EuroTrip · Miscellaneous · Photo Tales · Weekend Trip

#1969 โ€“ Photo Tales (43)

ENGLISH

The theme of this Photo Tales post is some side stories of my impulsive weekend trip in July 2017 to watch Venus Williams’ singles match at the final of Wimbledon. The main story of this series can be found at the following links:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

Photo #95

Venus (Shave)

As I already mentioned above, Venus Williams was the reason of this impromptu trip to London. And so I found it funny when I saw these shaves by Gillette being marketted as “Venus” at the on-board store in the ferry boat I took from Hoek van Holland to Harwich. I felt like the universe “knew” and so this coincidence ๐Ÿ˜› .

Photo #96

A new Oyster Card

Anyway, during a similar impromptu weekend trip to Wimbledon two years prior, where I witnessed Serena Williams completing her second Serena Slam, I accidentally lost the Oyster Card I bought five years ago. And because I will definitely go back to London, I decided to buy a new Oyster Card this time, pictured above. To be honest, I was a little bit disappointed that it looked more “plain” than the colorful one I bought five years ago, haha ๐Ÿ˜† .

Photo #97

Yeay, electric plugs!

The last-minute nature of the trip meant higher risk of me forgetting something. And unfortunately, I did forget something this time: my adapter. You see, the UK uses a different plug type than the rest of Europe (So annoying, I know!). And so not bringing an adapter with me made my life a little bit more difficult there. But fortunately, the hotel I stayed in provided several different plug types, even a USB one, which I found extremely useful!! I was really glad I chose to stay at this hotel! Haha ๐Ÿ˜†

BAHASA INDONESIA

Tema postingย Photo Talesย kali ini adalah beberapa cerita sampingan dari perjalanan dadakanku di bulan Juli 2017 untuk menonton pertandingan tunggalnya Venus Williams di finalnya Wimbledon. Posting-posting utama dari seri ini bisa dibaca melalui tautan-tautan berikut:
1. Introduction
2. Part I: Getting to London and Back
3. Part II: Wimbledon 2017

Foto #95

Venus (Cukur)

Seperti yang kusebutkan di atas, Venus Williams adalah alasan aku pergi dalam perjalanan dadakan ke London ini. Makanya aku merasa lucu ketika melihat cukurnya Gillette yang dipasarkan dengan nama “Venus” ini di toko di dalam kapal ferry yang kunaiki dari Hoek van Holland ke Harwich. Aku merasa kok alam semesta ini “tahu” sehingga kebetulan ini terjadi, haha ๐Ÿ˜› .

Foto #96

Oyster Card baru

Anyway, diย perjalanan akhir pekan serupa ke Wimbledon dua tahun sebelumnya, dimana aku menyaksikanย Serena Williams mencetak Serena Slam keduanya, tak sengajaย kartu Oyster Card-ku yang kubeli lima tahun yang laluย hilang. Dan karena toh aku pasti akan kembali lagi ke London, aku memutuskan untuk membeli Oyster Card yang baru kali ini, yang kufoto di atas. Sejujurnya, aku sedikit kecewa soalnya disain Oyster Card ini nampak “biasa” banget alias terlalu polos gitu jika kubandingkan dengan yang berdisain warna-warni yang kubeli lima tahun lalu, haha ๐Ÿ˜† .

Foto #97

Hore, colokan listrik!

Namanya perjalanan dadakan, artinya ada risiko lebih tinggi untukku kelupaan sesuatu. Dan sayangnya, aku beneran kelupaan sesuatu kali ini: adaptorku. Jadi ceritanya Inggris Raya itu kan menggunakan colokan yang modelnya berbeda dari semua negara Eropa lainnya gitu kan ya (Nyebelin memang!). Jadilah tidak membawa adaptor itu membuat hidupku agak sedikit lebih repot di sana, haha. Tetapi untungnya hotel tempatku menginap memiliki colokan listrik dengan beberapa tipe loh, bahkan ada colokan USB segala, yang mana sangat amat berguna untukku!! Aku lega banget deh aku memilih untuk menginap di hotel ini! Haha ๐Ÿ˜† .

working life · Zilko's Life

#1968 – On My Holiday Allowances

ENGLISH

One consequence I must face with my decision to switch from academia to industry is the much more limited holiday allowances that I get now. If two years ago I got 50 days for the year, I only get about half of that this year, haha ๐Ÿ˜† . Though, as in the standard in the Netherlands, I still do have the right to buy some (or sell as well, for that matter; but I don’t think it is worth to sell some, especially considering the tax that comes with it ๐Ÿ˜† ).

Anyway, but my office provides a way where we can get extra allowances (aside from special events, like wedding, child birth, exam (luckily my PhD defense counted as an exam ๐Ÿ˜€ ), moving (which I took in April), etc). And that is through having no sick days, haha. So if within a 6 month period since 1 January or 1 July we do not call in sick even once, we immediately get one extra holiday allowance. And if we do not call in sick for the entire calendar year, we get another extra allowance. So in total, we can get up to three extra allowances each year. Not a lot, but still helpful, IMO.

And so because I did not call in sick in the first half of this year, I just got an extra allowance! Yeay!! ๐Ÿ˜€

Speaking of holiday allowances, what I really like about it here is that your office never makes a fuss on when you would want to use them, because those are your right (Well, of course unless it is stated in the contract where usually it is because your presence and work are essential in certain period of time). Last year when I submitted my application for my year end trip to Indonesia while still being new at the company (I had been there less than two months), it got accepted in literally twenty seconds ๐Ÿ˜€ .

Last year when my PhD contract at TU Delft ended in August, I still had about 20 unused holiday allowances. So technically I could have used them all, meaning taking the entire August off AND still got my full salary (haha ๐Ÿ˜† ) and then went straight into my sabbatical month in September; otherwise, I would lose all my right over these 20 days. They would all be just gone like that. However, at the time I could not afford to take August off because I was in the very intense period of my PhD where I had to finish everything up before my contract ended. And it was hell a lot of work, I can tell you; and so I needed August for that. But this meant that indeed I would have to just let my right of those 20 days go. But well, I guess the “return” that I got from that was my PhD degree I got in January. And to me, 20 days of holiday allowances is a very cheap price for a PhD degree, ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Satu konsekuensi yang harus aku hadapi dengan keputusanku untuk berpindah dari dunia akademia ke dunia kerja (industri)ย adalah jatah cutiku sekarang yang jauh lebih terbatas. Jika dua tahun yang lalu aku mendapatkan 50 hari jatah cuti dalam setahun, sekarang aku cuma mendapatkan kira-kira setengahnya lah dalam setahun, haha ๐Ÿ˜† . Walaupun, sebagaimana biasanya di Belanda, aku juga masih memiliki hak untuk membeli beberapa jatah cuti sih (atau juga menjualnya; tapi dengan jumlah segini mah nggak worth it lah ya untuk dijual, apalagi dengan mempertimbangkan potongan pajak dari hasil penjualannya itu lho, ๐Ÿ˜† ).

Anyway, tetapi kantorku juga memberikan cara dimana kita bisa mendapatkan jatah cuti ekstra (di samping acara-acara khusus seperti misalnya pernikahan, kelahiran anak, ujian (untungnya sidang PhDkuย bisa dihitung sebagai ujian waktu itu ๐Ÿ˜€ ), pindahan (yang aku gunakan April lalu), dll tentunya). Dan cara itu adalah dengan tidak mengambil absen karena sakit. Jadi jika dalam periode 6 bulan semenjak 1 Januari atau 1 Juli kita tidak absen sakit, otomatis kita mendapatkan satu jatah cuti ekstra. Dan jika dalam satu tahun kalender penuh kita tidak absen sakit, kita dapat satu ekstra lagi. Jadi totalnya, kita bisa mendapatkan tiga jatah cuti ekstra per tahun. Nggak banyak sih, tapi lumayan lah ya.

Dan karena aku tidak absen sakit selama setengah tahun pertama ini, aku baru saja mendapatkan satu jatah cuti ekstra ini! Hore!! ๐Ÿ˜€

Ngomongin jatah cuti, yang aku suka dengan situasi di Belanda ini adalah kantor nggak akan pernah mempermasalahkan kapan kita mau ambil cuti, karena mengambil cuti kan hak kita (Kecuali disebutkan di dalam kontrak sih yang mana ini biasanya karena kehadiran dan pekerjaan kita penting banget di suatu periode waktu). Tahun lalu ketika aku memasukkan permohonan cuti untuk perjalanan akhir tahunku ke Indonesia ketika pun masih anak baru di perusahaannya (waktu itu aku belum ada dua bulan lah di kantorku ini), permohonanku langsung di-approve dalam waktu dua puluh detik loh ๐Ÿ˜€ .

Tahun lalu ketikaย kontrak PhD/S3ku di TU Delft berakhir di bulan Agustus, aku sebenarnya masih memiliki 20 jatah cuti yang belum kupakai. Jadi sebenarnya bisa-bisa aja semuanya aku pakai waktu itu, artinya cuti di sepanjang bulan Agustus DAN masih digaji penuh (haha ๐Ÿ˜† ) dan kemudian langsung deh masuk ke bulan sabatikalku Septembernya; karena kalau tidak, aku akan kehilangan hakku akan 20 hari ini. Ya, hangus begitu saja. Namun, waktu itu aku tidak sanggup untuk mengambil cuti di bulan Agustus karena waktu itu adalah periode super intenseย di masa PhDku dimana ada banyak hal dan urusan yang harus kuselesaikan sebelum kontrakku berakhir. Buanyak banget deh, dan aku memerlukan bulan Agustus untuk itu. Tapi memang ini artinya aku harus merelakan 20 hari itu untuk hangus sih. Ah, tapi toh bisa dibilang “imbalan” yang kudapatkan dari merelakannya adalah gelar PhD/S3 yang kudapatkan Januari lalu. Dan untukku, merelakan 20 hari jatah cuti untuk hangus adalah harga yang murah untuk sebuah gelar S3 deh ๐Ÿ˜› .

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1967 – Another Weekend Story

ENGLISH

Posts in the A Summer Weekend in London series:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: London

As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on yet another weekend trip this weekend! Haha ๐Ÿ˜› . This time, I went back to: London!!

The ultimate mandatory tourist-in-London selfie

Yep, I know that I was just literally in London a month ago for an impromptu weekend trip for Wimbledon. But indeed that was the point, that trip was entirely for Wimbledon so I didn’t have any time to enjoy London, my favorite European city, itself, haha.

To make this trip more fun, I decided that I would fly to my most favorite airport of London (London is served by six airports, btw): London City Airport (LCY)!ย At the time I realized that despite this airport being my favorite, the last time I flew there was actually in 2013 when I was flying back to Rotterdam with CityJet’s Fokker 50ย after a conference in London in my first year of PhD. That was already more than FOUR years ago! ๐Ÿ˜ฑ

I got upgraded to Europe Business Class AGAIN!!

And also, remember thatย two weeks ago I got upgraded to Europe Business Classย on my KLM Berlin to Amsterdam flight. As it turned out, this time I got upgraded to Europe Business Class AGAIN on my KLM Cityhoppr KL994 flight from London City to Amsterdam!! Awesome, eh!! Hahaha ๐Ÿ˜†

I knew London was my favorite city so I knew what to expect. I knew that I would enjoy it because, well, London. So all in all it was, indeed, a really fun weekend. As usual, here are some teasers of the trip:

BAHASA INDONESIA

Posting-posting dalam seri A Summer Weekend in London:
1. Introduction
2. Part I: The Flights
3. Part II: Lond

Seperti yang followersย Instagramku (@azilko) ketahui, aku jalan-jalan lagi loh akhir pekan ini! Haha ๐Ÿ˜› . Kali ini, tujuannya adalah: London!!

Selfie turis-di-London wajib yang London banget.

Iyaa, tahu kok aku memang baru saja pergi ke London bulan lalu untuk sebuah perjalanan akhir pekan super dadakan untuk menonton Wimbledon. Tapi ya justru di situlah intinya, perjalanan ini kan murni untuk Wimbledon aja sehingga aku tidak memiliki waktu untuk menikmati London itu sendiri, yang mana merupakan kota favoritku di Eropa, haha.

Nah untuk membuat perjalanan ini semakin seru, aku memutuskan untuk terbang ke bandara favoritku di London (London memiliki enam bandara, btw): Bandara London City (LCY)! Waktu itu aku baru menyadari bahwa walaupun bandara ini bandara favoritku, terakhir kali aku terbang kesana adalah di tahun 2013 ketikaย aku pulang ke Rotterdam dengan pesawat Fokker 50nya CityJetย setelahย sebuah konferensi di London di tahun pertama PhD/S3-ku. Yang mana artinya sudah lebih dari EMPAT tahun yang lalu dong ya!ย ๐Ÿ˜ฑ

Aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa LAGI dong!!

Apalagi ya, dua minggu yang lalu kan aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa di penerbangan KLM Berlin ke Amsterdam tuh. Nah, kali ini ternyata aku di-upgrade ke kelas bisnis Eropa LAGI dong di penerbangan KLM Cityhopper KL994-ku dari London City ke Amsterdam!! Asyik banget ya!! Hahaha ๐Ÿ˜†

Aku tahu London adalah kota favoritku sehingga ya aku tahu perjalanan ini bakal seru dan aku akan sangat menikmatinya karena, yah, London, haha. Jadi secara keseluruhan perjalanan ini memang asyik banget dah. Seperti biasa, di atas aku unggah beberapa teasers dari perjalanan ini.

Thoughts · Zilko's Life

#1966 – No More Student Discount

ENGLISH

No longer being a student, I guess I need to make peace with the situation where I no longer can expect to get student discounts, lol ๐Ÿ˜† . Look, obviously I prefer my situation now where I can afford more stuffs than during my student years. But still, there are times when I miss it.

Take my new membership at a tennis club nearby my place, for instance. When I first looked at how much the membership fee was, I was startled by it. I mean, I could afford it, of course, but it was a lot more than what I paid before. But then I remembered that “before”, I was a student (or was counted as one) so I could get all the benefits that came with it.

Tennis clay courts inside the balloon in TU Delft

You see, my previous tennis membership was at TU Delft’s Sports Centre; that was obviously highly subsidized by the university. In 2011,ย I joined the club as a Master student. I started my PhD in 2012 and while I got a full employment contract for that, the Sports Centre still recognized me as a student so I was still allowed the student price. Even then, during the first two years of my PhD TU Delft provided the “well-being allowance” for its employees. So basically my membership during those first two years was “free” because I could claim it back, haha. Why only the first two years, btw? Well, the financial situation (that was impacted by the European monetary crisis) was not getting much better so the university needed to cut cost here and there; one of which was this allowance. But still, with the student price, it was okay.

Back to present time, my new membership at the tennis club (including the lessons and everything) costs about seven times as much as my TU Delft one. Even then, technically I “only” get tennis while at TU Delft, I could use all the sports facilities there (football, hockey, volley ball, beach volley ball, badminton, basketball, etc), except the gym (which would have cost extra).

But indeed this is how things should work. I mean, I can afford it anyway so I definitely should not complain for not getting a subsidy. After all, I prefer being able to afford things than having to rely on subsidies ๐Ÿ˜› .

In Paris for Roland Garros this year.

BAHASA INDONESIA

Bukan lagi pelajar/mahasiswa, aku harus berdamai dengan situasi dimana aku tidak lagi bisa mengharapkan mendapatkan diskon pelajar, haha ๐Ÿ˜† . Begini, jelas dong aku lebih menyukai situasiku sekarang dimana aku lebih mampu secara finansial daripada waktu-waktuku dulu sebagai pelajar. Tetapi tetap aja rasanya kadang-kadang kangen gitu.

Mari kita ambil keanggotaan baruku di sebuah klub tenis di dekat rumahku sebagai contoh. Ketika aku pertama kali melihat biaya keanggotaannya, aku kaget sekali. Maksudku, aku mampu sih untuk membayarnya, tetapi biayanya jauh lebih besar daripada yang kubayarkan sebelumnya. Tetapi aku kemudian teringat bahwa “sebelumnya”, aku adalah pelajar/mahasiswa (atau dianggap demikian) sehingga aku juga bisa menikmati keuntungan yang datang dengannya.

Lapangan tenis tanah liat di dalam balon di TU Delft.

Keanggotaan tenisku sebelumnya adalah di Sports Centre-nya TU Delft; yang mana jelas dong disubsidi universitas. Di tahun 2011,ย aku bergabung sebagai mahasiswa Master/S2. Posisi PhD/S3-ku aku mulai di tahun 2012 dan walaupun aku mendapatkan kontrak kerja penuh untuknya, Sports Centre masih menghitungku sebagai mahasiswaย sehingga aku masih diperbolehkan membayar harga pelajar. Itu pun di dua tahun pertama PhDku, TU Delft masih memberikan “tunjangan kesehatan” bagi karyawan-karyawannya. Jadi pada dasarnya keanggotaanku di dua tahun pertama itu “gratis” karena biayanya bisa aku klaim ke kantor, haha. Kok cuma dua tahun saja, ngomong-ngomong? Ya, soalnya kondisi finansial universitas (yang terkena dampak krisis moneter di Eropa) tidak kunjung membaik sehingga mereka harus memangkas biaya di sana-sini; salah satunya yang kena pangkas adalah tunjangan ini. Toh walaupun begitu, dengan harga pelajar mah nggak masalah banget lah.

Kembali ke masa kini, keanggotaan baruku di klub tenis ini (termasuk biaya les dan segalanya) adalah sekitar tujuh kali lipat daripada yang aku bayarkan ke TU Delft. Begitu pun, dengan keanggotaan ini aku “cuma” mendapatkan tenis saja padahal di TU Delft, aku bisa menggunakan semua fasilitas olahraga di sana (sepakbola, hockey, voli, voli pantai, bulu tangkis, basket, dll), kecuali gym (ada biaya ekstra untuk gym).

Ya tetapi memang begini sih ya yang benar. Maksudku, toh aku mampu untuknya sehingga aku tidak boleh protes karena tidak mendapatkan subsidi kan ya. Toh aku juga lebih memilih untuk mampu melakukan ini-itu daripada harus bergantung kepada yang namanya subsidi ๐Ÿ˜› .

Di Paris untuk Roland Garros tahun ini.
EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1965 – A Weekend in Berlin

ENGLISH

I went to Berlin for a weekend trip at the end of July. Here is the story of that trip.

Getting To/Back From Berlin

Deboarding a KLM’s Boeing 737-800 reg PH-BCD at Berlin-Tegel Airport

I flew direct with KLM between Amsterdam and Berlin in both directions. There was not much to tell about my departure flight with PH-BCD, a KLM’s Boeing 737-800, which was a regular pleasant short-haul flight with KLM. My returning flight with PH-BGX, a KLM’s Boeing 737-700, however, was far more interesting because: I got upgraded to Europe Business Class, again! Yeay!!ย ๐Ÿ˜Ž

The main difference between the two cabins, IMO, is not the seat, as the seats in Europe Business Class are the same as in economy except with blocked middle seat and a bit of extra legroom. It is, definitely, the food service. The following were the services on my departure flight to Berlin in economy (left) and my return flight from Berlin in Europe Business Class (right):

Snack service in Economy Class
Service in Europe Business Class

Obviously Europe Business Class comes with a sparkling wine (champagne) as a drink option as well ๐Ÿ˜† . After the meal the purser went around asking if we (the business class passengers) wanted anything else for a drink. I asked for a tea.

Btw, in business class the purser also referred me as “Mr. Zilko”. When she served my meal, she said something along the line as “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; whereas in economy the flight attendants normally just use the neutral “Sir/Ma’m/Miss“.

Cheers from 41,000 feet

Berlin

As I said before, Berlin turned out to be a very vibrant and nice city that it immediately became my most favorite German city; and actually one of my most favorite European cities as well. Mostly it was the atmosphere, though, where it did not feel like “business-centric” a la Frankfurt or “too touristic”. I don’t know, it is a little bit difficult to describe. Another reason is obviously the very many interesting places across the very big city.

Alexanderplatz and Berlin Mitte

Berliner Dom, the cathedral of Berlin

Most of Berlin’s attractions are located in the Mitte area, stretching from Alexanderplatz in the east, possibly the busiest square in the city, to Tiergarten in the west. On Saturday, I walked all the way from Alexanderplatz up to the Siegessรคule in Tiergarten, which I can tell you know was a long walk of almost 5 km. I walked for a total of around 15.2 km on Saturday, btw ๐Ÿ˜† .

But indeed a long the way lied many of Berlin’s famous landmarks and architectures, such as the Berlin TV Tower, the cathedral of Berlin, and the Branderburg Gate. So unsurprisingly, this was probably the most touristy area of the city as well where I saw a lot of horse carriages and rickshaws running on the main street.

The famous Brandenburg Gate

Berlin Wall and the “Dark” History

Another aspect Berlin is famous (or, rather, infamous) for is its “dark” history. You must have heard about the existence of the Berlin Wall, a wall dividing the city into West and East Berlin during the Cold War that was torn down starting in 1989 thus unifiying the city back together. Part of that wall still exists and now becomes some sort of monument. I like the one in the east side, called the East Side Gallery, where one side of the wall is used for murals.

A remnant of the Berlin Wall which divided the city into West and East Berlin during the Cold War.

Another remnant of the cold war was Checkpoint Charlie, a Berlin Wall crossing point between the two parts of the city. The guard house still exists (sort of) and now becomes a tourist attraction. Even now there are actors dressed as allied military policemen standing in front of the guard house.

At the “Checkpoint Charlie” in Berlin

Not so far way from the Brandenburg Gate was the Holocaust Memorial, a memorial to the victims of the Holocaust. I really found the design of the memorials really beautiful and artsy which formed some sort of maze.

The Holocaust Memorial in Berlin.

Summer Heat

Anyway, going to Berlin in the middle of summer, I mistakenly did not expect a lot of heat. Well, this was actually due to the weather forecast from which I learned that it would be cloudy a lot during the weekend but low precipitation so I didn’t really need to bring an umbrella. However, I was wrong big time because not only that it was not cloudy, it was actually scorching hot and apparently at some point the temperature was:

38.5 Celsius!!

Crazy!!ย ๐Ÿ˜–

The Food

In general I liked the food in Berlin as well, also that overall I did not find it to be expensive (especially in comparison to the Netherlands). However, though, I felt like the waiters there were very “forefront” about tipping, even directly asking me how much I would tip them. I am not sure if this was because probably I dined in touristy area or so. But for those more familiar with Berlin, is this really the general practice there? I mean, in other German cities I have been to, I never experienced this straight-forwardness.

Currywurst in Berlin.

Anyway, I really liked the gourmet-ish currywurst that I had in my first afternoon there. It came with fries and salad, so it did not taste anything like the “cheap” currywurst sold on the street in the entire Germany. It tasted much more “proper”, in my opinion ๐Ÿ˜› . Other than that, though, I had an Argentinian steak and a schnitzel during my stay there. The steak was great, but the schnitzel was standard.

BAHASA INDONESIA

Aku pergi ke Berlin untuk sebuah perjalanan akhir pekan di akhir Juli. Berikut ini ceritanya.

Pergi ke/dari Berlin

Turun dari pesawat Boeing 737-800nya KLM dengan rego PH-BCD di Bandara Berlin-Tegel.

Aku terbang langsung dengan KLM di perjalanan ke Berlin dan kembalinya. Nggak banyak sih yang ingin kuceritakan dari penerbangan keberangkatanku dengan PH-BCD, sebuah Boeing 737-800nya KLM, yang mana merupakan penerbangan reguler yang nyaman dengan KLM di rute jarak pendek. Penerbangan kepulangannya dengan PH-BGX, sebuah Boeing 737-700nya KLM, tapinya, jauh lebih menarik karena: aku di-upgrade ke Kelas Bisnis Eropa, lagiย dong! Horee!!ย ๐Ÿ˜Ž

Perbedaan utama dari dua kabin ini, menurutku, bukanlah kursinya, karena kursi di Kelas Bisnis Eropa itu pada dasarnya sama aja kayak kursi di kelas ekonomi tetapi kursi tengahnya dikosongi dan dengan legroom yang lebih lapang. Perbedaan utamanya jelaslah di layanan makanannya. Berikut ini adalah layanan di penerbangan keberangkatanku ke Berlin di kelas ekonomi (kiri) dan penerbangan kepulanganku dari Berlin di kelas bisnis Eropa (kanan):

Layanan makanan di kelas ekonomi
Layanan makanan di kelas bisnis Eropa

Jelas lah ya kelas bisnis Eropa juga menawarkan champagne sebagai salah satu pilihan minumannya, haha ๐Ÿ˜† . Dan setelah selesai makan, purser-nya berkeliling bertanya apakah kami (penumpang kelas bisnis) ingin minum apa lagi gitu. Aku meminta segelas teh hangat.

Btw, di kelas bisnis purser-nya juga memanggilku dengan sebutan “Mr. Zilko” loh. Ketika menyajikan makananku, ia kurang lebih berkata “Mr. Zilko, here is your meal, enjoy“; sementara kalau di ekonomi kan paling pramugari/a-nya menggunakan panggilan netral semacam “Sir/Ma’m/Miss” gitu ya, haha.

Cheers dari ketinggian 41.000 kaki

Berlin

Seperti yang sudah kusebutkan, ternyata Berlin adalah kota yang hidup banget dan asyik sehingga otomatis langsung menjadi kota di Jerman favoritku; dan bahkan sebagai salah satu kota favoritku di Eropa loh. Utamanya karena atmosfernya sih, asyik banget gitu dimana tidak terasa “bisnis banget” a la Frankfurt tetapi tidak juga “terlalu touristy“. Hmm, memang cukup sulit untuk dideskripsikan dengan kata-kata, haha. Salah satu alasan lainnya jelas karena ada banyak banget tempat menarik di kota yang berukuran besar ini.

Alexanderplatz dan Berlin Mitte

Berliner Dom, katedralnya Berlin

Kebanyakan atraksinya Berlin berada di area Mitte, yang terentang dari Alexanderplatz di timur, mungkin lapangan paling sibuknya Berlin, sampai ke Tiergarten di barat. Di hari Sabtu, aku berjalan-kaki loh dari Alexanderplatz sampai Siegessรคule di Tiergarten, yang mana ternyata jauh juga dimana jaraknya hampir 5 km. Btw hari Sabtu itu aku berjalan-kaki sejauh sekitar 15,2 km loh totalnya, haha ๐Ÿ˜† .

Tetapi memang kok di sepanjang jalan ini banyak banget landmark-nya Berlin yang kece-kece, misalnya Menara TVnya Berlin, katedralnya Berlin, dan juga Gerbang Brandenburg. Jadi, tidak mengherankan, area ini mungkin adalah area yang paling touristy di kota ini dimana aku banyak melihat kereta kuda dan becak juga di jalanannya.

Gerbang Brandenburg yang terkenal itu

Tembok Berlin dan Sejarah “Kelam”

Satu aspek lain yang terkenal dari Berlin adalah sejarah “kelam”-nya. Pasti pernah dengan kan mengenai keberadaan Tembok Brlin, sebuah tembok yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin dan diruntuhkan mulai tahun 1989 sehingga kotanya bersatu kembali. Nah, sebagian dari tembok itu masih berdiri dan sekarang dijadikan monumen. Aku suka bagiannya di sisi timur, yang disebut East Side Gallery, dimana salah satu sisi temboknya diisi banyak mural.

Satu peninggalan Tembok Berlin yang membagi kotanya menjadi Berlin Barat dan Timur sewaktu Perang Dingin.

Satu peninggalan dari Perang Dingin lainnya adalah Checkpoint Charlie, tempat penyeberangan Tembok Berlin di antara kedua bagian kota. Bangunan penjagaannya masih ada (kurang lebih begitu) dan kini menjadi atraksi turis, haha. Bahkan ada aktor yang berkostum sebagai polisi militernya Sekutu di sana loh.

Di “Checkpoint Charlie” di Berlin

Tak jauh dari Gerbang Brandenburg adalah Holocaust Memorial, tempat untuk mengenang korban dari Holocaust. Aku suka sekali disainnya yang bagiku nampak indah dan berseni sekali yang membentuk semacam labirin.

Holocaust Memorial di Berlin.

Panasnya musim panas

Anyway, pergi ke Berlin di tengah-tengah musim panas, aku malah tidak mempersiapkan diri akan panasnya loh. Ya habis gimana, ramalan cuacanya mengatakan cuaca akan mendung tetapi curah hujan rendah sehingga aku tidak perlu membawa payung. Ternyata, aku salah banget karena selain cuacanya tidak mendung, malah panas banget loh dan ternyata di satu waktu mencapai:

38,5 derajat Celsius!!

Gila kaaan!!ย ๐Ÿ˜–

Makanannya

Secara umum aku juga suka makanan di Berlin, apalagi bagiku rasanya tidak terlalu mahal (jika dibandingkan dengan Belanda), haha. Namun, aku kok merasa pelayan-pelayannya cukup agresif juga ya dalam hal meminta tips, bahkan bertanya langsung kepadaku aku ingin memberikan tips berapa. Aku nggak tahu sih apakah ini disebabkan aku makan di tempat-tempat yang banyak turisnya atau gimana. Bagi yang familer dengan Berlin, apakah memang seperti itu di sana? Soalnya, di kota-kota Jerman lainnya, aku tidak pernah menghadapi situasi se-straight-forward ini.

Currywurst di Berlin.

Anyway, aku suka banget currywurst yang nampak lebih gourmet sebagai makan siang pertamaku di sana. Sosisnya disajikan dengan kentang goreng dan salad, dan tidak terasa seperti currywurst “murahan” yang banyak dijual di jalanan di seluruh Jerman. Rasanya lebih “proper” gitu, haha. Selain itu, aku malah makan steak ala Argentina dan schnitzel. Steak-nya sendiri enak tetapi schnitzelnya standar lah.

General Life · Zilko's Life

#1964 – The First Weekend of August

ENGLISH

Saturday was a very busy day for me. After breakfast, I went to the gym at around 11 AM for my leg day. It was quite early (for me) to go to the gym on Saturday, actually. And this was because I had something planned for the rest of the day.

About two months ago, some friends and I decided that we would like to catch up some time. So after looking for weekend possibilities (It could be tricky especially with my “busy” period with lots of weekend trips ๐Ÿ˜› ), we chose this first weekend of August, haha. And because the last time was in Rotterdam, this time we would catch up in Eindhoven in the southern part of the Netherlands.

So after my gym session, I showered and then went to the centraal station. We would meet at 4 PM but I departed at 1:15 PM because a one-way trip to Eindhoven would take about 2 hr 40 minutes from my place (Well, Eindhoven is about 130 km from Amsterdam anyway). Especially that it was quite unfortunate there was a planned railway maintenance today so there would be no train running between Boxtel and Eindhoven. And so I had to transfer three times (at Amsterdam Centraal to an Intercity, at Utrecht Centraal to another Intercity, and at Boxtel to the replacement bus service).

I had to take the replacement bus service between Boxtel and Eindhoven. The good part of this was that it was free, so I “only” had to pay for a return fare from Amsterdam Centraal and Boxtel instead of Eindhoven, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, we met at around 4 PM at a cafe slash bar slash club, haha ๐Ÿ˜† . Then at 6:30 PM we went to a burger place in the centrum. It was a small place but (or “and so”?) was always very crowded, a good sign of a restaurant though, and apparently it had been like that since they opened like three years ago. We also had to wait for a bit before we got our table. I ordered a lamb burger with extra truffle chips and a side salad, which was really tasty!

A tasty lamb burger in Eindhoven (the side salad had not been served yet).

It was very nice and fun to catch up with some good friends. Though us living in different cities now make it not quite as easyย to organize a meet up or anything. Even though still in the same country, certainly it cannot be as spontaneous and have to be planned in advance! Haha ๐Ÿ˜† . An extra constraint also surfaced from this situation. I had to leave at 9:20 PM on Saturday so I could still avoid the much less frequent night train service (that would have prolonged my trip back to Amsterdam). And so I took the replacement bus to Boxtel, changed to an Intercity to Utrecht Centraal, then changed to another Intercity to Amsterdam Centraal, and then took the tram home.

I used Sunday as my resting day, haha. I had been working all week with a packed Saturday, and I was travelling to Berlin all weekend the weekend before. So clearly my body started to scream for some rest ๐Ÿ˜€ . Well, but still a grocery shopping was essential because I was running out of food ๐Ÿ˜› .

BAHASA INDONESIA

Sabtu kemarin adalah hari yang cukup menyibukkan untukku. Setelah sarapan, aku pergi ke gym sekitar jam 11 pagi untuk latihan leg day hari itu. Pergi ke gym jam segini di hari Sabtu bisa dibilang cukup awal sih (untukku). Dan ini dikarenakan aku sudah ada rencana lain untuk sepanjang sisa hari itu.

Sekitar dua bulan yang lalu, beberapa teman dan aku memutuskan untuk catch up gitu kapan-kapan. Nah, setelah melihat weekend-weekend yang mungkin (Ini bisa menjadi cukup tricky karena aku sedang berada di periode “sibuk” dengan banyak perjalanan akhir pekan ๐Ÿ˜› ), akhirnya kami memilih akhir pekan pertama di bulan Agustus ini, haha. Dan karena kali terakhir adalah di Rotterdam, kali ini kami akan ketemuan di Eindhoven di Belanda bagian selatan.

Jadilah setelah dari gym, aku mandi dan kemudian pergi ke stasiun Amsterdam Centraal. Kami baru akan ketemua jam 4 sore tetapi aku harus berangkat jam 1:15 siang untuk itu karena perjalanan satu arah ke Eindhoven memakan waktu sekitar 2 jam 40 menit dari tempatku (Yah, Eindhoven sendiri berjarak sekitar 130 km gitu dari Amsterdam). Kebetulan pula hari ini sedang ada maintenance di jalur rel kereta api antara Boxtel dan Eindhoven sehingga tidak ada layanan kereta yang dijalankan di antara dua kota ini. Sebagai akibatnya aku harus transit tiga kali deh (di Amsterdam Centraal untuk naik kereta Intercity, di Utrecht Centraal untuk berganti kereta Intercity, dan di Boxtel untuk berganti ke layanan bus pengganti akibat maintenance ini).

Aku harus menaiki layanan bus pengganti di antara Boxtel dan Eindhoven. Sisi positif dari ini adalah layanannya gratis, jadi aku “hanya” perlu membayar harga tiket pp dari Amsterdam Centraal ke Boxtel bukannya Eindhoven, haha ๐Ÿ˜† .

Anyway, kami bertemu sekitar jam 4 sore di sebuah kafe-bar-club, haha ๐Ÿ˜† . Lalu jam 6:30 sore kami pergi ke sebuah restoran burger di centrumnya. Restorannya berukuran mini tetapi (atau “sehingga”?) tempatnya ramai banget, yang mana pertanda baik untuk sebuah restoran sih ya, dan ternyata memang restorannya sudah selalu ramai seperti ini semenjak pertama kali buka tiga tahunan yang lalu. Kami harus menunggu sebentar sebelum ada meja yang kosong. Aku memesan burger daging domba dengan ekstra keripik truffleย plus side salad, yang mana rasanya enak!

Seporsi burger domba yang enak di Eindhoven (side saladย belum diantarkan).

Seru dan asyik rasanya untuk catch up dengan beberapa teman baikku. Hanya saja sekarang kami tinggal di kota-kota yang berlainan membuat situasi menjadi tidak mudah untuk ketemuan gitu. Walaupun masih di satu negara yang sama, tetap aja sulit dan tidak bisa spontan seperti dulu ya; harus direncanakan jauh-jauh hari! Haha ๐Ÿ˜† . Satu batasan lain yang muncul akibat situasi ini adalah: aku harus pulang jam 9:20 malam di hari Sabtu supaya aku bisa menghindari jadwal layanan kereta malam hari yang mana jauh lebih jarang (yang mana artinya waktu tempuhku kembali ke Amsterdam akan menjadi berkali-lipat lebih lama). Jadilah aku menaiki layanan bus pengganti itu ke Boxtel lagi, lalu naik Intercity ke Utrecht Centraal, berganti Intercity ke Amsterdam Centraal, dan kemudian naik tram untuk kembali ke rumah.

Hari Minggu aku gunakan sebagai hari istirahat dah, haha. Aku sudah bekerja terus di sepanjang minggu dan hari Sabtuku juga padat, apalagi seminggu sebelumnya aku jalan-jalan ke Berlin di sepanjang akhir pekan. Jadilah badanku kemudian mengkode minta istirahat gitu, haha ๐Ÿ˜€ . Ah, tetapi aku masih tetap harus belanja kebutuhan sehari-hari juga sih soalnya aku mulai kehabisan bahan-bahan makanan di rumah ๐Ÿ˜› .

General Life · Zilko's Life

#1963 – The Nutrition App and Morning Tram

ENGLISH

The Nutrition App – The Aftermath

In July I shared about an app nutrition I downloaded in June which helped me track my daily consumption of food. At the time, I already had doubts on my usage of this app in the long run due to the tedious amount of work required to make it work, haha. And this turned out to be true. I stopped using it just a few weeks after I published that post, haha ๐Ÿ˜† .

But as I said there, what I actually needed from the app was not the actual daily intake of what I ate everyday, as the data “noise” appeared to be great anyway. The main usage of the app was to provide an overview of my eating habit, broken down by the nutrients. With this, I would be able to analyze my habit and make some needed adjustments to reach my goal. And for this, a few days of data would have been enough anyway, haha.

So while I would guess that my daily intake now might not be as “efficient” as back then when I was still using the app everyday, at the very least I hope it is still better than how it was before the app! Haha ๐Ÿ˜›

Though, yesterday I succumbed to the temptation of this dessert at the office. But a cheat day once in awhile never hurts, right? Haha ๐Ÿ˜†

Tram

Anyway, let’s move on to a completely different subject. One day not too long ago I got up a little bit earlier than usual and so I decided to also go to work a little bit earlier as well. And that day, I learned that it would actually be better for me to go to work at my normal time, haha. As it turned out, going to work earlier would coincide with the busier part of the rush hour where the tram to the city center was really full. At my usual time, I always find a vacant seat so it is really convenient. But that day, I had to stand all the way! Haha ๐Ÿ˜†

Ok then, lesson learned.

BAHASA INDONESIA

App Nutrisi – Pada Akhirnya

Juli kemarin aku bercerita mengenaiย sebuah app nutrisiย yang aku unduh di bulan Juni yang membantuku merekam apa saja makanan yang aku konsumsi setiap harinya. Waktu itu, aku sudah memiliki keraguan akan penggunaan app ini dalam jangka panjang karena ribet dan banyaknya hal yang harus dilakukan agar app-nya bekerja, haha. Dan ternyata ini benar kok. Aku berhenti menggunakannya hanya beberapa minggu setelah posting itu aku publikasikan, haha ๐Ÿ˜† .

Tapi seperti yang kubilang di sana, yang sebenarnya aku butuhkan dari app-nya bukanlah rekaman apa yang aku konsumsi setiap hari, karena toh datanya juga “noisy” banget. Kegunaan utama app-nya untukku adalah rangkuman mengenai kebiasaan makanku, lengkap dengan nutrisi-nutrisinya. Dengan ini, aku bisa menganalisa kebiasaanku dan membuat perubahan untuk mencapai tujuanku. Dan untuk ini, sebenarnya data dari beberapa hari saja toh sudah cukup lah ya, haha.

Jadi walaupun aku rasa apa yang kumakan sekarang tidak “seefisien” kemarin ketika app-nya masih aku gunakan, setidaknya aku berharap ini masih lebih baik daripada sebelum aku memiliki app itu! Haha ๐Ÿ˜›

Walaupun kemarin aku jatuh ke dalam godaan dessert ini di kantor sih. Eh, tapi kan cheat day sekali-sekali nggak papa lah ya, haha ๐Ÿ˜† .

Tram

Anyway, mari ngomongin topik lain. Suatu hari belum beberapa lama ini aku bangun lebih pagi dari biasanya dan aku memutuskan untuk berangkat kerja juga lebih pagi. Dan hari itu, aku baru menyadari bahwa sebaiknya aku tetap berangkat kerja di waktu seperti biasa saja, haha. Ternyata, berangkat kerja lebih awal itu justru akan bertepatan dengan periode rush hour yang lebih sibuk sehingga tram ke pusat kotanya ramai banget. Di waktu keberangkatan biasaku, aku selalu menemukan setidaknya satu kursi kosong jadi enak lah ya. Tapi di hari itu, aku harus berdiri di sepanjang jalan! Haha ๐Ÿ˜† .

Ok deh, lesson learned!