baru berumur 4 bulan yang membawaku pulang ke Amsterdam!

Sebuah Fokker 70-nya KLM Cityhopper yang berumur 21,5 tahun, PH-KZB
Sebuah Embraer 175-nya KLM Cityhopper yang berumur 4 bulan, PH-EXN

Keren kaaan? Walaupun iya sih aku jelas akan kangen dengan Fokker 70 yang kece itu walaupun Embraer 175nya KLM juga keren sih terutama karena dilengkapi dengan winglet generasi terbarunya! Ngomong-ngomong, berikut ini video pendaratannya di landasan pacu 30 Bandara Cardiff dengan PH-KZB:

Ah, aku jelas akan kangen dengan view yang melibatkan mesin belakang seperti ini!!

Cardiff

Satu hal yang aku perhatikan dari Cardiff, ibukotanya Wales, adalah kebanggaannya akan Wales. Hampir semua penanda dituliskan dalam dua bahasa (bahasa Inggris dan bahasa Wales); dan di perjalanan ini aku baru tahu dong bahwa “Wales” itu adalah nama “bahasa Inggris”-nya negara ini, yang mana dalam bahasa Wales disebut “Cymru”. Menurutku ini mirip dengan istilah “Borneo” dan “Kalimantan”, juga “Celebes” dan “Sulawesi”, haha. Dan mereka juga nampak bangga banget dengan simbol negaranya, yang mana berpenampakan kayak gini:

Naga Merahnya Wales

Yah, nggak mengherankan lah ya! Haha ๐Ÿ˜†

Nampak jelas bahwa Cardiff (dulunya) adalah kota industri; sehingga memang kotanya bukanlah kota yang paling indah gitu deh. Namun, nampak jelas pula bahwa kotanya telah berusaha untuk “mempercantik diri”, dengan memasang banyak karya-karya seni (patung-patung atau monumen gitu) dimana-mana.

Sebuah patung karya seni di Cardiff.

Untukku, ada dua “bagian” dari Cardiff: pusat kota dan Cardiff Bay. Aku menghabiskan hari pertamaku di pusat kota, dimana banyak terdapat pertokoan dan mall modern juga dan pada dasarnya merupakan tempat “denyut nadi” kota ini. Bagian ini juga lah bagian bersejarah dari kotanya, dimana, misalnya, Kastil Cardiff berlokasi. Aku merasa harga tiket masuknya agak terlalu mahal sehingga aku malas masuk waktu itu. Jadilah aku jalan-jalan di taman di sebelahnya dan foto-foto dari sana aja, haha ๐Ÿ˜› .

Kastil Cardiff

Aku mengunjungi Cardiff Bay di hari keduaku, yang mana terasa lebih “modern” untukku. Lagi, ada banyak karya seni di sana. Waktu itu sedang ada acara olahraga yang belangsung, bernama “Survival of the Fittest”. Secara singkat ini adalah semacam perlombaan dengan rintangan-rintangan yang nampakย physical gitu, tetapi (nampak) seru. Konsepnya, secara umum, mungkin mirip dengan acara tvย Ninja Warriors yang terkenal itu.

Satu rintangan di “Survival of the Fittest”

Cardiff jelas adalah kota yang “hidup”, btw. Di hari Sabtu malam, susah banget untukku mendapatkan kursi kosong di restoran! Di satu restoran, pelayannya memberi-tahuku bahwa restorannya sudah penuh dan aku harus menunggu tiga jam (!) sampai ada kursi kosong. Ih ya jelas aku batal mampir lah ya, haha. Malam itu, akhirnya aku makan di sebuah restoran Jepang dan memesan ramen ayam. Yah, sudah lumayan lama juga sih semenjak aku makan ramen jadi oke lah, haha ๐Ÿ˜› .

Seporsi buttermilk chicken yang enak.

Ngomongin makanannya, sayangnya aku tidak terlalu banyak berwisata-kuliner di sana. Selain ramen itu, aku makan siang di Jamie’s Italian (Pilihan ini nggak akan pernah salah untukku soalnya! Haha) dan The Dock, sebuah restoran di Cardiff Bay. Aku memesan ayam buttermilk dengan ubi (sweet potato) goreng dan saus. Enak!

Jadi secara keseluruhan, ya, aku menikmati waktuku di Cardiff. Perjalanan ini adalah perjalanan yang oke untuk “mencicipi” Wales. Untuk kali berikutnya, aku penasaran untuk melihat bagian lain dari Wales!