General Life · Life in Holland · Zilko's Life

#2031 – Wintery December

ENGLISH

December 2017, so far, has been really wintery. Perhaps it is the most wintery December of the past three or four years in the Netherlands!

When it was snowing hard in Amsterdam

You know, it all started last weekend when it snowed for the first time this winter. The last time it snowed in December was way back in 2012 if I am not mistaken! And then the snow went overboard over the weekend which messed my weekend trip to London up, haha. It was still snowing quite hard in Amsterdam on Monday. In fact, that day the KNMI (the Dutch meteorological body) issued a red snow warning! Things have started to go back to “normal winter” since then, thankfully.

Aside from the snow, the Christmas vibe has also been getting stronger and stronger now. The Amsterdam Light Festival has officially started and so the city looks really cool now in the evening with all the pretty lights! A few big Christmas trees are also erected in several squares across the city, for instance at the famous Dam Square.

The Christmas tree at Amsterdam’s Dam Square

Also at the office, a lot of my colleagues brought a lot of cakes and cookies and desserts and those sweet stuffs everyday to celebrate the festive season! Oh wow the temptation was indeed super strong this week! I really needed super strong self control so that I did not consume too much of those evil sweet things! Lol ๐Ÿ˜› I also got my hair cut this afternoon and upon leaving, I was given a bottle of white wine as a Christmas gift! ๐Ÿ˜€

Speaking of this week, finally I had the time to start going back to they gym again! I found it interesting btw that after being absent for only about three and a half weeks, I did feel like my body had “weakened” a little bit. The weight which I used to lift with little to no problem posed a bit of a challenge this week, haha! Oh well…

Anyway, so yeah it has been festive here in Amsterdam nowadays!

Amsterdam Light Festival

BAHASA INDONESIA

Desember 2017, sejauh ini, sudah berasa banget nih musim dinginnya. Mungkin ini adalah Desember yang paling “musim dingin” di Belanda dalam tiga atau empat tahun belakangan!

Ketika bersalju lebat di Amsterdam

Semuanya dimulai akhir pekan yang laluย dimana untuk pertama kalinya salju turun musim dingin ini. Terakhir kali bersalju di bulan Desember adalah di tahun 2012 loh kalau nggak salah! Dan kemudian saljunya terus turun dengan lebay di sepanjang akhir pekan itu sampai-sampai mengacaukanย perjalanan akhir pekanku ke London, haha. Di hari Senin, salju masih turun dengan lebatnya di Amsterdam. Bahkan, hari itu KNMI (badan meteorologinya Belanda) mengeluarkan peringatan salju level merah! Setelah hari itu, cuaca mulai kembali ke cuaca musim dingin sebagaimana biasanya, untungnya.

Di samping salju, suasana Natal juga sudah semakin terasa lebih kuat sekarang. Festival Lampu Amsterdam (Amsterdam Light Festival) juga sudah resmi dimulai sehingga kotanya nampak kece sekarang di malam hari dengan semua hiasan lampunya! Beberapa pohon Natal besar juga sudah dipasang di beberapa lapangan utama di seluruh penjuru kota, seperti misalnya di Lapangan Dam yang terkenal itu.

Pohon Natal di Lapangan Dam (Dam Square) di Amsterdam

Belum lagi di kantor ada banyak kolega yang membawa kue-kue yang manis-manis ke kantor setiap hari untuk merayakan suasana ini! Ya gimana ini godaannya kok banyak bener gini ya! Aku benar-benar membutuhkan kontrol diri yang kuat nih supaya nggak terlalu banyak ngemil yang manis-manis itu! Hahaha ๐Ÿ˜› Aku juga potong rambut siang ini dan ketika akan pulang, aku bahkan diberikan sebotol white wine sebagai hadiah Natal loh! ๐Ÿ˜€

Ngomongin minggu ini, akhirnya aku ada waktu juga nih untuk kembali ke gym! Aku rasa menarik juga dimana aku absen hanya selama tiga setengah minggu tetapi terasa sekali tubuhku kok kayak sudah sedikit “melemah”, haha. Beban yang biasanya bisa aku angkat tanpa masalah jadi terasa sedikit lebih berat nih minggu ini, haha!

Anyway, jadi ya memang di Amsterdam akhir-akhir suasananya sungguh meriah!

Amsterdam Light Festival
Advertisements
Contemplation · Thoughts

#2030 – People Are Selfish

ENGLISH

Some time ago, I shared about the day where I encountered a tram disruption which caused me to be late for my haircut appointment and skip grocery shopping that day while I was running out of food at home thus forcing me to eat my emergency supply for dinner that evening. In short, I was really annoyed by the disruption that day.

Later I learned about the cause of the disruption. Apparently, not too long before, there was an accident involving a tram and a car. Some people got hurt that they had to be taken by the ambulance. Obviously the police was later involved in the scene as well.

Upon learning about this cause, I realized one thing: people are selfish.

***

In my opinion, selfishness is necessary for “survival”. At the very basic level, people have to think for themselves to “survive”. But how is taking care of yourself selfish? Well, because by definition then at the time you are prioritizing the need of yourself ahead of others, regardless of the well-being of others. This is why I don’t think the antithesis of selfishness in pure form exists. You can’t please or help everyone, i.e. “feeding” anybody else’s selfishness but yours.

***

My annoyed reaction to the tram delay above is an example of my selfishness. I was annoyed that the tram incident disrupted my grocery shopping plan and haircut appointment. While actually, this “discomfort” was minor in comparison to what the victims had to go through that day as a result of the accident (I don’t think the choices between to have your plan slightly ruined vs to have to be hospitalized is a difficult one to make).

Granted, though, that I didn’t know about the accident when I initially got annoyed. Having said that, while learning about the accident dramatically reduced the level of my annoyance, I felt like my annoyance didn’t get completely wiped out. When I got back home, I had nothing to eat except for my emergency supply (read: Indomie ๐Ÿ˜› ). And I did not like that because I did not consider instant noodles to be a healthy food option to have for dinner. But at the time, I had no other choice (because I did not feel like ordering something as that would have required some more waiting before I could finally have my dinner). I had to accept and deal with it, a situation which appeared to nurture my annoyance.

***

Understanding that to some degree other people will act selfish, perhaps “towards us”, would help in many cases during the course of life, in my opinion. It certainly puts a lot of encounters in perspective. In some cases, I think this helps us to not take things too personally and hence avoiding the “negativity” or “grudges” to enter our mind or heart.

BAHASA INDONESIA

Beberapa waktu yang lalu, aku bercerita mengenai suatu hari dimana ada gangguan layanan tram yang menyebabkanku terlambat untuk appointment potong rambut di sebuah salon dan harus membatalkan rencana belanja grocery hari itu padahal di rumah aku sedang kehabisan stok makanan sehingga malamnya aku mau tidak mau hanya bisa memakan suplai makanan daruratku. Secara singkat, bisa dibilang aku merasa sebal dengan gangguan tramnya hari itu.

Beberapa saat setelah itu, aku baru tahu penyebab gangguannya. Ternyata, tidak lama sebelumnya, ada kecelakaan yang melibatkan sebuah tram dan sebuah mobil. Beberapa orang terluka karenanya dan harus dibawa ambulans ke rumah sakit. Jelas, polisi juga kemudian terlibat di tempat kejadian.

Ketika mengetahui penyebab ini, aku menyadari satu hal: manusia itu egois.

***

Menurutku, keegoisan itu penting loh untuk “kelangsungan-hidup” (survival). Pada dasarnya, manusia harus berpikir dan mengurusi dirinya sendiri untuk “bertahan hidup”. Nah, yang namanya memikirkan atau mengurusi diri sendiri kok egois? Ya karena ketika sedang memikirkan dan mengurusi diri sendiri, artinya kita sedang mementingkan kepentingan diri sendiri dan bukannya kepentingan orang lain kan? Inilah mengapa aku rasa antitesis dari keegoisan dalam bentuk murinya itu tidak ada. Kita tidak bisa selalu memikirkan dan menyenangkan semua orang, dengan kata lain “memberi-makan” keegoisan orang lain tetapi tidak terhadap diri sendiri.

***

Reaksi sebalku terhadap gangguan tram di atas dalam satu contoh keegoisanku. Aku sebal insiden tramnya mengganggu rencana belanja grocery dan appointment potong rambutku. Padahal, “ketidak-nyamanan” ini tidak ada apa-apanya lah ya dibandingin situasi yang harus dijalani korban kecelakaan hari itu (Jelas tidak sulit lah memilih antara menghadapi situasi rencana yang terkacaukan atau harus dilarikan ke rumah sakit).

Memang sih, aku tidak mengetahui adanya kecelakaan ini ketika aku pertama-kali merasa sebal. Walaupun begitu, walaupun mengetahui penyebabnya jauh menurunkan tingkat kesebalanku, aku merasa kesebalanku tidak sama sekali hilang lho. Ketika aku kembali di rumah, aku tidak memiliki makanan apa-apa kecuali persediaan daruratku (baca: Indomie ๐Ÿ˜› ). Dan aku tidak menyukai situasi ini karenaย bagiku mi instan itu bukanlah pilihan makanan yang sehatย apalagi untuk makan malam. Tetapi waktu itu, aku tidak memiliki pilihan lain (karena aku juga ogah memesan delivery sesuatu karena aku harus menunggu lagi sebelum akhirnya bisa makan malam). Aku harus menerima situasi ini, situasi yang ternyata sedikit “menjaga” nyala kesebalanku.

***

Mengetahui bahwa sampai tingkat tertentu orang lain juga akan bertindak egois, mungkin “terhadap kita”, juga akan membantu banget dalam hidup, menurutku sih. Ini membantu dalam memahami suatu situasi. Dalam sebagian kasus, ini membantu kita untuk tidak terlalu memasukkan segalanya ke dalam hati sehingga mencegah pikiran “negatif” dan “kedongkolan” memenuhi pikiran dan hati.

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#2029 – A Winter Weekend in London (Introduction)

ENGLISH

Posts in the A Winter Weekend in London mini series:
1. Introduction
2. Part I: London
3. Part II: The Long Way Home

As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on a weekend trip this weekend. Yep, just literally a week after coming back from my November 2017 trip to Indonesia, I went on another trip! Haha ๐Ÿ˜› Anyway, the destination this time was:

Piccadilly Circus in London

Yes, London, again!! Again as in this was my fourth time visiting London in the last six months or so, haha ๐Ÿ˜› . Why London and, especially, “again”? Well, because why not, haha ๐Ÿ˜› . I mean, I love London!

The main motivation behind this trip was my UK visa that is going to expire soon, so I feel like I need to go there on one more trip before it expires. About the destination, actually I was torn between London or Edinburgh. The flight to Edinburgh was cheaper but I found cheaper hotel in London. However, I had been to London three times already this year while my last trip to Edinburgh was more than five years ago. On the other hand, I loved London! Haha ๐Ÿ˜›

So after going back and forth between the two, in the end I chose London because I found a return flight with departure to London City Airport which in my previous trip there the plane did not land at my favorite runway 09. So I decided to take another chance, who knew I would be luckier this time! (What kind of reasoning is this?) Lolย ๐Ÿ™ˆ.ย Beside, I loved London so I knew I would enjoy this trip anyway.

I also got upgraded (again ๐Ÿ˜†) to Europe Business Class on my flight to London.

However, as my Instagram followers would also have known, not everything went as planned during the trip, especially on the Sunday part. During the weekend, it was snow storming very hard at Schiphol that a lot of flights got cancelled, including all of KLM’s flights to London on Sunday afternoon, including mine. At the time the Monday forecast was also not any good so the uncertainty was high. KLM, though, offered Amsterdam-bound passengers an alternative: that was to take a bus they arranged to travel that afternoon via land to Schiphol. While this certainly was a major inconvenience especially in comparison with the 1 hour flight from London to Amsterdam, at least this way we would arrive in Amsterdam by early morning on Monday (Though they estimated at around midnight).

When all flights to Amsterdam from London get cancelled due to heavy snow at Schiphol and KLM (the airline) arranges a bus service between the two as the best possible solution due to tomorrow's forecast that isn't any better. Funnily I don't think it is that bad because this actually means the fulfillment of a long forgotten bucket list item of mine that is to travel between the Netherlands and London with all possible means of public transport. Bus was the only one missing as I have (obviously) taken many flights, the Eurostar trains, and the ferry boat services! Lol #Zilkos2017WeekendTrip #travelexperience #selfie #Heathrow #HeathrowSelfie #London #England #travelling #travelwoes #winter #winterproblems #snowproblems #UK #๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง #โœˆ๏ธ #experience #bucketlist #thisislife #KL1010 #LHRAMS #KLM #frequentflyer #instaselfie #selfienation #thisiswhyitravel #instawinter #wintergram #HeathrowTerminal4 #instaHeathrow

A post shared by Aurelius Zilko (@azilko) on

I decided to take a spot in the bus. As I said in my Instagram post above, actually I did not think this was *all* bad, haha. At least this way I could cross that item from my bucket list and let’s hope I would never have to go through it again ๐Ÿ˜› .

What would have happened if I did not take this offer, btw? Well, I actually know the answer to this question. During the bus trip, I got a notification that KLM had also rebooked me to the first available flight out of Heathrow to Schiphol that would be on a Tuesday morning, plus compensation to all extra costs (including accommodation and transportation) because of this. But then, of course, I would only arrive in Amsterdam just before noon on Tuesday; and this was, at the time, to assume there would be no prolonged effect of the snow storm on Tuesday morning…

Anyway, here are some teasers from the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri singkat A Winter Weekend in London:
1. Introduction
2. Part I: London
3. Part II: The Long Way Home

Seperti yang followers Instagramku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah perjalanan akhir pekan weekend kemarin ini. Iyaa, cuma seminggu aja setelah balik dari perjalanan November 2017ku ke Indonesia, aku jalan-jalan lagi doong! Haha ๐Ÿ˜› Anyway, kali ini tujuannya adalah:

Piccadilly Circus di London

Iya, London, lagi!! Lagi karena ini adalah kali keempat aku mengunjungi London loh dalam enam bulan terakhir ini, haha ๐Ÿ˜› . Mengapa London dan, terutama, kok “lagi” sih? Ya, kenapa tidak kan, haha ๐Ÿ˜› . Kan aku suka banget dengan London!

Motivasi utamaku di balik perjalanan ini adalah visa UK-kuย yang akan segera habis masa berlakunya, jadi rasanya aku perlu pergi dalam sebuah perjalanan kesana sekali lagi lah sebelum masa berlakunya habis. Untuk masalah tujuan, sebenarnya aku galau banget antara London atau Edinburgh. Tiket pesawat ke Edinburgh lebih murah tetapi aku menemukan hotel yang lebih murah di London. Namun, aku sudah ke London tiga kali sebelumnya tahun ini saja sementara perjalanan terakhirku ke Edinburghย adalah lebih dari lima tahun yang lalu. Tapi di sisi lain, kan aku suka banget dengan London ya! Haha ๐Ÿ˜›

Jadilah setelah galau berlarut-larut di antara keduanya, pada akhirnya aku memilih London soalnya aku menemukan tiket pp dengan keberangkatan ke Bandara London City dimana di perjalanan terakhirku kesana pesawatnya kan tidak mendarat di landasan pacu 09 yang merupakan favoritku itu kan ya. Jadilah aku memutuskan untuk mencoba peruntunganku lagi, siapa tahu kan aku lebih beruntung kali ini! (Alasan macam apa ini?) Huahahaย ๐Ÿ™ˆ. Di samping itu, toh aku suka banget dengan London yang mana berarti aku tahu pasti aku akan menikmati perjalanan ini.

Dan aku juga di-upgrade (lagi ๐Ÿ˜†) ke kelas bisnis Eropa di penerbanganku ke London loh!

Namun, seperti yang followers Instagramku ketahui, tidak semuanya berjalan sesuai rencana, terutama di hari Minggu. Akhir pekan kemarin, terjadiย badai salju parah di Schipholย yang menyebabkan banyak sekali penerbangan dibatalkan, termasuk semua penerbangannya KLM ke London di Minggu siang, termasuk penerbanganku. Waktu itu, ramalan cuaca untuk hari Senin juga tidak begitu baik sehingga ketidak-pastiannya amat besar. KLM, tapinya, memberikan pilihan alternatif bagi penumpang mereka dengan tujuan akhir Amsterdam: yaitu untuk naik bus yang mereka charter untuk pergi ke Schiphol melalui jalur darat di sore harinya. Walaupun jelas ini sangat amat tidak nyaman jika dibandingkan dengan penerbangan 1 jam dari London ke Amsterdam, setidaknya dengan begini kita akan tiba di Amsterdam di hari Senin subuh (Walaupun perkiraan waktu tibanya adalah tengah malam sih).

When all flights to Amsterdam from London get cancelled due to heavy snow at Schiphol and KLM (the airline) arranges a bus service between the two as the best possible solution due to tomorrow's forecast that isn't any better. Funnily I don't think it is that bad because this actually means the fulfillment of a long forgotten bucket list item of mine that is to travel between the Netherlands and London with all possible means of public transport. Bus was the only one missing as I have (obviously) taken many flights, the Eurostar trains, and the ferry boat services! Lol #Zilkos2017WeekendTrip #travelexperience #selfie #Heathrow #HeathrowSelfie #London #England #travelling #travelwoes #winter #winterproblems #snowproblems #UK #๐Ÿ‡ฌ๐Ÿ‡ง #โœˆ๏ธ #experience #bucketlist #thisislife #KL1010 #LHRAMS #KLM #frequentflyer #instaselfie #selfienation #thisiswhyitravel #instawinter #wintergram #HeathrowTerminal4 #instaHeathrow

A post shared by Aurelius Zilko (@azilko) on

Aku memutuskan untuk mengambil pilihan busnya. Seperti yang kutulis di caption Instagramku di atas, sebenarnya waktu itu aku tidak merasa pilihan ini buruk-buruk banget loh, haha. Dengan begini, setidaknya aku bisa mencoret satu item bucket list-ku itu dan mari berharap aku tidak perlu menghadapinya lagi ๐Ÿ˜› .

Nah, apakah yang akan terjadi andaikata aku tidak memilih pilihan bus ini, btw? Kebetulan aku juga tahu jawabannya. Ketika dalam perjalanan dengan bus itu, aku mendapatkan notifikasi dari KLM bahwa mereka sudah me-rebook-ku di penerbangan pertama yang tersedia dari Heathrow ke Schiphol, yaitu di hari Selasa pagi, termasuk kompensasi untuk semua biaya ekstranya (termasuk akomodasi dan transportasi) karena ini. Tetapi, tentu saja, dengan pilihan ini aku baru akan tiba di Amsterdam di hari Selasa siang; dan ini pun, waktu itu, harus dengan asumsi bahwa badai saljunya sudah berlalu di Selasa pagi…

Anyway, di atas adalah beberapa teasers dari perjalanan ini.

Asia Trip · Indonesia Trip · Southeast Asia · Vacation

#2028 – November 2017 Indonesia Trip (Part II: Jakarta)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

From Soekarno-Hatta International Airport, I took a taxi to go straight to my hotel in downtown Jakarta. It was Sunday so the traffic was really clear, haha. Long story short, I arrived at the hotel, checked-in, and went to my room to leave my bags.

My original plan was to rest a little bit at the hotel while waiting for my friend who lived in Jakarta. I told him I would send a message once I was at the hotel. When I got connected to the wifi, it turned out he already asked my whereabout and upon telling him I just checked-in, he mentioned he was already like 10 minutes away! Well, I guess I wouldn’t be able to rest for too long then ๐Ÿ˜› .

The hotel room in Jakarta

I picked my friend up at the lobby and we went to my room as I still needed to organize some of my stuffs. As I mentioned in this post I published while in Jakarta, the main reason I stayed for one night there was for the fitting of my customized suit. I took a quick shower to freshen up before going to Grand Indonesia just nearby where the tailor was located.

The appointment was at 6 PM so I had a hell lot of time to spend before that. But first things first, we had lunch at the foodcourt in the fifth floor. I obviously ordered the legendary “Bakmi GM” along with its famous “pangsit goreng” (fried wonton).

Bakmi GM and pangsit goreng

From there, we walked around the big mall. There were quite many big sale from many shops going on there, and I ended up buying a shirt and a t-shirt. My friend even went crazier, haha.

At 4:30 PM, we found the tailor and my friend suggested me to drop by despite being 90 minutes too early. Who knew I could already fit the suit. I agreed, and indeed the suit was ready. Amazingly, despite having never met anyone from the tailor (They got my measurement only from a formal shirt I bought during my visit to Indonesia last year which we sent to them), everything was perfect, including the formal white shirt and the black trousers! We concluded that there was no need for any alteration and they would ship them to Yogyakarta later that evening with a One Day Service.

The famous water fountain at Grand Indonesia

My agenda completed, we went around the mall again before having dinner at a restaurant in the top floor serving Indonesian-style ribs. From there, we went to a supermarket to buy some stuffs before going back to the hotel because I started to feel really tired! Haha ๐Ÿ˜›

Jakarta in November

My friend and I chatted for hours before he had to leave as he would need to get up early for work the next day. For me, I then took a relaxing bath in warm water before heading to bed, haha ๐Ÿ˜† .

I got up quite late on Monday. My plan was to just take things easy; to go straight to the airport just after checking-out at around noon. I already pre-ordered a taxi, whom already waited for me in the lobby when I was leaving. The traffic was relatively clear today, with “mild” traffic jam nearby the airport, haha. I got off at the brand new Terminal 3 Ultimate of Soekarno-Hatta International Airport.

Garuda Indonesia GA 216 (CGK – JOG)


Flight: Garuda Indonesia GA 216
Equipment: Boeing 737-800 reg PK-GFX
ATD: 19:02 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 19:51 WIB (Runway 09 of JOG)

I was still excited to finally have the experience of using Terminal 3 Ultimate, haha. Indeed, the terminal was much, much better than Terminal 2 (let alone Terminal 1, lol ๐Ÿ˜† )! It felt really spacious and modern!

The check-in area of Terminal 3 Ultimate, Soekarno-Hatta International Airport

I checked-in at the Sky Priority counter and got my boarding pass. The Sky Priority security lane also looked really exclusive!ย Another element I was looking forward too was the new Garuda Indonesia Lounge at the brand new terminal. The lounge turned out to be quite comfortable and spacious. Warm food was also abundantly available but there were little choices for snack.

The Garuda Indonesia Lounge at Terminal 3 Ultimate

Long story short, I left the lounge to go to Gate 13 where my flight would depart from. Again, boarding at Terminal 3 Ultimate amazed me because the air bridge was lit with really cool blue-purple lighting! ๐Ÿ˜› It turned out my flight to Yogyakarta would be operated with PK-GFX, one of Garuda Indonesia’s Boeing 737-800s that were equipped with Sky Interior.

A really cool boarding gate at Terminal 3 Ultimate

We departed on time, but of course there was a long queue to use the departure runway where our flight was number six in the line at the time of arrival. Long story short, finally we got our turn to depart and we took off from runway 25R.

A Garuda Indonesia’s Boeing 737-800 reg PK-GFX at Terminal 3 Ultimate

It was a regular, pleasant, short-haul flight with Garuda Indonesia that evening. There were quite some minor turbulences along the way, which was normal for Indonesia’s rainy season. A snack box and drink service were provided during the course of this short flight. At 19:51, we landed at my favorite runway of Adisutjipto Airport, runway 09, during light rain and so it was not the smoothest landing ever, haha ๐Ÿ˜› .

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, aku naik taksi untuk langsung pergi ke hotelku di kota Jakarta. Hari itu hari Minggu sehingga lalu-lintasnya lancar banget, haha. Singkat cerita, tibalah aku di hotel, check-in, dan kemudian pergi ke kamarku untuk meletakkan barang-barangku.

Rencana awalku adalah untuk beristirahat sejenak di hotel sambil menunggu temanku yang memang tinggal di Jakarta. Ia kuberi-tahu akan aku kirimi pesan begitu aku tiba di hotel. Begitu aku terkoneksi dengan wifi, ternyata ia sudah bertanya posisiku sudah dimana dan ketika kubilang aku baru saja check-in, ternyata ia bilang ia sudah tinggal 10an menit lagi sebelum sampai di hotelku! Yah, kayaknya kalau gini mah aku nggak bakal bisa beristirahat lama-lama juga sih ya ๐Ÿ˜› .

Kamar hotelku di Jakarta

Temanku aku jemput di lobby hotel dan kami pergi ke kamarku dulu karena aku harus merapikan barang-barang bawaanku. Seperti yang kusebutkan di posting yang aku publikasikan ketika di Jakarta ini, alasan utamaku menginap disana adalah untuk fitting jas customized-ku. Aku kemudian mandi kilat untuk menyegarkan diri sebelum pergi ke Grand Indonesia di dekat situ dimana penjahitnya berada.

Waktu perjanjiannya sih jam 6 sore sehingga aku ada banyak waktu sebelum itu. Tetapi pertama-tama, jelas dong kami makan siang dulu di foodcourt di lantai lima. Jelas aku memesan Bakmi GM yang legendaris itu, lengkap dengan pangsit gorengnya yang enak banget itu, haha.

Bakmi GM dan pangsit goreng

Dari sana, kami berkeliling mall-nya yang besar banget itu. Ada banyak big sale dari toko-toko besar loh waktu itu, dan pada akhirnya aku malah jadi membeli kemeja dan kaus baru. Temanku bahkan memborong lebih banyak lagi, haha.

Jam 4:30 sore, kami menemukan lokasi penjahitnya dan temanku bilang untuk mampir aja walaupun terlalu awal 90 menit. Siapa tahu juga kan jasnya sudah siap untuk di-fitting. Aku setuju, dan ternyata betul jasnya sudah siap, haha. Kerennya, walaupun aku belum pernah bertemu dengan siapa pun secara langsung dari penjahitnya (Mereka hanya mendapatkan ukuran tubuhku dari baju resmi yang kubeli di perjalananku ke Indonesia tahun laluย yang kami kirimkan ke mereka), semua ukurannya sudah sempurna dan pas banget loh, termasuk kemeja formal putih dan celana panjang hitamnya! Kami berkesimpulan ini sudah tidak perlu diubah-ubah lagi sehingga mereka akan langsung mengirimkannya ke Yogyakarta nanti malamnya dengan layanan One Day Service.

Air mancur yang terkenal itu di Grand Indonesia

Agendaku terpenuhi, jadilah kami jalan-jalan lagi di mallnya sebelum akhirnya makan malam di sebuah restoran di lantai atas yang melayani menu iga ala Indonesia. Dari sana, kami mampir di supermarket untuk membeli beberapa makanan sebelum akhirnya kembali ke hotel karena aku merasa capek banget! Haha ๐Ÿ˜›

Jakarta di bulan November

Temanku dan aku ngobrol selama beberapa jam setelahnya sebelum ia harus pulang karena keesokan harinya harus bangun pagi untuk berangkat kerja. Untukku, setelahnya aku mandi berendam dengan air hangat sebelum akhirnya tidur. Enak banget lah, hahaha ๐Ÿ˜† .

Aku bangun cukup siang di hari Seninnya. Rencanaku adalah santai-santai saja di hari ini; untuk langsung ke bandara setelah check-out sekitar jam 12 siang. Sebelumnya aku sudah minta untuk dipesankan sebuah taksi, yang sudah menungguku di lobby hotel ketika aku check-out. Lalu lintas ke bandara relatif lancar waktu itu, dengan kemacetan “kecil” di dekat bandara, haha. Aku kemudian diturunkan di Terminal 3 Ultimate yang baru Bandara Soekarno-Hatta itu.

Garuda Indonesia GA 216 (CGK – JOG)


Penerbangan: Garuda Indonesia GA 216
Pesawat: Boeing 737-800 reg PK-GFX
ATD: 19:02 WIB (Runway 25R of CGK)
ATA: 19:51 WIB (Runway 09 of JOG)

Aku masih excited loh karena akhirnya aku bisa merasakan juga Terminal 3 Ultimate yang katanya bagus banget itu, haha. Memang kok, terminalnya jauh lebih bagus daripada Terminal 2 (apalagi Terminal 1, haha ๐Ÿ˜† )! Memang terasa amat lapang dan modern!

Area check-in di Terminal 3 Ultimate, Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Aku check-inย di konter Sky Priority dan mendapatkan boarding pass-ku. Jalur sekuriti khusus Sky Priority-nya juga nampak eksklusif banget! Satu elemen lain yang juga membuatku penasaran adalah Lounge Garuda Indonesia baru di terminal baru ini. Lounge-nya ternyata memang cukup nyaman dan luas juga. Makanan hangat banyak tersedia tetapi sayangnya aku tidak menemukan banyak pilihan makanan ringan.

Lounge Garuda Indonesia di Terminal 3 Ultimate

Singkat cerita, aku meninggalkan lounge untuk pergi ke Gate 13 darimana penerbangangku akan berangkat. Lagi, boarding di Terminal 3 Ultimate itu keren banget ya soalnya gabaratanya diterangi dengan lampu berwarna biru-ungu yang nampak kece banget! ๐Ÿ˜› Penerbanganku ke Yogyakarta hari ini ternyata akan dioperasikan dengan PK-GFX, salah satu Boeing 737-800nya Garuda Indonesia yang dilengkapi dengan Sky Interior.

Gerbang keberangkatan yang kece banget di Terminal 3 Ultimate

Kami berangkat tepat waktu, tetapi tentu saja ada antrian panjang untuk menggunakan landasan pacu keberangkatannya dimana penerbangan kami bernomor-urut enam ketika tiba di antriannya. Singkat cerita, akhirnya giliran kami tiba dan kami lepas landas dari landasan pacu 25R.

Sebuah Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia dengan rego PK-GFX di Terminal 3 Ultimate

Ini adalah penerbangan reguler jarak-pendek yang nyaman dengan Garuda Indonesia malam itu. Ada beberapa turbulensi kecil di sepanjang jalan, wajar sih untuk musim hujan di Indonesia seperti waktu itu kan. Satu kotak snack dan layanan minuman diberikan di penerbangan pendek ini. Jam 7:51 malam, pesawat mendarat di landasan pacu favoritku di Bandara Adisutjipto, landasan pacu 09, ketika sedang hujan gerimis. Jadilah memang pendaratannya bukanlah pendaratan yang paling mulus, haha ๐Ÿ˜› .

BERSAMBUNG…

General Life · Zilko's Life

#2027 – A Very “Colorful” Week

ENGLISH

It has been a full working week since I got back home from my November 2017 Trip to Indonesia. So how has this week been?

Well, as in any other week following a long-haul flight crossing several different time zones, the week started with my body fighting the jetlag, haha. I went to work on Monday and it was quite annoying because the jetlag was still quite strong while at the same time I was tuning back to where I left off at work and tried to catch up on what has been going on while I was away.

Speaking of work, there was a track outing event this Thursday where we went: karaoke-ing after work! Haha ๐Ÿ˜› . Btw it surprised me that karaoke won the votes (We voted for what activity we would like for the track outing). Anyway, it turned out to be really fun! ๐Ÿ˜›

Yeah, so my theme this week was, indeed, mainly about recovery. While generally I was getting better as the week passed by, I wasn’t feeling particularly well in the middle of the week. I think I caught a flu because of the jetlag and also the sudden switch of climate from tropical rainy season to European winter. While the flu wasn’t that bad, it was enough to affect my fitness that day a little bit.

I still managed to go to myย tennis lesson this week but conflicting agenda and the flu prevented me from going to the gym. I actually thought of fighting through the flu and went to the gym in the middle of the week. But I have learned thatย I needed to listen to my body and to think of the bigger picture that is my work and upcoming personal plans. So I cancelled my gym plan and tried to not be too harsh on myself, haha. My health is a priority, right? ๐Ÿ˜›

Speaking of the European winter, this happened yesterday:

Yes, it was snowing!! No matter how many times before I have experienced snow, I still find it very beautiful!!ย ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

So, yeah, this week indeed has been a really “colorful” week for me!!

BAHASA INDONESIA

Sudah satu minggu kerja penuh sekarang semenjak aku kembali dariย perjalanan November 2017ku ke Indonesia. Jadi bagaimanakah mingguku ini?

Yah, seperti minggu-minggu lainnya setelah sebuah penerbangan jarak jauh melintasi beberapa zona waktu yang berbeda, minggu ini dimulai dengan badanku melawan efek jetlag yang masih kuat, haha. Aku pergi ke kantor di hari Senin dan hari itu cukup menyebalkan karena jetlagnya masih kuat sementara aku berusaha untuk mencoba mendapatkan ritme pekerjaanku kembali seperti sebelumnya dan di saat yang sama juga berusaha untuk catch up dengan semua perkembangan yang terjadi ketika aku sedang pergi.

Ngomongin kerjaan, ada acara track outing hari Kamis kemarin ini dimana kami pergi: karaokean sepulang kerja doong! Haha ๐Ÿ˜› . Btw, tidak kusangka-sangka lho bahwa karaoke akan menang dalam voting (Sebelumnya kami voting aktivitas apa yang ingin kami lakukan di track outing). Anyway, ternyata seru banget lho! ๐Ÿ˜›

Ya, jadi ya memang begitu deh temaku minggu ini, pemulihan diri. Walaupun secara umum aku semakin pulih seiring dengan berlalunya minggu ini, aku sempat merasa kurang fit di pertengahan minggu. Kayaknya aku kena flu gitu deh karena kombinasi jetlag dan perubahan cuaca dari musim hujan tropis ke musim dingin Eropa. Walaupun nggak terlalu parah, flunya cukup mempengaruhi fitness-ku hari itu.

Aku masih sempat pergi ke les tenisku minggu ini sih tetapi jadwal agendaku yang tubrukan dan flunya itu membuatku sama sekali tidak bisa pergi ke gym minggu ini. Sebenarnya sempat terbesit pikiran untuk tidak menghiraukan flunya dan tetapi memaksakan diri untuk ke gym di pertengahan minggu itu. Tapi aku sudah belajar bahwa aku perlu untuk mendengarkan tubuhkuย dan memikirkan the bigger picture yaitu pekerjaanku dan rencanaku ke depan ini dalam waktu dekat. Jadilah rencanaku ke gym hari itu kubatalkan dan aku berusaha untuk tidak terlalu kerasa kepada diriku sendiri. Yang namanya kesehatan adalah nomor satu kan? ๐Ÿ˜›

Ngomongin musim dingin di Eropa, kemarin ini terjadi lhoo:

Iyaa, turun salju dooong!! Nggak peduli sudah berapa kali sebelumnya aku bersentuhan dengan yang namanya salju, bagiku salju itu masih indah bangettt!!ย ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Jadi, ya begitu lah. Minggu ini memang telah menjadi minggu yang sungguh “berwarna” bagiku!!

Asia Trip · Aviation · Indonesia Trip · Southeast Asia · Trip Report · Vacation

#2026 – November 2017 Indonesia Trip (Part I: Getting to Indonesia)

ENGLISH

Posts in the November 2017 Indonesia Trip series:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

I chose Garuda Indonesia’s non-stop Amsterdam – Jakarta flight GA89 to get to Indonesia this time.ย This was actually my third time flying this route, as the first two times were three and two years ago, both during the summer.

Starting in late October, Garuda Indonesia operated their Amsterdam route exclusively with their two-class Boeing 777-300ER, a news which I liked because it meant the possibility for me to add new registrations into my logbook. And it turned out I was lucky because Garuda deployed PK-GIK to Amsterdam for my flight today! Aside from being a new registration for me, PK-GIK was also Garuda’s newest Boeing 777-300ER! Yay! :mrgreen:

A Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GIK was on its way to Amsterdam. A screenshot from flightradar24.com

Anyway I left my apartment to arrive at Schiphol just in time before check-in opened. Thanks to my SkyTeam Elite Plus status from Air France/KLM, I could block a seat in the first row of economy class for free (Otherwise I would have had to pay US$80 extra one way for this seat. Yay! ๐Ÿ˜€ ). I also checked-in my luggage (which I got 50 kg allowance thanks to my status ๐Ÿ˜› ) and got my boarding pass. As usual, then I cleared security and immigration, and waited for the flight at KLM’s Crown Lounge.


Flight: Garuda Indonesia GA 89
Equipment: Boeing 777-300ER reg PK-GIK
ATD: 16:09 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 11:14 WIB (Runway 07R of CGK)

Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GIK at Schiphol Airport

I went to the gate a little bit too early, where PK-GIK wasn’t even towed to the gate yet when I arrived there, haha. Long story short, boarding commenced a little bit late and I settled onto my 21K seat. The seat was very comfortable as I got two windows for myself, ample of leg room (for economy standard), and basically free access to the aisle due to the legroom. As a result, I would not need to bother my seatmates whenever I wanted to “go out” of my seat throughout the flight! :mrgreen: The first thing I did after sitting down, however, was to charge my phone via the USB port attached to the seat. Haha ๐Ÿ˜›

My seat 21K on PK-GIK
Charging my phone

I observed the flight was quite full today; while the load factor was certainly not at 100%, I estimated it would be somewhere around 70-80%; not too bad in my opinion considering PK-GIK being configured in two-class, meaning significant increase in capacity in economy class. After the doors were closed, we departed from the gate. The safety demo was played and the flight attendants distributed mineral water. At 16:09, we took off from runway 24 of Schiphol under the rainy Dutch Fall weather.

Taking off from runway 24 of Schiphol during rain

Just after take-off, a snack service was provided which consisted of a bag of peanuts and the flight attendants went another round to distributed the amenity kits, which consisted of a pair of socks, a pair of ear plug, and an eye pad (which is quite a “luxury” in long-haul economy class as not all airlines provided these! Garuda, you rock!).

A mandatory selfie because I paid for the wifi

I decided to purchase the wifi access for the duration of the flight, which price I found fair enough. The cabin was then dimmed with purple mood lighting and the purser announced the planned service throughout the flight. The sun set not long after take-off, probably when we were already somewhere above Czech Republic, thus providing me with this beautiful view from my window:

A sunset view

About an hour after take-off, the dinner service was provided. The choice was chicken with rice or beef with potatoes. I opted for the latter where the beef was served in mustard sauce and potato wedges, which was delicious.ย I accompanied the dinner with Fantastic Beast and Where to Find Them which I watched at the AVOD screen. I started to feel sleepy after the dinner and the movie; but then I made a “mistake” by going to the lavatory which for whatever reason made me “awake” again, lol ๐Ÿ˜† .

The complimentary dinner service on board flight GA89

Nonetheless, I decided to try to sleep anyway by wearing my eye pad, though unfortunately it ended with no avail. Some light snacks (chips, energy bars, and peanuts) were served in the galley, btw. And about eight hours into the flight, the in-between fuel service, in the form of chocolate muffin, was served. The flight attendants were also very attentive. I was wearing my eye pad trying to sleep during the service, so she quietly placed two (!) muffins and a mineral water on my tray (which I intentionally left open as a place holder) without me noticing!

The in-between fuel service: chocolate muffin

I was able to sleep for about an hour after that, and I woke up when we were already above the Bay of Bengal. I noticed the light was already out outside so I peeked out the window and got the following beautiful morning view:

A morning view above the Bay of Bengal

At this point, I decided I would not sleep anymore as we were already approaching Indonesia anyway. So I turned on the AVOD and watched Despicable Me 3, haha. It was a nice coincidence btw that I watched Despicable Me 2 also on board flight GA89 to Indonesia two years ago! ๐Ÿ˜›

The flight entered Indonesia from the north of Sabang, then passed Lake Toba down along the island of Sumatra to Jakarta. During this time, the breakfast service was provided where the options was a chicken frittata or beef with yellow rice. I opted for the latter which was quite delicious too!

The breakfast service on board flight GA89

At about 11 AM, the flight started its descend towards Soekarno-Hatta International Airport and the cabin crews prepared for landing.

Earlier the first officer mentioned we would land at runway 25R, but eventually we landed at runway 07R of Soekarno-Hatta International Airport. Here is the landing video:

PK-GIK then had to make the long taxi all the way to Terminal 3 Ultimate. I was quite excited about this because it would be my first time ever using this brand new terminal! Haha ๐Ÿ˜› . I got off from PK-GIK and entered the arrival area, which turned out to be just an alley leading to immigration and the arrival hall.

Speaking of immigration, upon check-in at Schiphol I was given the following card:

A Fast Track card

thanks to my SkyTeam Elite Plus status. Yep, a “Fast Track” card so I could use the priority lane at immigration in Jakarta! It was quite helpful as there were a few international arrivals at around the same time! Yeay Garuda! ๐Ÿ˜€

The baggage area of Terminal 3 Ultimate

My luggage was also one of the first to come out in the carrousel thanks to the priority label. I then went out the terminal building and got a taxi to go to Jakarta for the first time in more than seven years.

TO BE CONTINUED…

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri November 2017 Indonesia Trip:
1. Introduction
2. Part I: Getting to Indonesia
3. Part II: Jakarta
4. Part III: Yogyakarta
5. Part IV: The Wedding
6. Part V: Solo
7. Part VI: Back to Europe

Aku memilih untuk terbang dengan penerbangan non-stop Garuda Indonesia Amsterdam – Jakarta GA89 untuk berangkat ke Indonesia kali ini. Ini adalah kali ketiga aku menaiki peenrbangan ini, dengan yang dua pertama adalah tigaย dan dua tahunย yang lalu, yang mana keduanya adalah di musim panas.

Mulai Oktober lalu, Garuda Indonesia mengirimkan pesawat Boeing 777-300ER yang dikonfigurasi dengan dua kelas saja untuk rute Amsterdam, sebuah berita yang kusukaiย karena berarti aku jadi berkesempatan menambah registrasi baru ke dalam logbook-ku. Dan ternyata aku beruntung karena Garuda mengirimkan PK-GIK ek Amsterdam kali ini! Selain registrasi baru, PK-GIK jugalah Boeing 777-300ERnya Garuda yang paling baru! Hore! :mrgreen:

Sebuah Boeing 777-300ER milik Garuda Indonesia dengan rego PK-GIK dalam perjalanan ke Amsterdam. Screenshot dari flightradar24.com

Anywayย aku berangkat dari apartemenku ke Schiphol pas ketika check-in dibuka. Dengan status SkyTeam Elite Plus-ku dari Air France/KLM, aku bisa mem-block seat kursi di deretan pertama ekonomi dengan gratis loh (Tanpa status itu, aku harus membayar ekstra US$80 sekali jalan untuk kursi ini. Lumayan lah ya! ๐Ÿ˜€ ). Aku juga meng-check-in-kan bagasiku (yang mana aku mendapatkan jatah 50 kg dengan statusku ๐Ÿ˜› ) dan mendapatkan boarding pass. Seperti biasa, setelah pemeriksaan sekuriti dan imigrasi, aku menunggu di Crown Lounge-nya KLM.


Penerbangan: Garuda Indonesia GA 89
Pesawat: Boeing 777-300ER reg PK-GIK
ATD: 16:09 CET (Runway 24 of AMS)
ATA: 11:14 WIB (Runway 07R of CGK)

Sebuah Boeing 777-300ERnya Garuda Indonesia dengan rego PK-GIK di Bandara Schiphol

Aku sampai di gerbang agak terlalu awal hari ini, dimana bahkan PK-GIK belum di-tow ke sana ketika aku tiba, haha. Singkat cerita, boarding dimulai sedikit terlambat dan aku duduk nyaman di kursi 21K-ku. Oh iya kursinya enak lho dimana aku mendapatkan dua jendela untukku sendiri, leg room yang lapang banget (untuk ukuran ekonomi), dan pada dasarnya akses bebas ke lorong karena leg room-nya yang lapang itu. Sebagai akibatnya, aku nggak harus mengganggu orang yang duduk di sebelahku untuk “keluar” dari kursiku di sepanjang penerbangannya! :mrgreen: Hal pertama yang kulakukan setelah duduk adalah meng-charge hapeku dengan USB port yang berada di kursinya. Haha ๐Ÿ˜›

Kursi 21K di dalam PK-GIK
Meng-charge hapeku

Aku amati penerbangan hari ini cukup penuh juha; walaupun memang nggak 100% sih, aku estimasi sekitar 70-80% lah; lumayan sih menurutku mengingat PK-GIK dikonfigurasi dengan dua kelas, yang mana berarti peningkatan kapasitas yang signifikan di kelas ekonomi. Setelah pintu ditutup, penerbangan berangkat. Video keselamatan dimainkan dan para pramugari kemudian membagikan air putih botolan kepada penumpang. Jam 16:09, pesawat lepas landas dari landasan pacu 24 Bandara Schiphol di bawah guyuran hujan Belanda di musim gugur.

Lepas landas dari landasan pacu 24 Bandara Schiphol ketika hujan.

Setelah lepas landas, layanan snack ringan dibagikan yang mana terdiri dari sebungkus kacang dan minuman; dan setelahnya pramugari kembali berkeliling membagikan amenity kits yang terdiri dari sepasang kaus kaki, sepasang sumbat telinga, dan sebuah penutup mata (yang mana merupakan suatu “kemewahan” loh di penerbangan ekonomi jarak-jauh karena tidak semua maskapai menyediakannya! Garuda, kamu keren!).

Wajib selfie dong karena aku kan membeli paket wifi-nya.

Aku juga memutuskan untuk membeli akses wifi untuk keseluruhan durasi penerbangan, yang mana menurutku harganya pantas lah.ย Mood lightingย keunguan kemudian dimainkan di dalam akbin dan purser mengumumkan layanan di sepanjang penerbangan. Matahari terbenam tak lama kemudian, ketika kami berada di atas Ceko, yang mana pemandangan dari jendelanya keren banget kayak gini:

Pemandangan matahari terbenam

Sekitar satu jam setelah lepas landas, layanan makan malam dibagikan. Pilihannya adalah ayam dengan nasi atau daging sapi dengan kentang. Aku memilih yang kedua yang mana daging sapinya dimasak dengan saus mustard dan dilengkapi dengan potato wedges, yang mana enak!ย Aku makan malam sambil menontonย Fantastic Beast and Where to Find Themย dari layar AVODnya. Setelah makan malam dan selesai menonton film, aku mulai merasa ngantuk; tetapi kemudian aku membuat “kesalahan” dengan pergi ke toilet karena entah mengapa, ketika kembali duduk aku jadi “nggak ngantuk” lagi dong, haha ๐Ÿ˜† .

Layanan makan malam di penerbangan GA89 kali ini.

Toh aku tetap memaksakan diri untuk mencoba tidur, yang mana akhirnya gagal juga, haha. Beberapa cemilan ringan (chips, energy bars, dan kacang) disajikan di galley, btw. Sekitar delapan jam setelah berangkat, layanan in-between fuel yang kali ini berupa kue muffin coklat dibagikan. Pramugarinya perhatian banget lho. Ceritanya aku kan mengenakan eye padย untuk mencoba tidur, ia kemudian meletakkan dua (!) buah muffin dan air mineral di tray-ku lho (yang memang sengaja aku buka untuk menaruh barang) tanpa membangunkanku!

Layanan in-between fuel kali ini: coklat muffin

Aku akhirnya berhasil tidur juga selama sekitar satu jam setelahnya, dan aku terbangun kembali di atas Teluk Bengal. Aku perhatikan sepertinya di luar sudah terang, jadilah aku mengintip keluar jendela dan mendapatkan pemandangan pagi kece ini:

Pemandangan pagi di atas Teluk Bengal

Di waktu ini, aku memutuskan untuk nggak tidur lagi lah karena toh sudah hampir masuk Indonesia juga kan. Jadilah layar AVODnya kunyalakan lagi dan aku menonton Despicable Me 3, haha. Kebetulan lho dimana aku menonton Despicable Me 2 juga di peenrbangan GA89 ke Indonesia dua tahun yang lalu! ๐Ÿ˜›

Pesawat memasuki area Indonesia dari arah utara Sabang, kemudian terbang di atas Danau Toba dan di atas pulau Sumatra menuju Jakarta. Di waktu ini, layanan sarapan dibagikan. Pilihannya adalah frittata ayam atau daging sapi dengan nasi kuning. Aku memilih yang kedua yang mana enak juga!

Layanan sarapan di penerbangan GA89

Sekitar jam 11 pagi, pesawat mulai turun menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan awak kabin mulai bersiap-siap untuk mendarat.

Sebelumnya, first officer menyebutkan kami akan mendarat di landasan pacu 25R, tetapi akhirnya kami mendarat di landasan pacu 07R Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Berikut ini video pendaratannya:

PK-GIK harus taxiing agak jauh menuju Terminal 3 Ultimate. Aku lumayan excited dengan ini karena ini adalah kali pertama aku akan menggunakan terminal baru ini! Haha ๐Ÿ˜› . Aku turun dari pesawat dan memasuki area kedatangan, yang mana ternyata hanya lah lorong untuk menuju imigrasi dan area pengambilan bagasi.

Ngomongin masalah imigrasi, ketika check-in di Schiphol aku diberikan kartu khusus ini:

Kartu Fast Track

karena status SkyTeam Elite Plus-ku. Iya, kartu “Fast Track” dimana aku bisa menggunakan jalur prioritas di antrian imigrasi di Jakarta! Ini lumayan membantu lho karena waktu itu ada beberapa kedatangan internasional di waktu yang hampir sama! Hore Garuda! ๐Ÿ˜€

Area bagasi di Terminal 3 Ultimate

Bagasiku juga termasuk salah satu yang dikeluarkan pertama karena label prioritasnya. Aku kemudian keluar dari gedung terminal dan menaiki sebuah taksi untuk pergi ke Jakarta untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun lebih.

BERSAMBUNG…

Aviation

#2025 – Platinum

ENGLISH

Aside from getting my PhD degree and buying my own apartment, I had another life target this year. And this life target was achieved as made official by me receiving this earlier this week:

Flying Blue Platinum

Yes people, I achieved theย Platinum status on Flying Blue!ย ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ.

Well, with the well-documented number of flights I have taken this year, this is actually not really a surprise in my opinion, haha ๐Ÿ˜† . Indeed I flew a lot this year. I first reached Gold, the status just below Platinum, in October two years ago and I requalified to maintain this Gold statusย in late July last year. This year, however, with my HOP! Regional AF1324 from Paris – CDG to Bremen flight in early June, I already requalified for Gold for 2018! Yep, literally in less than half a year!ย So I figured that if this flying frequency, somehow, would hold for the rest of the year, it wouldn’t be “difficult” for me to reach Platinum given that Platinum’s threshold is (about) twice of Gold’s.

My KLM KL 964 flight with this Boeing 737-700 reg PH-BGN from Newcastle to Amsterdam sealed my Platinum deal.

And my KLM flight 964 from Newcastle to Amsterdam in early November sealed the deal. This flight counted as my 60th flight this year meaning that I officially crossed the threshold needed to reach Platinum!ย ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ.

In terms of SkyTeam alliance, there is not so much difference between Gold and Platinum as both qualify for the “SkyTeam Elite Plus” status. However, as I am based in the Netherlands, the difference is more prominent as Flying Blue is the frequent flyer programme of Air Franceโ€“KLM. And since Air Franceโ€“KLM has strong partnership with Delta, this could certainly mean something too if I would fly Delta, haha.

My first flight as a Flying Blue Platinum member was with this Garuda Indonesia’s Boeing 777-300ER reg PK-GIK as flight GA89 from Amsterdam to Jakarta.

In a sense this is cool too that I reach Platinum exactly before my trip to Indonesia this November. This means that I will get extra frequent flyer miles bonus just because of this. Yeay! Haha ๐Ÿ˜›

Anyway, cheers for Platinum! ๐Ÿ˜›

Source: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu

BAHASA INDONESIA

Di sampingย mendapatkan gelar PhDkuย danย membeli apartemenku sendiri, aku memiliki satu target hidup lagi tahun ini. Dan target ini tercapai yang mana disimbolkan denganku yang dikirimi ini awal minggu ini:

Flying Blue Platinum

Iyaa, jadi resmi sudah aku mencapaiย status Platinum di Flying Blue!!ย ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ.

Yah, dengan banyaknya penerbanganku tahun ini yang terdokumentasikan dengan baik di sini, aku rasa ini tidak mengherankan ya, haha ๐Ÿ˜† . Memang aku banyak terbang kok tahun ini. Aku pertama kali mencapai status Gold, satu level di bawahnya Platinum, di bulan Oktober dua tahun laluย dan aku berhasil mempertahankan status Gold ini diย akhir Juli tahun lalu. Tahun ini, denganย penerbangan HOP! Regional AF1324 dari Paris – CDG ke Bremenย di awal Juni, status Gold ini berhasil kupertahankan! Yep, dalam waktu kurang dari enam bulan dong! Jadilah aku pikir-pikir, andaikata frekuensi terbangku ini tetap seperti itu, aku rasa tidak “sulit” lah ya untukku mencapai Platinum karena batas persyaratan untuk Platinum adalah (sekitar) dua kali lipat dari Gold.

Penerbangan KLM KL 964 dengan Boeing 737-700 rego PH-BGN ini dari Newcastle ke Amsterdam memastikan aku naik level ke tingkat Platinum.

Danย penerbangan KLM 964 dari Newcastle ke Amsterdam-ku awal November ini memastikannya. Penerbangan ini terhitung sebagai penerbangan ke-60ku tahun ini yang mana artinya resmi aku melewati batas minimal untuk mencapai level Platinum!ย ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ.Sebenarnya, dari sudut pandang aliansi SkyTeam, tidak ada banyak perbedaan dari Gold dan Platinum karena dua-duanya terkualifikasikan dalam status “SkyTeam Elite Plus” (Sebagai perbandingan, hanya Garuda Miles Platinum saja yang masuk dalam status aliansi ini). Namun, karena basisku adalah di Belanda, perbedaan ini lebih terasa karena Flying Blue adalah program frequent flyer-nya Air Franceโ€“KLM. Dan karena Air Franceโ€“KLM juga memiliki kerja-sama yang amat kuat dengan Delta, perbedaan ini juga terasa apabila aku terbang dengan Delta, haha.

Penerbangan perdanaku sebagai anggota Flying Blue Platinum adalah dengan pesawat Garuda Indonesia Boeing 777-300ER rego PK-GIK ini sebagai penerbangan GA89 dari Amsterdam ke Jakarta.

Di satu sisi ini asyik juga sih dimana status ini aku capai tepat sebelum perjalananku ke Indonesia November ini. Ini artinya, aku mendapatkan bonus poin frequent flyer yang lebih banyak hanya karena naik status. Hore! Haha ๐Ÿ˜› .

Anyway, cheersย untuk Platinum! ๐Ÿ˜›

Source: http://giphy.com/gifs/leonardo-dicaprio-drinking-fireworks-GCLlQnV7wzKLu