#1215 – This Week in One Post

ENGLISH

Work Stuff

My work this week revolved around the outcome of the meeting I had the week before. And it was quite a lof of things to do given the amount of time to complete all of them. But the good news is, now, that I have finished everything; even the report and the slides for the presentation I plan to give during the next meeting, which is next Friday. Yay!

Beef

Here is a super random thing this week. Because the price of beef has been on discount these past two weeks (well, riblappen actually; and I can’t seem to find the English word for it, but it is one kind of beef), I have cooked quite more beef than I normally do these past two weeks; which is fine and I am not complaining about, obviously :lol: .

The End of A Domination

The third Masters 1000 tournament of the ATP World Tour, Monte Carlo Masters, takes place this week. Rafael Nadal, the King of Clay, has dominated this prestigious tournament. Coming into this year’s tournament, he is the eight-time defending champion (so he has won this tournament eight times in a row, starting from 2005 and then won it every year until 2012) with a 46 match match winning streak.

He advanced to this year’s final as well, again. The final was a rematch of last year’s final where he would face the world no.1, Novak Djokovic. Rafa was the heavy favorite to win the title, given his history and despite Novak’s world no.1 status. However, Novak lived up to his status and played overall amazing tennis to win the match 6–2, 7–6(1); thus, ending Rafa’s eight tournaments winning streak at the beautiful tournament (Seriously, the location of the tennis complex is so stunningly gorgeous! I have been to Monaco, even though not during the tournament, so I can testify to that! :) ).

This will certainly make this year’s French Open much more intriguing :)

Video

Apparently, there is a video about the strong wind in TU Delft this Thursday. I attach it below so you can see how strong the wind was that day.

Novak Djokovic defeated the eight-time defending champion, Rafael Nadal. Photo Credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Novak Djokovic defeated the eight-time defending champion, Rafael Nadal. Photo Credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Beefsteak with chips and broccoli

Beefsteak with chips and broccoli

Beefsteak with pasta bolognese

Beefsteak with pasta bolognese

Beefsteak and potatoes. Simple

Beefsteak and potatoes. Simple

BAHASA INDONESIA

Urusan Kerjaan

Kerjaanku minggu ini berkutat di sekitar hasil dari meeting seminggu sebelumnya. Dan beneran ada banyak banget yang mesti dikerjain loh, memperhitungkan waktu yang ada untuk menyelesaikan kesemuanya. Tapi berita baiknya adalah, sekarang, semuanya sudah aku selesaikan; bahkan laporan dan slide buat presentasi yang rencananya akan aku lakukan di meeting selanjutnya, yang mana Jumat besok ini, sudah beres. Yes! A

Daging sapi

Inilah satu hal random banget yang ingin aku tulis. Karena harga daging sapi lagi didiskon lumayan juga dua minggu belakangan ini (hmm, daging yang riblappen maksudnya; dan nggak tahu deh bahasa Indonesianya (atau, bahkan, Inggris-nya) apaan, tapi yang jelas ini salah satu jenis daging sapi gitu), akhir-akhir ini aku memasak daging sapi agak lebih sering daripada biasanya; yang mana nggak masalah sih dan aku bukannya komplain ya, tentu saja :lol: .

Akhir dari Sebuah Dominasi

Turnamen Masters 1000 ketiga dari ATP World Tour, Monte Carlo Masters, berlangsung minggu ini. Rafael Nadal,si Raja Tanah Liat, mendominasi turnamen bergengsi ini. Masuk ke turnamen tahun ini, ia adalah juara bertahan delapan kali (jadi dia sudah memenangi turnamen ini delapan kali berturutan, dimulai dengan memenanginya tahun 2005 dan kemudian setiap tahun sampai tahun 2012) dengan rentetan kemenangan beruntun di 46 pertandingan.

Ia lolos ke final tahun ini, lagi. Finalnya adalah ulangan final tahun lalu dimana ia akan menghadapi pemain peringkat 1 dunia, Novak Djokovic. Rafa sangat diunggulkan untuk memenangi titel ini lagi, karena mempertimbangkan sejarahnya dan walaupun Novak Djokovic berperingkat 1 dunia. Namun, Novak bermain seperti layaknya peringkatnya dan tampil dengan memainkan tenis yang amat brilian untuk akhirnya memenangi babak final dengan skor 6–2, 7–6(1); yang artinya, berakhirlah kemenangan Rafa secara beruntun selama delapan kali di turnamen yang amat indah ini (Eh, beneran loh, lokasi kompleks tenis turnamen ini tuh sangatlah indah sekali! Aku sudah pernah ke Monako, walaupun bukan di waktu turnamennya berlangsung sih, sehingga bisa bersaksi tentang pernyataan ini! :) ).

Jelas ini akan membuat French Open tahun ini menjadi semakin menarik :)

Video

Ternyata, angin kencang di TU Delft Kamis kemarin ini ada videonya loh. Aku posting sekalian di atas deh sehingga bisa pada melihat bagaimana kencangnya anginnya hari itu.

#1206 – End of the Ultra Long Weekend

ENGLISH

So here we are, already in the last day of this ultra long weekend. Tomorrow I will have to go back to work again, and actually I am quite excited about that, hahaha :lol: . But still, this long weekend has gone much faster than I thought it would be though…

Brussels

Actually, on Friday my friends invited me to join them on a spontaneous (impromptu) weekend trip to Brussels. The train tickets were still relatively cheap at that time (not the fast one, but the one with some transfers). At first I was really interested as I had nothing else planned anyway. I even already browsed for a hotel or hostel and actually found a good offer from one hotel with a single bedroom. However, then I remembered that for some reasons, I could not join the trip. Well, then I had to say no; it was kinda too bad actually…

DST

Anyway, this Sunday, the Daylight Saving Time (DST) took place in the Netherlands (and the whole Europe, I think); and this one was my less favorite one where the time was forwarded by one hour on Sunday morning. So on Sunday, we only had 23 hours in one full day.

Speaking of this DST, this year marks the third time I have had this forward DST in my life. And I think there is something about this forward DST because just like last year and the year before, I still “suffer” from jetlag-ish effect because of this DST. I don’t know. I think this year my body has handled it much better than the previous years though, but I still do feel the effect. So weird…

Indian Wells and Miami

Speaking of tennis, this weekend the series of two consecutive big tennis tournaments on hard court in Northern America was concluded. Indian Wells finished two weeks ago with Rafael Nadal and Maria Sharapova came on top. And Miami (Key Biscayne) was concluded this Sunday with Andy Murray and Serena Williams won their 26th and 48th title, respectively.

What can I say? Rafael Nadal surprised me by winning Indian Wells. I mean, we all know he is a top player but he had been off the tour for seven months. Okay, he played three Southern American clay tournaments in February, reached the final of all of them, and won two. But the field in Indian Wells was much stronger with the presence of the other big four, and it was on hard court. So at first I thought his goal was just to try his best and see where he was. But he ended up winning. Wow!

As for the women, I have to say Serena Williams showed why she is the best women tennis player in the world. She did not play anywhere near her best for the whole two weeks in Miami, and she ended up winning the title. She produced her comeback trademark in three matches: against Dominika Cibulková in the fourth round, Li Na in the quarterfinals, and Maria Sharapova in the final. It was just fantastic mental quality that she showcased there.

So now, we move on to the clay season…

Rafael Nadal's reaction after winning his third Indian Wells title. Photo credit: Michael Heiman/Getty Images North America

Rafael Nadal’s reaction after winning his third Indian Wells title. Photo credit: Michael Heiman/Getty Images North America

Serena Williams' reaction after winning her sixth Miami title. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images North America

Serena Williams’ reaction after winning her sixth Miami title. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images North America

BAHASA INDONESIA

Disinilah kita, sudah berada di hari terakhir ultra long weekend kali ini. Besok aku akan kembali bekerja, dan sebenarnya aku malah excited loh dengan hal ini, hahaha :lol: . Tapi tetap aja sih, long weekend ini berlalu dengan lebih cepat daripada jangkaanku loh…

Brussels

Sebenarnya, di hari Jumat temanku mengajakku untuk jalan-jalan spontan (dadakan) akhir pekan ke Brussels. Ada tiket kereta yang harganya relatif murah waktu itu (bukan dengan kereta yang cepat sih, tapi kereta yang dengan beberapa transit). Awalnya aku tertarik banget karena toh aku tidak ada rencana lain kan. Aku bahkan sudah browsing hotel atau hostel loh dan sebenarnya telah menemukan satu hotel dengan kamar single yang harganya oke juga. Namun, aku kemudian teringat bahwa karena beberapa alasan, aku nggak bisa ikutan deh. Jadilah ajakannya harus kutolak; agak sayang sih, tapi mau bagaimana lagi…

DST

Anyway, hari Minggu ini, Daylight Saving Time (DST) kembali berlangsung di Belanda (dan semua Eropa, kayaknya); dan ini adalah DST yang lebih tidak aku sukai dimana jamnya dimajukan satu jam di Minggu pagi. Jadi hari Minggu kemarin, dalam satu hari hanya ada 23 jam saja.

Ngomongin DST ini, tahun ini adalah tahun ketiga aku mengalami DST maju ini. Dan rasanya ada sesuatu deh dengan si DST maju ini karena seperti tahun lalu dan tahun sebelumnya, aku masih merasakan efek seperti jetlag karena DST ini. Nggak tahu deh kenapa. Tahun ini rasanya badanku meng-handle-nya dengan lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya sih, tapi tetap aja gitu efeknya terasa. Aneh deh…

Indian Wells dan Miami

Ngomongin tenis, akhir pekan ini satu seri dua turnamen besar di lapangan keras di Amerika Utara berakhir. Indian Wells berakhir dua minggu yang lalu dengan Rafael Nadal dan Maria Sharapova sebagai juaranya. Dan Miami (Key Biscayne) berakhir hari Minggu ini dengan Andy Murray dan Serena Williams memenangi titel ke-26 dan ke-48-nya, secara berturutan.

Apa yang bisa kubilang ya? Rafael Nadal mengejutkanku dengan menjuarai Indian Wells. Maksudku, kita semua tahu lah dia adalah pemain yang hebat tetapi ia sudah tidak bermain selama tujuh bulan. Oke, memang sih dia bermain di tiga turnamen tanah liat di Amerika Latin di bulan Februari, mencapai final di ketiganya, dan memenangi dua di antaranya. Hanya saja, daftar pemain di Indian Wells jauhlah lebih kuat dengan hadirnya tiga anggota big four lainnya, apalagi turnamen ini di lapangan keras. Awalnya aku kira tujuan utamanya dia adalah tampil yang terbaik untuk melihat dimana levelnya berada. Eh tetapi akhirnya dia bisa juara. Wow!

Untuk tur putri, harus kubilang bahwa Serena Williams menunjukkan mengapa dialah petenis wanita terhebat di dunia. Ia sama sekali tidak bermain dengan performa terbaiknya selama dua minggu turnamen Miami, dan akhirnya ia menjuarai kejuaraan ini. Dan ia memproduksi trademark comeback-nya di tiga pertandingan: melawan Dominika Cibulková di babak keempat, Li Na di perempat final, dan Maria Sharapova di final. Ia menunjukkan kualitas mental yang fantastis di turnamen ini.

Dan kini, beralihlah kita ke musim tanah liat…

#1095 – 2012 Wimbledon Championships

ENGLISH

Today, the third grandslam tournament of the year, the Wimbledon Championships, has just been concluded. This time, I did not make any prediction (like I usually do prior to the start of a grandslam tournament) mainly because I was busy travelling (huahaha :lol: ). Maybe it is good though (that I did not make any prediction) as some of my favorites players fared really good in the tournament; while every time I made those predictions, they did not fare as well. Maybe I should not make any prediction in the future, lol :lol: .

Gentlemen’s Singles

As “usual”, the limelight was directed towards the top four players in the world. Novak Djokovic was the defending champion, Rafael Nadal was coming ‘fresh’ from his triumph at Roland Garros three weeks prior, Roger Federer was eyeing to be the world no.1 (if he won the title), and Andy Murray was still chasing his first grandslam title.

However, these people are just human. Of course they don’t win all the time. Rafael Nadal suffered one of the biggest shocks in a grandslam history after falling to an unknown Czech player who was ranked at 100th in the world, Lukáš Rosol, in the second round. It was his earliest exit from a grandslam tournament since Wimbledon in 2005. Many dubbed this shock as a good opening for Andy Murray, who was in this side of the draw, to finally reach his Wimbledon final. And he did. He became the first British man to reach a Wimbledon singles final since 1938. The semifinals of other side of the draw featured Novak Djokovic and Roger Federer. Federer defeated the subpar Djokovic to reach his eight Wimbledon final.

Between Murray and Federer, it would be their third grandslam final meeting (Federer won the first two); but this time, it would take place in the UK, Murray’s home nation. Most of the crowd would be behind Murray’s back. His improved mentality and approach to big moments, instilled by his current coach, Ivan Lendl, might also widen his chance of winning. Indeed, Lendl’s influence was visible in the final. Murray didn’t play not at his best (as he did in his first three grandslam finals). He was toe to toe with Federer and took the first set 6-4. Late break in the second set, however, gave Federer the momentum and he won the last three sets 7-5, 6-3, 6-4. Federer claimed his seventh Wimbledon title, his 17th grandslam singles title, and also the world no.1 title. As for Murray, it was nothing to be ashamed of as he had showed much improvement in the final, and most importantly: played a great final.

Ladies’ Singles

As “usual”, the women’s side was much more unpredictable than the men’s side. Serena Williams, the world no.1: Maria Sharapova, and the defending champion: Petra Kvitová were probably the three hot favorites to win the title. However, Serena Williams’ early loss at the French Open made it even more tentative. Beside, two unseeded players were also under the spotlight: Kim Clijsters and Venus Williams.

Venus Williams came to the tournament unseeded since her debut in 1997. Venus, still battling the Sjögren’s syndrome, was in an “unknown” form coming to the tournament. Noone knew what to expect form her. And indeed, she was really erratic in her first round match, looking nothing like her best self which saw her triumphing five time in singles on the Wimbledon grass. She lost 1-6, 3-6 to Elena Vesnina. Kim Clijsters performed well but was knocked out in the fourth round to Angelique Kerber, the no.8 seed. It was Kim Clijsters’ last match at Wimbledon. The world no.1, Maria Sharapova, fell in the fourth round to big-hitter, Sabine Lisicki; the woman she beat in the semifinal last year. For some, these losses, sort of, affirmed the ‘openness’ of the women’s tour these past a few years…

Serena Williams played some descent (but not so spectacular) tennis in the first week of Wimbledon. However, her serving was ominous and her fighting spirit was still exemplary. She managed to get to the quarterfinals with two three-setters in the third and fourth round. Just like a champion, she raised her game when she needed to and she overplayed the defending champion, Petra Kvitová, and overpowered the world no.2, Victoria Azarenka, in the quarterfinals and semifinals respectively to reach her seventh Wimbledon singles final. Moving more “quietly” in the other side of the draw, the no.3 seed Agnieszka Radwańska progressed to her first grandslam final.

In the final, Williams quickly took control of the match and won the first set 6-1 and led by a break in the second. At this point, errors started to creep into Williams’ game while Radwańska shut her nervousness down and brought up her game level. Radwańska took the second set 7-5. Williams roared back in the third set, including winning one game with four consecutive aces. She claimed the third set 6-2; and thus, won her fifth Wimbledon singles title and her 14th grandslam singles title!!

Wimbledon is still under the Williams’ legacy now because 10 of the past 13 championships were won by either Venus or Serena; and 11 of the past 13 finals were contested by at least of the sisters.

Ladies Doubles

To underline their legacy over Wimbledon even stronger, Serena and Venus Williams also won the doubles title together! :shock: Playing in their first tournament at the competitive level since 2010 Wimbledon, the unseeded team defeated the no.4 seed and also the number 1 doubles players in the world to reach the final. They beat the sixth seeded team, Andrea Hlaváčková and Lucie Hradecká, in a good-contest final by 7-5, 6-4, to claim their fifth Wimbledon doubles title and 13th grandslam doubles title overall.

Roger Federer won Wimbledon for the seventh time. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Serena Williams claimed her fifth Wimbledon singles title. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

The Williams sisters also teamed up to win the doubles title, their fifth at Wimbledon, in 2012. Photo Credit: Paul Gilham/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, turnamen grandslam ketiga tahun ini, Wimbledon Championships, telah selesai. Kali ini, aku tidak membuat prediksi apa pun (seperti yang biasanya aku lakukan setiap sebelum turnamen grandslam dimulai) karena aku sibuk bepergian (huahaha :lol: ). Eh, tapi ini mungkin bagus juga (aku tidak membuat prediksi apa pun) karena beberapa pemain favoritku malah mendapatkan hasil yang baik loh di turnamen ini; sementara setiap kali aku membuat prediksi gitu malah hasilnya tidak sebaik ini. Jadi kayaknya memang mending aku nggak usah membuat prediksi aja ya nanti, lol :lol: .

Tunggal Putra

Seperti “biasa”, sorotan tentu diarahkan ke pemain empat teratas di dunia. Novak Djokovic adalah sang juara bertahan, Rafael Nadal datang ke turnamen ini setelah memenangi Roland Garros tiga minggu sebelumnya, Roger Federer mengincar gelar nomor 1 dunia (yang akan ia raih kalau ia memenangi turnamen ini), dan Andy Murray mengejar gelar grandslam pertamanya.

Namun, bagaimanapun juga mereka-mereka ini adalah manusia biasa kan. Tentu saja mereka tidak selalu menang. Rafael Nadal mendapatkan salah satu hasil yang paling mengagetkan di sepanjang sejarah turnamen grandslam setelah kalah dari pemain tidak terkenal dari Ceko yang berperingkat 100 dunia, Lukáš Rosol, di babak kedua. Kekalahan ini adalah kekalahan terawalnya di sebuah turnamen grandslam semenjak Wimbledon di tahun 2005. Banyak yang kemudian mengatakan bahwa ini adalah sebuah kesempatan emas bagi Andy Murray, yang berada di sisi undian yang sama, untuk melaju ke final Wimbledon pertamanya. Dan ia melakukannya. Ia menjadi seorang petenis putra Inggris pertama yang berhasil mencapai finalnya Wimbledon semenjak tahun 1938 loh. Semifinal di sisi yang lain mempertemukan Novak Djokovic dan Roger Federer. Federer mengalahkan Djokovic yang tidak bermain dengan baik untuk mencapai final Wimbledon kedelapannya.

Di antara Murray dan Federer, ini akan menjadi pertemuan ketiga mereka di final sebuah grandslam (Federer memenangi dua pertemuan pertamanya); tapi kali ini, pertandingan akan berlangsung di Inggris Raya, di negara asalnya Murray. Sebagian besar penonton tentu akan mendukung Andy Murray. Selain itu, mentalitas dan pendekatannya dia akan saat-saat genting juga telah meningkat, dan ini atas berkat masukan dari pelatihnya kini, Ivan Lendl. Pada akhirnya, memang pengaruhnya Lendl terlihat dengan jelas di final ini. Murray tidak lagi tidak bermain dengan baik (ia tidak bermain dengan baik di tiga final grandslam pertamanya). Ia bermain dengan alot dengan Federer dan bahkan mengambil set pertama 6-4. Patahnya servis Murray di akhir set kedua memberikan momentum segar kepada Federer sehingga ia memenangi tiga selanjutnya dengan skor 7-5, 6-3, 6-4. Federer mengklaim gelar Wimbledon ketujuhnya, gelar grandslam ke-17-nya, dan juga peringkat 1 dunia. Untuk Murray, ia tidak perlu berkecil hati karena ia telah menunjukkan kemajuan yang sangat berarti di final, dan yang paling penting: mempersembahkan sebuah final yang seru.

Tunggal Putri

Seperti “biasa” pula, sisi putri lebih sulit diprediksi daripada sisi putra. Serena Williams, pemain peringkat 1 dunia: Maria Sharapova, dan sang juara bertahan: Petra Kvitová mungkin adalah tiga pemain yang paling difavoritkan untuk juara. Namun, kekalahannya Serena Williams di babak pertama French Open juga membuat sisi putri lebih tentatif. Di samping itu, ada dua pemain tak diunggulkan yang juga mendapatkan sorotan: Kim Clijsters dan Venus Williams.

Venus Williams datang ke turnamen ini tidak diunggulkan untuk pertama kalinya semenjak debutnya di tahun 1997. Venus, masih berjuang melawan Sindrom Sjögren, berada dalam performa yang “tak diketahui”. Tidak ada yang tahu apa yang bisa diharapkan dari penampilannya. Dan memang, ia nampak sangat tak menentu dan kacau di pertandingan babak pertamanya, sama sekali tidak terlihat performa terbaiknya yang membawanya menuju lima gelar tunggal Wimbledon. Ia kalah 1-6, 3-6 dari Elena Vesnina. Kim Clijsters tampil dengan baik tetapi kalah di babak keempat dari Angelique Kerber, unggulan ke-8. Pertandingan itu adalah pertandingannya Kim Clijsters di Wimbledon. Pemain nomor 1 dunia, Maria Sharapova, kalah di babak keempat dari pemain berpukulan keras, Sabine Lisicki; wanita yang ia kalahkan di semifinal tahun lalu. Bagi beberapa orang, ini menegaskan “keterbukaannya” tur tenis wanita beberapa tahun belakangan ini…

Serena Williams bermain dengan baik (tetapi tidak spektakuler) di minggu pertama Wimbledon. Namun, servis-nya sangat mematikan dan daya juangnya juga patut dikagumi. Ia berhasil lolos ke perempat final setelah melalui dua pertandingan tiga set di babak ketiga dan keempat. Seperti layaknya seorang juara, ia meningkatkan levelnya ketika ia membutuhkannya dan ia mengalahkan sang juara bertahan, Petra Kvitová, dan juga Victoria Azarenka, di perempat final dan semifinal berturut-turut untuk mencapai final tunggal Wimbledon ketujuhnya. Di sisi lain dari undian, Agnieszka Radwańska menembus final dengan perjalanan yang relatif lebih “tenang”.

Di final, Williams dengan cepat mengambil kontrol pertandingan dan memenangi set pertama 6-1 dan memimpin dengan satu break di set kedua. Di saat ini, ia mulai melakukan banyak kesalahan sendiri sementara pada saat yang sama Radwańska mengesampingkan rasa gugupnya dan meningkatkan level permainannya. Radwańska memenangi set kedua 7-5. Williams bangkit kembali di set ketiga, bahkan memenangi satu game dengan empat servis ace berturutan. Ia memenangi set ini 6-2; dan artinya, ia menjuarai gelar tunggal kelimanya di Wimbledon dan gelar grandslam ke-14-nya!!

Kini, Wimbledon masih berada dalam genggaman keluarga Williams karena 10 dari 13 turnamen terakhir dimenangi oleh Venus atau Serena; dan 11 dari 13 final terakhir dimainkan setidaknya oleh satu di antara bersaudari ini.

Ganda Putri

Nampak seperti untuk mempertegas genggamannya akan Wimbledon, Serena dan Venus Williams juga memenangi gelar gandanya! :shock: Bermain di turnamen pertamanya di level kompetisi semenjak Wimbledon 2012, tim yang tidak diunggulkan ini mengalahkan unggulan ke-4 dan pemain peringkat 1 dunia di ganda untuk mencapai final. Mereka mengalahkan tim unggulan keenam, Andrea Hlaváčková dan Lucie Hradecká, di final yang seru dengan skor 7-5, 6-4 untuk memenangi gelar ganda Wimbledon kelimanya dan gelar grandslam ke-13-nya secara keseluruhan.

#1086 – 2012 French Open

ENGLISH

Earlier today, the second grandslam tournament of the year, the 2012 French Open, was concluded. I did make a prediction about two weeks ago for the singles events and it turned out that I was (mostly) correct :) Let me start with the women’s singles first.

Women’s singles

The only thing that I missed to see coming was Serena Williams’ shocking loss in the first round to Virginie Razzano.   But who on earth would have predicted this occurrence to happen? Serena had never lost a grandslam singles opener before, she was in a hot streak on clay this year, and she was facing the world no. 111. I don’t think that even (most) people who do not like Serena would have predicted this to happen. During my first night in Paris (the day Serena lost), there was one guy in my hostel who asked me by how much Serena won after seeing me opening the French Open’s official website in a public computer in my hostel. I told him Serena lost, he looked surprised but then he was like “Yes!“. So, it was clear that he did not like Serena Williams but still found it surprising to see her lost her opener.

Anyway, moving on, I did say in the prediction that the two favorites to win the title was Serena and Maria Sharapova; and because Serena and Maria were in the same quarter of the draw, I predicted that this half of the draw would be represented in the final by either one of this two (and I picked Serena at that time). Because Serena lost in the first round, it sufficed to imply that my second choice was Maria Sharapova. And this became a reality as she advanced to, indeed, her first French Open final in her career by generally winning quite comfortably, albeit that quite rough fourth round match that lasted for more than three hours.

The quite ‘scary’ thing was that my prediction for the other half of the draw turned out to be correct also. The finalist from this part of the draw was indeed someone from the lower seed or lower rank, though I did not name a name. Sara Errani, the world no. 23 and the 21st seed, had a fairy-tale run after defeating 2008 and 2009 champions, Ana Ivanovic and Svetlana Kuznetsova, and followed this by winning her first two matches against top 10 player: Angelique Kerber and Samantha Stosur. Actually, Errani herself already had quite a run this year. After reaching the quarterfinals of the Australian Open, she has since performed really well on clay by winning three titles on it. However, all titles were relatively small so she was still overshadowed by bigger names in the form of Serena and Sharapova.

The final went as predicted, with Sharapova won 6-3, 6-2. The score looks ‘easy’, but the match itself was actually not that “easy” for Sharapova as Errani put some really good, crafty, and smart fights. The victory completed Sharapova’s collection of grandslam titles, with now she has won all of the four grandslams once. On top of that, her run to the final guaranteed her ascend to the world no.1 position as of today.

So, congratulations Maria Sharapova!

Men’s Singles

It was more straight-forward for the men’s singles as the top two players in the world, Novak Djokovic and Rafael Nadal, advanced to the final. Interestingly enough, this was the fourth consecutive time these two met in a grandslam final (starting since last year’s Wimbledon)! More interestingly, both were chasing their own record-breaking history. Novak Djokovic was looking to be the first man in 43 years to hold all four grandslam singles titles at once; and Rafael Nadal was looking to be the first man ever to win seven singles titles at Roland Garros, surpassing Björn Borg’s record of six. So, no matter what the result would be, this final would be indeed a very historic match from both sides of the court.

As I said, coming to the final, Rafael Nadal was the clear favorite. He was also in a better position than last year where he lost two finals on clay to Djokovic. He turned that around this year and it was also reflected in his path to the final. Not only he did not surrender any set in his six matches, his service was broken only freaking once during all those six matches, which happened in the second set of his first round match! Djokovic had a rougher path to the final where he had to come from two sets to love deficit in the fourth round to win against Andreas Seppi and followed by another five setter in the quarterfinals against Jo-Wilfried Tsonga. But he was the world no.1 and of course he could not be sidelined just like that in the final, even though Rafael Nadal was awaiting.

The match turned out to be a very dramatic one, on top of that history-making at stake. It took two days to complete due to the bad weather over Paris. Nadal took the first two sets 6-4, 6-3 but Djokovic made a remarkable comeback by winning the third 6-2. Djokovic was leading 2-1 on his serve when the match had to be postponed due to the ongoing rain. The match was continued the next day (today). Nadal quickly erased the slight advantage Djokovic had by breaking him right away, leveling the match back to 2-2. The two men held serves until 5-5. The next game was Nadal’s serve and it was not an easy one as there was one more drama during the game where Nadal thought a ball Djokovic hit was out (but the linesman said it was in) but the umpire didn’t want to check the mark because Nadal didn’t “stop right away”, thus rewarding Djokovic the point. Nadal lost the next point after that but still managed to hold serve. In the next game, Nadal got a championship point at 30-40 and Djokovic double faulted to give the victory to Rafael Nadal.

Thus, now, Rafael Nadal is officially the holder of most French Open singles titles, with seven, surpassing Björn Borg’s record!

Congratulations Rafa!! It was a great final anyway as he got such a fight from Novak Djokovic, the world no.1. Djokovic was also the only man in the tournament to steal a set from Rafa at French Open this year.

2012 French Open women’s singles champion, Maria Sharapova, and the runner up, Sara Errani. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images Europe

Rafael Nadal won his seventh Roland Garros singles title after defeating the world no.1, Novak Djokovic. Photo credit: FFT (French Tennis Federation); photo taken from the official website

BAHASA INDONESIA

Siang tadi, turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open 2012, berakhir. Aku membuat sebuah prediksi sekitar dua minggu yang lalu untuk event tunggal dan ternyata prediksiku (kebanyakan) benar lho :) Mari aku mulai dengan tunggal putri dahulu.

Tunggal Putri

Satu-satunya hal yang aku tidak sangka akan terjadi adalah kekalahannya Serena Williams yang mengejutkan di babak pertama dari Virginie Razzano. Ah, tapi siapa juga yang bakal menyangka hal ini akan terjadi? Serena tidak pernah kalah di babak pertama grandslam sebelumnya, ia sedang berada dalam rentetan kemenangan yang menakjubkan di tanah liat tahun ini, dan ia akan melawan seorang pemain berperingkat 111 dunia. Aku rasa bahkan (kebanyakan) orang yang nggak suka Serena pun tidak menyangka hasil ini akan terjadi deh. Di malam pertamaku di Paris (hari dimana Serena kalah), ada bapak-bapak di hostel yang bertanya kepadaku Serena menang dengan skor berapa setelah melihatku membuka website resminya French Open di komputer untuk umum di hostelku. Aku bilang kepadanya bahwa Serena kalah, ia lalu nampak terkejut tetapi kemudian bereaksi “Yes!“. Jadi, jelas lah ya ia adalah seorang yang tidak suka Serena tetapi tetap masih cukup kaget dengan kekalahannya di babak pertama.

Anyway, lanjut, di prediksiku itu aku sebutkan bahwa dua favorit untuk menjuarai titelnya adalah Serena dan Maria Sharapova; dan karena Serena dan Maria berada di perempat bagian yang sama dari undiannya, aku prediksikan bahwa finalis di sisi undian ini akan diwakili oleh salah seorang dari mereka (dan waktu itu aku memilih Serena). Karena Serena kalah di babak pertama, bisa dibilang pilihanku otomatis terjatuh pada Maria Sharapova dong untuk sisi undian ini. Dan ternyata ia beneran masuk ke final pertamanya sepanjang karier di French Open dengan kemenangan yang cukup mudah di sepanjang perjalanannya, kecuali mungkin babak keempat dimana ia cukup kesulitan dan harus bermain selama tiga jam lebih.

Nah, yang cukup ‘mengerikan’ adalah prediksiku untuk sisi undian yang lain ternyata benar lagi loh. Finalis dari sisi ini adalah seseorang yang memang diunggulkan di posisi rendah atau berperingkat cukup rendah, walau waktu itu aku tidak menyebutkan nama. Sara Errani, pemain peringkat 23 dunia dan merupakan unggulan ke-21 di turnamen ini, memainkan dua minggu terbaik di kariernya sejauh ini dengan mengalahkan juara tahun 2008 dan 2009, Ana Ivanovic dan Svetlana Kuznetsova, dan menambahnya dengan dua kemenangan pertamanya atas pemain berperingkat 10 besar: Angelique Kerber dan Samantha Stosur. Sebenarnya, secara keseluruhan Errani sendiri sedang memainkan tahun terbaiknya sih tahun ini. Setelah mencapai perempat-final Australian Open, ia bermain dengan amat baik di tanah liat dengan menjuarai tiga turnamen di permukaan ini. Hanya, ketiga turnamen itu adalah turnamen kecil sehingga ia berada di bayang-bayang nama yang lebih besar seperti Serena dan Sharapova.

Finalnya berlangsung seperti dugaan, dengan Sharapova memenanginya 6-3, 6-2. Skornya nampak ‘mudah’, tetapi pertandingannya tidaklah “mudah” untuk Sharapova loh karena Errani memberikan beberapa perlawanan yang amat baik, kreatif, dan cerdik. Kemenangan ini melengkapi koleksi gelar grandslamnya Sharapova, dimana kini ia telah memenangi satu gelar di keempat turnamen grandslam. Selain itu, lolosnya ia ke final memberikan garansi bahwa ia akan kembali ke peringkat 1 dunia terhitung mulai hari ini.

Jadi, selamat buat Maria Sharapova!

Tunggal Putra

Sisi tunggal putra lebih mudah diprediksi dimana dua pemain dengan peringkat tertinggi di dunia, Novak Djokovic dan Rafael Nadal, lolos ke final. Yang menarik, ini adalah final grandslam keempat berturut-turut yang mempertandingkan dua pemain yang sama (semenjak Wimbledon tahun lalu)! Yang lebih menarik, masing-masing dari mereka sedang dalam upaya mengukir sejarah. Novak Djokovic akan menjadi pemain putra pertama dalam 43 tahun yang memegang keempat titel tunggal grandslam bersamaan apabila ia menang; dan Rafael Nadal akan menjadi pemain pertama yang pernah memenangi titel tunggal French Open selama tujuh kali, melewati rekornya Björn Borg dengan enam kemenangan, apabila ia menang. Jadi, apapun hasilnya, pertandingan final ini adalah sebuah final yang bersejarah dari kedua sisi lapangan.

Seperti yang aku bilang, masuk ke final, Rafael Nadal lebih difavoritkan untuk menang. Selain itu, ia juga berada di posisi yang lebih baik daripada tahun lalu dimana ia kalah di dua final turnamen tanah liat dari Djokovic. Ia membalik itu semua tahun ini dan ini terefleksikan dari perjalanannya ke final. Tidak hanya ia tidak kehilangan satu set pun selama enam pertandingan, servisnya patah hanya satu kali aja dong dari enam pertandingan itu, yang terjadinya di set kedua pertandingan babak pertamanya! Sementara itu, Djokovic mendapatkan perjalanan yang jauh lebih berliku untuk mencapai final dimana ia harus membalikkan kondisi tertinggal dua set untuk memenangi pertandingan babak keempatnya melawan Andreas Seppi dan diikuti dengan pertandingan lima set lainnya di babak selanjutnya melawan Jo-Wilfried Tsonga. Biarpun begitu, ia adalah pemain nomor 1 dunia saat ini dan tentu saja ia tidak bisa diremehkan begitu saja, walaupun lawan yang akan ia hadapi di final adalah Rafael Nadal.

Pertandingannya ternyata menjadi pertandingan yang amat dramatis loh, selain karena faktor sejarah yang akan terukir karenanya. Pertandingannya harus dilangsungkan selama dua hari karena cuaca buruk di Paris. Nadal memenangi dua set pertama 6-4, 6-3 tetapi Djokovic membuat comeback yang mengagumkan dengan merebut set ketiga 6-2. Djokovic sedang unggul 2-1 di servisnya ketika pertandingan harus dihentikan karena hujan. Pertandingan baru bisa dilanjutkan keesokan harinya (hari ini). Nadal dengan cepat menghapus keuntungan tipis yang dimiliki Djokovic tersebut dengan langsung mematahkan servisnya sehingga skor menjadi 2 sama. Kedua pemain mempertahankan servisnya sampai 5-5. Di game berikutnya, yang merupakan servisnya Nadal, terjadi drama kecil lagi dimana Nadal mengira bolanya Djokovic keluar (tetapi hakim garis memutuskan bolanya masuk) tetapi wasit menolak untuk mengecek bekas pantulan bola di lapangan karena Nadal tidak “langsung berhenti”, sehingga poin menjadi milik Djokovic. Nadal kehilangan poin selanjutnya tetapi ia masih mampu mempertahankan servisnya. Di game selanjutnya, Nadal mendapatkan championship point di posisi 30-40 dan Djokovic membuat double fault sehingga kemenangan menjadi milik Rafael Nadal.

Jadi, sekarang, resmilah Rafael Nadal menjadi pemegang gelar tunggal putra French Open terbanyak, dengan tujuh gelar, melampaui rekornya Björn Borg!

Selamat Rafa!! Pertandingan finalnya adalah pertandingan yang seru karena ia mendapatkan perlawanan sengit dari Novak Djokovic, si peringkat 1 dunia yang jugalah satu-satunya pemain yang berhasil mencuri satu set dari Rafa di French Open tahun ini.

#1084 – Paris Trip: 2012 Roland Garros (Part II)

ENGLISH

Previously on Paris Trip: 2012 Roland Garros: Zilko went to Paris to watch the second grandslam tournament of the year, Roland Garros (or the French Open). He had access for three days to the tournament; and he had spent his first day access where he watched Samantha Stosur’s and Bob and Mike Bryan’s matches. Now he was ready to go to his second day at the tournament…

***

Day 3 (Thursday, 31 May 2012)

My routine in the morning was pretty much the same as the day before: getting up at 7 AM, taking a shower, having breakfast at the hostel, and leaving the hostel at around 8 AM to get to the gate at 9 AM. The queues were also the same. There was the first queue to get to the security check and there was the second one in front of the gate to get into the grounds. As the procedure was pretty much the same as the first day, I also entered the gate at pretty much the same time: around 9.45 AM.

My ticket this day was more ‘elite’ in the sense that I had access to Le Court Philippe Chatrier (the center/main court) for the entire day. I checked the schedule of play the day before and I was excited to find out that these four matches were scheduled to be played in Philippe Chatrier:
1. Jarkko Nieminen (FIN) vs Andy Murray [4] (GBR) at 11 AM; followed by
2. Jarmila Gajdošová (AUS) vs Caroline Wozniacki [9] (DEN); followed by:
3. Paul-Henri Mathieu [WC] (FRA) vs John Isner [10] (USA); and followed by:
4. Ayumi Morita (JPN) vs Maria Sharapova [2] (RUS).

Wow, big names, right??? As you (might) now, Andy Murray is one of my most favorite men’s singles players in the men’s tour currently; and who doesn’t know the Maria Sharapova?? Btw, Sharapova will regain her world no.1 status as of Monday replacing Victoria Azarenka after reaching the final of this Roland Garros earlier today. Based on my excitement towards these matches, my priority was as follows: Murray’s match, then Sharapova’s match, then Wozniacki’s matched which was followed closely by Isner’s match.

The first match would begin at 11 AM. Because one seat in Philippe Chatrier court was already reserved under my name (there was seat number in the ticket), basically I didn’t have to come to the court that early. So, I also did what I did the day before before plays started: walking around the grounds to see some players practicing. That morning, I saw the sixth-seeded David Ferrer, Bernard Tomic, Tamarine Tanasugarn, Andrea Hlaváčková, Lucie Hradecká, Pablo Andújar, and Guillermo García-López. At around 10.30 AM I walked back towards Court Philippe Chatrier when I saw a lot of people were flocking Court no.4. It looked quite crazy as some people even climbed up the entrance roof of the next door court (Court no.5) just to get a better view of whoever was practicing in Court no.4. It looked like this:

What could possibly attracted all these people to flock Court no.4???

Of course I also became curious to find out who was practicing there. It turned out to be the king of clay: RAFAEL NADAL!! :shock:  . And then I completely understood why people went crazy, hahaha. Lucky for me I was able to find a good seat in Court no.4 (though I had to sit on a quite wet bench; but whatever, I was wearing jeans so it would dry out quickly anyway, hahaha :D ) to see Rafael Nadal’s practice session.

And what I saw amazed me, big time, and it made me come to a realization on why Rafael Nadal, or the big four (Novak Djokovic, Roger Federer, and Andy Murray as the other three) in general, dominated the men’s game so much. His level was just unbelievable!! I mean, it was “only” his practice session for his second round match later on that day, but his level there, in practice, was already very very very high!! Usually, (many) players approach the practice sessions in a tournament as warming-up before their matches: to get the groove and the ball feeling; and also to strategize on how to play their opponent(s). So it may be valid to say that they would not be in their 100% condition during this kind of practice, as they would prefer to save their energy and intensity for the matches. You know, at this point, I had already watched some other professionals’ practice sessions and so I could see the definite difference that set Rafael Nadal apart from all of them. It seemed to me that his level in practice was already higher than the level of some top 100 players in their matches!! Rafael Nadal kept making amazing winner shot after winner shot even in his practice, to the delight of the spectators!! I was wowed, really… . No wonder later on that day he won 6-2, 6-2, 6-0 against the world no. 43.

Somehow, it was 11 AM already so Andy Murray’s match in Philippe Chatrier was about to start. I left Court no.4 and ran to Le Court Philippe Chatrier, also feeling very excited that I would finally watch Andy Murray’s match!! :) I got my seat at Tribune Henri Cochet just in time when Andy Murray and Jarkko Nieminen were warming up for their matches. A few minutes later, the match was started. Just like in a typical Andy Murray’s match, Andy started quite slowly and somehow was trailing 0-3. The next game was Andy’s serve, and I noticed something was definitely wrong! :shock: Andy’s serve was very weak at only around 95-100 kmh (even my good serves are faster than that). No wonder, Nieminen broke and led 4-0. Andy went to his bench and called a trainer; and this started to worry me :( . It was apparent that his back injury was still troubling him a little bit. The match resumed after the injury timeout was over, and Andy lost the first set 1-6…

The second set started with a similar fashion where Andy was, somehow, trailing again at 0-2. But he slowly regained his form and gathered some momentum as he broke back and leveled the match at 4-4. From hereon, it seemed that he had gathered enough momentum and sealed the second set 6-4 with Nieminen’s double-faulting at set point. The third and fourth set were pretty much one-man show (though Nieminen did try to put some fights, but the now-in-form Andy was already too solid for him). In the end, Andy Murray won the match 1-6, 6-4, 6-1, 6-2; much to my delight!! :)

Btw, of course I did cheer for Andy Murray along the match. I was one of the guys who yelled “C’Mon Andy” in English, hahaha :lol:

It was already 1.40 PM or something but I decided to stay for the next match between Wozniacki and Gajdošová, even though I was already really hungry at that time, hahaha. It turned out to be a routine play for Caroline Wozniacki as she won handily 6-1, 6-4. The match was a very typical Wozniacki match though, where she made a little number of unforced errors and also a few winners but forcing her opponent to make tons of errors (Wozniacki made 9 winner and 7 unforced errors, while Gajdošová made 25 winners and 40 unforced errors; see the difference now?? :) ).

The next match was between Paul-Henri Mathieu, a French player who entered the tournament with a wildcard, against John Isner, the  2.06 meter tenth seeded from the USA. I stayed for the first three games of the match and decided to leave the Court because I was seriously hungry. I went to Les Jardin Restaurant to see what they had there. And then I found out that they almost ran out of food for lunch :shock: :?: , which I found weird until I looked at my watch and realized that it was already almost 4 PM!! hahaha :lol: :cool: (no wonder I was starving at the time and almost no food from lunch was available in the restaurant). In the end, I decided to eat a beefsteak with French potato for €16.

After the late lunch, I decided not to go back to Court Philippe Chatrier directly as I thought I needed to stretch my legs a little bit more. Continuously sitting at Philippe Chatrier for almost five hours was apparently not good, hahaha. At the time, John Isner took the first set 7-6(5); but Mathieu took the second and third both time with score 6-4. I recharged my camera to prepare it for the upcoming Maria Sharapova’s match; and planned to come back to Philippe Chatrier at the start of the fourth set of Mathieu-Isner match.

I did come back to my seat at the fourth set; and John Isner took this set 6-3 to force a deciding fifth set to be played. It was already like 6.30 PM and I had a feeling that this match might take while. Therefore, there was a possibility that Sharapova’s match would be cancelled if this fifth set took a lot of time, which was possible because in Roland Garros, there was no tiebreak in the fifth set (or third set for women’s singles matches).

The fifth set, indeed, turned out to be an epic one with both players held their serves and played some amazing tennis. The French crowd went ‘crazy’ when Mathieu made a winner (or forced errors to Isner). I kinda wanted to applaud John Isner when he produced some winners, but then I realized that almost all people within radius 10 meter from me were French, huahaha :lol: . And so I reacted quietly, hahaha :P . It was 8 PM already and I became sure that there would be no Sharapova match for me that day. At that time, the score was 12-11 and there was still no sign anybody would just give up.

There were some thoughts that were going through in my mind at this time:
1. Based on the entire schedule today, there was definitely a very good chance Serena Williams’ mixed doubles match (that I really wanted to watch) would be played the next day (Friday). Which court or what time, no idea, but it was likely to be played on Friday.
2. Aside from that, I would still have an entire day the next day to spend at Roland Garros. If I stayed for too long (hence I would go to bed a bit later), I was afraid I would be too tired the next day and it wouldn’t be good if there were several good matches I wanted to watch.
3. This Isner-Mathieu match could really go to the distance even further as both players still showed no sign of weakness. So it might still take another hour or something; while even though undoubtedly it was an epic match, both players were not really my most favorite players in the world.
4. I was already quite craving for dinner and I didn’t know what time the restaurants would close that evening; and I kinda wanted to avoid the subway rush from Roland Garros after the conclusion of Isner-Mathieu match (as I assumed a lot of people would stay to watch the conclusion of the match).

Therefore, I concluded that the most efficient decision for me that day, taking into account the utility and ‘satisfaction’ that I would get, was that for me to leave the venue soon, even though the Isner-Mathieu match hadn’t been concluded yet. At around 8.20 PM, when the score was 13-12, I decided to leave the grounds.

I decided to have dinner at KFC first before going back to my hostel. After arriving at the hostel, I checked the result and in the end, the Frenchmen won 18-16 in the fifth. I was glad I decided to leave as I thought, with that score, it would have taken at least another 30-40 minutes since I left until the conclusion of the match, hehehe :) In total, this match took 5 hours and 41 minutes to complete!!

To Be Continued…

Next on Paris Trip: 2012 Roland Garros :
1. Final day of the trip
2. Some good tennis!
3. Back to the Netherlands.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam Paris Trip: 2012 Roland Garros: Zilko pergi ke Paris untuk menonton turnamen grandslam kedua tahun ini, Roland Garros (atau dikenal pula dengan nama French Open). Ia mendapatkan akses selama tiga hari di turnamen ini; dan ia telah melewatkan akses hari pertamanya disana dengan menonton pertandingannya Samantha Stosur dan Bob dan Mike Bryan. Kini ia siap untuk menyongsong hari keduanya di turnamen ini…

***

Hari 3 (Kamis, 31 Mei 2012)

Rutinitasku di pagi hari sama seperti sehari sebelumnya: bangun pagi jam 7, mandi, sarapan di hostel, dan meninggalkan hostel sekitar jam 8 pagi untuk tiba di gerbang masuk jam 9 pagi. Antriannya juga sama kok. Ada antrian pertama menuju pos sekuriti dan antrian kedua di depan gerbang untuk masuk ke area turnamennya. Karena prosedurnya juga kurang lebih sama deh seperti hari sebelumnya, aku masuk ke areanya juga kurang lebih pada waktu yang sama: jam 9.45 pagi.

Tiketku hari ini lebih ‘elit’ dalam artian aku mendapatkan akses ke Lapangan Philippe Chatrier (lapangan tengah/utamanya) untuk sepanjang hari. Aku mengecek jadwal pertandingan sehari sebelumnya dan aku bahagia karena ada empat pertandingan berikut yang akan dimainkan hari ini di Philippe Chatrier:
1. Jarkko Nieminen (FIN) vs Andy Murray [4] (GBR) jam 11 pagi; diikuti oleh:
2. Jarmila Gajdošová (AUS) vs Caroline Wozniacki [9] (DEN); diikuti oleh:
3. Paul-Henri Mathieu [WC] (FRA) vs John Isner [10] (USA); dan diikuti oleh:
4. Ayumi Morita (JPN) vs Maria Sharapova [2] (RUS).

Wow, nama-nama besar kan??? Dan seperti yang (mungkin) pada tahu, Andy Murray kan adalah salah satu pemain tunggal favoritku di tur putra saat ini; dan siapa sih yang nggak pernah dengar nama Maria Sharapova?? Btw, Sharapova akan meraih kembali gelar peringkat 1 dunia hari Senin nanti menggeser Victoria Azarenka setelah mencapai final dari Roland Garros ini tadi sore. Nah, berdasarkan tingkat ke-excited-anku terhadap empat pertandingan ini, prioritasku adalah sebagai berikut: pertandingannya Murray, pertandingannya Sharapova, lalu pertandingannya Wozniacki yang diikuti dengan ketat oleh pertandingannya Isner.

Pertandingan pertama baru akan dimulai jam 11 pagi. Karena kursi di Lapangan Philippe Chatrier telah dipesan untukku (jadi ada nomor kursinya gitu di tiket), artinya aku nggak perlu buru-buru kesana dong ya. Jadilah aku melakukan seperti apa yang kulakukan di pagi hari sehari sebelumnya: jalan-jalan berkeliling kompleks untuk melihat beberapa pemain berlatih. Pagi itu, aku melihat unggulan keenam, David Ferrer, Bernard Tomic, Tamarine Tanasugarn, Andrea Hlaváčková, Lucie Hradecká, Pablo Andújar, dan Guillermo García-López. Sekitar jam 10.30 pagi, aku berjalan kembali ke arah Lapangan Philippe Chatrier dan kemudian aku melihat ada banyak sekali orang mengerumuni Lapangan no.4. Kerumunannya nampak gila juga karena beberapa orang sampai rela memanjat atap pintu masuk lapangan sebelahnya (Lapangan no.5) hanya untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas ke siapapun yang sedang berlatih di Lapangan no.4. Kayak gini deh kerumumannya itu:

Apa ya yang bisa-bisanya menyebabkan orang berkerumun melihat Lapangan no.4 sampai segininya???

Tentu saja aku jadi ikutan penasaran dong pengen tahu siapa yang berlatih disana. Dan ternyata yang sedang berlatih adalah sang raja tanah liat: RAFAEL NADAL dong!! :shock:  . Dan jadilah aku langsung memahami mengapa orang sampai segitunya melihat dia berlatih, hahaha. Untungnya bagiku, aku mendapatkan tempat duduk yang bagus di Lapangan no.4 (walaupun aku harus duduk di bangku yang agak basah sih; tapi biarin lah kan aku juga sedang memakai celana jeans jadi juga akan cepat kering kan, hahaha :D ) untuk melihat sesi latihannya Rafael Nadal.

Dan apa yang aku lihat membuatku kagum loh, kagum sekali malahan, dan juga membuatku menyadari mengapa Rafael Nadal, atau empat besar deh (Novak Djokovic, Roger Federer, dan Andy Murray sebagai tiga yang lainnya) secara umum, mendominasi tenis putra saat ini. Level permainannya itu gila banget dong!! Maksudku, sesi yang kulihat ini “hanyalah” sesi latihannya kan ya untuk mempersiapkan dirinya menghadapi pertandingan babak kedua yang akan dimainkan siang hari nanti. Tapi level permainannya disana, hanya di latihan, sudah sangat amat tinggi sekali dong!! Biasanya, (kebanyakan) pemain kan menggunakan sesi latihan di sebuah turnamen sebagai pemanasan gitu ya sebelum pertandingan mereka: untuk mendapatkan irama permainan dan feeling-nya gitu; dan juga berstrategi dalam menghadapi lawan. Jadi mungkin bisa dikatakan kalau mereka tidak 100% saat berlatih semacam ini, karena mereka akan menyimpan energi dan intensitasnya untuk pertandingan. Tahu dong, di waktu ini, aku juga sudah melihat sesi latihannya beberapa pemain lain sehingga aku bisa melihat apa yang jauh membedakan Rafael Nadal dari mereka. Menurutku, level permaiannya Nadal di latihan sudah lebih tinggi daripada levelnya beberapa pemain peringkat 100 besar di pertandingan loh!! Rafael Nadal terus membuat pukulan-pukulan winner sepanjang latihan, yang mana sangat menghibur siapapun yang melihatnya!! Aku sangat takjub deh… . Nggak heran siangnya ia menang 6-2, 6-2, 6-0 atas pemain peringkat 43 dunia.

Tiba-tiba, waktu telah menunjukkan jam 11 pagi yang mana artinya pertandingannya Andy Murray di Lapangan Philippe Chatrier sudah akan dimulai. Jadilah aku meninggalkan Lapangan no.4 dan berlari ke Lapangan Philippe Chatrier, juga merasa amat bersemangat karena akhirnya aku akan melihat pertandingannya Andy Murray!! :) Aku kemudian duduk di kursiku di Tribun Henri Cochet tepat ketika Andy Murray dan Jarkko Nieminen sedang pemanasan. Beberapa menit kemudian, pertandingannya dimulai deh. Seperti tipikal pertandingannya Andy Murray, Andy mulai lambat (‘panas’-nya lama gitu maksudnya) sehingga ia langsung tertinggal 0-3. Di game selanjutnya, yang merupakan game servisnya Andy, aku menyadari ada sesuatu yang salah! :shock: Servisnya Andy lemah sekali dengan kecepatan hanya sekitar 95-100 km per jam saja (bahkan servisku yang baik aja lebih cepat daripada itu). Nggak heran, Nieminen berhasil mematahkan servis dan unggul 4-0. Andy lalu berjalan ke bangkunya dan memanggil trainer; dan ini mulai membuatku khawatir :( . Nampak bahwa cedera punggung yang ia derita mengganggu performanya hari ini. Pertandingan berlanjut setelah waktu timeout karena cedera selesai, dan Andy kehilangan set pertama 1-6…

Set kedua dimulai dengan gelagat yang sama dimana Andy langsung tertinggal 0-2. Namun, perlahan-lahan ia mulai meningkatkan performanya dan mulai mendapatkan momentum sehingga ia berhasil mematahkan balik servis Nieminen sehingga skor menjadi imbang 4-4. Dari sini, nampaknya ia telah meraih cukup momentum dan memenangi set kedua dengan skor 6-4 dengan double fault dari Nieminen. Set ketiga dan keempat berlangsung seperti one-man show (walau Nieminen memang berusaha untuk melawan balik, tetapi Andy yang sudah mendapatkan iramanya sudahlah terlalu tangguh baginya). Dan akhirnya, Andy Murray memenangi pertandingan itu 1-6, 6-4, 6-1, 6-2; dan aku senang deh!! :)

Btw, tentu saja aku menyemangati Andy Murray dong sepanjang pertandingan. Aku adalah salah satu dari beberapa orang yang meneriakkan: “C’Mon Andy” dalam bahasa Inggris, hahaha :lol:

Jam telah menunjukkan pukul 1.40 siang tetapi aku memutuskan untuk tetap tinggal di Philippe Chatrier untuk menonton pertandingan selanjutnya antara Wozniacki dan Gajdošová, walaupun aku sudah merasa lapar pada waktu itu, hahaha. Pertandingannya ternyata adalah pertandingan yang rutin bagi Caroline Wozniacki karena ia menang mudah 6-1, 6-4. Pertandingannya adalah pertandingan yang sangat tipikal Wozniacki dimana ia membuat sangat sedikit kesalahan sendiri dan sangat sedikit winner tetapi memaksa lawan untuk membuat banyak sekali kesalahan sendiri (Wozniacki membuat 9 pukulan winner dan 7 kesalahan sendiri, sementara Gajdošová membuat 25 winner dan 40 kesalahan sendiri; terlihat kan perbedaannya?? :) ).

Pertandingan selanjutnya adalah antara Paul-Henri Mathieu, orang Prancis yang masuk ke turnamen ini dengan fasilitas wildcard, melawan unggulan sepuluh yang memiliki tinggi badan 2,06 meter, John Isner dari Amerika. Aku menonton tiga game pertama dari pertandingan ini dan memutuskan untuk meninggalkan lapangan karena aku sudah sangat lapar. Jadilah aku pergi ke Restoran Les Jardin untuk melihat apa yang mereka miliki saat itu. Dan kemudian aku melihat bahwa mereka nyaris kehabisan menu makan siang dong :shock: :?: , yang membuatku heran sampai aku melihat jam tanganku yang ternyata sudah menunjukkan hampir jam 4 sore!! hahaha :lol: :cool: (pantesan aja kok aku sudah luapar sekali waktu itu dan udah hampir nggak ada makan siang yang tersisa di restorannya). Akhirnya, aku memutuskan untuk makan steak daging dan kentang ala Prancis seharga €16.

Setelah makan siang yang telat banget itu, aku memutuskan untuk tidak langsung kembali ke Lapangan Philippe Chatrier karena aku rasa aku masih harus meregangkan kakiku ini lebih lama lagi. Duduk terus-terusan di Philippe Chatrier selama lima jam ternyata bikin kaki nggak enak juga, hahaha. Waktu itu, John Isner memenang set pertama 7-6(5); tetapi Mathieu merebut set kedua dan ketiga keduanya dengan skor 6-4. Aku mengisi ulang batere kameraku untuk agar cukup untuk meng-cover hingga pertandingannya Maria Sharapova; dan aku berencana masuk kembali ke Philippe Chatrier ketika set keempat pertandingan Mathieu-Isner dimulai.

Aku kembali ke tempat dudukku di set keempat; dan John Isner memenangi set ini 6-3 sehingga babak kelima perlu dimainkan sebagai penentuan. Jam telah menunjukkan sekitar pukul 6.30 sore dan aku mulai ada feeling kalau pertandingan ini beneran akau berlangsung lama sekali. Sebagai akibatnya, ada kemungkinan pertandingannya Sharapova akan dibatalkan andaikan set kelima ini memakan waktu lama, yang mana sangat mungkin karena di Roland Garros, set kelima (atau set ketiga untuk pertandingan tunggal putri) kan tidak menggunakan sistem tiebreak.

Set kelima ternyata beneran menjadi set yang epik dengan kedua pemain mempertahankan servisnya masing-masing dan memainkan tenis yang sangat memukau. Penonton Prancis pada bereaksi ‘gila-gilaan’ ketika Mathieu membuat pukulan winner (atau memaksa Isner membuat forced error). Aku merasa ingin memberikan penghargaan (tepuk tangan atau apa gitu) ketika John Isner membuat pukulan winner, tetapi aku kemudian menyadari bahwa sebagian besar penonton dalam radius 10 meter dariku adalah orang Prancis gitu deh, huahaha :lol: . Jadilah aku bereaksi dengan sunyi alias nggak berisik, hahaha :P . Waktu tiba-tiba telah menunjukkan pukul 8 sore (atau malam :?: , tapi masih terang euy) dan aku menjadi yakin bahwa pertandingannya Sharapova akan dibatalkan deh hari itu. Waktu itu, skornya adalah 12-11 dan masih belum ada tanda-tanda salah seorang pemain akan menyerah.

Ada beberapa pikiran yang berkecamuk di otakku pada waktu itu:
1. Berdasarkan jadwal pertandingan secara keseluruhan hari ini, ada kemungkinan yang besar bahwa pertandingan ganda campurannya Serena Williams (yang aku amat ingin tonton) akan dimainkan besoknya (Jumat). Di lapangan yang mana atau jam berapa, nggak tahu deh, tapi yang jelas sih aku menduga akan dimainkan di hari Jumat.
2. Di samping itu, aku masih memiliki satu hari penuh keesokan harinya di Roland Garros. Kalau aku tinggal terlalu lama (yang artinya aku mulai tidur lebih telat), takutnya kondisiku keesokan harinya nggak akan maksimal deh apalagi kalu ada pertandingan yang ingin aku tonton.
3. Pertandingan Isner-Mathieu ini beneran berpotensi berlangsung panjang karena kedua pemain masih tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Jadi, bisa jadi pertandingan ini masih akan berlangsung selama satu jam lagi; walau tanpa ragu harus diakui bahwa ini adalah pertandingan yang epik, tetapi kedua pemain pun bukanlah pemain paling favoritku gitu di dunia.
4. Aku sudah merasa cukup lapar dan ingin makan malam dan aku nggak tahu kan jam berapa restoran gitu akan tutup malam itu; dan aku juga ingin menghindari keramaian di subway dari Roland Garros setelah pertandingan Isner-Mathieu selesai (karena aku asumsikan banyak orang akan tinggal disana untuk menonton pertandingan hingga selesai).

Oleh karenanya, aku menyimpulkan bahwa tindakan paling efisien bagiku hari itu, dengan turut pula mempertimbangkan tingkat utilitas dan ‘kepuasan’ yang akan aku dapat, adalah dengan meninggalkan area turnamennya segera, walaupun pertandingan Isner-Mathieu masih belum selesai. Jadilah sekitar jam 20.20, ketika skornya masih 13-12, aku meninggalkan area turnamen.

Sebelum kembali ke hostel, aku memutuskan untuk mampir dulu di KFC buat makan malam. Setelah tiba di hostel, aku kemudian mengecek hasilnya dan akhirnya, si pemain Prancis lah yang menang dengan skor 18-16 di set kelima. Aku lega telah memutuskan untuk pulang lebih dulu karena sesuai dugaanku, dengan skor seperti itu, setidaknya pertandingannya beres sekitar 30-40 menit deh semenjak aku pulang itu, hehehe :) Totalnya, satu pertandingan ini memakan waktu 5 jam 41 menit loh hingga selesai!!

Bersambung…

Selanjutnya dalam Paris Trip: 2012 Roland Garros :
1. Hari terakhir dari perjalanan ini
2. Beberapa pertandingan tenis yang seru!
3. Kembali ke Belanda.

#1080 – 2012 French Open Prediction

ENGLISH

Okay, just like what I always do before a grandslam tournament’s main draw starts, it is time to make my pre-tournament prediction about the second grandslam tournament of the year, the French Open.

Men’s Singles

For me, it is still very difficult to see the winner to be someone ranked outside of the top four in the world. Some non-top-four players, for sure, still have the chances to produce some upsets by advancing to the semifinals; but to win the title, I think it is almost impossible. And from the top four players in the world, I think it will be silly to not see Rafael Nadal, the king of clay who has won six titles at the French Open in the last seven years with win-loss percentage at this tournament at 97.83%, as the heavy favorite. In fact, coming to this year’s edition of the French Open, Rafa is even in a better position than last year when he got two upsets in the finals of Rome and Madrid to Novak Djokovic. This year, Rafa has won Monte Carlo and Rome (beating Novak in both finals), and also a smaller tournament in Barcelona. Even though he lost quite early in Madrid, it was still a tough match against Fernando Verdasco and the condition is very different between Madrid and Paris.

The more intriguing puzzle is to guess who is the most likely to be Rafa’s opponent in the final. The other top four players who are in the other half of the draw are Novak Djokovic (1st seed) and Roger Federer (3rd seed). Ranking-wise, Novak Djokovic should advance to the final; plus the fact that Novak just beat Roger in the semifinals of Rome last week should give him some favor. However, two top eight players who are in their side of the draw cannot be just sidelined. Tomáš Berdych, Roger Federer’s potential quarterfinals opponent, is in a good form coming to this French Open. He reached the final of Madrid (losing in a tight three sets to Roger) and he has had the experiences of beating some top players in grandslam tournaments. Jo-Wilfried Tsonga, who is in Novak’s quarter, is always a favorite especially as he is playing in home soil. But in the end, I will just go with the seeding; and that I think Novak Djokovic will reach the final.

But as I said, between Novak Djokovic and Rafael Nadal; I think Rafael Nadal will still triumph in his favorite grandslam tournament this year.

Women’s Singles

There is a crazy thing, in my opinion, that is going on in the women’s draw. Two women that have had the best results on clay this year coming to the French Open are Serena Williams and Maria Sharapova. Serena has a 100% winning percentage on clay this year (so far), and Sharapova at 91.67% (Sharapova’s only loss on clay this year so far was only to Serena Williams). So, it is natural that these two women are the two heavy favorite for the title this year; with the ideal meeting between them should be in the final. However, based on the draw, should they meet, they will meet in the quarterfinals!! :shock: To make things crazier, the two finalists last year (Li Na, the defending champion, and Francesca Schiavone) are also in the same half of the draw! But still, from this side of the draw, I do think the finalist will either be Serena Williams or Maria Sharapova. But if I have to pick one, I will choose Serena Williams.

This makes the other half of the draw seem to be relatively bland. Looking at the draw at a glance, it seems that Victoria Azarenka, the current world no.1, should have a relatively easy passage to the final. Sure, Agnieszka Radwanska is also in a good run this year, but in my opinion, she is slowly turning to ‘Dinara Safina’ or ‘Caroline Wozniacki’ who are playing “too many” tournaments; thus, hindering her performance in a grandslam. But there is one big name who is, sort of, a floater in this side of the draw: Venus Williams. She was sidelined almost the whole year last year with injuries and illness and she came back on the tour last March in Miami. She reached three quarterfinals from the four tournaments she has played this year, and she has had good results on clay, owning nine clay singles titles behind her name. Sure she has only gone beyond quarterfinals at the French Open once (when she reached the final in 2002 where she lost to her sister), so this might also need to be considered. But what I am saying is, I think Venus Williams is able to produce some “upsets” (ranking-wise) in her part of the draw. I completely have no idea who will advance to the final from this side of the draw. Ranking-wise, it should be Victoria Azarenka; but somehow I have a feeling she will not advance to the final, hmmm. My gut feeling says that this half of the draw will be represented by someone from the relatively lower seeds or rankings. Ah, I don’t know…

So, in my opinion, the final will be Serena Williams vs someone from the lower seeds or rankings. From this encounter, of course Serena Williams is the heavy favorite, hehehe :) It may be important to note that this year is the first time Serena Williams comes to the French Open with such a very positive result during the clay court season since her triumph at the dirt grandslam 10 years ago in 2002, the first grandslam title of her “Serena Slam” run. So, yeah, no wonder she is the favorite :) .

Btw, I wouldn’t believe that I would put Serena and Sharapova as the two favorites to win the French Open if you asked me several years ago as Serena and Sharapova are (or used to be) the players not-known as clay court specialists, hehehe :)

***

So, yeah, that is my prediction for this year’s French Open. :)

My pre-tournament picks for the singles winners of this year’s French Open: Rafael Nadal and Serena Williams

Note:
Rafael Nadal’s Photo Credit: Getty Images
Serena Williams’ Photo Credit: Jasper Juinen/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Oke, seperti yang selalu aku lakukan sebelum babak utama sebuah turnamen grandslam dimulai, sekarang adalah saatnya untuk membuat prediksi pre-turnamenku tentang turnamen grandslam kedua tahun ini, French Open.

Tunggal Putra

Untukku, sulit rasanya bagi seseorang pemain dengan peringkat di luar empat besar dunia untuk memenangi turnamen ini. Beberapa pemain di luar empat besar ini, tentu saja, memang memiliki peluang untuk membuat beberapa “kejutan” dengan mencapai semifinal misalnya; tetapi untuk memenanginya, rasanya kok agak mustahil yah. Dan dari empat besar dunia ini, aku rasa konyol apabila seseorang tidak melihat Rafael Nadal, si raja tanah liat yang menjuarai French Open enam kali dalam tujuh tahun terakhir dan memiliki persentase kemenangan 97,84% di turnamen ini, sebagai sang favorit untuk juara. Bahkan, masuk ke French Open ini tahun ini, Rafa berada dalam kondisi yang lebih baik daripada tahun lalu dimana ia baru saja terkejut dengan kalah dua kali berturutan di finalnya Roma dan Madrid dari Novak Djokovic. Tahun ini, Rafa telah menjuarai Monte Carlo dan Roma (mengalahkan Novak di final keduanya), dan juga sebuah turnamen yang agak kecil di Barcelona. Walaupun ia kalah cukup awal di Madrid, pertandingan itu adalah pertandingan super ketat melawan Fernando Verdasco dan kondisinya sangat berbeda antara Madrid dari Paris.

Nah, yang lebih seru adalah menebak siapa yang paling mungkin menjadi lawan tanding Rafa di final. Pemain empat besar yang berada di setengah undian yang lain dari Rafa adalah Novak Djokovic (unggulan pertama) dan Roger Federer (unggulan ketiga). Dari segi peringkat, Novak Djokovic-lah yang seharusnya lolos ke final; fakta bahwa Novak baru saja mengalahkan Roger di semifinal di Roma minggu lalu seharusnya juga memberikan sedikit lebih keuntungan padanya. Namun, dua pemain delapan besar yang berada di sisi undian mereka juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Tomáš Berdych, kemungkinan lawan tanding Roger Federer di perempat-final, sedang berada dalam performa yang bagus nih memasuki French Open ini. Ia menjadi finalnya Madrid (kalah dalam tiga set ketat dari Roger) dan ia juga memiliki pengalaman mengalahkan beberapa pemain top di turnamen grandslam. Jo-Wilfried Tsonga, yang berada di kuarter yang sama dengan Novak, tentulah favorit juga apalagi kini ia bermain di kandang sendiri. Tapi pada akhirnya, rasanya aku akan tetap mengikuti peringkat aja deh; dan aku duga Novak Djokovic yang akan mencapai final.

Tapi seperti yang kubilang, antara Novak Djokovic dan Rafael Nadal; aku rasa Rafael Nadal lah yang akan menang di turnamen grandslam favoritnya ini tahun ini.

Tunggal Putri

Ada hal gila, menurutku, yang terjadi di undian tunggal putri. Dua petenis wanita dengan hasil terbaik di tanah liat tahun ini masuk ke French Open adalah Serena Williams dan Maria Sharapova. Serena memiliki persentase kemenangan 100% di tanah liat tahun ini (sejauh ini) dan Sharapova berada di 91,67% (satu-satunya kekalahan Sharapova di tanah liat tahun ini sejauh ini adalah dari Serena Williams). Jadi, rasanya natural gitu ya bahwa dua petenis ini adalah dua favorit untuk menjadi juara tahun ini; yang mana idealnya pertemuan keduanya seharusnya terjadi di final. Namun, berdasarkan undiannya, andaikata mereka bertemu, mereka akan bertemu di perempat final dong!! :shock: Yang membuat hal makin ‘parah’, dua finalis tahun lalu (Li Na, sang juara bertahan, dan Francesca Schiavone) juga berada di sisi yang sama dari undian! Tapi masih sih, dari sisi undian yang ini, aku merasa yang akan masuk ke final ya antara Serena Williams atau Maria Sharapova deh. Dan kalau aku hanya boleh memilih satu, aku memfavoritkan Serena Williams.

Ini membuat sisi lain dari undian nampak agak kurang seru. Melihat undiannya secara sekilas, sepertinya Victoria Azarenka, pemain peringkat 1 dunia saat ini, mendapatkan jalan yang mulus ke final. Memang, Agnieszka Radwanska juga memiliki performa yang baik tahun ini, tapi menurutku nih ya, perlahan-lahan ia menjadi semakin seperti ‘Dinara Safina’ atau ‘Caroline Wozniacki’ gitu ya yang bermain “kebanyakan” turnamen; sehingga performanya di grandslam malah terganggu. Tapi, ada satu lagi nama besar yang, bisa dikatakan, seperti ‘bola liar’ di turnamen ini: Venus Williams. Ia absen karena cedera dan sakit tahun lalu dan ia baru saja kembali ke tur bulan Maret lalu di Miami. Ia mencapai tiga perempat final dari empat turnamen yang telah ia masuki, dan ia juga memiliki hasil yang baik di tanah liat loh, dengan sembilan titel tanah liat tunggal di belakang namanya. Memang, ia baru pernah menembus lebih dari perempat final di French Open satu kali saja (ketika ia mencapai final di tahun 2002 dimana ia kalah dari adiknya), jadi ini juga sepertinya perlu dipertimbangkan. Tapi maksudku adalah, aku rasa Venus Williams mampu menghasilkan beberapa “kejutan” (dari segi ranking pemain) di sisi undiannya. Aku bener-bener nggak tahu siapa yang akan masuk ke final dari sisi undian ini. Secara peringkat, seharusnya memang Victoria Azarenka ya; tetapi entah kenapa aku ada feeling bahwa ia nggak akan lolos ke final deh, hmmm. Feeling-ku malah mengatakan sisi undian yang ini akan diwakili oleh seorang pemain unggulan agak rendah atau berperingkat lebih rendah deh di final. Ah, nggak tahu ah…

Jadi, menurut pendapatku, finalnya adalah Serena Williams melawan seseorang dengan peringkat agak rendah. Dari pertemuan ini, jelas Serena Williams adalah favoritnya dong ya, hehehe :) Mungkin penting untuk dicatat bahwa tahun ini adalah kali pertama Serena Williams datang ke French Open dengan hasil yang sungguh positif di musim tanah liat semenjak ketika ia menjuarai turnamen grandslam tanah liat ini 10 tahun lalu di tahun 2002, titel grandslam pertama dari rangkaian “Serena Slam”-nya. Jadi, ya, nggak heran deh ia adalah favorit di tahun ini :) .

Btw, misalnya beberapa tahun yang lalu pada bilang bahwa Serena dan Sharapova adalah dua favorit utama untuk menjuarai French Open ini, aku nggak akan percaya loh karena Serena dan Sharapova kan tidak dikenal sebagai pemain spesialis tanah liat, hehehe :)

***

Jadi, ya, itulah prediksiku untuk French Open kali ini. :)

#1059 – Manic Monday

ENGLISH

Long Weekend Continued…

In Holland, this latest Easter long weekend did not end on Sunday, but it continued to Monday, huahaha :lol: . Not bad. And since the EWI building in my campus was also closed for any access on Monday, I decided to make this as an excuse to also take this Monday off.

A little preview for what is coming up within the next eight days for me: starting today (or probably tomorrow, we will see about that :D ) I will be on another lock down mode. Yes, I plan to take one exam held next week on Wednesday, and I do really have to lock myself up and study for the materials for at least one full week. I have already started a little work though since about last week, but it was all just a light reading over the materials and not really “intensive” work as I plan for the coming one week. But it is always good though to already have a head start under my belt.

What does that mean? Well, it means that anything not related to that lock down mode that I need to do within the next ten days have to be done last Monday!! The truth was that there were indeed a couple of things that I scheduled to do within these ten day period. And in a way those things made my last Monday quite a manic Monday, haha…

Bad Weather

First of all, it worth noting that the weather this last long weekend was not that friendly. You already know last Saturday it was even hailing when I was at Kinderdijk. The same story still went on on Sunday and Monday. It was so gloomy and light drizzle fell the whole two days. Definitely not fun and ideal for a long weekend…

New Shoes

Anyway, the first thing to do on Monday was to buy a new pair of tennis shoes. After a little bit of thinking and consideration, I decided to buy new shoes for my tennis practices, huahaha :lol: . My current running shoes are, obviously, not designed to endure longer-term usage for tennis, and I am a little worried about that. Beside, these shoes are already almost 3 years old now and quite almost battered in a way, so I think time-wise it is also okay to buy a new pair of exercising shoes. Plus, I have just decided to join a tennis club for the upcoming a few months. So, it is safe to say that my frequency of playing tennis will be quite high.

However, some of the shops were closed yesterday because of the prolonged Easter long-weekend, so basically I had less options, haha. But in the end I finally bought one pair at a store in Den Haag. They are quite expensive though in my opinion, but they are so nice and they do look good (This was another problem for me also: why are the ones that I like the relatively more expensive ones? :lol: ). And indeed, this pair are stronger (more rigid) than my older running shoes (well, because this new pair are tennis shoes anyway, so of course they are more rigid). How much they cost me? Well, it was € 89.95. It sure looks quite a lot; but after thinking about it, for good shoes (not only ‘good’ model, but also good physical and very good design), I think this price is quite reasonable?

After getting back home, I checked some of the price online and indeed this price was good. I mean, a website offered € 88.00 but factoring in shipping cost, it would cost much more, haha. And then I also realized that apparently this model was a (relatively) new model and it was worn by Rafael Nadal during his hard court campaign this year from January to March!! :shock: Huahaha :lol: I did not know that! :) But at least now I am even more sure that this is a good product, hahaha :)

Rafael Nadal at the 2012 Australian Open. Yes, I just bought these shoes he was wearing in this photo! Photo credit: Ben Solomon/Tennis Australia

Laundry

My next scheduled date for laundry was actually next week, just about four days before my weekend trip to Scotland (yeah, after the exam, I am going on that weekend trip to Scotland! Ah, I cannot wait!! :D ). But because of the lock down mode, I decided to move it forward and did it yesterday instead after coming back from Den Haag for shoes shopping…

Yea, I know, this is so stupid that I even write doing a laundry in a blog. But whatever, this is my blog so I can write whatever I want, no? haha :P

My old running shoes

My new tennis shoes

BAHASA INDONESIA

Long Weekend Berlanjut…

Di Belanda, long weekend Paskah kali ini tidak berakhir di hari Minggu, tetapi berlanjut hingga hari Senin loh, huahaha :lol: . Lumayan banget lah ya. Dan karena gedung EWI di kampusku juga aksesnya ditutup di hari Senin, ya udah sekalian aku jadikan alasan aja untuk mengambil libur di hari Senin.

Sedikit preview akan aktivitasku sekitar delapan hari ke depan: mulai hari ini (atau besok, kita lihat saja deh :D ) aku akan kembali memasuki mode lock down. Ya, aku berencana untuk mengambil satu ujian lagi hari Rabu minggu depan, dan jadilah aku harus mengunci diriku dan belajar materi untuk ujian ini selama setidaknya seminggu penuh. Aku sudah mencicil sedikit semenjak minggu lalu sih, tapi yang sudah aku cicil hanyalah yang ringan-ringan aja dan nggak terlalu “intensif” gitu seperti yang aku rencanakan buat seminggu ke depan. Tapi tetap lumayan lah ya sudah ada beberapa bagian yang dicicil.

Apakah artinya ini? Ya, artinya segala hal yang tidak berhubungan dengan mode lock down-ku itu yang harus aku kerjakan selama sepuluh hari ke depan ya harus aku lakukan Senin kemarin ini!! Nyatanya, memang ada dua hal yang harus aku lakukan deh dalam waktu sepuluh hari ini. Dan dua hal ini, di satu sisi, membuat hari Seninku kemarin cukup menyibukkan juga, haha…

Cuaca Buruk

Pertama-tama, penting untuk disebutkan bahwa cuaca di long weekend ini tidak bersahabat sama sekali. Tahu dong bahkan hari Sabtu kemarin sempat hujan es ketika aku berada di Kinderdijk. Cerita yang sama berlanjut di hari Minggu dan Seninnya. Suasananya itu gloomy banget dan hujan gerimis ringan turun sepanjang dua hari tersebut. Beneran bukanlah cuaca yang mengasyikkan atau ideal deh buat sebuah long weekend

Sepatu Baru

Anyway, hal pertama yang harus kulakukan Senin kemarin adalah membeli sepasang sepatu baru. Setelah dipikir-pikir dan dipertimbangkan dengan masak, aku memutuskan untuk membeli sepasang sepatu baru untuk latihan tenis deh, huahaha :lol: . Sepatu lari-ku sekarang, jelas lah, tidak didisain untuk tahan dipakai latihan tenis dalam jangka waktu panjang, dan aku agak khawatir karenanya. Lagian, sepatu lari ini sudah aku miliki selama hampir 3 tahun deh dan di satu sisi sudah agak-agak butut gitu, jadi aku rasa dari segi waktu oke lah ya untuk membeli sepatu olahraga baru. Lagian kan aku baru saja bergabung di sebuah klub tenis nih untuk beberapa bulan ke depan. Bisa dipastikan frekuensi main tenisnya bakal agak lumayan deh.

Namun, beberapa tokonya tutup kemarin karena long weekend Paskah yang berlanjut sampai Senin, jadi pada dasarnya pilihanku jadi agak berkurang deh, haha. Tapi akhirnya aku membeli sepasang sepatu di sebuah toko di Den Haag. Harganya lumayan mahal juga sih ya menurutku, tapi sepatunya oke dan penampilannya bagus gitu deh (Ini juga yang menjadi masalah deh bagiku: kenapa ya barang yang aku suka itu pas yang harganya relatif lebih mahal? :lol: ). Dan memang sih, sepatu yang ini lebih kuat (lebih kaku) daripada sepatu lari lamaku (ya, ini wajar lah ya karena sepatu tenis kan memang gitu, jadi jelas lebih kaku). Berapakah yang harus aku keluarkan? Hmm, aku membayar € 89.95 untuknya. Memang sepertinya lumayan banyak juga ya; tapi kalau dipikir-pikir lagi, untuk sepatu yang bagus (nggak cuma modelnya tapi juga fisik dan disainnya), rasanya harga segitu cukup masuk akal?

Setelah pulang, iseng aku mengecek harganya online dan harga segini oke juga kok ternyata. Ada sih website yang menjualnya dengan harga € 88.00 tapi kalau memasukkan ongkos kirim, jatuhnya bakal lebih mahal lah ya, haha. Dan kemudian aku juga menyadari bahwa model ini adalah model yang (relatif) baru dan dipakai oleh Rafael Nadal dalam penampilannya di lapangan keras tahun ini dari Januari sampai Maret loh!! :shock: Huahaha :lol: Aku bahkan nggak tahu itu ketika membelinya! :) Tapi setidaknya sekarang aku jadi lebih yakin bahwa ini memang produk yang bagus, hahaha :)

Rafael Nadal di Australian Open 2012. Ya, aku baru saja membeli sepatu yang ia pakai di foto ini! Photo credit: Ben Solomon/Tennis Australia

Cucian

Jadwalku untuk mencuci baju sebenarnya adalah minggu depan, sekitar empat hari sebelum perjalanan akhir pekanku ke Skotlandia (ya, setelah ujian, aku akan pergi ke Skotlandia untuk sebuah perjalanan akhir pekan! Ah, nggak sabar nih aku!! :D ). Tapi karena mode lock down ini, jadilah aku memajukan jadwal mencuci baju ini dan aku mencucinya kemarin deh setelah pulang dari Den Haag untuk membeli sepatu…

Ya, ya, aku tahu, ini nggak penting banget gitu. Cuma nge-laundry aja ditulis di blog, huahaha :lol: . Tapi biarin dong ya, kan aku yang punya blog jadi suka-suka aku dong? haha :P