#1239 – 2013 French Open

ENGLISH

The second grandslam tournament of the year has just been concluded. And so, as usual, it is time to make a recap :D .

Women’s Singles

A similar pattern as last year occured in the clay-court tournaments leading up to Roland Garros this year: Serena Williams was unbeatable on clay. This time, she came with three clay titles at Charleston, Madrid, and Rome. She was clearly the favorite to win the title, even more than the world no.2 and defending Roland Garros champion, Maria Sharapova. However, even under this looking-good circumstances, there was still somehow a bigger uncertainty than it probably should have been normally. This was because last year, Serena shockingly lost to a world no.111, Virginie Razzano, in the first round of the 2012 French Open.

The draw fell quite nice for Serena (partly thanks to Rafael Nadal who, as the defending champion of the men’s singles, had the honor to draw the women’s seeded players in the draw), with most “dangerous” players (at least on paper) fell into Sharapova’s half. However, these two top seeds managed to live up to their seeding and advanced to the final. Both not with plain smooth sailing though. Serena had to face her “French Open Quarterfinals demon” in her quarterfinals match against Svetlana Kuznetsova where she had to fight in three sets and actually was behind in the third set; and Sharapova faced a tough battle in the quarterfinals and semifinals against Jelena Jankovic and the world no.3, Victoria Azarenka, respectively.

Even though the final was between the world no.1 and world no.2, Serena was pretty much the heavy favorite. Especially with the level of play she had been showing through out the tournament and also the lopsided head to head record she had with Sharapova (13–2 in her favor coming into the final). The final turned out to be a high quality match though, with Sharapova playing, arguably, the best she had played against Serena in many of their last encounters. However, even so, Serena Williams was still one step ahead. With a 198 km/h ace down the T in her first match point, she defeated Maria Sharapova 6–4, 6–4.

Interestingly enough, it was Serena’s only second French Open title. The first one came ELEVEN years back in 2002, where she beat her older sister, Venus Williams, in the final; it was the starting point of the famous “Serena Slam” where she would also end up winning the following Wimbledon, US Open, and Australian Open (all against Venus in the finals). It was also such a nice victory for Serena because with this title, she became just the fifth woman to have won all four grand slam at least twice (so far she has had five Australian Opens, five Wimbledons, and four US Opens).

Wow, congratulations Serena! Keep on going strong!

Men’s Doubles

Quite similarly to Serena Williams, Bob and Mike Bryan also won their second Roland Garros title TEN YEARS after their first title back in 2003. The duo won the final against local players, Michaël Llodra and Nicolas Mahut in a thriller three-setter which had to end in a tiebreak with score 6–4, 4–6, 7–6(4).

Men’s Singles

The two most in form players this year fell into the same half: the world no.1, Novak Djokovic, and the seven-time Roland Garros champion, Rafael Nadal; which meant they could meet in the semifinals. And they did. And it was indeed a very intense and exciting semifinal where eventually Nadal won 6–4, 3–6, 6–1, 6–7(3), 9–7. I did watch this match until the fourth set but I couldn’t watch the fifth because I had to go to a tennis lesson on Friday :lol: .

The other half of the draw, therefore, looked a little bit softer, especially after Andy Murray’s withdrawal. At first, it looked like it was a very good opportunity for Roger Federer to sneak into another Roland Garros final. However, it was not meant to be as he lost in the quarterfinals to Jo-Wilfried Tsonga. The hard-working fourth seeded David Ferrer, harnessed this opportunity and advanced to his first even grand slam final after defeating Tsonga in straight sets in the semifinals.

Not surprisingly, Nadal dominated the final by beating Ferrer 6–3, 6–2, 6–3 in a little over two hours. Thus, he won his eight French Open and twelfth grand slam title overall.

On the side note: even so, Nadal will drop in the world ranking to world no.5 as of Monday while Ferrer will raise to world no.4. This is due to Nadal’s absence from the sport for seven months starting from July last year. Well, him being ranked fifth will make Wimbledon interesting as he could potentially meet the other big four (Novak Djokovic, Andy Murray, and Roger Federer) in the quarterfinals. However, the good news for him now is that he pretty much has no point to defend until the conclusion of Australian Open in January 2014; which basically means that he can only gain and go up from now.

Serena Williams lifted her second Roland Garros trophy in 2013; eleven years after her first. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images Europe

Serena Williams lifted her second Roland Garros trophy in 2013; eleven years after her first. Photo credit: Matthew Stockman/Getty Images Europe

Bob and Mike Bryan won their second Roland Garros title; ten years after their first. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Bob and Mike Bryan won their second Roland Garros title; ten years after their first. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Rafael Nadal won his eighth Roland Garros title in 2013. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Rafael Nadal won his eighth Roland Garros title in 2013. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Turnamen grandslam kedua tahun ini baru saja berakhir. Dan seperti biasanya, ini adalah saatnya untuk sebuah rekap :D .

Tunggal Putri

Sebuah pola yang sama seperti tahun lalu muncul di turnamen-turnamen tanah liat sebelum Roland Garros tahun ini: Serena Williams tak terkalahkan di tanah liat. Kali ini, ia datang dengan tiga gelar di tangan: Charleston, Madrid, dan Roma. Ia adalah favorit juara, bahkan lebih difavoritkan daripada pemain peringkat 2 dunia dan juara bertahan Roland Garros, Maria Sharapova. Namun, walaupun situasinya nampak bagus banget seperti ini, ada sedikit awan keraguan dan ketidak-pastian yang mungkin lebih besar daripada seharusnya. Ini karena tahun lalu, Serena kalah dengan mengejutkan dari pemain peringkat 111 dunia, Virginie Razzano, di babak pertama French Open 2012.

Undiannya (draw maksudnya) nampak baik bagi Serena (setengahnya berkat jasanya Rafael Nadal yang, sebagai juara bertahan tunggal putra, berhak untuk mengundi posisi pemain unggulan tunggal putri di dalam undian), dengan kebanyakan pemain “berbahaya” (setidaknya di atas kertas) jatuh di sisinya Sharapova. Namun, toh kedua pemain unggulan teratas ini berhasil masuk ke final. Keduanya tidak mengalami jalan yang murni mulus sih. Serena harus melawan “iblis (demon) perempat-final French Open”-nya di pertandingan perempat-finalnya melawan Svetlana Kuznetsova dimana ia harus bermain tiga set dan bahkan awalnya tertinggal di set ketiga; dan Sharapova menghadapi pertandingan perempat-final dan semifinal yang ketat melawan Jelena Jankovic dan pemain peringkat 3 dunia, Victoria Azarenka, berturutan.

Walaupun finalnya adalah antara pemain peringkat 1 dan 2 dunia, Serena jauh lebih difavoritkan. Terutama dengan level permainan yang telah ia tunjukkan di sepanjang turnamen dan juga rekor pertemuannya yang amat jomplang dengan Sharapova (13–2 untuk keunggulan Serena sebelum pertandingan final ini). Finalnya ternyata menjadi pertandingan kualitas tinggi loh, dengan Sharapova bermain yang terbaik dari semua pertemuannya dengan Serena di banyak pertemuan terakhir. Namun, biarpun begitu, toh Serena Williams masih lebih unggul. Dengan pukulan ace ke T berkecepatan 198 km/jam di match point pertama, Serena mengalahkan Maria Sharapova 6–4, 6–4.

Yang menarik, ini adalah gelar French Open-nya Serena baru yang kedua loh. Yang pertama ia dapatkan SEBELAS tahun yang lalu di tahun 2002 ketika ia mengalahkan kakaknya, Venus Williams, di final; dan itu adalah permulaan dari “Serena Slam” yang terkenal itu dimana ia kemudian memenangi Wimbledon, US Open, dan Australian Open setelah itu berturutan (semuanya melawan Venus di final). Ini jugalah sebuah kemenangan yang manis bagi Serena karena dengan gelar ini, ia menjadi wanita kelima yang telah memenangi keempat turnamen grand slam setidaknya dua kali (sejauh ini ia juga telah memiliki lima gelar Australian Open, lima Wimbledon, dan empat US Open).

Wow, selamat Serena! Teruslah bermain dengan hebat ya!

Ganda Putra

Agak mirip dengan Serena Williams, Bob dan Mike Bryan juga memenangi gelar kedua Roland Garros mereka SEPULUH TAHUN setelah kemenangan pertama mereka di tahun 2003. Duo ini menang di final melawan pemain lokal, Michaël Llodra dan Nicolas Mahut, melalui pertandingan tiga set yang ketat yang harus berakhir dengan tiebreak dengan skor 6–4, 4–6, 7–6(4).

Tunggal Putra

Dua pemain paling hot tahun ini jatuh di sisi yang sama dari undian: pemain peringkat 1 dunia, Novak Djokovic, dan juara Roland Garros tujuh kali, Rafael Nadal; yang mana artinya mereka bisa bertemu di semifinal. Dan mereka beneran bertemu di semifinal. Semifinalnya beneran menjadi sebuah pertandingan yang ketat dan amat seru lho dengan Nadal memenanginya 6–4, 3–6, 6–1, 6–7(3), 9–7. Aku menonton pertandingan ini sampai set keempat tetapi tidak bisa menonton set kelima karena aku harus pergi ke sebuah les tenis di hari Jumat :lol: .

Sisi lain undiannya, oleh karenanya, nampak agak lebih lunak, terutama dengan mundurnya Andy Murray. Awalnya, ini nampak sebagai peluang emas bagi Roger Federer untuk menembus final Roland Garros lagi. Namun, takdir berkata lain karena ia harus kalah di perempat-final dari Jo-Wilfried Tsonga. Unggulan keempat yang terkenal karena kerja kerasnya, David Ferrer, benar-benar memanfaatkan kesempatan ini dan melaju mulus ke final grandslam pertamanya dengan mengalahkan Tsonga dengan straight sets di semifinal.

Tidak mengejutkan, Nadal mendominasi finalnya dengan mengalahkan Ferrer 6–3, 6–2, 6–3 dalam waktu dua jam lebih sedikit. Oleh karenanya, ia menjuarai titel kedelapannya di French Open dan title grand slam kedua-belasnya secara keseluruhan.

Catatan samping: Biarpun begitu, Nadal akan turun ke peringkat 5 dunia mulai hari Senin besok sementara Ferrer akan naik ke nomor 4. Ini dikarenakan absennya Nadal dari tenis selama tujuh bulan semenjak Juli tahun lalu. Yah, ia berada di peringkat lima akan membuat Wimbledon menarik karena ia berpotensi bertemu anggota lain dari big four (Novak Djokovic, Andy Murray, dan Roger Federer) di perempat-finak. Namun, berita baiknya baginya adalah sekarang ia tidak memiliki poin sama sekali untuk di-defend sampai akhir turnamen Australian Open di bulan Januari 2014; yang mana pada dasarnya artinya ia hanya bisa semakin mengumpulkan poin dan posisinya semakin naik semenjak saat ini.

#1107 – Tennis at the 2012 Summer Olympics

ENGLISH

Today, the tennis event at the 2012 Summer Olympics Games in London was concluded. And because Olympics is such a special event, not only because it is held only once every four years; but in tennis, if a tennis player has won titles from the four grandslams AND the Olympics, they are said to have accomplished the “Golden Slam”. Because of this, I would like to write a special post for this event, hehehe :) .

Anyway, prior to this Olympics, only three players in the history of tennis have won Golden Slam in singles: Steffi Graf, Andre Agassi, and Rafael Nadal; two teams in doubles: Todd Woodbridge/Mark Woodforde and Venus Williams/Serena Williams. In this edition of the Olympics, three singles players competing in this year’s Olympics are bidding for that title: Roger Federer, Serena Williams, and Maria Sharapova; and one doubles team: Bob Bryan/Mike Bryan. Interestingly enough, ALL of them advanced to the final of their respective events! :shock:

Btw, just as Wimbledon last month, I did not make any prediction prior to this event. And AGAIN, it was proven to be a good jinx because not only my favorite players performed well in the competition, they WON!! :) So, maybe I should never again make any prediction prior to the start of any tournament, huahaha :lol: .

The Golden Slam

As I said above, one of the highlight of this Olympics that stayed last until the very end was the topic of the Golden Slam. All three “Golden Slam” chasers in singles and one team in doubles made it to the final.

Serena Williams

The first ones to take the stage were the two ladies, Serena Wiliams and Maria Sharapova who advanced to the final of the women’s singles event. Coming to the final, Serena Williams was the huge favorite because she had been performing incredibly well in the tournament, losing just 16 games in five matches to get there, including outclassing the world no.1, Victoria Azarenka, 6-1, 6-2 in the semifinals. Combining this factor with the stat that she lost her last seven matches against Serena, and also that this was the same grass court where Serena just triumphed in Wimbledon Championships four weeks prior, a few would have picked Sharapova to win the match. However, very few would have expected the final to be very lopsided where Sharapova only managed to win one game. Serena Williams played an incredibly confident tennis (this is Sharapova’s words) in the final, winning 6-0, 6-1! :shock: Thus, Serena Williams only lost a total of 17 games in the entire tournament, which translated to a loss of just less than three games in average per match!! That is stunning stat!!

With the victory, Serena Williams won a gold medal, and earned the “Career Golden Slam” title in singles. She became just the second woman to do so, after Steffi Graf. However, one more fact that is, sometimes, forgotten is that Serena Williams has also achieved the “Golden Slam” in doubles, twice. Yes, she has won all grandslam titles and Olympics gold medal in singles and doubles!! With this, she is the only tennis player, male or female, in the history of tennis, that has achieved such a feat!! Yes, she has had, indeed, a very incredible career!!

Bob and Mike Bryan

The second one who took the stage was Bob and Mike Bryan, or the Bryan twins. The legendary pair had not won an Olympics gold medal before, even though they won bronze in Beijing in 2008. In London this time, they tried to step it up two notches. Their opponent in the final was Jo-Wilfried Tsonga/Michaël Llodra from France. Llodra was quite a doubles-specialist, ranked 6th in the doubles ranking, while Tsonga was a more singles specialist; so it was indeed a good chance for the Bryans because their opponent did not play together that much on a more regular basis. And indeed, the Bryans took advantage of this by winning the gold medal match 6-4, 7-6(2). It turned out to not be an easy match, still, by no means, but the Bryans still got the gold.

Roger Federer

It was a repeat of the Wimbledon final. Roger Federer was taking on local hope, Andy Murray. Unlike the previous rounds in the Olympics, the final would be a best of five sets match, just like Wimbledon’s final. Bouncing well from the Wimbledon loss, however, Andy Murray played incredible tennis while Federer’s level was not as good as during Wimbledon’s final, while it was still not bad either actually. Andy Murray won in straight sets 6-2, 6-1, 6-4 to win the gold medal!! :shock: He denied Roger Federer the Career Golden Slam title!! It was such an impressive performance by Murray!!

And for me, as Murray’s fan, I do hope that this incredible experience will boost his performance in the grandslam finals to come. It was a perfect experience for him because the match was on Centre Court of Wimbledon in a best of five sets match! It was just like a grandslam final! And he could win that match, against the Roger Federer!! Yes, Andy Murray has it in him, he just needs to unleash it in the next grandslam final to finally win at least one title!!

My Thought of the Olympics

The singles competition in the Olympics is recognized by the ATP and WTA, the two governing bodies that run the men’s and women’s tennis tour respectively; which means that the results from the Olympics count toward the ATP and WTA world rankings. The ATP puts the Olympics in the middle between the ATP Masters 1000, which rewards 1000 point to the titlist, and ATP World Tour 500, which rewards 500 point to the titlist; while the WTA puts it between WTA Premier 5, which rewards 900 point to the titlist, and WTA Premier, which rewards 470 point to the titlist. Therefore, Andy Murray earns 750 point and Serena Williams earns 685 point for winning gold in singles.

Well, as much as I understand the ATP’s and WTA’s decision to categorize this Olympics event to where they are now (perhaps so that their “main” events are still more prestigious, at least ranking-point-wise, than the Olympics, which is held by the ITF (grandslams are held by the ITF as well btw)); I do think the event itself deserves more “recognition” than that, ranking-point-wise. The players field in the event was wonderfully very strong while the “smaller” draw than grandslam put some very interesting match-up already in the earlier rounds; and millions of people around the world had their eyes on the event (just because it was the Olympics). In my opinion, if the points rewarded should not be as much as ATP 1000 or WTA Premier 5, it should be, at least, leaning towards them rather than sitting in the middle between them and ATP 500 or WTA Premier, respectively. So, instead of giving 1:1 weight, 2:1 or 3:1 might be better, again, in my opinion. Ah, but well, it is their decision anyway. I am just a fan who wants to let out some ideas I have in my mind, hahaha :lol:

***

So anyway, the bottom line is. Congratulations to all the medalists of this event!! In the other two events, Venus and Serena Williams played impressive doubles matches to win their third gold medal in women’s doubles together; and Victoria Azarenka and Max Mirnyi from Belarus won the gold medal in mixed doubles.

Serena Williams completed the Career Golden Slam in singles. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images Europe

Bob and Mike Bryan completed Career Golden Slam in doubles. Photo credit: Clive Brunskill/Getty Images

Andy Murray defeated Roger Federer to win gold in men’s singles event. Photo credit: Luis Acosta/AFP/GettyImages

Serena and Venus Williams won their third gold medal together. Photo credit: Julian Finney/Getty Images Europe

BAHASA INDONESIA

Hari ini, event tenis di Olimpiade Musim Panas di London telah berakhir. Dan karena Olimpiade itu adalah sebuah acara yang amat spesial, bukan hanya karena diadakan satu kali setiap empat tahun saja; tetapi di tenis, jika seorang pemain tenis telah memenangi seluruh empat gelar grandslam DAN Olimpiade, ia dikatakan telah meraih apa yang disebut “Golden Slam”. Oleh karenanya, aku ingin menulis sebuah posting khusus tentang event ini, hehehe :) .

Anyway, sebelum Olimpiade kali ini, hanya tiga pemain di sejarah tenis yang telah mendapatkan Golden Slam di sektor tunggal: Steffi Graf, Andre Agassi, dan Rafael Nadal; dan dua tim di sektor ganda: Todd Woodbridge/Mark Woodforde dan Venus Williams/Serena Williams. Nah, di edisi Olimpiade kali ini, tiga pemain yang berkompetisi di sektor tunggal berkesempatan memasuki jajaran elit tersebut pula: Roger Federer, Serena Williams, dan Maria Sharapova; dan ada satu tim ganda yang juga mengejar gelar yang sama: Bob Bryan/Mike Bryan. Yang menarik, KESEMUANYA berhasil lolos ke final di event-nya masing-masing loh! :shock:

Btw, seperti Wimbledon bulan lalu, aku tidak membuat prediksi apa pun kan sebelum turnamen ini dimulai. Dan LAGI-LAGI, ternyata ini adalah sebuah keputusan yang bagus karena nggak hanya pemain favoritku tampil baik di turnamen ini, mereka MENANG!! :) Jadi, kayaknya memang sebaiknya aku tidak usah lagi deh ya membuat prediksi-prediksian gitu di turnamen-turnamen yang selanjutnya, huahaha :lol: .

Golden Slam

Seperti yang kubilang di atas, satu fokus dari Olimpiade kali ini yang bertahan hingga akhir adalah topik Golden Slam. Kesemua pengejar gelar “Golden Slam” di tunggal dan ganda berhasil lolos ke final.

Serena Williams

Yang pertama-tama naik ke panggung final adalah kedua petenis putri, Serena Williams dan Maria Sharapova yang lolos ke final tunggal putri. Masuk ke final, Serena Williams adalah yang lebih difavoritkan karena performa briliannya sepanjang turnamen ini, yang mana ia hanya kehilangan 16 games dari lima pertandingan yang ia mainkan untuk lolos ke final, termasuk menghancurkan pemain peringkat 1 dunia, Victoria Azarenka, 6-1, 6-2 di semifinal. Menggabungkan ini dengan statistik bahwa ia selalu kalah dari Serena di tujuh pertandingan terakhir, dan lagi final diadakan di lapangan rumput yang sama dimana Serena baru saja menjuarai Kejuaraan Wimbledon empat minggu sebelumnya, hanya sedikit saja yang mungkin memfavoritkan Sharapova untuk menang. Walaupun begitu, aku rasa hanya sedikit saja yang menduga finalnya akan sangatlah berat sebelah dimana Sharapova hanya berhasil memenangi satu game saja. Serena Williams memainkan tenis yang sangat amat menakjubkan di final, dan menang telak 6-0, 6-1! :shock: Oleh karenanya, Serena Williams hanya kehilangan total 17 games sepanjang turnamen ini, yang artinyarata-rata ia hanya kehilangan kurang dari tiga games per pertandingan!! Ini adalah statistik yang sungguh mengagumkan!!

Dengan kemenangan ini, Serena Williams memenangi medali emas, dan mendapatkan gelar “Career Golden Slam” di sisi tunggal. Ia menjadi wanita kedua saja yang berhasil mraih gelar ini, setelah Steffi Graf. Namun, satu fakta lagi yang, kadang kala, terkesampingkan adalah Serena Williams telah meraih “Golden Slam” di sektor ganda juga loh, dua kali malahan. Ya, ia telah memenangi kesemua gelar grandslam dan juga medali emas Olimpiade di sektor tunggal dan ganda!! Dan dengan ini, ia adalah satu-satunya petenis, baik putra maupun putri, yang telah meraih raihan ini!! Ya, memang ia memiliki sebuah karir yang sangat fenomenal!!

Bob dan Mike Bryan

Yang  kedua yang naik ke arena final adalah Bob dan Mike Bryan, alias si kembar Bryan. Pasangan ganda legendaris ini belum pernah memenangi medali emas Olimpiade sebelumnya, walaupun mereka berhasil meraih perunggu di Beijing di tahun 2008 sih. Di London kali ini, mereka mencoba meningkatkan prestasi itu dua tingkat. Lawan mereka di final adalah Jo-Wilfried Tsonga/Michaël Llodra dari Prancis. Llodra adalah pemain spesialis ganda yang berperingkat 6 dunia di sektor ganda, sementara Tsonga merupakan pemain yang lebih spesialis ke sektor tunggal; jadi memang inilah kesempatan baik bagi si kembar Bryan karena lawannya tidaklah sering bermain bersama. Dan memang, si kembar Bryan memanfaatkan ini dan memenangi medali emas dengan skor 6-4, 7-6(2). Finalnya ternyata bukanlah final yang mudah ya, tapi toh si kembar Bryan tetap berhasil memenangi emas.

Roger Federer

Ini adalah ulangan final Wimbledon. Roger Federer akan melawan pemain tuan rumah, Andy Murray. Tidak seperti babak-babak sebelumnya di Olimpiade, finalnya ini adalah pertandingan best of five sets, seperti finalnya Wimbledon. Namun, seperti telah [ulih dengan baik semenjak kekalahannya di final Wimbledon, Andy Murray bermain dengan amat baik sementara levelnya Federer tidak sebaik levelnya ketika ia berada di final Wimbledon, walaupun ia juga tidaklah bermain buruk. Andy Murray menang dalam straight sets langsung 6-2, 6-1, 6-4 dan memenangi medali emas!! :shock: Ia menggagalkan harapan Roger Federer untuk mendapatkan gelar Career Golden Slam itu!! Benar-benar sebuah performa yang brilian dari Murray!!

Dan untukku, sebagai fans-nya Murray, aku sangat berharap final ini akan menjadi pengalaman amat berharga yang akan meningkatkan performanya di final-final grandslam selanjutnya. Ini adalah pengalaman yang sempurna baginya karena pertandingan ini diadakan di Centre Court-nya Wimbledon, di pertandingan best of five sets! Auranya mirip sekali dengan final sebuah grandslam! Dan ia berhasil memenanginya, melawan sang Roger Federer!! Ya, Andy Murray memang memilikinya di dalam dirinya, ia hanya perlu mengeluarkannya di final-final grandslam selanjutnya untuk memenangi setidaknya satu gelar!!

Pendapatku akan Olimpiade

Kompetisi tunggal di Olimpiade diakui oleh ATP dan WTA, dua badan yang menjalankan tur putra dan tur putri; yang mana artinya hasil dari Olimpiade bakal ikut dalam perhitungan peringkat pemain di ATP dan WTA. ATP mengategorikan Olimpiade di tengah-tengah di antara ATP Masters 1000, yang memberikan 1000 poin ke si juara, dan ATP World Tour 500, yang memberikan 500 poin untuk juara; sementara WTA mengategorikannya berada di tengah-tengah di antara WTA Premier 5, yang memberikan 900 poin untuk juara, dan WTA Premier, yang memberikan 470 poin untuk juara. Artinya, Andy Murray mendapatkan 750 poin dan Serena Williams mendapatkan 685 poin dengan kemenangan medali emas yang mereka peroleh.

Yah, walaupun aku mengerti latar belakang keputusannya ATP dan WTA ini untuk mengategorikan Olimpiade seperti sekarang ini (mungkin supaya event “utama”-nya mereka itu tetap lebih prestigius, setidaknya dari segi pemberian poin, daripada Olimpiade, yang diadakan oleh ITF (grandslam juga diadakan oleh ITF btw)); aku merasa event Olimpiade ini sendiri berhak mendapatkan “pengakuan” lebih dari ini deh, dari segi poin yang diberikan. Daftar pemain yang berpartisipasi di Olimpiade ini sungguhlah bagus sekali sementara undian yang lebih “kecil” daripada grandslam memungkinkan pertemuan yang menarik antara beberapa pemain terjadi di babak-babak awal turnamen; dan juga toh jutaan mata menonton acara ini di seluruh dunia (ini kan Olimpiade gitu ya). Jadi, menurutku sih, kalau pun banyaknya poin yang diberikan tidak bisa sebanyak ATP 1000 atau WTA Premier 5, seharusnya sih, setidaknya, poinnya berada agak lebih dekat ke kedua kategori ini deh dan bukannya berada tepat di tengah-tengah antara keduanya dan ATP 500 dan WTA Premier. Jadi, bukan bobot 1:1 yang diberikan, mungkin 2:1 atau 3:1 lebih pantas deh, menurutku sih ya. Ah, tapi ini toh keputusan mereka. Aku kan hanya fans saja yang ingin mengeluarkan unek-unek di kepala ini, hahaha :lol:

***

Jadi, akhirnya, intinya adalah: Selamat buat para peraih medali dari Olimpiade kali ini!! Di dua event lainnya, Venus dan Serena Williams bermain ganda putri dengan amat menakjubkan dan berhasil meraih emas untuk sektor ini; dan Victoria Azarenka dan Max Mirnyi dari Belarusia berhasil meraih emas untuk sektor ganda campuran.

#1104 – 2012 London Summer Trip (Part IV)

ENGLISH

Previously on 2012 London Summer Trip: Zilko went to London to do sightseeing and watch the Wimbledon Championships. After spending five days in the capital city of England, he was now ready to go to Wimbledon for the third time on Day 6, which would be his last visit to The Championships during this trip.

***

Day 6 (Saturday, 30 June 2012)

As I said before, I was thinking about arriving at the Queue much earlier today because it was a Saturday. The first train service from Waterloo Station was at 5 AM, but I needed something that was much earlier than this. So, train was, apparently, not an option. After a little bit of research the night before, the only way to get to Wimbledon as early as I wanted was by taking some series of bus rides, with two transits from my hostel. I must tell you that taking (a series of) public bus rides in a big metropolitan city was quite ‘scary’ in the sense that there were a lot of bus services and the map of the service was a lot more complicated than trains or tube which had more “exact” routes. I must be really careful and aware of where I was while I was on the bus so that I would not miss the stop where I had to get off at. But whatever, for Wimbledon, I would do this, huahaha :cool: .

I got up at 3.15 AM and I departed from my hostel at 4 AM. It was London so there were still quite a lot of night bus services running at the time (overall, public transportation in London was a 24/7 service basically). And it was (still) a Friday night, so there were a lot of drunk people on the street, huahaha :lol: . So, when some of them were going home from parties or whatever, I had already had my night sleep and was ready to start my day, :lol: . Even, inside the buses, it smelled beer, so yeah… .

Long story short, I successfully took the three bus rides that I must take to arrive at the Queue earlier; and I was able to arrive there at around 5.10 AM. As before, they handed me the Queue Card, and guess what my number was? This:

Arriving in the Queue at 5.10 AM on a Saturday and I was already the 2519th person in it!!

:shock: Yes, I arrived at the Queue much earlier but I was already the 2519th person in it!! I felt a little bit disappointed and relieved at the same time: disappointed because this number basically said there was no show court for me today; but relieved because I made a correct prediction that this Saturday would be a busier day and my number still pretty much guaranteed a groundpass ticket.

The queuing process went exactly the same as the previous two days. It was just that it was raining while I was queuing! Damn! But lucky I did not forget my umbrella this time so it was still alright. And as expected, no show court ticket for me today. I entered the grounds at around 10 AM and had my breakfast which was, again, a fish and chips.

Seeing the schedule of play for the day, the first match at one of the outer courts which I was interested in would be held at No.14 Court. So, after breakfast, I walked there with the hope to get a good seat. But there, I found out that there was already an event going on. I saw some kids hitting some balls with two men and so I thought it was a tennis clinic or something; until I recognized one of the two men. He looked familiar, and then I realized he was Tim Henmana retired English player who was once the world no.4 in singles!! :shock: The other man turned out to be Oliver Golding, a young British player (18 years old) who used to be a child actor. It was a very fun event, and those kids were really good!! :shock:

At 11 AM, the clinic ended and the preparation for the first match at 11.30 AM started. Lucky I was able to get a seat there. The first match would be a second round clash between my favorite men’s doubles team of all time: Bob and Mike Bryan and a British wildcard team, Jamie Delgado and Ken Skupski. The first set was really tight and a tiebreak had to be played. From hereon, the Bryan twins took control of the match completely and won the tiebreak 7-2. They brought the momentum to dominate the second and third set; and won handily 7-6(2), 6-0, 6-2.

Next, I left the court and walked to the Henman Hill (or Murray Mound, hahaha :lol: ) to watch the Centre Court match at the big screen there. The match in the Centre Court would start at 1 PM, just a perfect timing after the conclusion of the doubles match that I just watched. The match would be between Serena Williams [6] and Zheng Jie [25]. I found a nice free bench at the top of the hill with good view towards the screen and sat there. The first set went really tight; but I noticed that even though Serena’s serve was on display today, her return was definitely off. A tiebreak had to be played, and an error caused Serena to lose the first set 6-7(5) (and a lot of Chinese people there were cheering when it happened).

I decided to leave my spot to look for something to eat (it was kinda nail-biting for me that now Serena was trailing, haha) while still keeping an eye on the score (there were live score boards everywhere in the grounds so it wasn’t difficult to follow the score). I decided to buy a dutchee, which was an English-style hotdog. And it tasted really good btw!! :D At this time, Serena showcased her champion spirit and took control of the second set by winning it 6-2.

I was going around the area while still keeping my eye on the scoreboard; and the third set went super tight again. Really nail-biting. But in the end, after a long time of battling, Serena got her break at 7-7 in the set. In the next game, she closed out the match to come on top with score 6-7(5), 6-2, 9-7 in about two and a half hour!! :shock: And I was so relieved! huahaha :lol: .

Then, I decided to settle at the No.6 Court to watch a mixed doubles match between a German team, Angelique Kerber/Philipp Petzschner, versus an Italian team, Roberta Vinci/Daniele Bracciali. I stayed until the first several games of the second set (Vinci/Bracciali took the first set) before finding out that the Williams sisters’ doubles match was moved to one of the outer courts (No.12 Court) due to the lengthiness of the preceding match. (Yes, Serena Williams played two matches today; a trend she continued also in the second week but in the end she won both titles! :shock: ) But it was late, the match had been started; and it was the Williams sisters so that all seats had been taken by then. I had to queue to wait until some people left the court. I was queuing for about 20 minutes before finally giving up, hahaha.

Somehow, it was 8.30 PM already and I was so tired. After taking a quick look around the grounds, I decided to go back to my hostel and here my adventure to Wimbledon Championships this year ended…

Day 7 (Sunday, 1 July 2012)

Wimbledon is a classic tournament; and one of the tradition is that there is no match played during the mid-Sunday (it is like a “free” day). So, there would be no match at Wimbledon today which meant that I had to spend my time in London…

I went to Trafalgar Square and noticed something “different” there (compared to my visit on Day 3). There seemed to be a festival going on; and indeed there was a festival which apparently was a celebration of the Canada Day (the festival was hosted by the Canadian embassy). I went in, looked around, and left, huahaha :lol: .

I had no plan for today and so I decided to go to a tourist agency near Trafalgar Square and asked if there was still available seat on a half-day tour to Stonehenge today. There was, and so I decided to grab the seat. The tour would start at 2 PM, and it was still like noon or so. This was perfect though as I was already quite craving for lunch and so now I had some time to look for a place to eat. I decided to walk around and somehow I was in the Chinatown. Because of this, somehow, I was craving for Chinese food, huahaha :lol: . I was in Chinatown so of course it was not difficult to find a Chinese food restaurant. I stopped by at one and decided to have roast duck rice for lunch.

After lunch, I took the tube to go to Victoria Coach Station. I still had a long time to go and so I decided to kill time by deliberately taking the longer route to get there, hahaha :lol: . At around 1 PM, I arrived at the coach station. After waiting for about one hour, the tour finally started.

To get to Stonehenge, we were riding a coach with capacity of around 30 people. There were only 3 seats left that day so it was quite a busy day indeed. The driver would take care of everything, including getting the tickets in Stonehenge. Because he couldn’t remember all faces of the tour members, he decided to set up a password. In Stonehenge, he would give us the tickets only if we said the password, which was: “Thank you, Derrick” (Derrick was his name).

Well, Stonehenge was quite far from London as it took us about two hour one way to get there. This was the route of the trip that day btw:

At around 4 PM, we arrived at the site. Finally, I ticked off one more place from my list. When I was a kid, I wanted to see Stonehenge with my own eyes. And now, it became a reality!! :shock: It was amazing!!

The tour I bought was including an audio-guide, which was really nice because it explained a lot about the history of Stonehenge. Apparently, this set of Stonehenge was the third that was built here on this particular site!! Anyway, we were spared 75 minutes on the site, which was more than enough if we only wanted to stay around the structure. There were other things as well surrounding the area, like the Stonehenge Cursus; but this area was too large to be covered in 75 minutes with the trip to Stonehenge itself.

In my opinion, Stonehenge is really worth it for once in a lifetime visit especially for those who have really wanted to see the structure themselves (like me :D ). Will I visit Stonehenge again when I am around there? Well, it’s likely not; it is so far away from anywhere else so maybe I will choose to visit something else.

At 5.15 PM, all people were back in the coach and then we went back to London.  We arrived in London at around 7 PM; and it was a perfect timing for dinner!! :D It would be my last dinner in London on this trip and so I decided to have another meal at Jamie’s Italian Restaurant.

This time, I treated myself with some more expensive menu, huahaha :lol: . I ordered Angus sirloin steak as my main dish and Polenta Chips (I didn’t order the amazingly delicious Posh Chips as I had two days earlier because they dubbed this Polenta Chips as “Our Famous Polenta Chips”; and because it was dubbed as famous, it was supposedly really good, right? :D ). The Polenta Chips was really good, but it was not really “chips”; it was like fried mashed potato but with Cheetos-y flavor. Really unique and nice, but I kinda liked the Posh Chips a little bit better. The Angus steak was also really good. Even though the portion did not look that big, but I still felt full after finishing it, so it was fine. Because I was treating myself, I decided to treat myself also with a dessert. Out of all the options, I narrowed it down to two menus: either a pannacotta or a Chocolate and Vin Santo Pot. I asked the waitress and she suggested the chocolate pot one; and so chocolate pot it was. And yes, it was also a yummy dessert…

After dinner, I decided to walk around a little bit before going back to my hostel. I walked towards Soho (Piccadilly Circus). You might still remember that today, the final of Euro Cup was being played. And at that time, Spain just beat Italy. As a result, Spain’s supporters went crazy and celebrated the win at the square (one guy even climbed the Eros statue in the square; and I was curious what would have happened if he had damaged that statue somehow, hmmm); while Italy’s supporters were devastated. Some policemen had to step in to avoid the celebration turned into a riot or something…

From there, I took the tube back to my hostel, and this day was over…

Day 8 (Monday, 2 July 2012)

I left my hostel at around 10 AM and went directly to St. Pancras International Station. But before getting there, I chose to drop by at King’s Cross Station which was just literally next to St. Pancras. Why? Well, to take a picture with the famous Platform 9 3/4 from Harry Potter, huahaha :lol: . And it was perfect because I was bringing my big luggage so that I could pose as if I was walking out from Platform 9 3/4 to the Muggle World, huahaha :lol: (I put the photo in the preambule).

My Eurostar train was scheduled to depart at 12.57 PM from St. Pancras International. I still had some time to go and so I decided to have breakfast at one restaurant in the station. After breakfast, I checked in and passed through the immigration desk. In the waiting room, apparently there was a wifi connection and so I decided to surf the internet while waiting for the departure time of my train.

At 12.57 PM, the Eurostar train left London St. Pancras. I arrived at Brusells Midi Station at 4.08 PM and luckily there was a train heading to Rotterdam which left at 4.15 PM. But the problem was that it left from the platform at the other end of the station! :shock: So I ran from one end to the other end, and luckily I made it!! hahaha :D I boarded the train, and two hours later I arrived at Rotterdam Centraal. I took another InterCity ride to Delft Station, and here this trip officially ended :)

THE END.

BAHASA INDONESIA

Sebelumnya dalam 2012 London Summer Trip: Zilko pergi ke London dalam rangka jalan-jalan dan juga menonton Kejuaraan Wimbledon. Setelah menghabiskan lima hari di ibukota Inggris itu, di hari keenam ini ia siap untuk pergi ke Wimbledon untuk ketiga kalinya, yang mana akan menjadi kunjungan terakhirnya ke kejuaraan ini di perjalanan ini.

***

Hari 6 (Sabtu, 30 Juni 2012)

Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku berencana untuk tiba di the Queue lebih awal hari ini karena hari ini adalah Sabtu. Kereta pertama dari Stasiun Waterloo baru berangkat jam 5 subuh, padahal aku membutuhkan sesuatu yang lebih awal dari ini. Makanya, kereta ternyata bukanlah sebuah pilihan. Setelah riset sedikit di hostel semalam sebelumnya, satu-satunya cara untuk tiba di Wimbledon di waktu seawal yang kuinginkan adalah menaiki serangkaian layanan bus, dengan dua kali transit dari hostel. Harus kubilang bahwa menaiki (serangkaian) layanan bus di kota metropolitan itu agak ‘menyeramkan’ loh karena kan layanan busnya ada banyak banget dan peta layanannya juga sangat lebih ribet gitu dibandingkan kereta atau subway yang “pasti-pasti” aja rutenya. Aku harus berhati-hati dan selalu memasang mata agar tahu posisiku ada dimana sehingga aku nggak kelewatan halte bus dimana aku harus turun. Tapi biarlah, untuk Wimbledon, apa pun kan kujalani, huahaha :cool: .

Aku bangun jam 3.15 subuh dan berangkat dari hostel jam 4 pagi. Karena kota ini adalah London, masih ada banyak layanan bus malam yang beroperasi di jam segini (secara keseluruhan sih, layanan transportasi umum di London itu 24 jam deh pada dasarnya). Dan karena saat ini masih terhitung malam Sabtu, ada banyak orang mabuk gitu deh di jalan, huahaha :lol: . Jadi, ketika mereka baru pulang dari parties atau apa lah gitu, aku sudah tidur semalaman dan siap menjalani hariku itu, :lol: . Bahkan, di dalam busnya itu bau bir loh, jadi ya gitu deh… .

Singkat cerita, aku dengan sukses menaiki tiga layanan bus yang harus kuambil itu untuk tiba di the Queue lebih awal; dan aku tiba disana jam 5.10 pagi. Seperti biasanya, mereka memberiku Queue Card, dan berapakah nomorku kali ini? Ini:

Tiba di the Queue jam 5.10 pagi di hari Sabtu dan aku sudah merupakan orang ke 2519!!

:shock: Ya, aku tiba di the Queue jauh lebih awal tapi aku sudah berada di posisi 2519 dong!! Aku merasa kecewa sekaligus lega pada saat yang bersamaan: kecewa karena nomor segini praktis berarti aku tidak akan mendapatkan tiket show court (lapangan utama); tapi lega karena aku memprediksi dengan tepat bahwa Sabtu akan menjadi hari yang sibuk dan nomor segini pada dasarnya masih menggaransi aku akan mendapatkan tiket groundpass.

Proses mengantrinya sih pada dasarnya berlangsung sama kayak dua kunjunganku sebelumnya deh. Hanya saja, hari ini sewaktu ngantri itu hujan dong! Menyebalkan!! Tapi untungnya aku tidak lupa membawa payung jadi masih nggak papa deh. Dan seperti yang telah diduga, nggak ada tiket show court untukku hari ini. Aku memasuki area turnamen jam 10 pagi dan langsung sarapan deh, yang mana lagi-lagi adalah fish and chips.

Melihat jadwal permainan hari ini, pertandingan pertama di lapangan luar yang menarik perhatianku akan diadakan di Lapangan No.14. Jadi, setelah sarapan, berjalanlah aku kesana untuk mendapatkan kursi yang oke. Tapi, aku melihat bahwa sedang ada sebuah acara gitu di Lapangan No.14. Aku melihat beberapa anak kecil gitu memukul bola dengan dua pria sehingga aku mengira ini adalah semacam klinik tenis gitu; sampai aku mengenali salah satu dari dua pria itu. Kok tampangnya nggak asing ya, dan aku kemudian menyadari bahwa ia adalah Tim Henmanmantan pemain Inggris yang dulu pernah berperingkat 4 di dunia!! :shock: Pria yang satunya ternyata adalah Oliver Golding, pemain Inggris muda (18 tahun) yang dulu sewaktu kecil adalah aktor cilik. Acara klinik tenisnya menarik juga, dan anak-anak kecil itu hebat-hebat dong mainnya!! :shock:

Jam 11, kliniknya selesai dan persiapan untuk pertandingan pertama yang jam 11.30 pagi dimulai. Untungnya aku berhasil mendapatkan kursi. Pertandingan pertama adalah pertandingan ganda putra babak kedua antara tim ganda putra favoritku sepanjang masa: Bob dan Mike Bryan melawan tim wildcard dari Inggris, Jamie Delgado dan Ken Skupski. Set pertama berlangsung ketat sehingga tiebreak harus dimainkan. Dari sini, si kembar Bryan mengambil kontrol pertandingan dan memenangi tiebreak itu 7-2. Momentum ini terus mereka pertahankan dengan mendominasi set kedua dan ketiga; sehingga mereka menang dengan mudah 7-6(2), 6-0, 6-2.

Lalu, aku meninggalkan lapangan itu dan berjalan menuju Henman Hill (atau Murray Mound, hahaha :lol: ) untuk menonton pertandingan di Centre Court di layar lebar disana. Pertandingan di Centre Court baru dimulai jam 1 siang, yang mana timing-nya pas banget setelah berakhirnya pertandingan ganda putra yang barusan kutonton itu. Pertandingan di Centre Court yang akan dimainkan adalah antara Serena Williams [6] dan Zheng Jie [25]. Aku menemukan satu bangku yang oke banget di atas bukit itu dengan pandangan yang oke menuju layarnya dan aku duduk disana. Set pertama berlangsung cukup ketat; dan aku bisa melihat bahwa walaupun servisnya Serena bagus hari ini, return-nya sedang off. Tiebreak harus dimainkan, dan sebuah kesalahan sendiri membuat Serena kehilangan set pertama 6-7(5) (dan banyak orang dari China disana yang bersorak-sorai ketika ini terjadi).

Aku memutuskan untuk meninggalkan kursiku untuk mencari makan (agak deg-degan gitu ya karena kini Serena kan posisinya tertinggal gitu, haha) sementara aku tetap memasang mata pada skornya (ada banyak papan skor live di seluruh area turnamen jadi nggak sulit deh untuk mengikuti skor pertandingan). Aku membeli sebuah dutchee, yang ternyata adalah hotdog ala Inggris gitu deh. Dan rasanya enak juga loh!! :D Di waktu ini, Serena menunjukkan mental juaranya dan mengambil kontrol set kedua dan memenanginya 6-2.

Aku berkeliling area sambil terus memerhatikan papan skornya; dan set ketiga berlangsung ketat lagi. Sangat ketat loh. Tapi pada akhirnya, Serena mendapatkan break yang telah sangat ia incar di posisi 7-7. Di game selanjutnya, ia menutup pertandingan dengan sebuah kemenangan 6-7(5), 6-2, 9-7 dalam waktu sekitar dua setengah jam!! :shock: Dan aku merasa lega deh! huahaha :lol: .

Lalu, aku memutuskan untuk duduk di Lapangan No.6 untuk menonton pertandingan ganda campuran antara tim Jerman, Angelique Kerber/Philipp Petzschner, melawan tim Italia, Roberta Vinci/Daniele Bracciali. Aku tinggal disana sampai beberapa game pertama di set kedua (Vinci/Bracciali memenangi set pertama) sebelum akhirnya menyadari bahwa pertandingan gandanya Williams bersaudari dipindah ke salah satu lapangan luar (Lapangan no.12) karena panjangnya pertandingan yang dijadwalkan sebelumnya (Ya, Serena Williams bermain dua pertandingan hari ini; sebuah hal yang harus terus ia lakukan sampai di minggu kedua tapi toh pada akhirnya  ia menjuarai kedua event itu! :shock: ) Tapi sudah terlambat deh, pertandingannya sudah dimulai; dan ini adalah Williams bersaudari gitu jadilah semua kursinya sudah penuh deh. Aku harus mengantri sampai beberapa orang keluar gitu. Aku mengantri selama sekitar 20 menit sebelum akhirnya menyerah deh, hahaha.

Entah bagaimana, tiba-tiba sudah jam 8.30 malam dan aku merasa lelah. Setelah berkeliling melihat arena turnamennya sekali lagi, aku memutuskan untuk kembali ke hostel dan berakhirlah petualanganku ke Kejuaraan Wimbledon tahun ini…

Hari 7 (Minggu, 1 Juli 2012)

Wimbledon adalah turnamen yang klasik; dan sebuah tradisinya adalah tidak ada pertandingan yang dimainkan di hari Minggu tengah (jadi semacam hari “libur” gitu deh). Makanya nggak ada pertandingan di Wimbledon hari ini yang artinya aku harus menghabiskan waktuku di London…

Aku pergi ke Trafalgar Square dan menyadari ada sesuatu yang “berbeda” disana (dibandingkan dengan kunjunganku di Hari 3). Sepertinya ada sebuah festival yang tengah berlangsung; dan ternyata memang beneran sedang ada sebuah festival memperingati Hari Kanada (festivalnya diadakan oleh Kedutaan Kanada gitu). Aku masuk sebentar, melihat-lihat, trus pergi deh, huahaha :lol: .

Karena tidak ada agenda lain untuk hari ini, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah agen tur di dekatnya Trafalgar Square dan bertanya apakah masih ada kursi tersisa untuk perjalanan tur setengah hari ke Stonehenge hari ini. Ternyata masih ada, dan aku ambil deh. Turnya baru akan dimulai jam 2 siang, sementara saat ini masih sekitar jam 12. Waktunya pas banget karena toh aku juga sudah lapar ingin makan siang dan jadilah sekarang aku mencari makan. Aku berjalan berkeliling dan tiba-tiba aku berada di Chinatown. Karena ini, entah kenapa, aku jadi ingin makan chinese food deh, huahaha :lol: . Aku sedang berada di Chinatown sehingga tentu tidaklah sulit untuk menemukan sebuah restoran chinese food. Aku mampir di salah satunya dan memesan nasi bebek panggang untuk makan siang.

Setelah makan siang, aku menaiki tube menuju Terminal Bus Victoria. Masih ada banyak waktu sehingga aku memutuskan untuk membunuh waktu dengan mengambil rute yang lebih panjang untuk kesana, hahaha :lol: . Jam 1 siang, tibalah aku di terminal busnya. Setelah menunggu selama sekitar sejam, turnya berangkat.

Untuk pergi ke Stonehenge, kami menaiki sebuah van besar (atau bus kecil gitu) yang muat sekitar 30 orang. Hanya ada 3 kursi kosong hari ini, memang hari ini sedang cukup sibuk deh. Sopirnya akan mengatur semuanya, termasuk mengurus tiket masuknya di Stonehenge. Karena ia tidak bisa menghafalkan semua muka peserta turnya, ia memutuskan untuk membuat sebuah password. Di Stonehenge, ia akan memberikan tiket kepada kami hanya kalau kami menyebutkan password tersebut, yang mana adalah “Thank you, Derrick” (Derrick itu namanya).

Yah, Stonehenge itu terletak cukup jauh dari London ya karena kami membutuhkan waktu sekitar dua jam sekali jalan untuk tiba disana. Ini adalah rutenya btw:

Sekitar jam 4 sore, kami tiba di lokasinya. Akhirnya, sekali lagi, aku mencentang satu tempat lagi dari daftarku. Ketika aku kecil, aku ingin sekali melihat Stonehenge itu langsung gitu. Dan kali ini, beneran kejadian dong!! :shock: Asyik banget deh!!

Turku ini sudah termasuk audio-guide, yang mana oke juga karena audio-guide ini menjelaskan banyak sejarahnya Stonehenge. Ternyata, satu set Stonehenge yang ada sekarang ini adalah yang ketiga lho yang dibangun di area ini!! Anyway, kami diberi waktu 75 menit disana, yang mana lebih dari cukup sih kalau kita hanya ingin berkeliling di strukturnya. Ada beberapa tempat tujuan lain juga sebenarnya di sekitar area itu, seperti misalnya Stonehenge Cursus; tapi tidaklah sempat untuk dikunjungi kalau hanya ada waktu 75 menit termasuk waktu untuk di Stonehengenya.

Menurutku, Stonehenge adalah sebuah tempat yang layak untuk dikunjungi sekali seumur hidup, terutama jika seseorang sudah ingin melihat strukturnya secara langsung (seperti aku). Apakah aku akan mengunjunginya lagi ketika aku di sekitar sana? Hmm, mungkin tidah sih; lokasinya itu jauh sekali dan mungkin aku akan lebih memilih mengunjungi suatu tempat lainnya.

Jam 5.15 sore, semua peserta tur telah kembali di bus dan kembalilah kami ke London. Kami tiba di London sekitar jam 7 malam; sebuah waktu yang amat pas untuk makan malam!! :D Karena ini adalah makan malam terakhirku di London di perjalanan ini, aku memutuskan untuk makan lagi di restoran Jamie’s Italian.

Kali ini, aku mentraktir diriku sendiri dengan menu-menu yang lebih mahal, huahaha :lol: . Aku memesan sirloin Angus sebagai menu utama dan juga Polenta Chips (aku tidak memesan Posh Chips yang enaknya nggak ketulungan seperti yang kupesan dua hari sebelumnya itu karena mereka melabeli Polenta Chips ini dengan: “Our Famous Polenta Chips“; dan karena dilabeli famous, seharusnya enak banget kan ya? :D ). Polenta Chips-nya ternyata memang oke, tapi bukan seperti “chips” (kentang goreng) pada umumnya gitu; ini seperti mashed potato goreng tapi dengan rasa seperti Cheetos gitu. Sangat unik dan enak, tapi aku masih lebih suka Posh Chips-nya deh. Steak Angus-nya juga oke banget. Walau porsinya tidak nampak besar, tetapi setelah selesai memakannya tuh tetap terasa kenyang kok, jadi nggak masalah deh. Karena aku sedang mentraktir diriku sendiri, aku juga memutuskan untuk memesan menu penutup. Dari semua pilihan yang ada, aku berhasil menyempitkan pilihan menjadi dua saja: antara pannacotta atau Chocolate and Vin Santo Pot. Aku bertanya ke pelayannya dan ia menyarankan pot coklat; dan jadilah aku memilih pot coklat. Dan ya, memang enak loh itu dessert-nya…

Setelah makan malam, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di area itu sebentar sebelum kembali ke hostel. Aku berjalan menuju arah Soho (Piccadilly Circus). Mungkin masih pada ingat bahwa hari ini adalah hari diselenggarakannya final Euro Cup. Dan waktu ini, Spanyol baru saja mengalahkan Italia. Sebagai akibatnya, pendukungnya Spanyol gila-gilaan gitu deh merayakan kemenangannya di lapangan itu (satu orang pria malah memanjat patung Eros di lapangannya itu dong; dan aku penasaran deh apa ya yang bakal terjadi andaikata patungnya patah gitu, hmmm); sementara pendukungnya Italia lemah lesu gitu deh. Beberapa polisi juga harus turun tangan untuk mencegah perayaan ini menjadi kekacauan…

Setelah itu, aku kembali ke hostelku dengan menaiki tube, dan berakhirlah hari ini…

Hari 8 (Senin, 2 Juli 2012)

Aku meninggalkan hostel sekitar jam 10 pagi dan langsung pergi ke Stasiun Internasional St. Pancras. Sebelum kesana tapinya, aku mampir dulu di Stasiun King’s Cross yang lokasinya berada persis di sebelahnya St. Pancras. Untuk apa aku kesana? Yah, untuk foto-foto sama Peron 9 3/4-nya Harry Potter yang terkenal itu dong, huahaha :lol: . Waktu itu beneran pas banget deh karena aku membawa koper besarku jadi aku bisa berpose seakan-akan aku baru keluar dari Peron 9 3/4 gitu menuju dunia Muggle, huahaha :lol: . (Fotonya sudah aku upload di posting pembukaan).

Kereta Eurostarku dijadwalkan berangkat jam 12.57 siang dari St. Pancras International. Artinya, aku masih ada banyak waktu dan jadilah aku sarapan dulu di sebuah restoran di stasiunnya. Setelah sarapan, aku check in dan melewati meja imigrasi. Di ruang tunggu, ternyata ada wifi dan jadilah aku internetan sambil menunggu keberangkatan keretaku.

Jam 12.57 siang, kereta Eurostar berangkat dari Stasiun St. Pancras London. Kereta tiba di Stasiun Brussels Midi sekitar jam 4.08 sore dan untungnya ada kereta tujuan Rotterdam yang berangkat jam 4.15 sore. Hanya saja, kereta ini berangkat di peron yang mana ada di sisi lain stasiun dong! :shock: Jadilah aku berlarian dari satu ujung stasiun ke ujung satunya, dan untungnya masih keburu!! hahaha :D Aku menaiki kereta itu, dan dua jam kemudian tibalah aku di Rotterdam Centraal. Aku menaiki kereta InterCity lain tujuan Stasiun Delft, dan disinilah perjalananku ini resmi berakhir :)

SELESAI.

#1089 – Paris Trip: Roland Garros (The Experience)

ENGLISH

Okay, this post will still be about my trip to Roland Garros two weeks ago; but instead of focusing on the tennis, I am focusing on the trip itself :)

Souvenirs I Bought

As I said in the prologue, I bought many souvenirs during the trip. In fact, around 22.50% of my total expense was on souvenirs, hahaha :lol: . So what did I buy?

The very first thing on my list, thus it was prioritized so much, was the official Roland Garros big umbrella. So, I have this grand plan to collect four big umbrellas from the four grandslam tournaments in the world; and all I have to buy them on the spot, not via the internet (because we can actually order it online and it will be delivered to our address). Why does it have to be on the spot? Well, in my opinion, that is the spirit, hehehe :) . And of course I got one during this trip. I didn’t care if it was expensive (it was €60), as aside from the fact that it was a collectible item, it was also such a very good quality product!

In fact, the only thing I had in my list to buy from the tournament was actually only that big umbrella. But in the end, I ended up with buying other stuffs too, like a Roland Garros cap (because on Day 1 it was blazing hot and so I thought I needed a cap to keep my head and face from the blazing sun ray), a pair of Roland Garros wristband, Roland Garros official tennis balls for all courts, and a medium-sized (5 inch in diameter) Roland Garros big tennis ball. Yea, in a way it was like a shopping spree, hahaha :lol: .

French Cuisine

During this trip, I did not really spoil myself with the famous French meal. Why? Well, because as you can read at the story, I spent the entire day from 9 AM to around 8 PM every day at the tournament venue. So, I did not have the time to spoil myself with those French meal :( . However, even so, I was still able to get myself something that was so French that I liked: macarons. So, the tournament also sold macarons which were, of course, in Roland Garros theme. There were only three colors (orange, dark green, and yellow; the three colors of Roland Garros) which meant three flavors (too bad none of them was mocca). The macarons were great, though none of the three flavors beat that mocca macarons I had during my previous trip to Paris, hehe.

Language Barrier

Speaking of macarons, there was a quite funny story that took place when I was buying them from one of the snack booth. So, this conversation occurred:
Shopkeeper lady (SL): “Bonjour, Monsieur!
Me : “Hi, can I get the ‘macarons’ please?” (pronouncing ‘macarons’ with a totally non-French pronunciation)
SL : “What?
Me : “The macarons” (still with the same non-French pronunciation)
SL : “I am sorry, I don’t understand
Me : “That one” (pointing the macarons in the chiller)
SL : “Oh, you mean the macarons!” (pronouncing ‘macarons’ with a French pronunciation, hahaha)
Me : “Yeah, sorry about that

So, yeah, huahaha :lol: :cool: .

Perfect Weather

Except for the first day which was blazing hot, the other two days were perfect for me. The weather was good and the temperature was so comfortable: around 15-18 °C. It was mostly sunny or partly cloudy. Well, I was quite lucky because at the second week of the tournament, the weather worsened and the men’s singles final had to be suspended because of the rain.

Autographs

One of the biggest highlight during this trip was that I got the autographs of my most favorite men’s doubles team ever (and one of the best men’s doubles teams in the history of tennis): the Bryan twins! Yes, BOTH twins. I got Bob and Mike Bryan’s autographs!! And the awesome thing was that both autographs were on the same piece of paper. So, after their first round victory (which I fully watched during my first day), they were signing autographs for all people (mostly children though) at the side of the court. I used my height as a big advantage for me. So, even though I did not stand the closest to the court, I was able to put my blank book in front by sticking out my arm to the court (because I was taller than most people there, mahahaha :lol: ).

Anyway, they were so very nice!! :)  The news that they think of the fans importantly is true! :) Gotta love this team!! And of course, that piece of paper with their autographs on it will surely be framed and put on my wall, hahaha :)

No Museum and RG Lab 2050

There was a museum inside the venue and there was also a RG Lab 2050 exhibition inside; but somehow I did not visit any of them during my three day visit to the tournament. Dang it. Ah, maybe I should do it next time I am visiting the tournament, maybe next year, hahaha :lol: .

***

So, yeah, it was such a great and awesome trip for me! I cannot wait to have another trip of this kind!! :)

Big Roland Garros Umbrella. One down, three more to go.

Other souvenirs I bought from the tournament. Quite nice I must say

Roland Garros macarons for €8.

Bob and Mike Bryan’s Autographs for me

BAHASA INDONESIA

Oke, posting ini akan bertemakan perjalananku ke Roland Garros dua minggu yang lalu itu; tapi aku akan fokus ke perjalanannya sendiri, bukan ke tenisnya :)

Suvenir yang kubeli

Seperti yang aku bilang di prolog, aku membeli beberapa suvenir di perjalanan ini. Bahkan, sekitar 22,50% dari total pengeluaranku ya dari suvenir ini loh, hahaha :lol: . Nah, apa sajakah yang kubeli?

Benda paling pertama yang berada di daftarku, makanya sangat kuprioritaskan, adalah payung besar resminya Roland Garros. Nah, jadi ceritanya, aku memiliki sebuah rencana akbar untuk mengoleksi empat payung besar dari empat turnamen grandslam di seluruh dunia gitu deh; dan kesemuanya harus aku beli di lokasi turnamennya yah, bukan lewat internet (karena sebenarnya kita bisa sih memesan online trus barangnya dikirim ke alamat kita gitu). Kenapa harus di lokasi turnamennya? Ya, menurutku sih justru inilah esensinya kan ya, hehehe :) . Dan tentu saja di perjalanan ini aku membeli satu. Nggak peduli deh harganya mahal (aku membayar €60), karena selain bahwa ini adalah barang koleksi, kualitas payungnya juga bagus banget loh!

Sebenarnya nih, payung ini adalah satu-satunya benda yang berada di daftar harus kubeli dari turnamen ini sih. Tapi pada akhirnya, aku juga membeli beberapa barang lain juga, seperti topi Roland Garros (soalnya di Hari 1 panas banget dong dan jadilah aku berpikir bahwa aku membutuhkan sebuah topi untuk melindungi kepala dan mukaku dari sengatan terik sinar matahari yang bisa bikin pusing itu), sepasang wristband Roland Garros (btw, apa sih bahasa Indonesianya wristband??), bola tenis resminya Roland Garros untuk segala permukaan lapangan, dan bola tenis besar Roland Garros ukuran medium (diameternya 5 inch). Ya, memang jadi kayak belanja memborong gitu sih, hahaha :lol: .

Masakan Prancis

Di perjalanan ini, aku tidaklah memanjakan diriku dengan masakan Prancis yang terkenal itu. Kenapa? Ya, bisa dibaca kan di cerita perjalananku itu, bahwa aku menghabiskan waktuku seharian dari jam 9 pagi sampai sekitar jam 8 malam setiap hari di area turnamennya. Jadi, nggak ada waktu deh bagiku untuk memanjakan diri dengan masakan Prancis itu :(  Eh, walaupun begitu, aku masih sempat sih mentraktir diriku dengan sesuatu yang Prancis banget yang aku suka: macarons. Jadi, turnamennya juga menjual macarons yang, tentunya, juga bertemakan Roland Garros. Hanya ada tiga warna saja (oranye, hijau tua, dan kuning; tiga warna Roland Garros) yang artinya hanya ada tiga rasa aja (sayangnya tidak ada yang rasa mocca). Macarons-nya oke juga sih, tapi sayangnya dari ketiganya tidak ada yang rasanya mengalahkan rasa macarons mocca yang aku makan di perjalananku ke Paris sebelumnya deh, hehe.

Kendala Bahasa

Ngomongin tentang macarons, ada cerita lucu yang kejadiannya berlangsung ketika aku hendak membelinya di sebuah kedai snack disana. Nah, percakapan berikut ini berlangsung (supaya ‘dapat’ esensinya, percakapannya aku tulis seperti aslinya ya; yaitu dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggris):
Penjaga Toko (PT): “Bonjour, Monsieur!
Aku : “Hi, can I get the ‘macarons’ please?” (mengucapkan ‘macarons’ dengan pengucapan yang sangat tidak Prancis)
PT : “What?
Aku : “The macarons” (masih dengan pengucapan yang sangat tidak Prancis)
PT : “I am sorry, I don’t understand
Aku : “That one” (menunjuk ke macarons yang ada di mesin pendingin)
PT : “Oh, you mean the macarons!” (mengucapkan ‘macarons’ dengan pengucapan Prancis, hahaha)
Aku : “Yeah, sorry about that

Jadi, ya, gitu deh, huahaha :lol: :cool: .

Cuaca yang Sempurna

Kecuali hari pertama yang puanas banget, dua hari lainnya sempurna banget loh untukku. Cuacanya bagus banget dan temperaturnya juga nyaman banget deh: sekitar 15-18 °C. Dan cuacanya juga cerah atau setidaknya sedikit berawan gitu deh. Hmm, untung ya aku perginya pas minggu pertama karena di minggu kedua, cuacanya memburuk dan bahkan final tunggal putranya harus dihentikan di tengah pertandingan karena hujan kan.

Tanda tangan

Salah satu highlight terbesar dari perjalanan kali ini adalah aku berhasil mendapatkan tanda tangannya tim ganda putra favoritku sepanjang masa (dan tim ini memang salah satu tim ganda putra terbaik sepanjang sejarah tenis): si kembar Bryan! Ya, KEDUA-nya loh. Aku mendapatkan tanda tangannya Bob dan Mike Bryan!! Dan kerennya, tanda tangannya berada di selembar kertas yang sama! Jadi, setelah kemenangan pertandingan babak pertama mereka (yang mana pertandingannya aku tonton dari awal sampai akhir), mereka memberikan tanda-tangan gitu ke semua orang (kebanyakan anak kecil sih) yang berdiri di sisi lapangan. Nah, aku memanfaatkan tinggi badanku sebagai keuntungan besar bagiku. Jadi, walau aku secara teknis tidak berdiri tepat di pinggir lapangan, aku masih bisa memberikan bukuku dekat ke mereka dengan cara menjulurkan tanganku ke lapangan (karena aku kan lebih tinggi dari kebanyakan orang disana, mahahaha :lol: ).

Anyway, mereka beneran baik dan ramah banget lho!! :) Artikel yang mengatakan bahwa mereka itu menganggap para fans amatlah penting ternyata memang benar! :) Nah loh, nggak mungkin nggak suka sama tim ini kan!! Dan tentu saja, selembar kertas berisikan tanda tangan itu jelas akan aku pigura dan aku gantung di tembok rumahku, hahaha :)

Tidak ada Museum dan RG Lab 2050

Sebenarnya ada sebuah museum di dalam areanya dan waktu itu juga ada pameran RG Lab 2050 gitu; tapi entah kenapa kok aku nggak mampir sekali pun ya selama kunjungan tiga hariku kesana. Sial. Ah, mungkin ini pertanda bahwa aku harus melakukannya di kunjunganku selanjutnya ke turnamen ini, yang mungkin tahun depan deh, hahaha :lol: .

***

Jadi, ya, gitu deh, perjalanan ini merupakan perjalanan yang mengasyikkan dan berkesan banget untukku! Aku nggak sabar deh ingin mengalami perjalanan yang seperti ini lagi!! :)

#1083 – Paris Trip: 2012 Roland Garros (Part I)

ENGLISH

Day 1 (Tuesday, 29 May 2012)

My bus to Paris was scheduled to leave at 11.45 AM from Den Haag Centraal Railway Station. So, I planned to take the 10.55 AM intercity train from Delft station to Den Haag Centraal. However, at this day, there was a problem that caused the trains to run a bit late. The 10.55 AM intercity was said to be late for about 10 minutes (so it should leave at around 11.05 AM from Delft, right?). And because intercity was a much faster and comfortable train than a sprinter, I decided not to board the sprinter service to Den Haag Centraal which left Delft at 11 AM sharp. Five minutes passed, then ten minutes, there was still no sign the freaking intercity would arrive!! So, I desperately took the intercity service heading to Amsterdam Centraal to get off at Den Haag Holland Spoor (HS) as soon as possible. This was actually quite desperate and pointless as it wouldn’t make any difference anyway because the next train from Den Haag HS to Den Haag Centraal would be that intercity which was late in the first place. I started to think that I should have taken that freaking sprinter. However, the damage had been done and there was nothing that I could do about it; so what I needed to do was to think of the best solution, which was just to wait for that f*cking late intercity service to Den Haag Centraal at Den Haag HS. At 11.25, that intercity finally arrived at Den Haag HS and I arrived at Den Haag Centraal at exactly 11.30 AM, the time where the check-in counter for the bus to Paris was said to be closed.

Then, I realized that I had no idea where the bus terminal was in Den Haag Centraal station (I had never used bus service to/from Den Haag Centraal before, hahaha :lol: ). I asked some security guards and they just said it was “upstairs”. I did not ask them for a more specific direction (stupid me) and just went upstairs with the first escalator that I saw. It turned out to be the wrong “upstairs” as what was up there was an office. Lucky there was a reception in the office and I asked for a more detail direction to the receptionist to get to the bus terminal. Apparently, there was another stairs in the other side of the station which I needed to take, haha. So, finally, I got at the bus terminal at 11.40 AM, just five minutes before the departure time. Lucky there was no need to check in before that (so the closing time of the check-in counter was useless anyway) as we could just check in to the bus driver when we boarded the bus.

Anyway, finally the bus came and after all passenger put their luggage in the trunk safely, we left Den Haag. As I said in the prologue, it was such a very long bus ride. And to make things “worse”, the bus was fully booked! But lucky, halfway through, in Brussels, most of the passengers got off and the number of new passengers from Brussels to Paris was not that many; leaving more space in the bus, hahaha. Long story short, we arrived at Paris at about 8 PM, about one hour behind the approximated arrival time of 7 PM.

I took the Metro (subway) to get to my hostel. After checking in and leaving my luggage in my room, I decided to have dinner at a KFC nearby. After dinner, I checked the internet and found out that shocking news about Serena Williams’ unexpected loss in the first round. I felt quite mixed feeling that night: feeling excited that the next day I would finally go to a grandslam tournament while at the same time also feeling sad (and still couldn’t believe it) that Serena lost. The bottom line: I could not go to sleep easily that night, hahaha :lol:

Day 2 (Wednesday, 30 May 2012)

I left my hostel at around 8 AM (after having my complimentary breakfast of course :P ) to get to the grounds at 9 AM (Stade Roland Garros, the venue of the tournament, was like 40 minutes Metro ride from my hostel plus a ten minutes walk from the nearest Metro station to the gate). Well, at the time, I had no idea when the gate would be opened so I just thought maybe it would be better to arrive at around 9 AM. It turned out to be on the mark guess. So, apparently, there were two queues that we had to take to get in to the grounds. The first one, which was opened at 9 AM, was to get closer to the gate where we had to get through a security check. The second one was after the security check where we had to wait in line to enter the grounds through the gate which would be opened at around 9.45 AM. Because I was quite early, I was in front of the queue. However, it also meant that I had to stand and just wait there for a good 45-ish minutes. But luckily, because people who came to the tournament were also tennis-enthusiasts, we chatted a lot to kill time. What was nice was that they were generally much more experienced than me in term of going to tennis tournaments (some were already like 50 year old or something, so no wonder about the experience). An American elderly couple had traveled around the world just to see the four grandslam tournaments; some tried to compare the grandslam tournaments; some discussed the schedule of play; etc. It was so much fun! :)

Anyway, at 9.45 AM, the grounds was opened and I entered the venue. What I did first was to get into Court No. 2 which was just like 20 meter from the gate to see one player practicing there: Juan Martín del Potro, the 2009 US Open men’s singles champion. A few minutes later, suddenly, this lady came out to the court to take it over for practice:

Ana Ivanovic entering Court no.2 for a practice session

Calling Bensdoing; yes, she was Ana Ivanovic!! The reaction in my mind: “Oh my God, she is even more beautiful in real life!!” But of course I didn’t go crazy and just put my poker face on, hahaha :lol: .

After awhile, I decided to leave Court No.2 and went around the grounds to see more players practicing to prepare for their upcoming matches that day. I saw Stanislas Wawrinka, Andreas Seppi, Marin Čilić, Květa Peschke, Katarina Srebotnik, Liezel Huber, Lisa Raymond, Juan Carlos Ferrero, Nicolas Almagro, Shahar Pe’er, and Lucie Šafářová.

My ticket that day granted me access to enter Le Court Numéro Un (Court No. 1). The first match there was between Irina Falconi and the sixth-seeded Samantha Stosur; and it was scheduled to start at 11 AM. I decided to watch this match and at 11 AM I was already sitting on my designated seat in the court. The match turned out not to be an exciting one though, as the sixth-ranked Stosur dominated the 112-th ranked Falconi and won routinely 6-1, 6-4. The next match wasn’t that interesting for me so I decided to leave the court and tried to find lunch.

After having 11 euro burger package (including french fries and a can of coke) as my lunch (the burger was good btw), I decided to walk around the grounds. There seemed to be no interesting match for me out there at the time. But then, I realized that some people were trying to peek into Court no.18 at the end of the complex. I was wondering who was there (this court was not used for a match play though, so anybody in it now should be practicing); and it turned out to be: VENUS WILLIAMS!!! :shock:

Suddenly I became very excited! I decided to get into the spectators’ seats of Court no.16, which was next to Court no.18 and at the time there was a doubles match being played there (Court no.18 was fully ‘closed’). Yeah, I entered Court no.16 not to watch the match but to see Venus’ practice session, huahaha :lol: . Lucky I got a good seat at the last row so I had a good view of Court no.18 (as well as descent view to Court no.16 itself). I sort of went back and forth between looking at Court no.18 and the match at Court no.16, hahaha. Looking at Venus’ practice, honestly, it did not look so good. I don’t know, I just felt that she hit the ball nowhere near her best which I knew she was capable of. I think it was due to the Sjögren’s syndrome she was suffering from and she was still trying to figure out how to deal with it while at the same time maintaining her level high at professional tennis. I was thinking (and hoping) that maybe she was saving her energy for her match against the third-ranked player, Agnieszka Radwańska, later on that day.

After some time, Venus finished her practice and left Court no.18. And so I also decided to leave Court no.16. I walked around the court and found out that the next match on Court no.16 would be between Bob and Mike Bryan (my favorite men’s doubles team) and Sergiy Stakhovsky and Mikhail Youzhny. I decided to come back to Court no.16 to watch this match (and to cheer for the Bryan brothers :D ). It was a good and nice match. The Bryans won 7-5, 6-3; and I was so happy that I finally got the chance to watch their legendary doubles action live literally just like 5 meter in front of me.

Because I decided to watch the Bryans’ match, I missed the only other match I wanted to watch in Court no.1 between Tomáš Berdych and Michaël Llodra. I arrived at Court no.1 just exactly when that match ended where Berdych won 6-2, 6-3, 6-3, hahaha :( . The other interesting match I wanted to see was that match between Agnieszka Radwańska and Venus Williams. However, this match would be played at Court Philippe Chatrier (the centre court) and I did not have access to the court this day. So, I just planned to watch the match from the big screen (there was a big screen airing current live matches at Court Philippe Chatrier and Court Suzanne Lenglen at La place des Mousquetaires (a plaza between Philippe Chatrier and Court no.1)). To wait for the match, I decided to walk around the grounds to spot more players and had a hotdog as my dinner, hahaha.

The match between Radwańska and Venus was finally started; and my concern earlier that day was apparently for a reason. Venus made so many errors and she did not play anywhere near her best. Things did not look so good and I was quite tired already, I decided to leave the grounds at around 7.45 PM. I arrived at the hostel at around 9 PM. I checked the result and Venus did lose the match 2-6, 3-6. I could see she put some more fights in the second set there because when I left, Venus was trailing 0-4 in the second set. But I guess it wasn’t enough and there were still too many errors coming from her side, hmmm…

To Be Continued…

Next on Paris Trip: 2012 Roland Garros :
1. Access to Court Philippe Chatrier
2. The epic John Isner vs Paul-Henri Mathieu match
3. More tennis!

BAHASA INDONESIA

Hari 1 (Selasa, 29 Mei 2012)

Busku ke Paris dijadwalkan berangkat jam 11.45 pagi dari Stasiun Kereta Den Haag Centraal. Oleh karenanya, aku berencana untuk naik kereta intercity jam 10.55 pagi dari Stasiun Delft dengan tujuan Stasiun Den Haag Centraal. Namun ternyata, hari itu sedang ada masalah yang menyebabkan kereta-kereta pada terlambat. Kereta jam 10.55 pagi diumumkan terlambat sekitar 10 menit (artinya baru berangkat dari Delft jam 11.05 pagi kan?). Nah, karena kereta intercity itu lebih cepat dan nyaman daripada kereta sprinter, jadilah aku memutuskan untuk tidak menaiki layanan kereta sprinter menuju Den Haag Centraal dari Delft yang berangkat jam 11 tepat. Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu, dan si intercity-nya masih belum nyampe-nyampe di Delft juga dong!!  Jadilah dengan desperate-nya aku menaiki intercity lain tujuan Amsterdam Centraal untuk turun di Stasiun Den Haag Holland Spoor (HS) secepat mungkin. Kalau dipikir-pikir lagi ini memang desperate banget dan sebenarnya tidak berguna karena toh layanan kereta selanjutnya dari Den Haag HS ke Den Haag Centraal ya si intercity sialan yang telat lama banget itu. Aku mulai berpikir bahwa seharusnya aku menaiki sprinter yang jam 11 tadi itu deh. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan nggak ada yang bisa dilakukan tentangnya kan; jadilah yang harus aku lakukan adalah memikirkan solusi dari situasi ini, yang mana yaitu ya menunggu si intercity sial*n yang telat itu menuju Den Haag Centraal di Den Haag HS. Jam 11.25, si intercity akhirnya tiba juga di Den Haag HS dan tibalah aku di Den Haag Centraal jam 11.30 pagi, pas banget sama waktu counter check-in bus ke Paris dikatakan ditutup.

Lalu, aku menyadari masalah selanjutnya dimana aku nggak tahu dong lokasi terminal bus di Stasiun Den Haag Centraal (kan aku nggak pernah naik bus dari/ke Den Haag Centraal sebelumnya, hahaha :lol: ). Aku bertanya ke satpam dan katanya terminalnya ada di “atas”. Bodohnya, aku nggak bertanya arah untuk mencapai sana dengan lebih mendetail dan hanyalah naik ke atas dengan eskalator pertama yang kulihat. Ternyata, “atas” yang kunaiki ini adalah “atas” yang salah karena yang ada di atas situ adalah kantor. Untungnya di kantornya ada resepsionis sehingga aku bisa bertanya ke resepsionis itu arah mendetail menuju terminal bus. Ternyata, ada tangga lain gitu di sisi lain stasiun untuk menuju terminal bus, haha. Nah, akhirnya tibalah aku di terminal bus itu jam 11.40 pagi, lima menit aja sebelum waktu keberangkatan. Untungnya ternyata kita nggak harus check-in sebelumnya (jadi waktu tutup counter check-in itu nggak berguna juga deh) karena kita bisa langsung check-in ke sopir busnya ketika kita menaiki bus.

Anyway, akhirnya busnya tiba dan setelah semua penumpang memasukkan barang bawaan mereka ke bagasi bus, berangkatlah kami dari Den Haag. Seperti yang kubilang di prolog, perjalanannya itu lama banget deh. Dan yang membuat hal lebih “nyebelin”, busnya penuh dong! Untungnya sih di setengah perjalanan, di Brussels, sebagian besar penumpangnya turun dan penumpang baru dari Brussels sampai Paris juga nggak banyak-banyak amat; jadilah ada lebih banyak ruang di bus, hahaha. Singkat cerita, tibalah kami di Paris jam 8 malam, terlambat sekitar satu jam dari perkiraan waktu kedatangan yang jam 7 malam.

Kemudian, aku menaiki Metro (kereta bawah tanah) untuk menuju ke hostel. Setelah check-in dan meninggalkan barang bawaan di kamarku, aku memutuskan untuk makan malam di KFC yang ada di dekat situ deh. Setelah makan malam, aku mengecek internet dan membaca berita mengejutkan mengenai kekalahannya Serena Williams di babak pertama itu. Malamnya, aku merasa campur aduk deh: merasa bersemangat karena keesokan harinya aku akhirnya akan pergi ke turnamen grandslam sementara pada saat yang sama rasanya kecewa juga (dan masih nggak bisa percaya) bahwa kok Serena bisa kalah sih. Intinya: malam itu aku sulit tidur, hahaha :lol:

Hari 2 (Rabu, 30 Mei 2012)

Aku meninggalkan hostelku jam 8 pagi (setelah makan pagi gratis dari hostel tentunya :P ) supaya tiba di area turnamennya jam 9 pagi (Stade Roland Garros, tempat berlangsungnya turnamen, berjarak sekitar 40 menit dengan Metro dari hostelku ditambah dengan jalan kaki selama sepuluhan menit dari stasiun Metro terdekat menuju gerbangnya). Waktu itu, aku nggak tahu gerbangnya dibuka jam berapa sehingga aku memprediksi bahwa jam 9 sepertinya adalah waktu yang masuk akal untuk tiba disana. Ternyata tebakanku sangat tepat sasaran. Nah, ternyata untuk memasuki areanya, pengunjung harus mengantri dua kali. Antrian pertama, yang dibuka jam 9 pagi, adalah antrian untuk menuju area pengecekan security. Antrian kedua harus dilalui setelah melewati pos security, yaitu antrian untuk memasuki areanya melalui gerbang yang dibuka sekitar jam 9.45 pagi. Karena aku datang cukup awal, jadilah aku berada di depan antrian. Tapi itu berarti aku juga harus berdiri disana dan menunggu selama 45an menit gitu dong ya. Tapi untungnya, kebanyakan pengunjungnya adalah fans tenis juga, jadilah kami bisa ngobrol-ngobrol buat membunuh waktu. Yang mengasyikkan adalah kebanyakan dari mereka sudah lebih berpengalaman daripada aku dalam hal mengunjungi turnamen (beberapa aja udah berumur 50an lebih, jadi jelas aja lah ya mereka pengalamannya banyak). Ada sepasang orang Amerika tua yang sudah berkeliling dunia untuk menonton turnamen grandslam; beberapa ada yang mencoba membanding-bandingkan turnamen grandslam; beberapa mendiskusikan jadwal permainan; dll. Pokoknya asyik deh! :)

Anyway, jam 9.45 pagi, gerbang dibuka dan masuklah aku ke area turnamennya itu. Yang pertama kali kulakukan adalah langsung buruan masuk ke Lapangan No.2 yang lokasinya cuma sekitar 20an meter dari gerbang masukku untuk melihat seorang pemain sedang berlatih disana: Juan Martín del Potro, sang juara tunggal putra turnamen US Open di tahun 2009. Eh, beberapa menit kemudian, tiba-tiba muncul sosok wanita ini memasuki lapangan untuk gantian berlatih:

Ana Ivanovic memasuki Lapangan no.2 untuk berlatih

Colek Bensdoing; ya, ia adalah Ana Ivanovic!! Reaksiku dalam hati: “Eh buset, lebih cantik aslinya dong daripada di foto-foto!!” Eh, tetapi tentu saja aku nggak bereaksi yang gimana-gimana gitu ya dan tetap berperilaku kalem gitu (jaga gengsi dong, betul??), hahaha :lol: .

Setelah beberapa waktu, aku memutuskan untuk meninggalkan Lapangan No.2 dan berkeliling areanya untuk melihat pemain-pemain lain berlatih untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan mereka hari itu. Aku melihat Stanislas Wawrinka, Andreas Seppi, Marin Čilić, Květa Peschke, Katarina Srebotnik, Liezel Huber, Lisa Raymond, Juan Carlos Ferrero, Nicolas Almagro, Shahar Pe’er, dan Lucie Šafářová.

Tiketku hari itu memberiku akses untuk memasuki Le Court Numéro Un (Lapangan No. 1). Pertandingan pertama disana hari itu adalah antara Irina Falconi dan unggulan keenam, Samantha Stosur, yang akan dimulai jam 11 pagi. Aku memutuskan untuk menonton pertandingan ini sehingga jam 11 pagi duduklah aku di kursiku di lapangan itu. Pertandingannya tidaklah terlalu seru sih; karena Stosur yang berperingkat enam dunia mendominasi Falconi yang berperingkat 112 dan menang 6-1, 6-4. Pertandingan selanjutnya tidaklah terlalu menarik untukku dan aku memutuskan untuk meninggalkan lapangan itu sejenak untuk mencari makan siang.

Setelah menyelesaikan paket burger seharga 11 euro (termasuk french fries dan satu kaleng cola) untuk makan siang (burgernya enak loh btw), aku memutuskan untuk berkeliling areanya lagi. Waktu itu, sepertinya tidak ada pertandingan menarik yang bisa kutonton. Namun, aku kemudian melihat beberapa orang berusaha mengintip ke dalam Lapangan no. 18 di ujung kompleks. Aku penasaran akan siapa yang ada di dalam sana (lapangan ini nggak digunakan untuk pertandingan, jadi siapa pun yang ada di dalam situ pasti sedang berlatih); dan ternyata yang lagi berlatih disana adalah: VENUS WILLIAMS dong!!! :shock:

Dan langsung bersemangatlah diriku! Aku memutuskan untuk masuk ke area penonton Lapangan no.16 yang berada di sebelahnya Lapangan no. 18 yang mana disana waktu itu sedang berlangsung sebuah pertandingan ganda putra (Lapangan no.18 kan ‘tertutup’ gitu ya). Jadilah aku memasuki Lapangan no.16 bukan dengan tujuan utama menonton pertandingannya tetapi malah untuk menonton sesi latihannya Venus di sebelah, huahaha :lol: . Untungnya aku mendapatkan kursi yang oke di baris terakhir sehingga aku mendapatkan pandangan yang oke ke Lapangan no.18 (dan juga pandangan yang oke ke Lapangan no.16 juga sih). Jadilah aku bolak-balik menonton pertandingan di Lapangan no.16 dan menonton Venus di Lapangan no.18, hahaha. Melihat sesi latihannya Venus, jujur, latihannya tidak terlalu nampak berlangsung denganbaik. Nggak tahu ya, aku hanya merasa ia tidak memukul bola sebaik dengan ketika ia berada dalam kondisi terbaiknya, yang mana aku tahu ia masih mampu melakukannya. Aku duga sih mungkin ini karena sindrom Sjögren yang ia derita mungkin ya; sehingga ia masih berusaha mencari tahu cara terbaik untuk menghadapinya sementara di saat yang sama masih menjaga level permainannya di level profesional. Aku berpikir (dan berharap) bahwa ia sedang menyimpan energi untuk pertandingannya hari itu melawan pemain peringkat tiga dunia, Agnieszka Radwańska.

Setelah beberapa waktu, Venus selesai berlatih dan meninggalkan Lapangan no.18. Jadilah aku meninggalkan Lapangan no.16 juga. Aku berjalan berkeliling kompleks dan kemudian menyadari bahwa pertandingan berikutnya di Lapangan no.16 adalah antara Bob dan Mike Bryan (tim ganda putra favoritku) melawan Sergiy Stakhovsky dan Mikhail Youzhny. Aku memutuskan untuk kembali ke Lapangan no.16 untuk menonton pertandingan ini (dan sekaligus menyemangati Bryan bersaudara dong :D ). Pertandingannya berlangsung baik dan cukup seru. Bryan bersaudara menang 7-5, 6-3; dan aku merasa bahagia karena akhirnya aku bisa melihat secara langsung permainan ganda mereka yang legendaris dimana mereka bermain hanya sekitar 5 meter di depanku.

Karena aku memutuskan untuk menonton pertandingannya Bryan bersaudara, jadilah aku kelewatan pertandingan lain di Lapangan no.1 yang ingin aku tonton juga, yaitu pertandingan antara Tomáš Berdych dan Michaël Llodra. Aku tiba di area Lapangan no.1 tepat ketika pertandingan berakhir dimana Berdych menang 6-2, 6-3, 6-3, hahaha :( . Pertandingan lain yang menarik buatku adalah pertandingan antara Agnieszka Radwańska dan Venus Williams. Namun, pertandingan ini akan dimainkan di Lapangan Philippe Chatrier (lapangan utamanya) dan hari itu, aku tidak memiliki akses untuk masuk kesana. Jadilah aku berencana untuk menonton pertandingan itu di layar besar (jadi ada layar besar yang menyiarkan pertandingan yang sedang berlangsung di Lapangan Philippe Chatrier dan Lapangan Suzanne Lenglen di La place des Mousquetaires (semacam plaza gitu di antara Lapangan Philippe Chatrier dan Lapangan no.1)). Sambil menunggu pertandingan dimulai, aku berjalan-jalan lagi dan makan hotdog deh untuk makan malam, hahaha.

Pertandingan antara Radwańska dan Venus akhirnya dimulai juga; dan kekhawatiranku hari itu ternyata beralasan juga. Venus membuat terlalu banyak kesalahan sendiri dan ia tidak bermain dengan terlalu baik. Karena pertandingan tidak nampak menjanjikan dan aku sudah merasa cukup lelah, aku memutuskan untuk pulang sekitar jam 7.45 malam. Aku tiba di hostel hampir sekitar jam 9 malam. Aku mengecek hasil pertandingannya dan memang Venus akhirnya kalah 2-6, 3-6. Aku bisa melihat bahwa ia memang berjuang keras sih di set kedua karena ketika aku pulang, Venus tertinggal 0-4 tuh di set kedua. Tapi sepertinya perjuangannya itu tidak cukup dan aku rasa masih ada terlalu banyak kesalahan yang muncul dari sisinya sendiri, hmmm…

Bersambung…

Selanjutnya dalam Paris Trip: 2012 Roland Garros :
1. Akses ke Lapangan Philippe Chatrier
2. Pertandingan epik John Isner vs Paul-Henri Mathieu
3. Lebih banyak lagi tentang tenis!

#926 – 2011 Wimbledon

ENGLISH

About two weeks ago I made a prediction about this year’s edition of Wimbledon. It turned out that my prediction was kinda off, even though some minors ones were correct :) Let us see

Gentlemen’s Singles

I predicted that Roger Federer would win the title. However, he lost in the quarterfinals to Jo-Wilfried Tsonga, after leading two sets to love! It was the first match ever Federer lost in a grandslam after winning the first two sets in his whole career! Wow, I am even more sure now that maybe Federer’s era has started to fade away. Anyway, this made the semifinals to be consisted of three of the top four, and Tsonga.

In Andy Murray vs Rafael Nadal’s match, I really hoped Andy would win (I do think the time for him to win a major has come, he has everything he needs to win one!). I was so thrilled when Andy took the first set. However, somehow, his level dropped alarmingly from the second set onwards! Somehow. I don’t know what was wrong though, he just started to make so many unforced errors! Too much pressure? Not strong enough mental strength? Maybe. I just really hope he will work on this soon and fast!

The final was between Rafael Nadal and Novak Djokovic. Novak Djokovic’s appearance in the final guaranteed that since February 2004, finally we will have a new world no.1 other than Federer or Nadal when the rankings is updated this Monday. Novak then made an even stronger statement by defeating Rafa 6-4, 6-1, 1-6, 6-3 in the final, thus, capturing his 3rd grandslam title, and extending his win-loss record to be 48-1 this year. He started brilliantly, dominating Rafa in the first two sets. Rafa then stepped his level up (while Nole’s went down a bit, probably due to nerve (?)) in the third set, claiming it 6-1. In the fourth set, however, Rafa made some unforced errors in key points to give a break, and thus a victory, to Nole. Overall, it was an impressive run from Novak Djokovic this year!

Congratulations Nole!

Ladies’ Singles

Two weeks ago I predicted that Venus Williams would win the championships. It turned out I was wrong. It was true that Venus had showcased superb form prior to Wimbledon. However, her lack of matches played in the last one year took its toll as her consistency was still a bit missing. To make things worse, she lost in the round of sixteen, again to Tsvetana Pironkova (she also lost to her last year) with the exact same score: 2-6, 3-6. Here is the thing, I do not think Tsvetana Pironkova is a great player. I mean, sure, she is a good player as she is in the top 50 in the world ranking. But looking at her style of play, well, I think it is safe to say that she is ordinary. As for Venus, the interesting thing is that, everytime she played Tsvetana, she always played her worst game! Weird, no? A friend of mine had a theory about this incident, saying that maybe somewhere deep in Venus’ mind, her previous losses to Tsvetana due to playing badly played its roll strongly. Thus, psychologically, Venus had already lost even before the match started. This sounds like a good theory for me.

In the other side of the draw, Serena Williams also lost in the fourth round to Marion Bartoli. So, this marked the first time since 2006 where no Williams would be in the final, and only the second one since 2000. Serena played and performed well with her fighting spirit trademark. However, she still had a lot of rusts to get off and this backfired her. Caroline Wozniacki, the current world no.1, also dropped in the fourth round. This one, I already predicted, right? :) As for Maria Sharapova, she made it all the way to her second Wimbledon final since 2004, defeating German rising star Sabine Lisicki en route.

Sharapova was facing Czech Petra Kvitová in the final, a first time grandslam finalist. Many (including me) predicted Sharapova would win the match, given that it was Kvitová’s first final, Sharapova’s current form, and her relative experience to the younger Czech. However, Kvitová proved that she was more than that as she crushed Sharapova 6-3, 6-4 in the final! She became the first player born in the 1990s to win a grandslam in both gender! Last year, during Kvitová’s run to the semifinal where she lost to Serena Williams, I kinda had a feeling she would be a really good player. But I never thought that one year later she would actually win Wimbledon! Wow! She is a power to reckon’ with! Hopefully she will be able to maintain her level.

So, congratulations Petra!

Gentlemen’s Doubles

I know I did not really discuss gentlemen’s doubles in my prediction. But it was just that my favorite men’s doubles team won their eleventh grandslam title together last Saturday: twins Bob and Mike Bryan. With this victory, they equaled The Woodies’ record of most team grandslam title.

Congratulations Bob and Mike!

2011 Wimbledon Champion: Novak Djokovic and the runner up: Rafael Nadal

2011 Wimbledon Champion: Petra Kvitová and runner up: Maria Sharapova

2011 Wimbledon Champions: the Bryan bros

note : all pictures were taken from Wimbledon’s official website.

BAHASA INDONESIA

Kira-kira dua minggu yang lalu aku membuat prediksi tentang edisi tahun ini dari Wimbledon. Ternyata prediksiku lumayan salah ya, walau ada beberapa prediksi minor yang benar juga :) Mari kita lihat.

Tunggal Putra

Aku memprediksi bahwa Roger Federer akan menjuarai turnamen ini. Ternyata dia malah kalah di perempat-final dari Jo-Wilfried Tsonga, setelah memimping dua set lawan kosong! Ini adalah pertandingan pertama dalam kariernya Federer dimana ia kalah setelah memimpin dua set loh! Wow, aku makin yakin nih eranya Federer sudah mulai lewat. Yah, ini berarti semifinalnya terdiri atas tiga dari pemain empat besar dunia, dan Tsonga.

Di pertandingannya Andy Murray vs Rafael Nadal, aku berharap Andy akan memang nih (menurutku sih sudah waktunya ya baginya untuk menjuarai satu grandslam, dia kan sudah memiliki segalanya yang diperlukan!). Aku senang sekali ketika Andy memenangi set pertama. Hanya saja, entah kenapa, level permainannya menurun dengan sangat mengkhawatirkan mulai dari set kedua! Entah kenapa. Nggak tahu ya apa yang salah, hanya saja ia mulai membuat sangat banyak unforced errors! Terlalu banyak tekanan? Kekuatan mental yang kurang kuat? Mungkin saja. Aku hanya berharap ia akan memperbaikinya segera dan dengan cepat!

Finalnya adalah antara Rafael Nadal dan Novak Djokovic. Tampilnya Novak Djokovic di final menjamin bahwa semenjak Februari 2004, akhirnya kita akan memiliki pemain peringkat 1 dunia selain Federer dan Nadal ketika peringkat dunianya di-updateSenin ini. Novak kemudian membuat pernyataan yang lebih kuat dengan mengalahkan Rafa 6-4, 6-1, 1-6, 6-3 di final, dan artinya memenangi gelar grandslam ketiganya, dan memperpanjang rekor menang-kalahnya menjadi 48-1 tahun ini. Ia memulai final dengan brilian, mendominasi Rafa di dua set pertama. Rafa kemudian meningkatkan level permainannya (sementara levelnya Nole turun dikit, mungkin karena grogi (?)) di set ketiga, memenanginya 6-1. Di set keempat, Rafa membuat agak terlalu banyak unforced errors di poin penting, sehingga servisnya dipatahkan dan praktis memberikan kemenangan ke Nole. Secara keseluruhan, Nole telah tampil dengan sangat luar biasa tahun ini!

Selamat Nole!

Tunggal Putri

Dua minggu yang lalu aku memprediksi Venus Williams akan memenangi kejuaraan ini. Ternyata aku salah. Memang benar Venus menunjukkan performa yang hebat sebelum Wimbledon. Hanya saja, sedikitnya pertandingan yang ia mainkan selama setahun terakhir ternyata berefek cukup buruk baginya karena konsistensinya jadi belum terjaga. Parahnya lagi, ia kalah di enam belas besar, lagi-lagi dari Tsvetana Pironkova (tahun lalu ia juga kalah darinya) dengan skor yang sama persis: 2-6, 3-6. Masalahnya gini, aku nggak merasa bahwa Tsvetana Pironkova itu pemain yang sangat hebat. Maksudku, jelas ia adalah pemain yang bagus, kan bisa masuk 50 besar dalam peringkat dunia. Hanya saja, dari gaya permaiannya, hmm, aku rasa bisa lah ya kita bilang ia itu biasa saja. Untuk Venus, menariknya adalah, setiap kali ia bermain melawan Tsvetana, ia selalu bermain sangat buruk! Aneh kan? Seorang temanku memiliki teori tentang insiden ini, bahwa mungkin jauh di dalam benaknya Venus, kekalahannya terhadap Tsvetana sebelumnya ternyata berpengaruh lumayan juga. Artinya, secara psikologis, sebelum bermain pun Venus sudah kalah. Yah, teori ini lumayan masuk akal juga.

Di sisi lain dari undian, Serena Williams juga kalah di babak keempat dari Marion Bartoli. Jadi, untuk pertama kalinya semenjak 2006 tidak akan ada Williams di final, dan hanya kedua kalinya semenjak tahun 2000. Serena bermain dan tampil dengan baik sebenarnya, dengan ciri khas fighting spirit-nya. Namun, di permaiannya masih banyak karat yang harus dibuang dan ini menjadi bumerang baginya. Caroline Wozniacki, pemain peringkat 1 dunia saat ini, juga kalah di babak keempat. Yang ini, sudah aku perkirakan kan? :) Untuk Maria Sharapova, ia berhasil menembus final kedua Wimbledon-nya semenjak tahun 2004, mengalahkan bintang baru Jerman, Sabine Lisicki dalam perjalanannya.

Sharapova menghadapi pemain Ceko Petra Kvitová di fnal, seorang yang baru pertama kali menembus final grandslam. Banyak orang (termasuk saya) memprediksi Sharapova akan memang, berdasarkan karena ini adalah final pertamanya Kvitová, penampilannya Sharapova belakangan ini, dan pengalamanannya yang lebih banyak dari si pemain Ceko yang masih muda ini. Namun, Kvitová membuktikan bahwa ia lebih dari itu dan ia mengalahakna Sharapova 6-3, 6-4 di final! Ia menjadi pemain pertama yang lahir di tahun 1990an yang menjuarai grandslam, baik putra maupun putri! Tahun lalu, dalam perjalanannya Kvitová mencapai semifinal dimana ia kalah dari Serena Williams, aku rada bisa menebak Kvitová ini akan menjadi pemain yang hebat. Tapi nggak menyangka juga bahwa sethaun kemudian ia akan menjuarai Wimbledon! Wow! Beneran deh ia ini patut dipertimbangkan! Hanya saja mudah-mudahan ia bisa mempertahankan levelnya.

Jadi, selamat Petra!

Ganda Putra

Memang aku tidak membahas ganda putra di prediksiku. Hanya saja, satu tim ganda favoritku memenangi gelar juara grandslam kesebelas mereka nih Sabtu kemarin: si kembar Bob dan Mike Bryan. Dengan kemenangan ini, mereka menyamai levelnya the Woodies dalam hal gelar juara grandslam per tim terbanyak.

Selamat Bob dan Mike!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 123 other followers