North America Trip, USA, Vacation

#2174 – The Big Three Oh Trip (Introduction)

ENGLISH

Posts in the Big Three Oh Trip series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights Drama
3. Part II: Premium Economy to New York
4. Part III: New York
5. Part IV: The 2018 US Open
6. Part V: New York Attractions
7. Part VI: Washington D.C.
8. Part VII: The National Mall
9. Part VIII: The Museums in D.C.
10. Part IX: Back to Europe

Last week, I was back in the Netherlands from my Big Three Oh Trip to New York and Washington, D.C. This trip happened because I would like to celebrate the “coming of age” moment of becoming a 30 year old this year, lol ๐Ÿ˜† . And as a birthday gift, I bought myself a US Open Final ticket. I felt like this was a perfect opportunity to get one step closer to achieving my dream of completing the “Career Grandslam” (that is to visit all four grandslam tournaments in tennis) ๐Ÿ˜† . After this trip, I am now three quarters of the way to get there ๐Ÿ˜€ .

My third unique grandslam tournament!

And to top it off, I also got to see Serena Williams in that final! This made the ticket price, which cost much more than a similar French Open or Wimbledon ticket, feel much “cheaper”! Haha ๐Ÿ˜† . Even though, as many of us perhaps have known or read about, the match turned … really controversial. This wasn’t necessarily “bad” for my experience, btw, as actually in a way, this was also “exciting” in its own way. Do you know what I mean?

At the Arthur Ashe Stadium this year!

Anyway, New York was super amazing, just as how I remembered itย from two andย a half years ago. Though, this time I did not visit too many paid attractions in the city (I already blew my trip budget on this post on the US Open ticket, lol ๐Ÿ˜† ). Well, only one, though, that was the One World Observatory deck at the new One World Trade Center in Lower Manhattan. But the city itself was a big and cool attraction on its own. And this was not limited only to the physical buildings or parks, but also included the “people”.

Times Square in New York

To me, one special thing about New York is actually how “vibrant” the city is in terms of the people. There are a lot of people everywhere, at every time, and they all move around really fast! This certainly is overwhelming, but I actually love and enjoy being overwhelmed this way! :mrgreen:ย This New York atmosphere made Washington D.C. felt really “laid-back”; and I really felt this contrasting experience just after arriving at D.C. from New York, lol ๐Ÿ˜† .

The charm of Washington D.C. was definitely different than of New York. Being the capital of the United States, I felt like the city was tied closer to the US History and, obviously, the US politics. For once, there were an abundant amount of memorials throughout the city, and they were dedicated to former presidents (like Abraham Lincoln, Thomas Jefferson), historical figure (Martin Luther King, Jr), or historical events (The Vietnam War, The World War II, etc). And, of course, there was the White House, which turned out to be smaller than I thought it was!

The White House was smaller than I thought.

But what surprised me the most from D.C. was … the museums!! First of all, there were tons of museums throughout the city. And second of all, of those that I went to, they were really, really, really good museums! Like, really good and I thoroughly enjoyed my visit! And, to top it off, as I only went to the ones managed by the Smithsonian Institute, they did not charge any entrance fee!! This was certainly great news for my basically zero attractions budget for this trip! ๐Ÿ˜› Oh, and they provided free wifi as well, lol ๐Ÿ˜† .

With THE original studio model of the USS Enterprise NCC1701 from Star Trek: The Original Series at the National Air and Space Museum

So, yeah, I certainly enjoyed this one a half week trip; which went by really fast! I thought I had just arrived in New York when I had to head to Dulles International Airport in D.C. to go back to Europe on Saturday. But this trip also became memorable from the flights point of view, btw. My luggage got missing TWICE on this trip (while I had been lucky enough up to this point to have never experience this, lol ๐Ÿ˜† ) due to a two-hour delay resulting in a tight connection at Paris-CDG and a last-minute change of itinerary which took place due to a bad weather forecast. Though, on the flip side, I got upgraded to Premium Economy on my Air France flight from Paris to New York, haha…

Got upgraded to Premium Economy!

But all in all, this was a great and, certainly, memorable trip which I thoroughly enjoyed. In fact, I sufferred from “post-vacation blues” in the following week where I returned to my “reality”, lol ๐Ÿ˜† .ย Anyway as usual, here are some photos as teasers from this amazing trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri Perjalanan Besar Tiga Nol:
1. Introduction
2. Part I: The Flights Drama
3. Part II: Premium Economy to New York
4. Part III: New York
5. Part IV: The 2018 US Open
6. Part V: New York Attractions
7. Part VI: Washington D.C.
8. Part VII: The National Mall
9. Part VIII: The Museums in D.C.
10. Part IX: Back to Europe

Minggu lalu, aku kembali di Belanda dariย Perjalanan besar Tiga Nol-ku ke New York dan Washington, D.C. Perjalanan ini aku adakan untuk merayakan momen “akil balig”-kuย yaitu menjadi berusia 30 tahun tahun ini, haha ๐Ÿ˜† . Sebagai hadiah ulang-tahun untuk diriku sendiri, aku membeli tiket final US Open. Aku merasa ini adalah momen yang pas untuk melangkah satu langkah lebih dekat dalam upaya melengkapi keinginanku untuk mendapatkan “Career Grandslam” (telah mengunjungi kesemua empat turnamen grandslam di tenis), haha ๐Ÿ˜† . Setelah perjalanan ini, aku sudah tiga perempat jalan untuk memenuhinya ๐Ÿ˜€ .

Turnamen grandslam ketigaku!

Dan di atas itu semua, bisa-bisanya aku mendapatkan Serena Williams di final itu! Ini membuat harga tiketnya, yang mana jauh lebih mahal daripada tiket yang serupa di French Open ataupun Wimbledon, terasa jauh “lebih murah”! Haha ๐Ÿ˜† . Walaupun, seperti yang banyak dari kalian sudah ketahui atau baca-baca sih, pertandingan itu menjadi … sebuah pertandingan yang kontroversial. Eh tapi ini tidak semata-mata membuat pengalamannya menjadi “buruk” sih, karena kejadian ini juga lah “exciting” dengan caranya sendiri. Ngerti nggak maksudnya?

Di Stadion Arthur Ashe tahun ini!

Anyway, New York sendiri jelas seru dan keren banget lah, seperti yang kuingat dariย dua setengah tahunย yang lalu. Walaupun kali ini aku tidak banyak mengunjungi atraksi-atraksi berbayar terkenal di kota ini (karena budget-ku untuk pos ini di perjalanan ini sudah kuhabiskan untuk tiket US Open itu, huahaha ๐Ÿ˜† ). Eh, cuma satu atraksi berbayar aja sih, yaitu One World Observatory deck di gedung One World Trade Center yang baru itu di Lower Manhattan. Eh tapi toh kota New York sendiri juga adalah atraksi yang besar dan keren sih. Dan ini tidak sebatas bangunan-bangunan fisiknya saja, tapi juga aspek “orang-orangnya”.

Times Square di New York

Untukku, hal yang spesial dari New York adalah bagaimana “hidup” kotanya dalam hal orang-orangnya. Dalam artian, ada banyak sekali orang dimana-mana, di setiap waktu, dan semuanya bergerak dengan kecepatan yang tinggi! Jelas ini overwhelming, tapi justru aku sangat suka dan menikmati perasaan overwhelming semacam ini! :mrgreen: Atmosfer New York ini membuat Washington D.C. terasa “santai” banget; dan kekontrasan ini sungguh aku rasakan ketika aku baru saja tiba di D.C. dari New York, haha ๐Ÿ˜† .

Pesona Washington D.C. jelas sangat berbeda dari New York. Yang namanya ibukota Amerika Serikat (AS), aku merasa kotanya jauh lebih terikat dengan Sejarah AS dan, jelas, politik AS lah ya. Misalnya saja, ada banyak banget monumen/area peringatan di kotanya yang didedikasikan untuk mantan-mantan presiden (misalnya Abraham Lincoln, Thomas Jefferson), tokoh-tokoh bersejarah (Martin Luther King, Jr), atau kejadian-kejadian bersejarah (Perang Vietnam, Perang Dunia II, dll). Dan, tentu saja Rumah Putih (White House maksudnya) ada di sana juga, yang mana ternyata berukuran lebih kecil daripada bayanganku sebelumnya!

White House ternyata berukuran lebih kecil daripada apa yang aku bayangkan.

Tapi yang paling mengejutkanku dari D.C. adalah … museum-museumnya!! Pertama-tama, ada banyak banget museum di seluruh penjuru kota. Dan yang kedua, museum-museum yang kukunjungi itu bagus-bagus banget, nget, nget dong! Dan, di atas itu semua, karena aku hanya sempat mengunjungi museum yang dikelola oleh Institusi Smithsonian, biaya masuk museumnya pun gratis!! Ini jelas adalah berita baik untuk budget atraksiku yang pada dasarnya nol untuk perjalanan ini! ๐Ÿ˜› Oh, dan di atas itu semua, museum-museumnya menyediakan wifi gratis pula loh, haha ๐Ÿ˜† .

Dengan model studio aslinya USS Enterprise NCC1701 dari Star Trek: The Original Series di National Air and Space Museum

Memang aku sungguh menikmati perjalanan sepanjang satu setengah minggu ini, yang terasa berlalu cepat banget dong! Rasanya aku baru saja tiba di New York ketika aku harus berangkat ke Bandara Internasional Dulles di Washington D.C. untuk kembali ke Eropa di hari Sabtu. Eh tapi perjalanan ini juga menjadi agak berkesan dari sisi penerbangannya juga nih, btw. Bagasiku hilang DUA KALI dong di perjalanan ini (yang mana sampai waktu itu aku cukup beruntung dimana aku belum pernah mengalami yang namanya kehilangan bagasi ini, haha ๐Ÿ˜† ) karena delay dua jam yang mengakibatkan waktu transit menjadi amat singkat di Paris-CDG dan juga akibat perubahan itinerary akibat ramalan cuaca yang buruk. Walaupun, di sisi positifnya, aku di-upgrade ke kelas Premium Economy loh di penerbangan Paris ke New York-ku, haha…

Di-upgrade ke Premium Economy!

Tapi secara keseluruhan, perjalanan ini sungguh seru dan berkesan sekali kok, yang mana sangat amat aku nikmati. Malahan, aku terkena sindrom “pasca-liburan” dah selama semingguan setelah kembali ke “realita”, haha ๐Ÿ˜† . Anyway seperti biasa, di atas aku unggah pula beberapa foto sebagai teasers dari perjalanan ini.

Advertisements
General Life, Zilko's Life

#2173 – This Week Story

ENGLISH

So it has been almostย one week since I came back from my Big Three Oh Trip to New York and Washington, D.C. So, how has this one week been?

As I already mentioned, I started this week … with feeling jetlagged! Though this was not surprising at all given the six hours time difference between the US East Coast and the Netherlands. Having said that, the jetlag recovery took much quicker than I anticipated. I was basically almost over from it by Wednesday! This speed was really surprising to me (in a good way obviously); and I would wildly guess this might partly be because this year alone I have recovered from two worse jetlag? I mean, six hours difference was “peanut” compared to seven with Chicago/New Orleans, let alone nine with Los Angeles/San Francisco? Lol ๐Ÿ˜†

But unfortunately jetlag was not the only thing I was battling with this week. I caught a small, but annoying, flu during the trip. I started getting the symptom on my last day in Washington D.C., and it became worse earlier this week. And so I supplemented myself with vitamin C and combat it with a flu tablet as well. The rather unpleasant weather of New York and Washington D.C. might play a role on this, I suppose. And, to be honest, the flu was more bothersome and annoying than the jetlag, lol. But it’s ok, I am already feeling much better now ๐Ÿ˜€ .

Anyway, also quite surprisingly, this week turned out to be a productive week for me, especially at work, which made me really happy! I guess the effect of the vacation kicked in right away!! :mrgreen:

But on the other hand, I was also quite annoyed with my pre-vacation self because I was running out of almost everything at home; and I was procrastinating too much in resupplying them. Compounding the problem was that I did not take notes on anything I was running out, or low, of. As a result, literally for almost every day of this week, I had to stop by at the supermarket to buy something, because I forgot about it the previous day(s)! This was quite annoying, lol ๐Ÿ˜† .

So yeah, this one week has quite been an interesting, but overall good, ordinary week for me ๐Ÿ™‚ .

Also … I have started writing posts about my trip to New York ๐Ÿ˜€

BAHASA INDONESIA

Jadi ceritanya sudah hampirย satu minggu semenjak aku kembaliย dariย Perjalanan Besar Tiga Nolkuย ke New York dan Washington, D.C. Bagaimana nih seminggu ini?

Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, minggu ini aku mulai dengan … jetlag! Jelas ini tidak mengherankan karena perbedaan waktu enam jam itu antara Pantai Timurnya Amerika dan Belanda kan ya. Walaupun begitu, pemulihanย jetlag-nya berlangsung lebih cepat daripada sangkaanku lho. Pada dasarnya bahkan aku sudah hampir pulih total darinya di hari Rabu! Kecepatan ini mengejutkanku (secara positif tentunya); dan aku duga (asal-asalan) mungkin sebagian karena tahun ini aja aku sudah pulih dari dua jetlag lain yang lebih parah? Maksudku, enam jam mahย “kecil” ya kalau dibandingkan dengan tujuh dengan Chicago/New Orleans, apalagiย sembilan dengan Los Angeles/San Francisco? Huahaha ๐Ÿ˜† .

Tetapi sayangnya jetlag bukanlah satu-satunya hal yang harus aku lawan minggu ini. Ternyata aku mulai flu, kecil sih, di perjalanan kemarin ini. Aku mulai merasakan gejalanya di hari terakhirku di Washington, D.C., dan kemudian bertambah parah awal minggu ini. Jadilah aku minum vitamin C untuk menambah stamina, juga sekalian minum obat flu deh. Aku duga mungkin penyebabnya adalah cuaca di New York dan Washington D.C. yang memang kurang begitu bersahabat ya? Dan, sejujurnya, flunya lebih menyebalkan dan mengganggu deh daripada jetlag-nya, haha. Tapi nggak apa-apa kok, sekarang ini sudah jauh terasa lebih enakan, hehe ๐Ÿ˜€ .

Anyway, juga yang lumayan mengejutkan adalah, minggu ini aku produktif banget loh, terutama di kantor, yang mana tentu membuatku merasa senang! Aku duga mungkin efek dari liburannya langsung bekerja ampuh ya!! :mrgreen:

Tetapi di sisi lain, aku juga merasa sebal dengan diriku sebelum liburan karena minggu ini aku hampir kehabisan segalanya di rumah deh; dikarenakan aku menunda-nunda sih dulu dalam membeli/mengisi kembali barang-barang yang stoknya di rumah habis. Yang bikin tambah bermasalah, aku juga dulu tidak mencatat apa saja yang (hampir) habis. Sebagai akibatnya, setiap hari loh seminggu ini aku harus mampir di supermarket untuk membeli sesuatu, karena aku tidak ingat/kelupaan tentangnya di hari(-hari) sebelumnya! Menyebalkan deh! Hahaha ๐Ÿ˜† .

Jadi ya begitu deh, satu minggu ini adalah satu minggu biasa yang menarik, tapi secara keseluruhan masih baik lah, untukku ๐Ÿ™‚

My Interest, Review, TV Show

#2172 – Star Trek The Original Series

ENGLISH

After finishing the entire four seasons of Black Mirror, I decided to give Star Trek The Original Series (TOS) a try.

Actually I had heard or read of great stuffs about this classic series from the 1960s. Basically all information that I got about this show was that it was highly recommended. However, you may call me shallow for this, but I hadn’t had the interest to watch this series mainly because of … the visual reason! Lol ๐Ÿ˜† . I believed it would be very difficult for me to be able to enjoy a series with very “out of date” visual.

Btw I actually had watched some of the movies based on this series that were produced in the 1980s and the 1990s, and I actually enjoyed them. The one that left the most impression on my memory was Star Trek IV: The Voyage Home, which was released in 1986 but I only watched some ten years later in the 1990s (obviously as I hadn’t even been born yet in 1986 ๐Ÿ˜› ).

Anyway, I figured that trying out one episode of the series wouldn’t hurt. I decided to give it a go and to decide afterwards if I would like to continue or not. To my surprise, I actually enjoyed it!! The “outdate” visual did not bother me that much (Though, granted, I got the remastered version from my Netflix which improved the quality of the visual, especially the effect, a lot. This admittedly helped); and the story was actually great and “in line” with my “conception” of Star Trek. And so since then I decided to give it a go!! ๐Ÿ˜€ And I can say that I am glad now that apparently, I am not that “shallow” afterall, haha ๐Ÿ˜› .

And indeed the series was a classic one! Needless to say, so far I have really been enjoying it; and I now wonder less why it was decided that the newer “installments” (the movies series that have been produced since 2009 and Star Trek: Discovery) would anchor on TOS rather than the “Next Generation” era. I believe part of that reason was that because TOS was more “raw”, as in the storyline was less political and focused less on human internal conflicts (hence “simpler”) which allowed for more “action”; but all these were still in good balance which made the series a classic one!

In a sentence: I truly enjoy this series! Too bad it only lasted for three seasons, though…

Having said that, being produced in the 1960s, certainly the series was also influenced by that era. One of the easiest thing to notice was the role of some of the female characters and how these characters were portrayed. Certainly it is not fair, nor right, to view this portrayal using today’s perspective, so let’s just say that I am very happy with how the human race has progressed in the last 50 years or so! Though, in a way the following line by Capt. Janeway in Star Trek: Voyager summarized this really well.

So, have any of you watched this series as well? And if so, what is your take on it?

BAHASA INDONESIA

Setelah selesai menonton keseluruhan empat musim dari Black Mirror, aku memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Star Trek The Original Series (TOS).

Sebenarnya sudah sering aku mendengar atau membaca hal-hal positif tentang serial klasik dari tahun 1960an. Pada dasarnya segala informasi yang kudapatkan tentangnya adalah acara ini sangat amat direkomendasikan. Masalahnya, boleh deh aku dibilang dangkal karena ini, sebelum ini aku tidak begitu tertarik untuk mengikutinya karena … alasan visual! Haha ๐Ÿ˜† . Sulit kubayangkan aku bisa menikmati sebuah serial yang visualnya “ketinggalan zaman” banget.

Btw aku sebenarnya sudah pernah menonton beberapa film berdasarkan serial ini yang diproduksi di tahun 1980 dan 1990an, dan sebenarnya aku menikmatinya sih. Yang paling berkesan di ingatanku adalahย Star Trek IV: The Voyage Home, yang dirilis di tahun 1986, tapi baru aku tonton sekitar 10an tahun kemudian di tahun 1990an (karena jelas lah ya bahkan aku belum lahir di tahun 1986, haha ๐Ÿ˜› ).

Anyway, aku pikir menonton satu episode nggak apa-apa lah. Aku putuskan untuk mencicipinya dan setelahnya baru kuputuskan apakah mau lanjut menontonnya atau tidak. Yang mengejutkanku, ternyata aku menikmatinya dong!! Visualnya yang jelas “ketinggalan zaman” tidak begitu menggangguku (Walaupun memang sih, aku mendapatkan versi remastered-nyaย di Netflix yang mana kualitas visualnya juga sudah ditingkatkan dengan teknologi. Harus diakui ini sangat membantu); dan jalan ceritanya sendiri memang keren dan seru banget, dan “senada” dengan “konsepku” akan Star Trek. Dan jadilah aku putuskan aku akan menonton serial ini!! ๐Ÿ˜€ Dan juga sekarang aku bisa bilang bahwa aku lega karena ternyata aku tidak “sedangkal” itu, haha ๐Ÿ˜› .

Dan memang serial ini klasik banget deh! Tak perlu kuceritakan lebih jauh bahwa aku menikmatinya; dan sekarang aku lebih tidak heran mengapa adaptasi-adaptasi barunya (seri film yang sudah diproduksi sejak tahun 2009 dan juga Star Trek: Discovery) bersandar ke TOS ini bukannya ke eranya “The Next Generation”. Aku lumayan yakin salah satu alasannya adalah TOS ini lebih “mentah”, dalam artian jalan ceritanya tidak begitu sarat politis ataupun fokus pada konflik internal kita sebagai manusia (sehingga bisa dibilang “lebih sederhana”) yang mana artinya lebih banyak bumbu “action” yang bisa dibubuhkan; tapi semua ini masih diatur dengan keseimbangan yang pas sehingga acaranya menjadi sebuah acara klasik!

Jadi secara singkatnya: Aku sungguh menikmati serial ini! Sayang cuma ada tiga musim sih…

Walaupun begitu, namanya aja diproduksi di tahun 1960an, jelas serial ini juga dipengaruhi oleh kehidupan di era tahun segituan lah ya. Salah satu aspek yang nampak jelas adalah pekerjaan dan posisi dari beberapa karakter perempuan dan penggambaran karakter-karakter ini. Eh, tentu sangat tidak adil, dan tidak benar, juga untuk memandang penggambaran ini dengan menggunakan kacamata zaman sekarang ya. Tapi setidaknya bisa kubilang bahwa aku sungguh senang akan kemajuan umat manusia dalam 50 tahun terakhir ini! Walaupun begitu, kebetulan banget satu kalimat dari Kapten Janeway di Star Trek: Voyagerย berikut ini merangkum semua ini dengan pas.

Jadi, apakah ada yang sudah menonton serial ini juga? Dan jika demikian, bagaimanakah pendapatmu?

North America Trip, USA, Vacation

#2171 – Back in Europe!

ENGLISH

Yesterday afternoon, my KLM flight KL1234 landed at Schiphol Airport, marking the end of my amazing Big Three Oh Trip this year to New York and Washington, DC. The trip was, undoubtedly, really fun, especially that finally I got to visit the US Open, my third grandslam tournament. This means I am not three quarters of the way to complete my “career grandslam” (having visited all four grandslam tournaments in the world, haha ๐Ÿ˜› ).

I visited my third unique grandslam tournament in 2018, the US Open.

But if I have to name one thing which stood the most in this trip, it was definitely the “drama”. I feel like this was definitely one of the (if not the) most dramatic trips I have ever taken. First of all, it is likely that you have heard/read of what happened at the US Open final. Yep, I was there … to witness the sequence of events unravelling in front of my eyes. And second of all, my checked-in luggage managed to get lost … TWICE (yep, not once, but twice! And prior to this trip, I had been really lucky to never experience once in my life! So what were the odds?). I will obviously get to these stories a little bit later. But anyways, this trip is definitely one I will not likely to forget, haha.

Anyway but other than that, New York was as amazing as I remembered it from two and a half years agoย and Washington, D.C., while not as “overwhelmingly lively” as New York, had its own charm as well. Yep, in short, other than the dramas, this was a great trip!! Though,ย the weather was … not the best in both cities, haha ๐Ÿ˜† . First of all, it was really humid, so it felt really hot (as in I kept sweating everytime I was outside) even when it was cloudy.

The NY weather, 40ยฐC real feel at one point, and it was going to rain soon.ย 

You know I “complained” about this year’s uncharacteristically hot Summer in Europe, clearly indicating that I am not a big fan (pun intended ๐Ÿ˜› ) of hot weather. Though, this experience now makes me understand the occassional reference to New York’s hot summer in those movies/tv series ๐Ÿ˜› . Having said that, at least in the weather department I still can say that I was really lucky asย Hurricane Florence made a late change of course that was to get a little bit further away from where I was. Yeah, it could definitely have been worse. So perhaps actually I need to be grateful.

Anyway obviously I have not yet had the time to start writing about this amazing trip. I will get into the trip’s story a little bit later, though; so please bear with me ๐Ÿ˜› .ย And also because right now, obviously I am still jetlagged thanks to the six hours timezone difference between the Netherlands and the East Coast ๐Ÿ˜› . I hope my recovery from this jetlag won’t take too long this time around.

This is all I have for now. See you soon! ๐Ÿ™‚

I turned … 30 in New York this year.

BAHASA INDONESIA

Kemarin siang, penerbangan KLM KL1234 mendarat di Bandara Schiphol, yang menandai akhir dariย Perjalanan besar Tiga Nol-kuย tahun ini ke New York dan Washington, DC. Perjalanannya, jelas banget, seruuu, apalagi aku juga berkesempatan menonton US Open kan, turnamen grandslam ketigaku. Ini berarti aku sudah tiga perempat jalan nih dalam upaya melengkapi prestasi “career grandslam” (telah mengunjungi kesemua empat turnamen grandslam di dunia, haha ๐Ÿ˜› ).

Aku mengunjungi turnamen grandslam ketigaku, US Open, tahun ini.

Tapi kalau aku diminta untuk menyebutkan satu hal yang menonjol dari perjalanan ini, dengan mudah akan aku bilang “drama”-nya. Aku merasa perjalanan ini adalah salah satu perjalanan yang (kalau bukan yang) paling dramatis dari semua perjalanan yang pernah kujalani. Pertama-tama, kemungkinan besar kalian sudah tahu lah ya apa yang terjadi di finalnya US Open. Iya, aku berada di sana … dan menyaksikan rangkaian peristiwanya terjadi di depan mataku sendiri. Dan yang kedua, bisa-bisanya dong bagasiku hilang … DUA KALI (iya, bukan sekali aja, tapi dua kali! Padahal seumur hidup sebelum perjalanan ini aku (beruntung) tidak pernah mengalami kejadian ini. Ini gimana cerita peluangnya? Haha). Jelas cerita-cerita ini akan kutulis lebih mendalam lagi nanti. Tapi untuk saat ini, rasanya tidak mengherankan kalau kubilang sepertinya perjalanan ini aku selalu teringat bagiku, haha.

Anywayย  tapi selain itu semua sih, New York keren dan asyik banget, sebagaimana yang kuingat darinyaย dua setengah tahun yang laluย dan Washington, D.C., walaupun tidak “sehidup rame banget” kayak New York, memiliki pesonanya sendiri. Jadi ya, secara singkatnya, selain bagian dramanya, perjalanan ini adalah perjalanan yang super seru!! Walau, cuacanya … lagi nggak oke di kedua kota ini, haha ๐Ÿ˜† . Pertama-tama, udara di sana lembab banget, jadi ya rasanya selalu panas gitu (maksudnya aku selalu berkeringat ketika berada di luar ruangan) bahkan ketika cuacanya sedang mendung.

Cuaca di NY, real feel 40ยฐC, dan nggak lama setelahnya akan hujan pula.

Ya tahu kan aku “komplain” akan cuaca yang panasnya sama sekali nggak biasa di Eropa tahun ini, yang mana menunjukkan aku anaknya memang nggak suka panas ๐Ÿ˜› .ย Walaupun dengan pengalaman ini kini aku jadi bisa memahami referensi akan musim panas di New York yang panas banget di film-film/acara TV itu deh ๐Ÿ˜› . Eh tapi walaupun begitu, di sisi cuaca sebenarnya masih bisa dibilang aku beruntung sekali lho karenaย Hurricane Florenceย tiba-tiba berbelok menjauhi area dimana aku berada. Iya, sebenarnya cuacanya bisa jadi lebih parah lagi deh. Jadi sepertinya justru sebaiknya aku bersyukur!

Anywayย jelas saat ini aku masih belum berkesempatan untuk mulai menulis cerita perjalanan seru ini. Ini akan segera aku mulai kok; jadi tolong sabar ya ๐Ÿ˜› . Dan juga karena sekarang aku masih jetlag nih akibat perbedaan waktu enam jam antara Belanda dan East Coast-nya Amerika ๐Ÿ˜› . Mudah-mudahan aku cepat pulih dari jetlag kali ini.

Segini dulu ya untuk saat ini ๐Ÿ™‚ .

Ulang-tahun ke-… 30-ku aku habiskan di New York.

 

Thoughts, working life

#2170 – People and Numbers

ENGLISH

This post has sat around in my Draft for about a year now, lol ๐Ÿ˜† . Now that I am still away on my Big Three Oh Trip, I figure this is actually a good time for this post to finally lives its life. So here we go…

***

One exciting prospect which I understood would entail fromย my decision to leave the academia for industry after finishing my PhD two years ago (even though the defense was just about one and a half year ago, haha ๐Ÿ˜› ) was the “different world” I would be embarking myself onto. I knew it would be very different from what I used to. In other words, I was leaving my comfort zone. And this was exciting!

After almostย two years in the industry now, of course I have observed and experienced a lot of those differences; and more importantly, how to bridge and handle those. In this post, I would like to talk about one of those differences that is quite tightly related to what I do and my academic background: numbers.

You see, with a PhD degree in applied mathematics, as well as a Master’s degree and a Bachelor’s degree in the same field, I can say that I am “used to” with numbers, haha ๐Ÿ˜› . And naturally, in the ten years of my life (since starting my Bachelor’s degree in 2006 until finishing my PhD in 2016), I was always within the “numbers” environment, i.e. I was surrounded by people who were also “used to” with working with numbers. In my PhD, while I also collaborated with people from other departments, they were also pretty much the “similar type” of people. You know, TU Delft is a technical university afterall ๐Ÿ˜‰ .

TU Delft

But of course it all changed when I started my job at this company. The global size of the company would mean the “types” of people working here are much more diverse than those I encountered in the universities. In relation to “numbers”, I just recently realized that not all people are “comfortable” with numbers.

Look, obviously I already understood this since before joining the company. Afterall, this must be one of the reasons why I was hired, where my expertise on “numbers” would be a great asset for the company. What I didn’t realize, however, was the potential degree of the “discomfort”. To put it to the extreme in figurative terms, I observed that some people could experience “intimidation” just by working with numbers, haha.

But of course this was where numbers visualization played its role, where the numbers were presented in nice, colorful, fun-looking shapes (be as a graph, diagram, etc) hence much less “intimidating”. The problem with this is that visualizations themselves could be “tricky” and, in my opinion, one should be critical and careful in interpreting those. You see, a visualization is the result of a “transformation” of the numbers from one form to another. And this “transformation” could actually become the problem itself while the numbers behind it don’t. Well, I am not going into details why this as I don’t feel like it; but you can google this topic yourself if you are interested. Btw, this is not to say that I am against visualization. No. In fact, I believe visualization does help in understanding the story the numbers represent. But my point is, when a visualization is presented, one should also understand how the visualization itself works to correctly interpet the numbers it represents.

Back to the work topic. Of course this is not to say that I wish everyone would be comfortable with working with numbers. Not at all. This is just merely an observation. And I am actually quite happy about it, because this means I can contribute something while they can contribute other things I am probably not comfortable with ๐Ÿ™‚ . In the end, we can have a mutual symbiosis, no? ๐Ÿ™‚

BAHASA INDONESIA

Ceritanya posting ini sudah nangkring di bagian Draft selama sekitar satu tahunan sekarang, haha ๐Ÿ˜† . Karena sekarang aku sedang jalan-jalan di Perjalanan Tiga Nol-ku tahun ini, aku merasa ini adalah waktu yang pas untuk posting ini akhirnya aku terbitkan. Mari kita langsung mulai saja…

***

Satu prospek seru yang sudah lama aku ketahui yang merupakan konsekuensi dari keputusanku untuk berpindah dari akademia ke industriย setelah menyelesaikan PhDku dua tahun lalu (walau sidangnya baru satu setengah tahunan yang lalu sih, haha) adalah “dunia yang amat berbeda” yang akan aku masuki. Aku tahu dunia ini akan lain banget daripada duniaku sebelumnya. Dengan kata lain, aku meninggalkan zona nyamanku. Dan tentu saja ini seru banget!

Nah, setelah hampirย dua tahun bekerja di industriย sekarang, jelas aku sudah mengamati dan mengalami banyak perbedaan ini; dan yang juga lebih penting, menjembatani dan menghadapinya. Di posting ini, aku ingin membahas satu dari perbedaan-perbedaan itu yang cukup berkaitan erat dengan pekerjaanku dan memang latar belakangku sebelumnya: numbers. Btw, dalam konteks ini, terjemahan bahasa Indonesia dari numbers yang tepat adalah “bilangan”, bukan “angka” apalagi “nomor” yah ๐Ÿ˜‰ .

Dengan gelar PhD/S3 di matematika terapan, juga gelar Master/S2 dan Sarjana/S1 di bidang yang sama, aku bisa berkata bahwa aku “terbiasa banget” dengan yang namanya bilangan, haha ๐Ÿ˜› . Jelas, sepuluh tahun hidupku (semenjak memulai kuliah S1 di tahun 2006 dan menyelesaikan PhD/S3-ku di tahun 2016) aku habiskan di lingkungan yang penuh dan ramah “bilangan”, dalam artian aku juga dikelilingi oleh orang-orang yang juga “terbiasa banget” untuk bekerja dengan bilangan. Di program PhD-ku, walaupun aku juga berkolaborasi dengan rekan-rekan dari jurusan lain, mereka juga toh masih bisa dikatakan tipe-tipe orang yang “mirip”, haha. Ya gimana, TU Delft kan universitas teknik gitu, haha ๐Ÿ˜‰ .

TU Delft

Tetapi tentu saja semua itu berubah begitu aku mulai bekerja di kantorku sekarang. Ukuran perusahaannya yang mendunia berarti “tipe-tipe” rekan kerja yang lebih beragam daripada yang aku hadapi di universitas. Dalam kaitannya dengan “bilangan”, aku baru sadar bahwa ternyata tidak semua orang itu “nyaman” untuk bekerja dengan bilangan.

Begini, jelas aku sudah paham akan hal ini semenjak sebelum aku mulai bekerja. Toh memang ini adalah salah satu alasan aku mendapatkan pekerjaan ini, dimana keahlianku dengan “bilangan” akan menjadi aset yang berharga banget bagi perusahaan. Yang tidak aku sadari sebelumnya adalah tingkat “ketidak-nyamanan” beberapa orang dengan yang namanya menghadapi bilangan. Ekstrimnya dalam metafora, aku amati beberapa orang bisa merasa “terintimidasi” loh ketika harus berhadapan dengan bilangan, haha.

Tetapi tentu saja di sini lah visualisasi bilangan berperan, dimana bilangan-bilangan itu ditampilkan dalam bentuk yang indah, berwarna-warni, kece, dll (baik itu dalam bentuk grafik, diagram, dll) sehingga nampak “lebih tidak mengintimidasi”. Masalahnya, visualisasi sendiri bisa menjadi “berbahaya” dan, menurutku, kita tetap harus kritis dan berhati-hati dalam menginterpretasikannya. Yang namanya visualisasi adalah hasil “transformasi” bilangan-bilangan itu dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Dan “transformasi” ini sendiri bisa menjadi masalah sementara bilangan di baliknya tidak. Yah, aku tidak akan membahas ini lebih dalam sekarang karena sekarang aku sedang malas, haha; tetapi banyak kok artikel yang membahas ini yang bisa dicari dengan mudah di Google. Btw, ini bukan berarti aku anti visualisasi yah. Tidak. Malahan, aku percaya visualisasi bisa sangat membantu kita memahami cerita yang direpresentasikan oleh bilangan-bilangan di baliknya. Maksudku adalah ketika sebuah visualisasi dipresentasikan, kita juga harus memahami bagaimana visualisasinya bekerja sehingga kita bisa menginterpretasikan bilangan-bilangan di baliknya dengan tepat.

Kembali ke topik tentang kerjaan. Tentu saja di sini aku bukannya berkata semua orang harus merasa nyaman dengan bilangan. Nggak sama sekali kok. Ini hanya sekedar observasiku saja. Dan sejujurnya aku cukup senang dengannya, karena ini berarti aku bisa berkontribusi akan sesuatu sementara orang lain bisa berkontribusi sesuatu yang mungkin bagiku tidak nyaman untuk kuhadapi ๐Ÿ™‚ . Pada akhirnya, kita bisa mendapatkan simbiosis mutualisme kan? ๐Ÿ™‚

working life, Zilko's Life

#2169 – Rambutan and Macaroon

ENGLISH

Buffet lunch is provided by my office for all employees (and visitors). While the lunch is not free per se, it is heavily subsidized where a small sum is subtracted from our monthly salary for it. I don’t think it is appropriate to disclose the number here, but let’s just say the daily number is so low that it is even much cheaper than a portion of french fries on the street of Amsterdam, haha. And the canteen provides wide variety of food: salad, main courses, sandwiches, soups, side dishes, bread, yoghurt, desserts, drinks (non-alcoholic obviously, lol ๐Ÿ˜† ), etc. And each of those also varies day by day! In short, the lunch package is such a great deal!! Haha ๐Ÿ˜†

Anyway, one day some time ago, in the fruit section the following was served:

Rambutan!!

Yep people, rambutan!ย  . What was so special about it? Well, let’s just say that some of my colleagues never ever saw rambutan in their life before (I don’t think rambutan grows here) and so they were reluctant to try, haha. But not me, of course ๐Ÿ˜› . It was nice as it had been years since the last time I ate rambutan, haha ๐Ÿ˜† .

***

Every morning, each canteen publishes the lunch menu for the day (We have several office buildings in Amsterdam and so we also have several canteens ๐Ÿ˜€ ). And one day, the canteen of “my building” mentioned that for dessert, they would serve macaroons. I was so happy as I expected these:

Roland Garros Macarons

or these:

Laduree macarons in Paris

or these:

Macarons in Lyon.

that afternoon ๐Ÿคค. In anticipation for those, me health conscious mind asked me to prepare my “self control” so that I would not take too many! Haha ๐Ÿ˜† .

And then lunch time came, and what we got were these:

Macaroons

Look, I knew that for the price we paid for lunch we shouldn’t expect much, but those certainly did not look like macarons at all, haha ๐Ÿ˜† . I still took one, though, nonetheless; and it was actually good! But still, it certainly wasn’t a macaron, haha.

Then in the afternoon a colleague of mine shared the following infographic to straigten things up:

Macaroon, Macaron, and Macron. Source: Reddit.

It turned out that my canteen actually provided the right(-ish) thing: the coconut-based macaroOns, not the almond-based macarons! Lol ๐Ÿ˜† . So it was actually my own lack of knowledge that led me to the mini disappointment I had that afternoon as I did not come to the canteen with the right expectation ๐Ÿ˜† . Well, at least I learned something new that day! Haha ๐Ÿ˜› .

p.s: it wasn’t surprising that it was the “easy to make” macaroon that was served that day, instead of the “difficult to make” macaron, lol ๐Ÿ˜† .

BAHASA INDONESIA

Makan siang buffet disediakan kantorku untuk semua karyawannya (dan juga tamu). Walaupun makan siang ini nggak gratis, tetapi biayanya disubsidi banyak dimana sebuah besaran yang kecil dipotong dari gaji bersih kami setiap bulan. Blog ini bukan tempatnya lah untuk menyebutkan berapa besarannya, tapi bisa aku bilang besarnya itu kecil banget kok, bahkan per harinya lebih rendah daripada harga seporsi french fries yang dijual di jalanan Amsterdam, haha.ย Pun, kantinnya menyediakan berbagai macam makanan loh setiap harinya: salad, menu utama, sandwich, sup, makanan sampingan, roti-rotian, yoghurt, pencuci-mulut, minuman (non-alkohol pastinya lah ya, haha), dll. Intinya adalah, paket makan siang ini great deal banget lah!! Haha ๐Ÿ˜†

Anyway, suatu hari belum lama yang lalu di bagian buah-buahannya, buah berikut ini disajikan:

Rambutan!!

Iya dong, ada rambutan!! . Apa spesialnya memang? Hmm, begini deh, lumayan banyak loh kolegaku yang belum pernah melihat yang namanya rambutan seumur hidup mereka (Kayaknya rambutan kan memang nggak tumbuh di sini ya) dan jadilah juga mereka ogah dan ragu untuk mencobanya, haha. Tapi jelas aku tidak dong ya ๐Ÿ˜› . Asyik juga bisa makan rambutan, karena memang sudah bertahun-tahun juga sih semenjak terakhir kali aku makan buah ini, haha ๐Ÿ˜† .

***

Setiap pagi, setiap kantin mem-postingย menu makan siang yang mereka sajikan hari itu (Kami memiliki beberapa gedung kantor di Amsterdam sehingga kami juga memiliki beberapa kantin ๐Ÿ˜€ ). Dan suatu hari, kantin “gedungku” menyebutkan bahwa untuk pencuci-mulut, mereka akan menyediakan macaroons. Ah, jelas aku senang sekali dong ya, dan aku mulai bersiap-siap akan makan ini:

Macarons a la Roland Garros

atau ini:

Macarons-nya Laduree di Paris

atau ini:

Macarons di Lyon.

siang ituย ๐Ÿคค. Dan juga untuk persiapan untuknya, bagian otakku yang sadar kesehatan juga sudah mempersiapkan “kontrol diri” biar aku nggak mengambil kebanyakan! Haha ๐Ÿ˜† .

Kemudian waktu makan siang tiba, dan yang kami dapatkan adalah ini:

Macaroons

Hmm, aku tahu sih dengan harga yang kami bayar untuk makan siang, tentu ekspektasi kami juga harus kami kontrol, tapi yang di foto ini kan sama sekali berbeda dari yang namanya macarons kan ya! Haha ๐Ÿ˜† . Aku tetap mengambil satu sih; dan rasanya juga enak kok! Tapi ya memang ini bukanlah macaron, haha.

Kemudian di siang harinya, seorang kolegaku membagikan infografik berikut ini:

Macaroon, Macaron, dan Macron. Sumber: Reddit.

Ternyata, kantinku sebenarnya menyajikan pencuci mulut yang (lumayan) benar kok: macaroOnsย yang berbasis kelapa, yang mana memang berbeda dariย macaronsย yang berbasis almond! Hahaha ๐Ÿ˜† . Jadi sebenarnya sih ketidak-tahuanku saja yang membawaku pada kekecewaan kecil siang itu karena aku datang ke kantinnya tidak dengan ekspektasi yang tepat, haha ๐Ÿ˜† . Yah, setidaknya hari itu aku mendapatkan pengetahuan baru sih! Haha ๐Ÿ˜›

p.s: nggak mengherankan juga sih yang disajikan hari itu adalah macaroons yang “easy to make“, bukannya macarons yang “difficult to make“, haha ๐Ÿ˜† .

EuroTrip, Vacation, Weekend Trip

#2168 – A Short Weekend in Berlin

ENGLISH

I spent the last weekend of August this year in Berlin. Here is the story of this short trip.

The schedule of my KLM flight to Berlin was really convenient, where I arrived at the city center at around 12:30 PM. It was a perfect timing for … a lunch obviously! Haha ๐Ÿ˜€ I walked through a modern shopping street area in the west part of the city, and decided to stop by at a restaurant serving German food at a square. Obviously I ordered a glass of “Berliner Weisse“, Berlin’s specialty beer which came in two colors (red or green; and I chose the green one). And for lunch, I ordered the “zwiebelrostbraten” as its description sounded really appetizing to me, haha. Indeed, it was really delicious!!

I loved this zwiebelrostbraten!

After lunch I went to my hotel to check-in. I decided to also take some rest as it turned out that I needed to charge my camera, mp3 player, and iPhone all at once (I just realized that my camera and mp3 player charger at home was apparently broken)! And also, the weather did not look that great at that time, where it was very cloudy and some light rain was forecasted. Yeah, this summer the German weather has not been that “kind” to me, as I had pretty much the same weather in my previous trip to Germany, to Stuttgart just five weeks prior.

At about 3 PM, I decided that I had had enough rest. I left my hotel and took the U-Bahn to the Potsdamer Platz. From there, I planned to walk north towards the famous (and very touristic) Brandenburg Gate. But first, a stop at a Starbucks as a mug of good warm coffee sounded like a perfect companion for the weather ๐Ÿ˜› .

The weather called for some good warm coffee!

Anyway, there was one building in Berlin which intrigued me last year which I did not have the time to visit. Though, my mistake was that since then I did not bother to find out what it was, haha. I just remembered seeing a big, tall building with a cool-looking dome really close to the Brandenburg Gate. I, however, made an assumption that it was a mall or some of its kind, and thought to visit it this time around.

I walked towards that direction after finishing my coffee. On my way, I passed the famous, and beautiful, Holocaust Memorial in Berlin and decided to pay a visit again.

A Berlin selfie

Anyway, theย dome turned out to be a part of the Reichstag Building, the parliament building of Germany (Keep in mind that Berlin is the capital of Germany).ย Not researching what this building was was a mistake because it meant that, as a result, I felt like I was “too late” to get in there today. It was already late in the afternoon, and there seemed to be a really long line already for admission to the building. So, again, I decided to pass on this building. Another time then!

The Reichstag Building

As usual, the Brandenburg Gate was super touristy. Especially in the social media era as we are in now, a lot of people were taking pictures or selfies in front of the gate, haha ๐Ÿ˜€ .

From the gate, I decided to walk along the beautiful Unter den Linden all the way to the Berlin TV Tower and the always busy Alexanderplatz. Along the way, I decided to stop by at the Neue Wache, which served as theย “Central Memorial of the Federal Republic of Germany for the Victims of War and Dictatorship”, and a museum which was open to public.

Die Neue Wache

I really love this part of Berlin. It is quite difficult to fully describe it; the atmosphere is just fun, relaxing, and “youthful” while not being too touristy (Is there a word for this, btw? ๐Ÿ˜› ). Anyway, I then felt quite tired and hungry so I decided to have dinner after reaching Alexanderplatz.

When checking my flight schedule, I just realized that somehow, a few months ago when buying my return ticket to Berlin, I chose Joon’s 12:25 PM flight to Paris on Sunday. I don’t remember the reason why, though; but the the consequence for this was that basically I only had like half a day in Berlin, which was on Saturday. As a result, this trip was even shorter than last year, lol ๐Ÿ˜† . After getting up on Sunday, I went straight to the airport.

Taking a bus to the Tegel Airport on Sunday morning.

Berlin was fun, but I felt like I did not give myself enough time in Berlin this time around. So I do feel like I still need to come back in the future (I won’t mind anyway, haha); and for that upcoming trip I need to remember to give myself a longer stay in the city! I want to soak more of it! Hahaha ๐Ÿ˜›

BAHASA INDONESIA

Aku menghabiskanย akhir pekan terakhir di bulan Agustus tahun ini di Berlin. Berikut ini cerita dari perjalanan singkat ini.

Jadwal penerbangan KLMku ke Berlin enak sekali, dimana aku tiba di pusat kota sekitar jam 12:30 siang. Waktunya pas banget … untuk makan siang kan! Haha ๐Ÿ˜€ Aku berjalan-kaki melalui sebuah jalanan pertokoan modern di bagian barat kota ini, dan akhirnya memutuskan untuk mampir di sebuah restoran yang menyediakan masakan Jerman di salah satu square di sana. Jelas dong aku memesan segelas “Berliner Weisse“, bir khasnya Berlin yang memiliki dua warna (merah dan hijau; dan aku memilih yang hijau). Dan untuk makan siangnya sendiri, aku memesan “zwiebelrostbraten” karena deskripsinya sungguh menggugah seleraku, haha. Dan ternyata memang enak banget!!

Aku suka banget zwiebelrostbraten ini!

Setelah makan siang, aku pergi ke hotelku untuk check-in. Aku memutuskan untuk sekalian beristirahat saja karena ternyata aku harus menge-charge baterai kamera, mp3 player, dan iPhone bersamaan dong (Aku baru sadar bahwa chargerย kamera dan mp3 player-ku di rumah ternyata rusak)! Dan juga, cuaca waktu itu nampak sedang kurang oke, dimana langit mendung tebal dan memang gerimis ringan diramalkan turun. Yaa, cuaca Jerman di musim panas ini sejauh ini agak “kejam” juga denganku ya, karena aku juga mendapati cuaca yang kurang lebih sama di kunjunganku yang lalu ke Jerman,ย yang mana adalah lima minggu sebelumnya ke Stuttgart.

Sekitar jam 3 sore, aku memutuskan bahwa aku sudah cukup beristirahat. Aku meninggalkan hotelku dan naik kereta U-Bahn ke Potsdamer Platz. Dari sana, rencananya aku akan berjalan-kaki ke arah utara ke Gerbang Brandenburg yang terkenal (dan amat turistik) itu. Tapi sebelumnya, segelas kopi hangat enaknya Starbuks dulu ya karena ini nampak cocok nih untuk cuaca kelam saat itu ๐Ÿ˜› .

Cuacanya memanggil segelas kopi hangat yang enak ini!

Anyway, ada satu bangunan di Jerman yang menarik perhatianku tahun laluย tetapi waktu itu tidak sempat aku kunjungi. Salahku adalah, semenjak waktu itu aku malas mencari informasi tentangnya, haha. Aku hanya ingat aku melihat sebuah gedung tinggi yang nampak keren dengan sebuah kubah yang nampak keren di dekat Gerbang Brandenburg. Namun, aku membuat asumsi bahwa gedung ini mungkin adalah mall atau semacamnya gitu dan aku berencana mengunjunginya kali ini.

Aku berjalan ke arah gedung ini setelah menghabiskan kopiku. Di jalan, aku melewati Memorial Holocaust di Berlin yang terkenal dan indah itu; dan memutuskan untuk sekalian mampir lagi.

Selfie di Berlin

Anyway, ternyata kubahnya adalah satu bagian dari apa yang bernama Gedung Reichstag, yang mana merupakan gedung parlemennya Jerman (Ingat bahwa Berlin adalah ibukota dari Jerman). Tidak mencari informasi mengenai gedung ini adalah kesalahan besar karena sebaga akibatnya, aku tiba di sana “kesorean”. Waktu itu sudah sore banget, dan ada antrian panjang untuk masuk ke gedungnya *lagi malas antri, haha ๐Ÿ˜† *. Jadilah aku memutuskan untuk melewatkan gedung ini lagi. Ya sudah, kapan-kapan saja deh ya mampirnya!

Gedung Reichstag

Seperti biasa, Gerbang Brandenburg itu ramai sekali dengan turis. Apalagi di zaman media sosial seperti saat ini, jelas ada banyak banget orang yang foto-foto atau berselfie-ria di depan gerbangnya, haha ๐Ÿ˜€ .

Dari gerbangnya, aku memutuskan untuk berjalan menyusuri Unter den Linden sampai mencapai Menara TV Berlin dan Alexanderplatz yang selalu ramai itu. Di jalan, aku mampir di Neue Wache, yang mana merupakan “pusat peringatan Republik Federal Jerman akan korban dari perang dan tirani/diktator”, dan sebuah museum yang sedang dibuka untuk umum.

Die Neue Wache

Aku sungguh suka sekali distriknya Berlin yang ini. Susah nih dideskripsikan; atmosfernya itu asyik, santai, dan “muda” tetapi tidak begitu turistik gitu (Ada nggak sih istilah yang merangkum ini? Haha ๐Ÿ˜› ). Anyway, aku kemudian merasa lumayan capek dan lapar, jadilah aku mencari makan malam setelah mencapai Alexanderplatz.

Ketika mengecek jadwal penerbanganku, aku baru sadar bahwa beberapa bulan yang lalu, ketika membeli tiket pp ke Berlin, aku memilih penerbangan Joon jam 12:25 siang ke Paris di hari Minggu. Aku nggak ingat sih apa alasannya; tapi sebagai akibatnya ya artinya memang waktuku di Berlin kali ini hanya setengah hari saja di haru Sabtu. Sebagai akibatnya, bahkan perjalanan kali ini lebih singkat daripada tahun lalu, haha ๐Ÿ˜† . Setelah bangun di hari Minggu, aku langsung menuju ke bandara.

Naik bus ke Bandara Tegel di Minggu pagi.

Berlin seru sih, tapi aku merasa waktuku di Berlin terlalu singkat kali ini. Jadilah aku masih merasa aku perlu kembali lagi deh kesana nanti (Nggak komplain juga sih, haha); dan untuk perjalanan di masa yang akan datang itu, harus kuingat bahwa aku ingin tinggal di kotanya lebih lamaan! Aku ingin bisa lebih menikmati kotanya lagi! Hahaha ๐Ÿ˜›