Contemplation · my apartment · Thoughts · Zilko's Life

#1986 – Bed First World Problem


So you know I have decided to “invest” in better products for the basic furnitures I bought for my apartment. One of those basic furnitures is my bed.

But obviously I did not buy this €5000 (after discount price) bed even though it was super comfortable. I still have some sense with my budget and spending, haha 😆

So I decided to spend a little bit more and buy a better bed for myself (Even though obviously not the €5000 after-discount bed pictured above, lol 😆 ). And I have to say it was one of the best decisions I have made this year!! The bed was sooo gooooood; that it justified the amount I needed to blow invest for it. Haha 😆 .

Though, this was not without any “problem”, of course. I mean, now that I have been accustomed to a certain standard of sleeping comfort, somehow hotel beds I encounter during my frequent travels impress me much less these days, haha 😆 .

You see, before when I still lived in my rental shared-house in Delft (which came in all-furnished, i.e. I didn’t have to bring my own furniture), the bed that I got was the one on the “cheap”-er range. It was okay. I mean, I lived there for almost two years anyway and I never complained about it. So I guess I grew accustomed to it. But this also meant that everytime I travelled somewhere and stayed in a (better range) hotel, I was looking forward for the room and, especially, the bed! Haha 😆

I was really looking forward to my stay at this five-star hotel in Frankfurt last year.

But now, somehow things have changed after I got my new bed; and I didn’t really notice it at first. I was still going to my trips with pretty much the same level of excitement as before. However, somehow I stopped feeling “wowed” in terms of comfort with the beds that I got, haha 😆 . I mean, those were still comfortable, obviously, but somehow the comfort just felt “normal” and not anything out of the ordinary, haha 😆 .

My recent summer weekend trip to London made me realize this change. So I decided to “save” a little bit and stay at a cheap(er) place on this trip. I found what I thought was a good deal at a place which I thought was a hotel that turned out to be a guest house (hence the price). And you know, I got what I paid for. I found the bed uncomfortable and, while I managed to get some sleep, I wasn’t fully rested. Consequently, I felt sleep-deprived in the coming full working week where I needed vitamin-C supplement for two of those days to help my stamina, haha. I mean, I don’t expect it would have been this “bad” had I gone on this trip while I still lived in Delft.

I was also excited with my hotel room at Stockholm – Arlanda last year.

I don’t mean to sound like a snob here. My point is that people do adjust and adapt to their environment. And anything out of their comfort zones are deemed “unusual” and can either be perceived as “pleasure” or “pain”. And that the definition of “pleasure” or “pain” for someone can definitely change too dynamically.

Back to the bed situation, I guess this means that there is a stronger reason for me to perceive my apartment as my “home” now. As I can say it is “easier” for me to miss my bed, haha…


Jadi ceritanya aku telah memutuskan untuk “berinvestasi” di produk-produk yang lebih baik untuk mebel-mebel dasar yang kubeli untuk apartemenku. Nah, salah satunya adalah ranjang tidurku.

Eh tetapi jelas dong aku tidak membeli ranjang seharga €5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) ini walaupun memang enak banget sih. Tapi aku masih memiliki kewarasan kok dalam hal budget dan pengeluaranku, haha 😆

Jadi aku memutuskan untuk keluar biaya lebih banyak dan membeli ranjang yang lebih oke gitu deh untuk apartemenku (Walaupun bukan ranjang seharga €5000 (sekitar Rp 75 juta, ini pun harga setelah diskon) seperti di foto di atas ya, haha 😆 ). Dan harus kubilang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang kubuat tahun ini loh!! Ranjangnya memang enak bangeetttt; dan memang sepadan deh dengan biaya yang harus aku habiskan investasikan untuknya! Haha 😆

Walaupun, bukan berarti ini tanpa “masalah” juga sih. Jadi karena sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan standar kenyamanan tidur tertentu, entah bagaimana sekarang ranjang-ranjang di hotel yang aku temui di perjalanan-perjalananku itu menjadi tidak seimpresif sebelumnya deh, haha 😆 .

Jadi ceritanya di tempat tinggal shared-ku yang sebelumnya di Delft (yang mana all furnished, dalam artian aku jadi tidak perlu membeli mebelku sendiri), ranjang yang kudapatkan adalah ranjang yang tergolong lebih “murah” gitu deh. Nggak masalah sih sebenarnya. Toh aku tinggal di sana selama dua tahun dan aku tidak pernah komplain akan itu. Jadi aku toh masih bisa membiasakan diri dengannya. Tetapi ini juga berarti setiap kali aku jalan-jalan dan menginap di hotel (yang bagusan dikit), aku juga merasa tidak sabar dan excited banget terhadap kamarnya dan, terutama, ranjangnya! Haha 😆

Aku nggak sabar banget untuk menginap semalam di hotel berbintang-lima di Frankfurt ini tahun lalu.

Tetapi sekarang, hal berubah setelah aku mendapatkan ranjang baruku; perubahan yang awalnya tidak aku sadari. Aku masih pergi dalam perjalanan-perjalananku itu dengan level excitement yang sama seperti sebelumnya. Namun, entah bagaimana aku tidak lagi merasa “wow” dalam hal kenyamanan ranjang dari ranjang yang kudapat, haha 😆 . Maksudku, masih nyaman-nyaman aja sih, tapi entah mengapa rasa nyamannya itu terasa “normal” dan wajar gitu, haha 😆 .

Perjalanan akhir pekan musim panasku ke London baru-baru ini membuatku sadar akan perubahan ini. Jadi waktu itu aku memutuskan untuk “menghemat” sedikit dan menginap di tempat yang lebih murah. Aku menemukan suatu harga yang nampak promo di tempat yang aku kira sebuah hotel yang mana ternyata adalah sebuah guest house (jadilah harganya segitu). Ya jelas aku mendapatkan seperti apa yang kubayar ya. Aku mendapatkan ranjang yang bagiku tidak nyaman dan, walaupun aku toh masih bisa tertidur, badanku tidak benar-benar beristirahat. Akibatnya, aku merasa kekurangan tidur di satu minggu kerja penuh selanjutnya dimana di dua hari di antaranya aku merasa perlu minum suplemen vitamin C untuk menopang staminaku, haha. Maksudku, aku kira masalah ini tidak akan “seburuk” ini andaikata perjalanan ini aku lakukan ketika aku masih di Delft.

Aku juga excited banget dengan kamar hotelku di Stockholm – Arlanda tahun lalu.

Bukannya bermasuk sombong atau gimana gitu sih di sini. Inti dari cerita ini adalah memang benar bahwa manusia itu bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dan apa-apa yang di luar zona nyamannya akan terasa “tidak biasa” dan ketidak-biasaan ini bisa dipandang sebagai “kenikmatan” atau “kesakitan”. Dan definisi “kenikmatan” dan “kesakitan” bagi seseorang itu pun juga bisa berubah secara dinamis.

Kembali ke urusan ranjang (wedew, keterangan macam apa ini 😛 ), aku rasa ini berarti aku memiliki satu alasan kuat yang membuat apartemenku terasa seperti “rumah”-ku (home) sekarang. Dimana aku bisa dengan “lebih mudah” berkata aku kangen dengan ranjangku sendiri, haha…

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1985 – A Saturday Story


Yesterday, as my Instagram followers (@azilko) have known, I went on another AvGeek Weekend Trip! Here is the routing this time:

The routing this weekend. Map created with

About a month ago when I was looking at my flights record this year, it appeared to me that I hadn’t flown to anywhere to the northeast of the Netherlands so the map looked rather “bleak”. And so in an attempt to make my flying map “prettier” this year, I figured I would need to somehow fly to this part of Europe, haha 😆 . Of the three possible candidates (Copenhagen, Stockholm, and Oslo), I found the best option (in terms of schedule, fare, and airlines) would be Oslo, haha. And so I booked the ticket.

Where I have flown to/from Amsterdam Schiphol Airport this year prior to yesterday. Notice the lack of red edges to the north of Amsterdam 😛 . Created with

I was flying with KLM from Amsterdam to Oslo and Paris to Amsterdam, and with Air France (operated by HOP! Regional) from Oslo to Paris. As usual, it was such a fun Saturday to me where I flew on three flights on a day. I just realized though that I have not done this since May 2017! Hahaha 😆 . Anyway, I was quite lucky to seat on a window seat in the left side of the plane on my flight to Oslo and the flight landed at runway 01L of Oslo-Gardermoen Airport. With this flight path, the plane had to fly above the city of Oslo and so I could snap a shot of it from above:

Oslo, not Solo!

At first, I didn’t think I would write anything in much more details about this trip. But after the trip, I changed my mind as I feel like the experience worth a stand-alone post! For instance, I was a little bit disappointed that the two KLM flights were operated using two Boeing 737-700s which I had flown before: PH-BGQ and PH-BGN. And so consequently, I couldn’t add new KLM registration to my flying log. Haha 😆 . Anyway, here are a few teasers from the trip:


Kemarin, seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam sebuah AvGeek Weekend Trip lagi loh! Berikut ini rutenya kali ini:

Rute akhir pekan ini. Peta dibuat dengan

Sekitar satu bulan yang lalu ketika aku iseng mengecek catatan penerbanganku tahun ini, aku perhatikan aku belum terbang ke suatu tujuan di arah timur lautnya Belanda sehingga petanya nampak “membosankan” gitu deh. Nah jadilah supaya membuat peta penerbanganku tahun ini lebih “berwarna”, aku memutuskan bahwa aku perlu nih pergi ke daerah ini di Eropa, huahaha 😆 *alasan macam apa ini*. Nah dari tiga kandidat tujuannya (Kopenhagen, Stockholm, dan Oslo), aku temukan pilihan terbaik (dari segi jadwal, harga tiket, dan maskapai) adalah Oslo, haha. Jadilah tiketnya aku beli.

Rute-rute yang sudah kuterbangi dari/ke Bandara Schiphol di Amsterdam tahun ini sampai dua hari yang lalu. Perhatikan ketiadaan garis merah di arah utara Amsterdam. Peta dibuat dengan

Aku terbang dengan KLM dari Amsterdam ke Oslo dan Paris ke Amsterdam, dan dengan Air France (penerbangannya dioperasikan oleh HOP! Regional sih) dari Oslo ke Paris. Seperti biasa, ini adalah hari Sabtu yang seru untukku dimana aku terbang tiga kali dalam satu hari. Dan aku baru sadar loh terahir kali aku melakukan ini adalah di bulan Mei 2017! Huahaha 😆 Anyway, aku beruntung duduk di kursi jendela di kiri pesawat di penerbangan ke Oslo dan penerbangannya mendarat di landasan pacu 01L Bandara Oslo-Gardermoen. Ini karena dengan rute ini, pesawatnya terbang di atas kota Oslo sehingga aku bisa memfotonya dari atas:

Oslo, bukan Solo!

Awalnya, kukira aku tidak akan menuliskan detail perjalanan ini lebih jauh. Tetapi setelah perjalanannya, aku harus mengubah pendapatku ini karena aku rasa pengalamannya berhak untuk dijadikan satu posting tersendiri! Misalnya saja, aku cukup sebal dong dua penerbangan KLMnya dioperasikan dengan dua Boeing 737-700 yang sudah pernah kunaiki sebelumnya: PH-BGQ dan PH-BGN. Kan flying log-ku jadi nggak bertambah dengan registrasi KLM baru tuh. Haha 😆 Anyway, di atas aku posting beberapa teasers dari perjalanannya.

Nostalgia · TV Show

#1984 – HIMYM, Three Years Later


In June I shared about my new subscription with Netflix and how I found it surprising that I could not find Friends or The Big Bang Theory there but, at least, I got How I Met Your Mother (HIMYM). Anyway, because of this, since then I have been running a marathon on HIMYM and, as of recently, I finally finished all nine seasons! Haha 🙈.

I have quite a “long” history with HIMYM. I first watched it in Star World in 2007, quite possibly at this time, and was immediately captivated by its brilliant Pilot episode. I watched its first three seasons sporadically in Star World before moving to the Netherlands in 2010. And then, I learned about the possibility to catch it up online that was highly supported by the amazing internet speed, haha 😆 . So I went on a marathon to catch up (Star World was behind by two seasons, btw, as HIMYM was premierred in 2005 actually). And early in 2014, I watched its final episode.

And that, kids, is how I met your mother.

– Ted Mosby

You see, at the time I was very disappointed with the ending. I mean, I am all in with twists or surprises, as long as those “worked”; but this twist the writers chose for the ending of such a wonderful sitcom did not feel like “working”, at least to me. I mean, I understood the “logic” behind it but this did not mean that I would like it, right? And I really didn’t.

I thought time might change my mind. You know, afterall people change anyway. But here I am, after re-marathoning the entire nine seasons of HIMYM more than three years after the conclusion of its last season, I can say that my position on the show’s finale turns out to still be the same. I still feel disappointed with the ending #consistency, haha 😆 .

Nonetheless, the show is not only about how it ends. There are a lot of gems in the show. And I am especially glad I got to watch the first a few seasons because I, honestly, had apparently forgotten quite many details about those so watching some of those episodes still felt like watching new ones at times, haha. So even though I am disappointed with the ending, I still enjoyed Ted’s super long story on how he met his children’s mother (read: his wife).

And so, despite the disappointing ending, I still can say this show is one of my favorites 🙂 .

Well, now that I have finished the entire nine seasons, I guess I need to find another (long) series to watch. Too bad the Game of Thrones is not on Netflix (My new colleague has become like the 5437th person who has recommended me to start watching this series, btw, haha 😆 ), hmm…


Juni lalu aku bercerita mengenai keanggotaan baruku dengan Netflix dan bagaimana aku cukup kaget aku tidak bisa menemukan Friends atau The Big Bang Theory di sana tetapi, setidaknya, masih ada How I Met Your Mother (HIMYM) sih. Nah, karena ini, semenjak waktu itu aku sudah marathon nonton HIMYM dan baru-baru ini aku sudah selesai menonton ulang semua sembilan musimnya dong! Haha 🙈.

Sejarahku dengan HIMYM ini cukup “panjang”. Aku pertama kali menontonnya di Star World di tahun 2007, kurang lebih waktu ini, dan aku langsung terpesona dengan episode Pilot-nya yang brilian banget. Aku menonton tiga musim pertamanya secara loncat-loncat di Star World sebelum aku kemudian pindah ke Belanda di tahun 2010. Dan kemudian, aku menemukan yang namanya menonton acaranya online yang mana didukung dengan kecepatan internet yang oke banget untuk itu, haha 😆 . Jadilah aku menontonnya marathon untuk catch-up (Star World tertinggal selama dua musim, btw, karena HIMYM sebenarnya mulai ditayangkan di tahun 2005). Dan di awal tahun 2014, aku menonton episode terakhirnya.

And that, kids, is how I met your mother.

– Ted Mosby

Waktu itu aku merasa amat kecewa dengan akhir ceritanya. Maksudku, aku oke-oke saja sih dengan yang namanya plot twists atau kejutan-kejutan gitu, tentunya selama kejutannya “bekerja” dengan baik ya; tetapi aku merasa twist yang dipilih penulis naskahnya untuk akhir dari sitcom yang keren banget ini rasanya malah “gagal” gitu deh, setidaknya untukku. Maksudku, aku bisa memahami “logika” di baliknya sih tetapi bukan berarti aku akan menyukainya kan? Dan aku benar-benar tidak menyukainya waktu itu.

Waktu itu aku berpikir mungkin waktu akan mengubah pikiranku. Tahu kan, toh setiap orang itu bisa berubah, haha. Tetapi di sini lah aku, setelah marathon sepanjang sembilan musimnnya HIMYM lagi lebih dari tiga tahun semenjak akhir acaranya ditayangkan, aku bisa bilang bahwa pendapatku akan akhir dari acara ini ternyata masih sama. Aku masih merasa kecewa dengan akhirnya #konsisten, haha 😆 .

Toh walaupun begitu, acara ini bukanlah sekedar akhirnya saja kan. Ada banyak kok momen-momen seru dan bagus banget di sepanjang acara ini. Dan aku merasa senang aku bisa menonton lagi beberapa musim awal-awal karena aku, sejujurnya, ternyata sudah lupa beberapa detail ceritanya sehingga beberapa episodenya masih terasa baru untukku, haha. Jadi walaupun aku kecewa dengan akhir ceritanya, aku masih menikmati cerita super panjangnya Ted tentang pertemuannya dengan ibu dari anak-anaknya (baca: istrinya).

Dan jadilah, walaupun aku kecewa dengan akhirnya, aku masih bisa berkata bahwa acara ini adalah salah satu acara TV favoritku 🙂 .

Yah, sekarang dimana aku sudah menyelesaikan sembilan musim HIMYM, aku rasa aku membutuhkan acara (panjang) lainnya nih. Sayang Games of Thrones nggak ada di Netflix (Kolega baruku barusan menjadi orang ke-5437 yang merekomendasikanku untuk menonton acara ini nih, btw, haha 😆 ), hmm…

General Life · Zilko's Life

#1983 – Finally, Tennis!


Finally, this week the tennis lesson at my new tennis club started! “Finally” because, you know, I have been a member of the club since June but the lesson starts just now, haha 😆 . Plus, the last time I played tennis was actually back in December 2016 in Delft, meaning that prior to this week I literally had not played at all this year!! On top of that, I mistakenly thought the tennis lesson would have started two weeks ago. And so it felt like I had been waiting for even longer! Haha 😆

Obviously I was really rusty during my first lesson this week. This was unsurprising as this was the longest “tennis-free” streak I have had since I first picked up a tennis racket in 2011, haha. I am sure I am going to (maybe slowly) get my rhythm back, I just need more time. Even though admittedly it was quite frustrating to miss a lot of easy shots, haha.

I am really glad, though, that finally the tennis lesson has started. To be honest, I have been feeling quite worried with my exercise routine because before this week, I only went to the gym. This meant the lack of variety and I actually went to the gym about four to five times a week. While it was working fine this past a few months, I was slightly concerned with how this would pan out in the longer term. Of course, occassionally I also jogged or biked on weekends, which added some variety, but these activities could not be done regularly given my frequent weekend trips ( 😛 ) and that sometimes I felt the need to just rest and recharge myself on weekends.

I am quite confident this tennis lesson will help a lot. Not only that I get to regularly do a sport exercise that I love, this also provides me the opportunity of meeting other tennis enthusiasts nearby and hence perhaps even more occassional friendly tennis activities outside of the lesson hour! 🙂

So, yeah, I am excited about this! 🙂


Akhirnya, minggu ini les tenis di klub tenis baruku dimulai juga! “Akhirnya” karena, tahu lah, aku sudah mendaftar menjadi anggota klubnya semenjak Juni kemarin tetapi lesnya baru dimulai sekarang, haha 😆 . Ditambah lagi, terakhir kali aku main tenis adalah di bulan Desember 2016 di Delft, artinya sebelum minggu ini aku belum pernah sekali pun bermain tenis tahun ini dong!! Apalagi, awalnya aku salah ingat dimana kukira lesnya bakal dimulai dua minggu yang lalu. Jadilah “penantianku” semakin panjang rasanya ya, haha.

Tentu saja permainanku karatan banget di les pertamaku minggu ini. Nggak mengherankan lah karena ini adalah “tennis-freestreak terpanjang semenjak aku pertama kali belajar les tenis di tahun 2011, haha. Aku yakin kok aku akan (perlahan-lahan) mendapatkan ritmeku kembali, aku hanya butuh waktu saja. Walaupun harus kuakui, sebal banget rasanya ketika membuat kesalahan sendiri di banyak pukulan-pukulan yang sebenarnya gampang, haha 😛 .

Aku lega lho akhirnya les tenis ini dimulai juga. Sejujurnya, aku sudah mulai merasa agak khawatir dengan rutinitas olahragaku karena sebelum minggu ini, aku hanya pergi ke gym saja. Ini berarti tidak ada banyak varietas dan aku pergi ke gym sebanyak empat sampai lima kali seminggu. Walaupun kondisi ini bukanlah masalah selama beberapa bulan terakhir ini, aku sedikit khawatir bagaimana rutinitas semacam ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Memang sih, kadang-kadang aku jogging atau sepedaan juga di akhir pekan, yang mana lumayan dalam hal varietas. Masalahnya, aktivitas-aktivitas ini tidak bisa kulakukan secara rutin akibat perjalanan akhir pekanku yang sering itu ( 😛 ) dan terkadang aku merasa perlu untuk beristirahat saja di akhir pekan.

Jadi aku merasa percaya diri les tenis ini akan membantu banget. Selain aku jadi bisa berolahraga permainan favoritku secara reguler, les ini juga memberiku kesempatan untuk berkenalan dengan beberapa penyuka tenis lainnya di dekatku sehingga mungkin kadang-kadang kan bisa main tenis sendiri di luar jam les gitu! 🙂

Jadi, ya, aku sungguh bersemangat akan hal ini! 🙂

EuroTrip · Vacation · Weekend Trip

#1982 – A Weekend Story


As my Instagram followers (@azilko) have known, I went on yet another weekend trip this weekend! Haha 😛 . This time, I went back to: Manchester!! This was my second trip to Manchester, after the first one being almost four years ago.

Anyway, this trip was a “special” one in the sense that, for the first time ever, I decided to cancel a non-refundable flight ticket. Yep, indeed, originally I intended to go to somewhere else instead of Manchester for the weekend; and that somewhere else was Newcastle. I found a cheap return ticket with KLM and bought it via a travel agency; feeling very sure I would go as, up to that point, I never had to cancel any trip. However, after purchasing the ticket, I just realized that this particular weekend was a super popular one for Newcastle (Apparently John Legend was having a concert there, might be it?); resulting in almost all hotel rooms had been booked. And the rest that were still available were highly overpriced due to, I guess, the very high demand.

For the first time ever, I had to cancel a non-refundable return KLM ticket.

After some calculations and considerations, I decided that the best way to “minimize” the damage was to just drop my Newcastle plan this weekend and go somewhere else. And this was how I “ended up” with Manchester; where I found a good combination between the flight ticket and, lesson-learned now, the hotel room, haha.

Anyway, Manchester was a nice city; just as how I remembered it from almost four years ago. As I stayed for four nights back then, I decided to just take it slow this weekend. Not a bad idea given that I also did not want to tire myself too much anyway, haha. As usual, here are some teasers from the trip.


Seperti yang followers Instagram-ku (@azilko) ketahui, aku pergi dalam perjalanan akhir pekan lagi loh kemarin ini! Haha 😛 . Kali ini, aku kembali lagi ke: Manchester!! Ini adalah kali keduaku ke Manchester, setelah yang pertama kali hampir empat tahun lalu.

Anyway, perjalanan ini adalah perjalanan yang “spesial” karena, untuk pertama kalinya, aku memutuskan untuk membatalkan sebuah tiket pesawat yang non-refundable, haha. Iya, awalnya memang aku berencana untuk pergi ke suatu tempat lain bukannya Manchester, dan tempat lain itu adalah Newcastle. Aku menemukan tiket pp murah dengan KLM dan membelinya melalui sebuah agen travel; merasa sangat yakin aku akan pergi karena, sampai waktu itu, aku belum pernah membatalkan yang namanya perjalanan. Namun, setelah tiketnya kubeli, aku baru sadar bahwa akhir pekan ini adalah akhir pekan yang super ramai di Newcastle (Ternyata John Legend lagi konser gitu jadi mungkin ini penyebabnya?); dimana sebagai akibatnya hampir semua penginapan sudah habis. Sementara kamar-kamar yang tersisa overpriced banget karena, aku rasa, demand yang memang sedang tinggi banget.

Untuk pertama kalinya seumur hidup aku memilih untuk membatalkan tiket non-refundable KLM pp-ku.

Setelah beberapa perhitungan dan pertimbangan, aku memutuskan bahwa yang terbaik untuk “meminimalisir” damage adalah dengan membatalkan rencanaku ke Newcastle dan pergi ke tempat lain. Dan beginilah aku akhirnya pergi ke Manchester; dimana aku menemukan kombinasi yang oke antara tiket pesawat dan, langsung belajar dari pengalaman nih, kamar hotel, haha.

Anyway, Manchester sendiri adalah kota yang oke; sebagaimana yang kuingat dari empat tahun yang lalu. Karena dulu aku menginap empat malam di sana, kali ini aku memutuskan untuk santai-santai saja. Toh begini juga asyik karena aku juga nggak ingin terlalu capek juga sih, haha. Seperti biasa, di atas adalah beberapa teasers dari perjalanan ini.

working life · Zilko's Life

#1981 – Some Stories From Work


About a month ago I mentioned that one of my team members resigned in July resulting in me having to temporarily taking over some of her responsibilities until we got a replacement. We estimated probably the replacement would come in one or two months.

But then, we actually got the replacement in August! This was certainly good news (also for me), haha. Though, I could not just hand over everything to my new team member just like that because she was new in the company. Moreover, she just did the switch from academia to industry in taking this job, just like my decision last year, so I totally understood she would need some time to settle.

Of course I have been trying to be as helpful and welcoming as possible because situation-wise, I was in her shoes last year (Though we have different job titles so our work responsibilities are different). Last year I got tremendous support from my colleagues in helping me to learn and settle here. So I am trying my hardest to “return” the favor here, haha.

Overall I am glad, though, as I felt like my workload has increased in the past month or so. I mean, of course I can always put some of those to my backlog as my colleagues would understand anyway that I have limited amount of time. But still, it does not feel nice to see a long list of tasks in your backlog, especially when some of those are “take-overs”, haha 😛 . Even though, of course, she could not immediately re-take over all of those responsibilities, as she certainly needed the time to settle and adapt to everything; but she certainly could start with some tasks. Coming from academia helped as well, where in my opinion her learning curve was fast. So I am sure shortly she will be able to fully reclaim the “take-over” responsibilites I got from my ex-colleague. But in the meantime:


Sekitar satu bulan lalu aku sebutkan bahwa salah seorang rekan timku resign di bulan Juli sehingga untuk sementara aku diminta untuk menampung sebagian pekerjaannya sampai kami mendapatkan penggantinya. Waktu itu kita perkirakan mungkin kita akan mendapatkan pengganti dalam dua atau tiga bulan gitu lah.

Tetapi kemudian, ternyata kami mendapatkan penggantinya di bulan Agustus dong! Ini jelas adalah berita baik (juga untukku), haha. Walaupun, aku tidak bisa langsung menyeragkan tanggung-jawab dari mantan rekan kerjaku itu ke penggantinya ini karena ia benar-benar baru mulai bekerja di kantorku sekarang. Terlebih lagi, ia baru saja pindah dari akademia ke dunia industri juga dengan pekerjaannya ini, sama seperti keputusanku tahun lalu, jadi aku sungguh paham bahwa ia tentu membutuhkan waktu untuk membiasakan-diri.

Tentu saja aku berusaha untuk se-helpful dan seramah mungkin karena secara situasi, tahun lalu aku berada di situasi yang sama persis (Walaupun titel pekerjaan kami berbeda sih sehingga tanggung-jawab kami juga berbeda). Tahun lalu aku mendapatkan banyak bantuan banget dari rekan-rekan tim baruku yang baik banget itu, yang mana sungguh membantuku untuk belajar dan membiasakan-diri. Jadilah sekarang aku juga berusaha untuk “membalas” kebaikan yang kuterima itu, haha.

Secara keseluruhan aku merasa lega karena aku merasa beban kerjaku, terutama sebulanan terakhir ini, meningkat. Maksudku, tentu saja aku bisa memasukkan beberapa di antaranya ke dalam backlog dan toh pasti kolegaku juga akan paham mengingat waktuku yang juga jelas terbatas kan. Tapi tetap aja lah, nggak asyik rasanya melihat backlog yang panjang, apalagi ketika beberapa tugas-tugas di sana adalah tugas “limpahan”, haha 😛 . Walaupun, tentu saja, kolega baruku tentu tidak bisa langsung mengambil-alih semua pekerjaannya itu, karena ia juga pasti membutuhkan waktu untuk membiasakan diri; tetapi jelas ia bisa mulai mencicilnya kan. Barusan berpindah dari akademia juga membantu sekali, karena aku perhatikan ia cepat belajar. Jadi aku yakin ia tidak perlu banyak waktu untuk bisa mengambil-alih semua tanggung-jawab “limpahan” dari mantan rekan kerjaku. Tetapi sebelum itu, untuk sementara waktu:

Big Days · Zilko's Life

#1980 – Turning 29


Today, I turn 29.

Thanks in advance for the wishes (haha 😛 ).

Maybe I am one of those people, you know, who never really think about my age. I do believe age is just a number and does not define someone as a person. So maybe this is why I do not feel anything “special” or “different” about turning 29. It just feels like today is going to be another day in my life, haha.

As an evidence of this, not too long ago at the gym I asked a trainer to help me get my body measurement. My age was needed as an input so he asked me. I actually had to think before I could give the answer to the point that he said “You have to think for that?“, haha 😆 .

Even though (I am teasing myself here), this also means that I have just officially entered the last year of my 20s 😱. Thinking about it this way gives me another perspective to look at, though.

Yeah, so we will see how I will feel by the end of the day; after more reminders and (perhaps) wishes coming in, hahaha.

Just in case. Source:


Jadi, hari ini aku berulang-tahun yang ke-29.

Iya, terima kasih atas ucapan dan doanya (geer, haha 😛 ).

Mungkin aku adalah satu dari orang-orang itu, yang tidak pernah memikirkan masalah umur. Aku percaya bahwa umur hanyalah angka belaka dan tidak mendefinisikan seseorang. Jadi mungkin inilah mengapa aku tidak merasa ada yang “spesial” atau “berbeda” gitu dari hari ini. Rasanya hari ini ya akan menjadi seperti hari-hari lainnya gitu, haha.

Contoh dari ini adalah, beberapa waktu yang lalu di gym aku meminta bantuan seorang trainer-nya untuk mengukur body measurement-ku. Umurku diperlukan sebagai salah satu input sehingga ia menanyakannya. Aku harus berpikir dulu loh sebelum dapat memberikan jawabannya sampai-sampai trainer-nya bertanya “Untuk menjawab itu pun kamu harus berpikir dulu?“, haha 😆 .

Walaupun (Aku menggoda diriku sendiri nih), ini juga berarti aku sudah resmi memasuki tahun terakhir dari umur 20an sih 😱. Nah, kalau dipikir begini baru deh aku melihat ini dari sudut pandang yang rasanya berbeda sekali, haha.

Ya, jadi kita lihat saja deh bagaimana perasaanku pada akhir hari ini; setelah lebih banyak notifikasi dan (mungkin) ucapan-ucapan yang berdatangan, hahaha.